14 November 2013

HOK Tanzil travel writer paling fenomenal

Saya paling suka membaca majalah-majalah lama, khususnya Intisari dan Tempo, edisi sebelum 1990. Ketika komputer belum ada, laptop, HP, smartphone, internet masih di angan-angan. Belum ada Google atau mesin pencari yang membuat penulis-penulis menempuh jalur kilat: copy paste!

Luar biasa para wartawan, kolumnis, kontributor, dan penulis-penulis lawas itu! Saya pun ketagihan membaca Intisari era 1980an yang saya temui dan beli di lapak majalah dan buku bekas Jalan Semarang, Surabaya, kawasan yang sekarang dikenal dengan Kampoeng Ilmu.

Salah satu Intisari lama yang saya simpan edisi September 1981. Di situ ada tulisan penulis-penulis kelas kakap pada masanya: HOK Tanzil, Felix Tan, Slamet Soeseno, Ir Ciputra, JS Badudu, dan Lili Tumbelaka. Semuanya sangat menarik, enak dibaca, dan hidup. Bahkan lebih hidup dan bagus ketimbang tulisan-tulisan di Intisari dan majalah-majalah lain edisi 2013, masa yang sudah sangat canggih.

Sebagai wong kampung, saya paling antusias membaca HOK Tanzil. Penulis spesialis perjalanan ini rupanya belum ada duanya di Indonesia sampai sekarang. Rajin blusukan ke berbagai negeri, punya pengalaman suka duka, hal-hal kecil yang lucu, menantang, dan akhirnya bisa diatasi.

Haris Otto Kamil Tanzil tidak menulis dengan gaya sastra atau bahasa yang dibuat-buat. Kalimatnya sederhana, langsung, detail, tapi punya daya pikat. Pria bernama asli Tan Thiam Hok ini mampu membawa pembaca Intisari tempo doeloe seakan-akan ikut dalam petualangan bersama dirinya dan istri, Ellia Tanzil.

Wow, hari ini (14 November 2013) saya baru tahu bahwa HOK Tanzil ternyata masih ada dan sehat walafiat setelah membaca Kompas. Maklum, sudah bertahun-tahun pria kelahiran Surabaya 16 Juli 1923 ini tidak menulis lagi. Atau, saya yang tidak pernah membaca tulisan-tulisan barunya.

Di usia 90 tahun, HOK Tanzil bebas makan apa saja baik itu gule, sate, duren, hingga jeroan. Di tulisan-tulisan lama, yang sudah dibukukan, Pak Tanzil selalu menceritakan kesibukan memasak sendiri bersama istri tercinta, yang sudah tiada. Paling tidak, seperti yang saya ingat, memasak supermi, dendeng, bikin teh panas.

Seperti dikutip Kompas, HOK Tanzil sudah blusukan ke 240 negara. Beliau pemegang rekor dunia untuk urusan keliling dunia karena rekor dunia saat ini baru 235 negara. Tapi HOK Tanzil tidak mau repot mengurus ke pihak Gueness Book of Records.

Dokter lulusan FK Universitas Indonesia itu tak pernah merasa lelah. Dia suka VW Combi karena bisa diisi alat tidur hingga alat masak. "Semua orang itu baik," begitu kesannya tentang orang-orang yang ditemuinya di 240 negara tadi.

Salah satu tulisan HOK Tanzil yang saya suka berjudul KE NARVIK HANYA UNTUK MELIHAT MATAHARI TENGAH MALAM di Intisari September 1981. Perjalanan HOK Tanzil dan nyonya dilakukan pada 26 Juni 1980 dari Belanda menuju Skandinavia. Artinya, tulisan itu baru dimuat hampir setahun setelah perjalanan. Setelah beliau pulang ke Jakarta baru mengetik dan mengirim ke redaksi majalah Intisari.

HOK Tanzil mencatat dengan rinci di buku hariannya karena tulisannya sangat hidup dan jelas. Beda dengan penulis zaman sekarang yang bisa langsung mengirim catatan dan foto seketika via internet. Tapi hasilnya malah kurang sedap dan membosankan. Tidak bikin ketagihan seperti tulisan-tulisan opa yang pernah meneliti penyakit TBC itu.

Narvik itu kota paling utara di Eropa di Norwegia, kutub utara. Tanzil dan istri tiba di Narvik pukul 22.56. Dia menulis begini:

"Sewaktu turun di peron tanpa atap, matahari pada tengah malam buta itu terang benderang seperti pukul 15.30 di Jakarta. Suhu 20 derajat Celcius. Semua penumpang yang cukup banyak jumlahnya turun di stasiun akhir ini. Ada yang terus dengan mobil, tapi sebagian santai melihat-lihat keadaan, termasuk kami."
Bagi kita di Indonesia yang siangnya terang, malam gelap, cerita HOK Tanzil ini tergolong ajaib. Aneh tapi nyata.

Lebih ajaib lagi beliau dan istri bisa dengan enteng melanglang buana untuk menyaksikan secara langsung. Ingat, pada 29 Juni 1980, ketika HOK Tanzil menginjakkan kakinya di Narvik, sebagian besar orang Indonesia masih buta huruf dan hidup di bawah garis kemiskinan.

Catatan perjalanan HOK Tanzil dan istri sudah dijadikan 16 buku. Tapi saya baru memiliki tiga buku. Itu pun tak jelas di mana sekarang. Yang pasti, cara bercerita HOK Tanzil sangat enak, asyik, akrab, tanpa sedikit pun pamer diri sebagai petualang hebat. Itulah bedanya dengan travel writer di era internet ini.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

5 comments:

  1. Ama Lambert, saya pernah baca Culture shock Jakarta oleh Derek Bacon. Lucu dan pahit karena yahh... betul juga sih isinya

    salam
    =telo artikel

    ReplyDelete
  2. Ada video wawancara dgn HOK Tanzil juga lho mas, ini link youtubenya: http://youtu.be/DE2K4OmWELc

    salam kenal.

    ReplyDelete
  3. ada bukunya ga mas ? saya beli deh

    ReplyDelete
  4. Selamat sore, apakah Bapak mengkoleksi majalah Intisari tahun 2011-2012?

    ReplyDelete
  5. Halo...
    Pak HOK Tanzil emang hardcore traveler dah. Rekor yg belum dilampaui oleh traveler2 Indo hingga hari ini. Yg saya bingung adalah, dulu kerjaan dia apaya? Dananya utk keliling dunia ada aja...

    Selain Tanzil, salah 1 penulis yg menginspirasi bagi saya ialah J. Erickson Ginting.
    Beliau dan Tanzil mungkin adalah 2 orang Indo yg bener2 udah pernah menjelajah Africa hingga ke bagian tengah: Tanzania, Malawi, Mozambique, dll.

    Beberapa orang Indo banter paling cuma sampe Africa Utara aja, Mesir.

    Jurnal perjalanan J. Ginting bisa kalian baca di bukunya yg baru rilis tahun ini: This is Africa.

    "It's not just about the destination, but the journey"

    ReplyDelete