07 November 2013

Marriage Encounter Surabaya 35 Tahun

Dian-Leo mesra terus di Gathering ME Surabaya.

Tanggal merah, libur tahun baru Islam, Selasa (5/11), diisi Marriage Encounter (ME) Distrik IV Surabaya dengan jalan sehat di kawasan Pakuwon City, Sukolilo, Surabaya. Sebanyak 2.300 peserta, semuanya pasangan istri-suami (ME selalu mendahulukan istri) tampak serasi berjalan bersama sembari menyaksikan sejumlah kompleks sekolah, kampus, dan bangunan baru di kawasan Surabaya Utara itu. 

Ada beberapa bangunan yang terkait Gereja Katolik di Keuskupan Surabaya di kawasan itu. Di antaranya, kampus Universitas Katolik Widya Mandala dan Seminari Tinggi Providentia Dei, tempat pendidikan calon imam praja yang akan berkarya di wilayah Keuskupan Surabaya. Seminari Providentia Dei, yang didirikan Uskup Surabaya Vincentius Sutikno Wisaksono, merupakan bagian dari Universitas Katolik Widya MAndala, yakni Fakultas Filsafat dan Teologi.

"Di ME ini semua anggota bebas bercerita maupun bertukar pikiran sekaligus berolahraga," ujar Ketua ME Surabaya Yuli-Anggoro. 

Komunitas ME sejak mewajibkan anggotanya menggabungkan nama istri dan suami sebagai satu kesatuan. Nama istri di depan disusul nama suami. Pasutri Yuli-Anggoro dipercaya menjadi koordinator komunitas yang berkembang pesat di lingkungan Gereja Katolik di Indonesia dalam 20 tahun terakhir itu. 

Dibuka dengan misa peneguhan pernikahan para anggota ME oleh Uskup Sutikno Wisaksono pada 10 Februari 2013, Lustrum VII diisi dengan berbagai kegiatan yang melibatkan ribuan pasutri. Di antaranya, donor darah, penyerahan santunan kepada warga kurang mampu, dan jalan sehat. Jalan sehat ini digelar di kawasan Surabaya Barat (6 Juni) dan Surabaya Utara (5/11). 

"Prinsipnya, kami ingin melibatkan sebanyak mungkin pasutri dalam kegiatan-kegiatan yag sederhana. Ini juga sekaligus sebagai salah satu cara penggalangan dana untuk sidang denas (dewan nasional) ME di Surabaya tahun depan," tutur Yuli-Anggoro.

Salah satu tokoh yang aktif di ME Surabaya adalah jurnalis senior Errol Jonathans. Direktur Utama Suara Surabaya Media ini mengaku mendapat banyak manfaat setelah bergabung dengan ME. Khususnya terkait persoalan komunikasi antara suami dan istri. 

Awalnya Errol mengaku enggan mengikuti kegiatan-kegiatan ME yang dianggapnya tak jauh berbeda dengan rekoleksi atau kegiatan rohani di gereja. "Tapi, setelah saya ikut, ternyata komunikasi kami sebagai pasangan suami-istri sangat berbeda dengan komunikasi yang kami pelajari di lembaga pendidkan atau tempat lain,” ujar Errol yang menjadi panitia jalan sehat ME Surabaya itu.

Di ME, menurut Errol, suami-istri dikondisikan untuk saling terbuka, berbagi, dan mengungkapkan isi hatinya kepada pasangannya. Hal inilah yang sering diabaikan oleh orang-orang yang merasa punya intelekualitas tinggi atau merasa sudah tahu. 

"Nah, di ME akhirnya saya jadi belajar bahwa masalah sekecil apa pun di dalam keluarga perlu dikomunikasikan agar tidak membesar di kemudian hari," kata dedengkot radio swasta di Surabaya ini. 

Errol menjelaskan, ME Distrik IV Surabaya ini meliputi Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Madiun, Kediri, hingga Cepu di Jawa Tengah. Total anggotanya sekitar 4.500 pasutri.

ME sendiri diawali pertama kali dari Barcelona, Spanyol, pada 1962. Saat itu 28 pasutri buruh kelas rendah mendapat pembinaan rohani dari pastor setempat. Gerakan ini kemudian bergulir ke negara-negara berbahasa Spanyol di Amerika Latin dengan cepat karena dinilai mampu menjawab tantangan hidup keluarga yang kian berat.

Dari Amerika Latin, gerakan yang nama resminya WeekEnd Marriage Encounter dengan cepat menyebar ke seluruh negara bagian di Amerika Serikat, bahkan seluruh dunia. Cikal bakal ME di Indonesia dimulai pada 7-9 Mei 1976 di Wisma Samadi Shalom, Sindanglaya, dengan peserta 10 pasutri. 

No comments:

Post a Comment