22 November 2013

Dengar Angel Pfaff, Ingat Teman Lama


Angel Pfaff bersama dua buah hatinya. Melodi memori!

Kamis siang, 21 November 2013, saya mampir ke Strato FM, radio yang punya siaran bahasa dan musik pop Mandarin di Jalan Jawa, Surabaya. Tujuan utama: menemui Bai Laoshi, guru senior bahasa Mandarin, yang juga penyiar paruh waktu di Strato FM. Laoshi ini juga sering menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk pejabat-pejabat di Jawa Timur, termasuk Gubernur Soekarwo.

Wow, persis di sebelah Strato FM ada studio Media FM, radio spesialis tembang kenangan. Fokus saya ke Bai Laoshi buyar karena mbak penyiar yang jilbaban itu memutar lagu lama dari Angel Pfaff. Lagu yang sudah bertahun-tahun tak pernah saya dengar. Ingatan saya pun langsung melayang jauh ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur.

Saya ingat beberapa teman yang sangat gandrung Angel Pfaff (juga ditulis Angel Paff). Penyanyi 80an yang suaranya lantang, artikulasinya jelas, lagu-lagunya manis. Enak sekali dinikmati, menurut selera orang Flores, dan NTT umumnya. Memang, orang Flores itu dari luar kelihatan serem, galak, tapi sukanya lagu-lagu mellow nan melankolis.

Lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap, Obbie Messakh, Pance Pondaag, Deddy Dores, Judhi Kristianto, Maxie Mamiri, Wahyu OS, dan sejenisnya laku luar biasa. Orang biasa bersenandung sambil merem-melek, membayangkan sesuatu yang indah-indah, mengikuti syair dan melodi lagu.

Nah, lagu Angel Pfaff yang diputar di Radio Media FM Surabaya syairnya antara lain begini:

"Kuingat dalam hati
Syair dalam simfoni
Indah meresap kalbu
Seakan tahu tentang hidupku

Lagu indah dan merdu

Mengingatkan diriku
Tentang dia kucinta
Dalam hidupku setahun berlalu...."

Enak sekali yang pernah mendengar masa lalu, punya kenangan, tapi biasa-biasa saja untuk mereka yang tak pernah dengar. Bahkan, dianggap lagu pop cengeng ala Obbie atau Pance atau Rinto yang dikecam Menteri Penerangan Harmoko tempo doeloe.


Saya ingat seorang kakak kelas di Larantuka sangat jago membawakan lagu-lagu Angel Pfaff. Lagu ciptaan Doddy K ini termasuk yang paling enak. Kemudian beberapa hit lain Angel Pfaff seperti Harapan Cinta dan paling top pastilah Pernahkah Dulu karya Obbie Messakh. Kalau ada hajatan band atau organ tunggal (elekton), orang Adonara Timur ini selalu nyanyi Angel Pfaff. Beda dengan si Helen yang favorit Dian Piesesha dan Lidya Natalia.

Meski tak bergabung di JK Records, lagu-lagu Angel Pfaff sangat dipengaruhi warna JK alias Judhi Kristianto. Produser rekaman, pemilik JK Records, yang mengorbitkan begitu banyak penyanyi-penyanyi pop manis pada era 1980-an hingga pertengahan 1990-an.

Karena itu, musik yang digarap Paul Irama untuk Angel Pfaff ini sangat manis ala JK. Padahal, kita tahu Paul Irama itu pemusik dan arranger yang kuat untuk jazz Indonesia. Margie Siegers, penyanyi jazz utama masa lalu, tak bisa lepas dari sentuhan Paul Irama. Tapi, begitulah, siapa yang berani melawan tren industri musik yang sedang dihegemoni aliran JK Records?

Angel Pfaff bukanlah penyanyi karbitan. Dia punya pengalaman menyanyi yang luas di panggung sebelum diajak masuk dapur rekaman. Bahkan, dia pernah berduet dengan Andres, penyanyi kondang era 1970an, teman duet andra Reemer, yang ngetop dengan Story Book Children. Angel Pfaff yang masih remaja polos pun makin dilirik para cukong rekaman di Jakarta.

Ketika Obbie Messakh, pencipta lagu yang dikontrak khusus oleh Judhi Kristianto dari JK Records, merajalela di industri musik pop tanah air pada medio 1980-an, Angel Pfaff pun ingin dibuatkan lagu oleh Obbie. Tapi sang komposer asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu terlalu sibuk menggarap pesanan lagu-lagu dari produser. Khususnya JK Records.

"Waktu itu mencari pencipta lagu yang namanya Obbie Messakh itu sulitnya minta ampun. Masih lebih mudah mencari gubernur atau presiden," kata Angel Pfaff suatu ketika. Apa boleh buat. Wanita berambut ikal ini terpaksa menggunakan lagu-lagu karangan komposer lain. Cukup sukses tapi tidak sampai meledak.

Barulah pada 1987, Obbie Messakh membuatkan lagu khusus untuk Angel Pfaff. Judulnya: Pernahkah Dulu. Diproduksi Nur Records (sebelumnya dia ikut Bens Records), album Pernahkah Dulu ini sukses besar. Du..du..du...du... dudududu...dududududu.... Obbie tak hanya membuatkan lagu, tapi ikut main gitar serta brsenandung du..du..du....

Bukan hanya Obbie Messakh, arranger atau penata musik yang sebelum itu menggarap musik artis-artis JK, Hengky Firmansyah, dipercaya mengerjakan album ini. Sejak itulah nama Angel Pfaff booming di tanah air. Lagunya diputar di mana-mana, bahkan hingga ke pelosok NTT yang belum punya listrik PLN seperti di kawasan Flores Timur.  

Ketika tren musik berubah, lagu-lagu pop manis ala JK Records, termasuk Angel Pfaff dan sejenisnya, pun surut. Tapi Angel Pfaff masih tetap menyanyi meskipun tidak lagi membius publik seperti pada 1980-an hingga 1990-an. Tapi, paling tidak, lagu-lagunya yang manis itu masih diputar dan di-request oleh para pendengar Radio Media FM di Surabaya.

Saya pun tersenyum sendiri ketika pulang dari studio Strato dan Media FM d Jalan Jawa itu. Saya ingat gaya teman lama saya di kampung yang berusaha meniru gaya Angel Pfaff menyanyi di televisi. Melodi dan syair lagu lawas berjudul DIA DALAM HIDUPKU itu rasanya sangat sulit dilupakan. Jauh lebih mudah melupakan posisi kendaraan bermotor di halaman parkir ketimbang lagunya si Angel Pfaff.


"Bulan purnama
Aku dan dia 
Bermabuk cinta
Menikmati suasana
Hati terasa, oh bahagianya
Dunia hanya milik kita berdua

Tiada duanya insan bercinta

Hanyalah aku dan dia yang disana
Sunyi dan sepi namun berarti
Di dalam perjalanan hidupku ini"

3 comments:

  1. Mas Hurek, selera musik anda sama seperti saya, lagu2 kalem, musik untuk melamun kata orang eropa. Sebab itu, sewaktu di SMP-SMA, saya suka lagu2-nya Everly Brothers dan Rachmat Kartolo.
    Waktu mahasiswa di-Eropa, zamannya zaman edan, zaman perang Vietnam. Generasi kami adalah generasi '68, kerjanya cuma demonstrasi dan sex-bebas, anti-baby-pil diobral di-apotek.
    Waktu itu saya " falling in love " sama cewek bule, dia punya sebuah Tape-Recorder dan pita-nya cuma 1 biji / rol. Isinya lagu2 dari Rock Groups : The Kinks, The Who, The Black Sabbath, The T-Rex, The Rolling Stones, Deep Purple, dll. Setiap malam aku harus terpaksa ikut mendengarkan musik2 itu semalaman suntuk, ber-ulang2. Selama 6 bulan itu, dari sekian banyak lagu2, hanya 4 lagu yang meresap dikalbu-ku seumur hidup, sampai sekarang. Jika mendengar keempat lagu itu, aku masih gandrung dan terkenang masa muda yang bebas. Kantong kempes, tetapi hati senang-bahagia. Semboyan kita dulu bukan cari kekayaan, melainkan Love & Peace, hanya hidup dari udara dan bercinta.
    Padahal waktu itu, saya cenderung mendengarkan lagu2 Soul, dari Percy Sledge, Otis Redding, Arthur Conley atau lagu2 Pop dari Bee Gees, atau Hang on Sloopy dari Mc Coy's.
    Tetapi oleh pacar-ku, mendengarkan Beatles sudah tidak diijinkan, apalagi mendengarkan lagu2 Pop cengeng. Kampungan ! katanya. Dasar wong lanang, kalau sudah gandrung, ya otaknya melorot kecelana ! Nurut saja.
    Keempat lagu2 yang masih membuat aku gandrung, walaupun sekarang sudah jadi engkong, adalah : A Whiter Shade Of Pale, dari Procol Harum. She's Like A Rainbow, As Tears Go By,
    The Last Time, dari Rolling Stones.
    Waktu mahasiswa, radio-pun tidak punya. Mendengar musik, ya hanya nguping dipinggir jalan didepan toko musik penjual piringan hitam, atau dari Jukebox bayar pakai uang recehan, atau kalau teman2 Indonesia membuat acara pesta dansa.
    Batara Kala memang kejam, waktu hilang entah kemana.


    ReplyDelete
  2. Wah, anaknya Angel Pfaff yang bungsu adik kelas saya, satu sekolah di BSD. Kenalan di paduan suara sekolah, suaranya bagus seperti mamanya.

    ReplyDelete
  3. Bagaimana kabarnya Angel Pfaff sekarang ya? Masih di menyanyi? Saya juga suka lagu lagunya....

    ReplyDelete