10 November 2013

Nyekar di Makam Bung Tomo

Jumat lalu, dua hari sebelum Hari Pahlawan, saya mampir ke makam Bung Tomo di Ngagel, Surabaya. Pahlawan nasional yang menggelorakan semangat perjuangan arek-arek Surabaya pada 10 November 1945.

Jumat Legi itu sebetulnya saya nyekar ke makam Eyang Yati, tak jauh dari makam Bung Tomo. Setiap hari melintas di Ngagel membuat kita sering lupa bahwa di situ ada makam pahlawan nasional yang sangat terkenal seperti Bung Tomo. Orang yang jauh biasanya lebih menghargai sebuah situs, makam, atau pesarean.

Orang-orang di kompleks makam tak peduli soal sejarah dan sejenisnya. Begitu masuk ke dalam pagar makam Bung Tomo, ada lima atau enam anak dan ibu-ibu membuntuti. Ada yang bawa air, bunga, atau pura-pura menanam jasa membersihkan makam.

Orang-orang sederhana itu tak lain peminta sedekah. Mengharap tip dari peziarah. Saya memberi Rp 10 ribu untuk dibagikan kepada lima orang itu. Ternyata dua orang protes karena merasa dapat sedekah. "Saya kok gak dikasih?" ucap si kecil menggerutu.

Saya pun memberi Rp 2000 kepadanya. Tak bilang terima kasih, bocah itu sudah bergeser ke makam yang lain. Mencari target baru, dua orang yang datang untuk nyekar di makam. Unggah-ungguh atau tata krama di kalangan wong cilik pun mulai tergerus. Bilang matur nuwun atau terima kasih saja sudah tak mau.

Saya bayangkan Bung Tomo melihat kerumunan pengemis yang setiap hari lalu lalang di kompleks makam Ngagel, rumah peristirahatan terakhirnya. Orang-orang yang tak beroleh peluang kerja di tempat lain, di Surabaya, yang pertumbuhan ekonominya tinggi. Orang-orang yang sudah lama kehilangan urat malu dengan menjadi pengemis.

Saya juga bayangkan Bung Tomo mengikuti berita penangkapan koruptor kelas kakap seperti Akil Mochtar, ketua Mahkmah Konstitusi, atau Rudi Rubiandini, wakil menteri pertambangan dan energi. Akil Mochtar digaji Rp 200 juta hingga 300 juta sebulan, tapi masih harus memperdagangkan pekara pilkada @ Rp 3 miliar.

Ah, seandainya si Akil Mochtar ikut nyekar ke makam Bung Tomo di Surabaya. Seandainya Akil dan koruptor-koruptor lain mau membuka lapangan kerja untuk para peminta sedekah di kuburan!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Kalau bertemu Akil Mochtar sekarang, roh Bung Tomo akan bilang: "Kon iku juaaaancuk, Kil. Wis duwe gaji rongatus juta per wulan sek kurang ae. Cangkemmu tok gembar-gembor ketok driji nek nemu wong korupsi. Sak iki drijimu ketoken dewe, cuuuuk! Raimu asu, motomu suwek, kil, juancuuuk...!

    ReplyDelete