30 November 2013

Gombloh yang mulai dilupakan

Untung ada Henky Kurniadi yang bikin acara Tribute to Gomboh di parkir timur Plaza Surabaya. Untung ada Sawung Jabo dan para seniman yang nyekar di makam almarhum Gombloh, kemudian dimuat koran dan laman berita di internet.

Kalau tidak, kita sudah lupa Gombloh. Seniman musik arek Surabaya yang nyentrik ini meninggal pada usia 40 di tahun 1988. Meninggal sebagai seniman musik yang cinta tanah air.

Lagu-lagunya sarat dengan pesan kerakyatan, nasionalisme, kepahlawanan, lingkungan hidup, sosial politik. Sesekali ada lagu cinta macam Kugadaikan Cintaku atau Apel.

Hampir 30 tahun berlalu dan banyak perubahan terjadi di tanah air. Kita nyaris tak melihat lagi seniman-seniman rakyat ala Gombloh. Ada memang si Iwan Fals, tapi rupanya dia terlalu sibuk promosi Top Kopi, minuman yang katanya bagus untuk orang-orang berani.

Ah, andaikan Gombloh masih hidup, apakah dia jadi bintang iklan di TV? Atau tetap menyuarakan kepedihan rakyat dengan gitar dan nyanyiannya?

Yang pasti, generasi muda di bawah 20 tahun tak lagi akrab dengan Gombloh. Paling cuma tahu Gebyar-Gebyar, lagu Gombloh yang mungkin diajarkan di sekolah. Tapi Gombloh iku sopo? Arek gang piro? Hehehe...

Orang lebih mengenal Ayu Ting Ting atau Zaskia Gotik atau Vicky Prasetyo yang bahasanya sangat ajaib itu.

"Saya bikin konser untuk menghormati Gombloh agar anak-anak muda tahu bahwa almarhum seorang seniman besar dari Surabaya," kata Henky Kurniadi, pengusaha yang menggagas acara ini.

Henky juga sedang nyaleg lewat PDI Perjuangan. Mungkin ada pamrih politik. Agar Pak Henky dipilih saat pemilu tahun depan. Tapi bagaimanapun juga sebetulnya ini proyek idealisme. Tak banyak orang yang ingat Gombloh, apalagi bikin acara khusus untuk umum dan gratis pula.

Saya beruntung dapat kesempatan cangkrukan sama Henky Kurniadi dan Sawung Jabo saat persiapan acara Gombloh ini. Keduanya sangat antusias menghidupkan kembali kesenian, khususnya musik, yang tak hanya menghibur orang yang sedang mabok cinta.

Musik pop pun, seperti ditekuni Gombloh, ternyata sangat dahsyat untuk menggelorakan nasionalisme, cinta lingkungan, sesama, dan Sang Pencipta.

Di tengah korupsi yang sistemik dan makin gila-gilaan, ada baiknya kita ingat Gombloh Sujarwoto. Indonesia...

Merah darahku.
Putih tulangku.
Bersatu dalam semangatmu.

Biarpun matahari tebit dari barat!
Kau tetap Indonesiaku!

Biarpun korupsi merajalela...
Kau tetap Indonesiaku....


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment