11 November 2013

Dokter Senior yang Enggan Berobat



Pekan lalu ada berita kecil di surat kabar Surabaya yang menggelitik. Seorang dokter senior, mantan ketua IDI di Surabaya, meninggal dunia. Kondisinya mengenaskan.

Pak dokter itu ternyata sudah sakit lama sekali. Penyakit yang tergolong kelas berat. Tapi dia tidak mau berobat di rumah sakit atau ditangani spesialias yang paling hebat sekalipun. Dia pasrah dan tawakal di rumah saja.

Padahal, ketika masih aktif, pak dokter ini termasuk hebat menangani pasien-pasien kelas berat. Dan banyak yang sembuh sampai hari ini. Kok aneh?

Begitulah hidup. Sehebat-hebatnya dokter, dia pun tak lepas dari takdir kematian. Tak sedikit dokter yang mati ngenes setelah menderita sakit sangat lama. Kok bisa ya? Bukankah pak profesor dokter itu sudah tahu seluk-beluk penyakit, cara mengatasi, operasi, dan sebagainya?

Saya teringat Bu Endang, almarhumah, mantan menteri kesehatan RI yang dulu praktik di puskesmas kecil di Kabupaten Sikka, Flores. Kurang apa Dokter Endang? Sebagai menteri kesehatan, beliau punya dokter-dokter terbaik yang bisa mengeroyok penyakitnya.

Tapi, kita tahu, Bu Endang pun menyerah. Hidup hanya menunda kekalahan, kata penyair Chairil Anwar.
Saya juga ingat kata-kata Eyang Siti yang dulu selalu membahas persoalan sangkan paraning dumadi seperti ini. Eyang punya adik kandung, seorang dokter spesialis penyakit dalam, yang bekerja di RSUD Sidoarjo.

Dokter Nono itu meninggal dalam usia relatif muda, tanpa anak, karena penyakit dalam yang sangat gawat.
"Kok bukan Eyang yang dipanggil lebih dulu sama Allah. Kok Nono yang dokter spesialias," ujar sang mbah seakan memprotes keputusan Tuhan yang mencabut nyawa adiknya.

"Dokter kan manusia juga Eyang! Bisa sakit, bisa stroke, bisa meninggal dunia. Cuma dokter paling tahu ilmu tentang penyakit-penyakit manusia dan cara mengatasinya," jawab saya.

"Kalau tahu cara mengatasi penyakit, kok gak bisa mengatasi penyakitnya sendiri?" Eyang membalas dengan nada tinggi.

Saya hanya bisa diam. Membahas persoalan penyakit, kematian, atau takdir pasti tak akan pernah selesai. Dan selalu akan menjadi misteri Tuhan.

Sehebat-hebatnya dokter, dia tidak bisa menentukan umur pasien. Dokter hanya berusaha, Tuhan yang menentukan. Keluarga pasien hanya bisa pasrah dalam doa.

Tapi saya masih tak habis pikir mengapa seorang dokter senior, profesor, mantan ketua IDI, tak percaya pengobatan dokter dan membiarkan tubuhnya menderita hingga meninggal dunia.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

3 comments:

  1. soale percuma, penyakite wis gawat...

    ReplyDelete
  2. Selamat Siang,

    Saya Shima dari EO Voila!. Saya membaca tulisan Anda di internet mengenai Classic Rock Community Surabaya. Kebetulan kami memiliki acara reguler tiap Jumat malam, dan Jumat ini tribute to Bon Jovi. Kami ingin mengundang Classic Rock Community ke acara kami. Apakah saudara Hurek memiliki kontak mereka?

    Terima kasih.

    Arifiana Shima


    Graha Voila! Indonesia
    Jl Manyar Jaya V Blok A no 27 - III Surabaya 60118
    T +62 31 5928276 | F +62 31 5996344

    ReplyDelete
  3. Dokter itu tahu batas ilmu kedokteran, mana penyakit yang bisa disembuhkan dengan obat atau operasi, mana penyakit yang kemungkinan penyembuhannya sangat kecil. Kalau kena kanker pankreas misalnya, kemoterapi bisa habis ratusan juta, tapi kemungkinan hidup 1 tahun ke depan hanya 5%. Bila datanya dari tes darah, tes imaging sudah masuk, dan diagnosa sudah jelas, untuk apa buang-buang uang hanya sekedar menunda kematian, dengan kualitas hidup yang sangat rendah? Lebih baik konsentrasi untuk perawatan palliative dan membereskan urusan pribadi yang harus diselesaikan sebelum "kembali ke muara kehidupan". Begitulah kira-kira cara berpikir dokter yang rasional. Kenapa saya tahu? Karena istri saya dokter.

    ReplyDelete