30 November 2013

Keuskupan Surabaya serius menata liturgi

Kita di Keuskupan Surabaya rupanya agak telat dalam pembenahan liturgi. Kalah sama tetangga dekat, Keuskupan Malang. Kalau Malang yang didominasi romo-romo dan uskup karmelit serius membenahi liturginya sejak lama, kita di Surabaya baru menyusul.

Dan itu tak lepas dari takhta lowong alias sede vacante yang cukup lama setelah Bapa Uskup Mgr Hadiwikarta meninggal dunia akhir 2003. Lama sekali kita tak punya uskup. Takhta baru terisi tahun 2007 oleh Mgr Sutikno Wisaksono. Uskup kelahiran Tanjungperak, Surabaya, yang ternyata sangat peduli liturgi.

Monsinyur sangat serius melakukan pembenahan di sana-sini. Termasuk menertibkan improvisasi-improvisasi yang dulu sering dilakukan sebagian umat Katolik, khususnya kelompok karismatik. Kita diajak untuk back to basic. Kembali menghargai dan melaksanakan kekayaan liturgi yang luar biasa.

Seksi liturgi gencar mengadakan penataran dan pembinaan. Belum lama ini di Puhsarang, Kediri. Bung Sipri yang asli Flores Barat kebagian jatah memberikan wawasan tentang musik liturgi. Mana lagu-lagu liturgis, mana yang bukan, mana yang profan.

Jujur saja masih banyak dirigen, paduan suara, bahkan seksi liturgi kurang paham. Tidak ngerti pakem. Tidak mau baca buku-buku liturgi yang sudah diterbitkan keuskupan atau Komisi Liturgi KWI. Bagaimana bisa paham konstitusi liturgi?

Pembinaan liturgi juga dilakukan langsung ke umat. Saya perhatikan di Surabaya, menjelang perayaan ekaristi, ada semacam katekese liturgi. Kita diberi pemahaman tentang berbagai elemen liturgi. Pelajaran tingkat dasar ini sangat penting untuk menyegarkan iman dan pengetahuan umat Katolik.

Syukurlah, perubahan sudah sangat terasa di Keuskupan Surabaya. Dibandingkan tiga atau lima tahun lalu, kualitas petugas-petugas liturgi di gereja sudah meningkat luar biasa. Tak ada lagi kor atau paduan suara yang tidak siap atau asal-asalan menyanyi.

Paroki yang dulu kornya paling jelek di Surabaya, kini meningkat luar biasa. Tak kalah dengan choir papan atas. Pemilihan lagu-lagunya pun mencengangkan saya. Bahkan mereka cenderung suka memilih lagu-lagu yang terlalu sulit.

"Kita cari komposisi yang menantang," kata seorang pentolan kor di kawasan selatan.

Wow, bukan main!

Menantang sih boleh, tapi jangan berlebihan sulitnya lah. Sebab, yang namanya liturgi itu sifatnya dari, oleh, dan untuk umat. Bukan ajang pamer kebolehan paduan suara membawakan komposisi Mozart, Schubert, Bach, dan sebagainya. Kasihan umatnya kalau kornya berlari sendiri.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Walaupun saya tidak memeluk agama tertentu ( Agnostiker ), namun saya sudah sering ikut beribadah dilingkungan semua agama yang ada di Indonesia, termasuk Islam. Hanya agama Mosaisch, yang belum pernah saya ikuti, tidak ada kesempatan dan mungkin dilarang oleh penganut mereka.
    Di Wina Austria kira2 tahun 1968 ada Misa-Jazz di-gereja2 Katholik, tujuannya untuk menarik orang2 muda kembali kegereja. Ada 5 pemain Band yang melantunkan lagu2 Jazz
    atau Pop, iramanya sederhana, cukup menarik dan mudah diingat, bahkan oleh para kakek dan nenek. Sudah tentu text lagunya sesuai dengan khotbah ajaran Kristiani aliran Katholik.
    Setiap pengunjung diberi sehelai kertas yang berisi Text lagunya.
    Bagaimana jika Bung Hurek memimpin sebuah Band spesial Jazz Messe ? Mosok kalah karo aliran Haleluya.

    ReplyDelete