11 November 2013

Kasus Pendeta Hisar dan Hakim Vica

Hakim Vica, istri pendeta yang mengguncangkan Gereja Bethel Indonesia.

Aneh sekali ketika pertama kali melihat Vica Natalia di televisi. Hakim yang bertugas di Pengadilan Negeri Jombang ini baru saja dipecat oleh majelis kehormatan karena perbuatannya yang tidak terhormat. Merusak martabat hakim.

Lho, kok bisa Pendeta Hisar Siringoringo punya istri macam Vica Natalia? Seorang hakim, beda agama, katanya suka selingkuh, tak mau ngurus anak, dan sebagainya? Kok bisa Hisar yang kabarnya sudah mengongkosi kuliah Vica di FH mulai S1, S2, hingga jadi hakim kemudian menghabisi nama baik sang pendeta di media massa?

Hisar tergolong pendeta baru di Surabaya dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) di Surabaya. Dia cukup dekat dengan wartawan karena sering bikin bakti sosial untuk warga tidak mampu. Bahkan para mahasiswa IAIN Sunan Ampel dan warga muslim sering diundang dalam kegiatan sosial gereja Hisar.

Kita tahulah GBI itu aliran pentakosta yang sangat ketat dalam aturan pernikahan. Jangankan dengan Vica yang berlatar muslim, orang pentakosta seperti GBI dilarang menikah dengan orang Katolik. Alasannya, umat Katolik tidak dibaptis selam sehingga dinilai tidak sah. Kalau mau nikah ya yang bukan pentakosta harus diselamkan dulu.

Rupanya Hisar terpukau oleh kemolekan Vica ketika masih bertugas sebagai pramugari Garuda. Kemudian memadu kasih, dibaptis selam, menikah, punya tiga anak. Kemudian Vica jadi hakim, sibuk, tak mau mengurusi tiga anaknya. Sang pendeta disuruh ngurus sendiri.

Vica yang cantik asyik di luar dan kembali ke agamanya semula. Kemudian cerita di media massa bahwa dia dipaksa pindah agama agar menikah dengan Pendeta Hisar. Orang tuanya tidak pernah merestui pernikahan mereka karena masalah agama ini.

Weleh, weleh... Saya teringat Pak pendeta keturunan Tapanuli yang ceria, begitu pula jemaatnya yang selalu bersemangat saat digelar kegiatan-kegiatan gerejanya di halaman. Gereja yang mungil tapi mulai menonjol kegiatannya yang merangkul banyak kalangan. Bukan melulu KKR atau ibadah raya yang menggelegar dengan bahasa roh dan musik rock.

Mungkin Hisar lupa bahwa dirinya pendeta. Pendeta aliran pentakosta yang punya kewenangan nyaris mutlak dalam mengelola gerejanya. Pendeta yang tak punya atasan. Beda dengan pendeta GKJW, GKI, apalagi pastor Katolik yang punya atasan dan dikontrol sangat ketat.

Seorang istri pendeta, apa pun denominasinya, dituntut full time mendampingi sang pendeta dalam melayani gerejanya. Istri pendeta harus selalu berada di samping sang gembala dalam suka dan duka, untung dan malang, dalam membangun kerajaan Tuhan di bumi ini.

Maka, sangat sulit dipahami Vica yang berstatus istri pendeta, apalagi aliran pentakosta, asyik sendiri dengan kariernya, foya-foya di luar, mengabaikan anak dan suami. Boro-boro ikut pelayanan, dia malah berkoar-koar di luar seakan-akan dipaksa jadi Kristen dan sebagainya.

Maka, sangat sulit dipahami juga bahwa Pendeta Hisar malah menyekolahkan Vica di fakultas hukum hingga menjadi hakim. Bukan memberi wawasan kekristenan tentang pelayanan pendeta, teologi, filsafat, eksegese kitab suci, dan sebagainya. Bukan mendekatkan istrinya dengan GBI dan kepentakostaan, malah membiarkan istrinya bebas tanpa kontrol.

Pendeta Hisar rupanya dibutakan oleh kecantikan pramugari. Maka dia tak mempertimbangkan efektiVicas pelayanan sebagai hamba Tuhan, kepala jemaat, tapi hanya pernikahan biasa. Hisar ibarat memelihara anak macan. Menafkahi, mengongkosi kuliah istrinya hingga jadi hakim, kemudian si macan betina yang dewasa itu pun mencakar si majikan yang dulu memeliharanya.

Kasus Pendeta Hisar dan Vica Natalia ini harus menjadi bahan pelajaran bagi pendeta-pendeta muda di tanah air yang hendak menikah. Bibit, bebet, bobot mutlak dipertimbangkan. Jauh lebih baik menikahi anak pendeta, meskipun wajahnya buruk, ketimbang pramugari atau artis yang jelas-jelas bukan Kristen.

Aneh, sang pendeta selalu menasihatkan jemaat mudanya agar menikah dengan pasangan yang kristiani (bahkan Katolik dilarang, apalagi Islam), eh, dia sendiri malah memelihara anak macan. Kasus ini meski terkesan masalah rumah tangga biasa, tapi tidak bisa dipisahkan dari institusi gereja. Sinode Gereja Bethel Indonesia tidak bisa diam. Harus bikin semacam pedoman perilaku calon pendeta, pendeta, calon istri/calon suami pendeta, dan seterusnya.

Syair lagu lama berbunyi: "Rasain kamu sekarang gigit jari... Makanya cari pacar jangan ngawur!"

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. mudah2an kasus ini cepat selesai sehingga tidak perlu jadi berita besar di media massa. kita ingin solusi yg baik tanpa saling menyerang dan menyakiti.

    ReplyDelete
  2. bisa diambil hikmahnya buat pendeta2 atau calon2 pendeta yg mau cari istri.

    ReplyDelete
  3. Haleluya, (tabur dan tuai)
    apa yang ditabur itu yang dituai, menabur angin akan menuai puting beliung.....jangan ada dusta diantara "pendeta" (penuh dengan dusta), pendeta juga manusia....

    ReplyDelete
  4. si Vica yg paling tidak beres. aneh, seorang ibu kok gak mau mengurusin anak2nya dan tidak mau minta hak pengasuhan di pengadilan. kelihatan banget kualitas Vica itu wanita kayak apa lah.

    ReplyDelete