12 November 2013

Maya yang Fokus di Paduan Suara

Maya dan dua anaknya. Nyanyi terus!

Belum lama ini saya bertemu Maya di Kelenteng Dukuh, Surabaya. Mantan pentolan paduan suara mahasiswa ITS ini menemani dua anaknya yang studi lapangan tentang budaya Tionghoa. Khususnya wayang potehi: cara membuat, pementasan, musik pengiring, dan sebagainya.

Rupanya Maya ingin anak-anaknya pandai berbahasa Mandarin dan punya wawasan ketionghoaan. "Kalau mamanya ini sih payah deh. Bisanya cuma paduan suara," katanya bercanda.

Maria Widyaningrum, nama lengkap Maya, tak asing lagi di kalangan aktivis choir atau paduan suara yang serius di Surabaya. Aktif di paduan suara mahasiswa ITS, Maya pun ketagihan choir hingga lulus dan bekerja. Ilmu asli yang dipelajari di ITS malah ditidurkan, sementara musik klasik dan paduan suara makin berkembang.

Dulu, setiap kali mengikuti upacara pemberkatan nikah di gereja-gereja Katolik di Surabaya, saya kaget karena selalu melihat Maya. Dia punya kor kecil, musisi pengiring, solis, dan dirinya sebagai dirigen. Suara Maya pun merdu merayu, soprano yang bening.

Maya pun tampak sangat menikmati profesi barunya yang tak ada kaitan dengan ilmu teknik di ITS. Menyanyi, khususnya paduan suara, membuat jiwanya tenang. Apalagi dia lebih banyak menyanyi di lingkungan gereja. Membawakan nomor-nomor religius karya komponis kelas kakap macam Mozart, Schubert, Bach, Haydn, dan sebagainya.

Ah, betapa enaknya orang yang menjadikan hobi sebagai pekerjaan! Bekerja seperti main-main, gembira terus. Beda dengan petugas cleaning serice atau PRT yang terpaksa bekerja seperti itu. Mana ada orang yang hobinya ngepel atau menyapu atau bersih-bersih di rumah orang?

Maria Widyaningrum alias Maya ini juga punya paduan suara spesial bernama Eliata Choir. Kor ini menghimpun orang-orang muda yang senang menyanyi dan punya mutu suara di atas rata-rata. Sebab standar choir yang dibina Maya selalu di atas rata-rata. Maya ingin paduan suaranya punya prestasi nasional, bahkan dunia. Bukan hanya sekadar pelayanan di gereja atau tingkat Surabaya thok.

Paduan suara tentu bukan musik pop yang ringan dan populer. Tidak banyak orang yang mau meluangkan waktunya untuk berlatih serius berjam-jam, berhari-hari, untuk menghasilkan paduan suara yang baik. Tapi, berdasar pengalamannya melatih anak-anak SMA, khususnya SMAK Sint Louis, dia melihat antusisme mereka sangat tinggi.

Antusiasme inilah yang menjadi modal dasar kesuksesan dalam bidang apa pun. Karena itu, tidak heran paduan suara SMA Sinlui Surabaya selalu berprestasi dalam festival paduan suara baik di tingkat regional, nasional, dan internasional.

Dan, yang paling penting, Maya mengingatkan, bernyanyi dengan baik itu sebetulnya sama dengan berdoa. Bahkan berdoa dua kali. Que bene catat bis orat!

Wah, Maya sudah berdoa berapa kali tuh! Selamat bernyanyi dan bernyanyi Maya, aku kan mendengarkan!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment