27 November 2013

Lulus SMA Jaga Konter



Untuk kesekian kalinya saya tertegun membaca pengumuman di depan pintu saat nggowes pagi. Kali ini di depan Wisma Melodia, kursus musik dan pusat penjualan alat-alat musik di Surabaya.

Rupanya dia tengah mencari karyawan baru untuk jaga konter (admin). Syarat utama: lulusan SMA+. Jadi, bukan sekadar SMA thok tapi ada plusnya. Ijazah paling rendah SMA.

Sarjana S1 tentu lebih baik. S2 pasti tidak mau kerja jaga konter, hitung uangnya orang selama 8-9 jam sehari. Menghadapi pembeli yang karakternya macam-macam.

Saya juga biasa ngobrol dengan beberapa OB alias office boy di Surabaya. Semuanya pasti lulusan SMA. Bahkan nilai-nilai mereka bagus. "Ya, terpaksa kerja gini dulu sambil lihat peluang lain," kata si A.
"Siapa sih yang punya cita-cita jadi OB," si B menambahkan.

Karena itu, para OB ini biasanya tidak tahan lama. Bertahan enam bulan saja sudah bagus. Ketika datang ke sebuah kantor top di kota pahlawan, saya pangling karena OB-nya baru semua. Beberapa kenalan saya sudah tak ada lagi.

Gerakan wajib belajar yang digulirkan sejak Orde Baru sudah menghasilkan buahnya berupa ijazah-ijazah sekolah lanjutan sampai sarjana. Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, tak ada lagi anak usia di bawah 20 yang putus sekolah. Apalagi tidak sekolah.

Sebab pemerintah kota menjamin semua warganya bersekolah sampai SMA atau SMK. Beda banget dengan di NTT yang tidak punya program seperti ini. Di NTT, khususnya Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar, pendidikan massal yang tinggi belum begitu dipentingkan.

Wajib belajar SD memang sudah berhasil tapi sebagian murid tidak lulus. Dus, tidak punya ijazah. Buat apa ijazah macam-macam kalau sudah ada lowongan pekerjaan yang menunggu di Malaysia Timur? Orang Flores Timur sudah akrab dengan Sabah, Tawau, Sandakan, Kuching.. jauh sebelum Malaysia merdeka.

"Dulu saya ikut babat alas di Sabah. Sekarang Sabah sangat modern, padahal awal 70an masih hutan kayak desa biasa," kata Ama Kalu, orang Lembata yang tinggal di Malang. Dia punya kebiasaan yang aneh, yaitu rajin terapi urine setiap hari. Terapi air ajaib ini, katanya, membuat dia awet muda, lebih kuat, tidak botak, sehat kembali.

Saya suka dengar cerita tentang Malaysia Timur dan komunitas Flores di sana. Saking banyaknya, orang NTT ini punya semacam kampung dan mengembangkan budaya sendiri kayak di kampung halaman. Seperti mengadakan kontas gabungan atau doa rosario keliling setiap bulan Mei dan Oktober.

Nah, karena tak punya ijazah SD, apalagi SMA, anak-anak muda Flores Timur tidak berani merantau di Jawa. Karena pekerjaan apa pun di Jawa membutuhkan ijazah SMA+. Mungkin hanya tukang kebun atau pembantu rumah tangga saja yang boleh di bawah SMA. Yang pasti, seorang pembantu muda di Ngagel yang saya kenal berijazah SMA.

Saya juga belum sempat survei apakah pekerja-pekerja seks di Dolly atau Sememi juga minimal SMA. Yang jelas, sebuah media terkenal baru saja memuat berita bahwa sebagian besar pelacur itu lulusan SMA. "Yang kurang sekolah itu ya di Jarak itu," kata teman saya yang pernah melakukan survei di kawasan lampu merah itu.

Omong-omong soal SMA, saya selalu terkesan dengan para alumni SMA Sin Chung dan Chung Chung di Surabaya dan SMA Ma Chung di Malang. Mereka sangat sering mengadakan temu kangen, bakti sosial, nyanyi Tionghoa, dan sebagainya. Saya pun baru saja ikut acara blusukan Chung Chung alias CHHS di Surabaya.

Luar biasa para alumni sekolah-sekolah Tionghoa yang ditutup Orde Baru pada 1966-67 itu! Hampir semuanya jadi big boss di kotanya masing-masing. Ada yang punya lima pabrik, 6 perusahaan, bahkan puluhan perusahaan. Padahal, sebagian alumni ini tidak punya ijazah SMA karena sekolahnya ditutup ketika mereka baru kelas satu atau dua.

"Bagaimana bisa sekolah, wong sekolah saya tutup. Sementara waktu itu suasananya sangat mencekam, khususnya warga Tionghoa seperti saya," kata pengusaha bermarga Fu kepada saya.

Gara-gara tak punya ijazah SMA inilah dia dijegal teman satu partai ketika menjadi caleg beberapa tahun lalu. Gagal nyaleg, Mr Fu malah makin kaya saja. Showroom-nya makin besar, tiga rumah di sebelahnya dia beli untuk perluasan showroom motor. Sebaliknya, si politikus yang dulu menjegal dia masuk penjara gara-gara korupsi APBD. Keluar penjara ya miskin lagi.

Kok bisa ya lulusan SMA, bahkan protolan SMA, tempo doeloe bisa sebegitu hebatnya di Indonesia? Bisa jadi bos-bos besar dengan ratusan hingga ribuan karyawan? Bos-bos inilah yang kemudian menjadi penyandang dana atau pendiri universitas bagus di berbagai kota. Contoh: alumni SMA Ma Chung bikin Universitas Ma Chung di Malang.

Kok lulusan SMA sekarang, bahkan perguruan tinggi, hanya dicari untuk jaga konter, admin, tukang terima telepon, OB, atau PRT? Iki jenenge wolak walike jaman!
Nuwun.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Bung Hurek yang budiman, Anda sangat sering mengingat kampung halaman, Lembata, NTT. Demikian pula saya sering rindu kepada Bali. Jika diteliti secara hukum dan sejarah, sebagian besar dari saudara2 saya lahir di Hindia Belanda/Bali , sedangkan saya lahir di Negara Indonesia Timur/Bali.
    Dulu saya heran, mengapa di Gilimanuk ada pemeriksaan Douane, sekarang saya sadar, itulah peninggalan RIS.
    Kembali ke-Artikel anda diatas, saya selalu teringat pada peribahasa Jerman: Handwerk hat goldenen Boden, atau Keterampilan tangan ( Pertukangan ) memiliki masa depan emas. Lulus SMA hanyalah berguna untuk diri kita sendiri, penting untuk pengetahuan umum.
    Di Tiongkok pun banyak anak2 muda yang berijasah SMA, S1 dan S2 yang nganggur atau menjadi pelayan toko, hotel atau satpam. Untungnya banyak perusahaan asing dan nasional yang membuka pabrik2 disana, sehingga mereka bisa dididik menjadi tukang2 yang pandai dalam waktu yang lebih singkat, berdasarkan pendidikan sekolah yang sudah tinggi, jika dibandingkan dengan tukang2 Eropa yang kebanyakan hanya lulusan SMP. Tetapi Master-nya harus orang Eropa yang sudah berpengalaman dan terbiasa bekerja terampil dan exakt, kalau gurunya master China, pasti hasilnya tidak karuan, asal jadi, contohnya mocin, alias motor cina.
    Kesuksesan seseorang bukan hanya tergantung dari kepandaian atau keterampilan saja, tetapi sangat tergantung pada waktu, kesempatan, ( tempo/timing ), keberanian berdikari, untung atau hok-khie. Di-negara2 berkembang lacurnya juga tergantung pada KKN ( guanxi ).
    Kenalan2 Anda, masih beruntung bisa mengenyam sekolah di Xin-zhong, Zhong-zhong atau Kai-ming, kakek-moyang saya yang dulu merantau ke Hindia-Belanda adalah seorang buta-huruf, beruntung timing-nya tepat, ulet, hemat, achirnya dia berhasil, dari seorang pedagang wedang-kopi-asongan, menjadi Lao-ban yang sangat kaya dipasar Pabean/Kalimati kulon, Surabaya. Karena dia merasakan pada dirinya sendiri, bagaimana menderitanya sebagai seorang Analphabet, maka dia ikut aktif membantu mendirikan sekolah2 Tionghoa Hweekoan di Jawa-Timur, Bali, dan di Tiongkok/Quanzhou.
    Dia sendiri pulang kembali ke-Tiongkok pada tahun 1903, atas
    desakan Dr. Sun Yat-sen untuk membangun sekolah, rumah sakit dan menjadi pemimpin perkumpulan rahasia Tong-meng-hui, yaitu cikal-bakalnya partai Kuomintang. Perkumpulan itu dizaman Belanda dilarang dan di-kejar2, sebab penjajah Belanda takut jika rasa nasionalisme orang Cina bisa merambat kedalam hati orang2 pribumi Indonesia. Bung Karno menjadi tokoh nasionalis anti penjajah Belanda, juga terpengaruh oleh Idee-Idee nasionalisme-nya Dr. Sun Yat-sen.
    Semua perusahaan2-nya yang ada di Jawa dan Bali diwariskan kepada anak2- dan cucu2-nya (generasi ayah-saya). Begitulah nasib konglomerat-keluarga yang umumnya hanya bertahan sampai 3 generasi, saya yang generasi ke-4 harus mulai dari nol.
    Untung Gusti-Allah bermurah hati kepada nasib-saya yang mirip jalan lurus bebas hambatan ( beruntung, timing tepat, sedikit rajinlah, punya istri yang cukup pelit ).
    Bung Hurek, di Hainan/Tiongkok juga banyak orang2 (penduduk asli/minority) yang nginang, nyusur (makan sirih, jambe, gambir, kapur ) jalan trotoar, bahkan tangga toko2 merah semua kena ludahnya. Dulu di Bali juga tidak ada koran, seperti di Lembata, saya mulai baca majalah ketika sekolah di Surabaya. Majalahnya dulu Varia dan Star Weekly. Ada komiknya Si-A-Piao , Ko-put-on , Cersil bersambung.
    Waktu sekolah di Sekolah Rakyat kelas 5 dan kelas 6, saya sekolah di SR-Negeri, sebab tahun 1957 anak WNI tidak diizinkan sekolah Tionghoa. Uang sekolah tempo itu cuma 1 Rupiah per bulan, sedangkan nasi bungkus sudah 1 Suku.
    Buku2 pelajaran, kitab tulis, tinta dan atlas semuanya gratis ditanggung oleh pemerintah ( Departemen PD&K ), bahkan waktu pelajaran ilmu alam ada Belahan Bola Magdenburg, bejana berhubungan. Alat2 olah-raga juga disediakan oleh pemerintah Indonesia. Bagaimana sekarang ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Pak, sudah berbagi cerita dan pengalaman yg luar biasa. Saya jadi tahu banyak latar belakang serta perjuangan2 laopan di Indonesia tempo doeloe.

      Saya memang senang ilmu perbandingan karena ada kontras yg tajam antara Jawa, NTT, Tionghoa, Eropa, atau Amerika. Ada perbedaan kebiasaan dan budaya yg membuat saya melihat dunia dari banyak sudut. Kira2 begitu Pak.

      Selamat tahun baru Imlek, semoga hoki terus dan selalu sehat. Biar terus berbagi pengalaman dengan kami di Indonesia.

      Delete