06 November 2013

Bahasa Indonesia Orang Flores Dianggap Bagus

Tak banyak tulisan atau liputan yang positif tentang Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores, di media massa nasional. Yang paing sering, dan rutin, adalah berita tentang kemiskinan, kelaparan, infrastruktur yang buruk, mafia TKI, dan sebagainya.

Terakhir Wilfrida, TKI asal NTT, terancam hukuman mati di Malaysia. Sebelumnya Nirmala Bonat, juga TKI asal NTT, disetrika majikannya di Malaysia. Sebagian orang NTT, khususnya Flores, memang sejak dulu merantau ke Malaysia, khususnya Sabah dan Serawak karena tak ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang di NTT, kecuali PNS (pegawai negara sipil).

Tiba-tiba saya menemukan tulisan positif yang memuji kemampuan berbahasa Indonesia orang Flores. Ditulis di Kompas edisi Minggu, 3 November 2013, oleh Bre Redana, kolom udar rasa itu berjudul Bahasa Kita. Bre Redana merupakan wartawan senior Kompas, redaktur, juga sastrawan yang tak asing lagi di Indonesia. Sejak dulu saya menganggap Bre Redana sebagai wartawan Kompas yang tulisannya paling bagus dan enak dibaca.

Di alinea pertama, Bre Redana menulis begini:

"Saya punya pandangan dan kesan pribadi terhadap saudara-saudara kita dari Indonesia Timur.... Saya sering terharu dengan kecakapan berbahasa Indonesia mereka. Pribadi-pribadi yang saya kenal dari Flores umumnya berbahasa Indonesia dengan sangat bagus meski daerah mereka (kita semua tahu) terbilang sangat tertinggal."

Saya pun senyam-senyum membaca kolom mingguan Bre Redana yang jadi favorit saya itu. Oh, ternyata orang Flores dinilai bagus oleh pentolan Kompas. Termasuk saya barangkali hehehe....

Bre Redana kemudian menyebut nama Daniel Dhakidae dan Ignas Kleden, dua doktor ilmu sosial yang sama-sama orang Flores. Sama-sama mantan frater. Sama-sama mengenyam pendidikan seminari yang sangat ketat di seminari rendah, dilanjutkan ke seminari tinggi.

Yah, jelas saja kenalan dekat Bre Redana yang dari Flores itu bahasa Indonesianya bagus. Sebab, memang cukup banyak orang Flores, yang eks seminari, jadi wartawan Kompas dan media lain di tanah air. Bahkan, pemimpin redaksi Kompas saat ini juga orang Flores Barat, namanya Rikard Bagun.

Pujian yang sama, terkait kemampuan berbahasa Indonesia orang Flores yang bagus, sebelumnya disampaikan Jamal D. Rahman. Sastrawan dan esais asal Madura ini tak lain pemimpin redaksi majalah sastra Horizon. Jamal heran mengapa Flores yang terpencil, terbelakang, sebagian besar masyarakatnya miskin, bisa menghasilkan pastor, akademisi, atau intelektual yang kualitas bahasa Indonesianya di atas rata-rata.

Ini perlu kajian atau penelitian khusus. Yang jelas sinyalemen Bre Redana atau Jamal Rahman ini tidak bisa di-gebyah uyah. Kebetulan intelektual Flores yang aktif menulis di Jakarta itu mantan seminaris, mantan frater, yang ditempa pendidikan bahasa secara mendalam. Tidak bisa mewakili semua orang Flores, apalagi NTT.

Saya beberapa kali menulis di blog ini bahwa bahasa Indonesia itu sejatinya sulit bagi kebanyakan orang Flores. Bahasa Indonesia (baik + benar) malah termasuk bahasa ketiga, bahkan keempat atau kelima. Orang-orang kampung di Flores Timur dan Lembata seperti saya sebetulnya tidak pernah mengenal bahasa Indonesia standar. Karena itu, guru-guru sangat kesulitan dalam menerangkan pelajaran kepada peserta didik.

Ketika duduk di sekolah dasar di pelosok Lembata, misalnya, sampai kelas IV guru belum 100% memberikan pelajaran dalam bahasa Indonesia. Harus dicampur bahasa Lamaholot, bahasa daerah di Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Murid-murid akan bingung kalau Pak Guru sepenuhnya memberikan materi dalam bahasa Indonesia.

"Bapa Guru, KOLONG TEMPAT TIDUR nepe aku?" tanya saya waktu SD kelas IV.

Artinya, "Bapa Guru, kolong tempat tidur itu apa?"

Maklum, saya dan teman-teman memang tidak paham kata KOLONG. Di kampung saya, KOLONG artinya sejenis burung dan sering diasosiasikan dengan (maaf) penis laki-laki. Kontan saja, teman-teman sekelas pun tertawa mendengar pertanyaan lugu dari anak kampung ini.

Guru Yohanes kemudian menjawab: "KOLONG TEMPAT TIDUR nepe natan pelangun!"

Artinya, KOLONG TEMPAT TIDUR itu berarti tempat tidur bagian bawah. Ohhh... akhirnya kami mengerti satu kata itu. Jadi, KOLONG TEMPAT TIDUR bukan burung yang hinggap di tempat tidur! Hehehe....

Berdasarkan pengalaman saya dari SD, SMP, sampai SMA di Flores Timur, harus saya akui bahwa guru-guru bahasa Indonesia di Flores Timur sangat keras mengoreksi kesalahan bahasa anak didik. Bahasa daerah tidak boleh dicampur bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak boleh dicampur bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

Teman-teman sekelas diminta saling memata-matai temannya selama jam sekolah. Dicatat siapa saja yang ketahuan berbahasa daerah, lalu dilapor ke guru. Akan ada sanksi bagi para pelanggar. Guru Paulus, guru SD saya dulu, punya kebiasaan menghukum murid dengan menyuruhnya membaca kitab suci Perjanjian Baru perikop tertentu. Lantas, si murid disuruh membuat semacam renungan atau khotbah berdasarkan isi kitab su tadi.

Karena itu, sejak SD saya sudah biasa menulis khotbah atau renungan karena hampir semua murid di kampung tidak pernah bisa berbahasa Indonesia secara murni dan konsekuen. Artinya, 100 persen bahasa Indonesia tanpa campuran bahasa Lamaholot. Bagaimana tidak campur kalau perbendaharaan kata kami masih sangat terbatas.

Di Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, guru bahasa Indonesia sangat keras soal penggunaan kata ganti orang: KITA, KAMI, SAYA, ENGKAU. Mengapa? Orang Larantuka tidak mengenal kata SAYA. Walaupun merujuk dirinya sendiri, tunggal, orang Larantuka selalu bilang KITA.

Contoh: KITA SUDAH MANDI. Padahal, maksudnya: SAYA SUDAH MANDI.

Begitu ada murid menggunakan KITA untuk tunggal, pak guru langsung koreksi: Pakai kata SAYA, bukan KITA!

Begitu pula KAMI yang harus jamak, bukan tunggal. KAMI hanya dipakai untuk merujuk diri sendiri dan minimal satu orang lain. Kalau diri sendiri, ya, pakailah SAYA.

Khusus anak-anak seminari, penggodokannya lebih keras lagi. Mereka punya hari wajib berbahasa Inggris, Latin, Jerman, Belanda, dan entah bahasa apa lagi. Mereka juga terbiasa berbicara dengan penutur asli karena cukup banyak pastor yang menjadi guru di seminari. Pastor-pastor pribumi pun punya kemampuan berbahasa asing yang bagus.

2 comments:

  1. Pendidikan lah yang mengubah masyarakat, seorang demi seorang, menjadi masyarakat unggul. Kemampuan berbahasa secara baik menunjukkan kemampuan berpikir logis. Kemampuan membaca dan membuat renungan menunjukkan kemampuan menganalisa dan berpikir kritis. Rupanya Bung Hurek mendapatkan pendidikan kelas atas di Flores.

    ReplyDelete
  2. Maklum Boss, bahasa indonesia mulanya dipelajari secara serius di Ende, Flores..... lihat sj, buku2 di subyek bahasa indonesia, kamus dll banyak yg diterbitkan di Ende.

    ReplyDelete