25 November 2013

Catatan Dahlan Iskan Tetap Menarik

Di zaman internet ini berjuta-juta tulisan bisa dengan mudah kita akses. Cukup lihat di ponsel atau komputer. Tsunami informasi sudah lama terjadi.

Tapi saya masih terus menunggu Catatan Dahlan Iskan di halaman satu Jawa Pos tiap Senin. Sejak dulu Pak Bos, sapaan akrab menteri BUMN dan chairman Jawa Pos Group ini memang paling rajin membuat catatan. Tentang apa saja. Mulai dari soal politik, pesantren, NU, Muhammadiyah, umrah dan haji, hingga Tionghoa dan Tiongkok.

Apa saja yang dicatat Dahlan Iskan pasti sangat menarik, kata saya. Meskipun sudah banyak wartawan menulis isu sejenis, sama-sama meliput, pasti kalah jauh sama Pak Bos. Karena itu, wartawan-wartawan lama yang sudah tahu kehebatan Dahlan Iskan pasti malu meliput kegiatan Menteri Dahlan Iskan.

Mengapa? Dahlan Iskan akan membuat sendiri catatannya dan pasti lebih bagus. Banyak nuansa yang tidak akan bisa ditangkap orang lain selain Pak Bos. Orang bisa saja dengan mudah meniru gaya Dahlan Iskan, tapi tak akan pernah sama mutunya.

Itulah antara lain salah satu rahasia mengapa surat kabar atau media cetak masih digandrungi. Yah, karena banyak tulisan dan gaya yang tidak ada di internet. Berita-berita di internet memang unggul kecepatan, wesweswes... tapi pasti tak punya kedalaman. Unsur serius tapi santai, main-main tapi sungguhan itulah yang kita tangkap dari seorang Dahlan Iskan.

Yang paling hebat lagi Dahlan Iskan tetap produktif menulis ketika sudah jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Bukankah menteri itu sangat sibuk? Toh Dahlan Iskan bisa menulis cepat di atas mobil yang membawanya meninjau proyek pemerintah di pelosok. Bahkan menulis di BB sambil tidur di rumah sakit.

Karena itu, aneh sekali kalau wartawan biasa, yang tidak akan sesibuk Menteri Dahlan Iskan selalu berkilah tidak punya waktu untuk membuat catatan atau feature atau boks seperti yang ditauladankan Pak Bos setiap minggu.

Filsafat khas Dahlan -- kerja, kerja, kerja -- rupanya sangat diperlukan di dunia jurnalistik Indonesia. Etos kerja dengan antusiasme tinggi, serba cepat dan efisien, tapi juga tetap bisa mempertahankan kualitas. Dahlan Iskan menunjukkan kepada kita produktivitas dan kualitas bisa berjalan seiring.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment