30 November 2013

Keuskupan Surabaya serius menata liturgi

Kita di Keuskupan Surabaya rupanya agak telat dalam pembenahan liturgi. Kalah sama tetangga dekat, Keuskupan Malang. Kalau Malang yang didominasi romo-romo dan uskup karmelit serius membenahi liturginya sejak lama, kita di Surabaya baru menyusul.

Dan itu tak lepas dari takhta lowong alias sede vacante yang cukup lama setelah Bapa Uskup Mgr Hadiwikarta meninggal dunia akhir 2003. Lama sekali kita tak punya uskup. Takhta baru terisi tahun 2007 oleh Mgr Sutikno Wisaksono. Uskup kelahiran Tanjungperak, Surabaya, yang ternyata sangat peduli liturgi.

Monsinyur sangat serius melakukan pembenahan di sana-sini. Termasuk menertibkan improvisasi-improvisasi yang dulu sering dilakukan sebagian umat Katolik, khususnya kelompok karismatik. Kita diajak untuk back to basic. Kembali menghargai dan melaksanakan kekayaan liturgi yang luar biasa.

Seksi liturgi gencar mengadakan penataran dan pembinaan. Belum lama ini di Puhsarang, Kediri. Bung Sipri yang asli Flores Barat kebagian jatah memberikan wawasan tentang musik liturgi. Mana lagu-lagu liturgis, mana yang bukan, mana yang profan.

Jujur saja masih banyak dirigen, paduan suara, bahkan seksi liturgi kurang paham. Tidak ngerti pakem. Tidak mau baca buku-buku liturgi yang sudah diterbitkan keuskupan atau Komisi Liturgi KWI. Bagaimana bisa paham konstitusi liturgi?

Pembinaan liturgi juga dilakukan langsung ke umat. Saya perhatikan di Surabaya, menjelang perayaan ekaristi, ada semacam katekese liturgi. Kita diberi pemahaman tentang berbagai elemen liturgi. Pelajaran tingkat dasar ini sangat penting untuk menyegarkan iman dan pengetahuan umat Katolik.

Syukurlah, perubahan sudah sangat terasa di Keuskupan Surabaya. Dibandingkan tiga atau lima tahun lalu, kualitas petugas-petugas liturgi di gereja sudah meningkat luar biasa. Tak ada lagi kor atau paduan suara yang tidak siap atau asal-asalan menyanyi.

Paroki yang dulu kornya paling jelek di Surabaya, kini meningkat luar biasa. Tak kalah dengan choir papan atas. Pemilihan lagu-lagunya pun mencengangkan saya. Bahkan mereka cenderung suka memilih lagu-lagu yang terlalu sulit.

"Kita cari komposisi yang menantang," kata seorang pentolan kor di kawasan selatan.

Wow, bukan main!

Menantang sih boleh, tapi jangan berlebihan sulitnya lah. Sebab, yang namanya liturgi itu sifatnya dari, oleh, dan untuk umat. Bukan ajang pamer kebolehan paduan suara membawakan komposisi Mozart, Schubert, Bach, dan sebagainya. Kasihan umatnya kalau kornya berlari sendiri.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Gombloh yang mulai dilupakan

Untung ada Henky Kurniadi yang bikin acara Tribute to Gomboh di parkir timur Plaza Surabaya. Untung ada Sawung Jabo dan para seniman yang nyekar di makam almarhum Gombloh, kemudian dimuat koran dan laman berita di internet.

Kalau tidak, kita sudah lupa Gombloh. Seniman musik arek Surabaya yang nyentrik ini meninggal pada usia 40 di tahun 1988. Meninggal sebagai seniman musik yang cinta tanah air.

Lagu-lagunya sarat dengan pesan kerakyatan, nasionalisme, kepahlawanan, lingkungan hidup, sosial politik. Sesekali ada lagu cinta macam Kugadaikan Cintaku atau Apel.

Hampir 30 tahun berlalu dan banyak perubahan terjadi di tanah air. Kita nyaris tak melihat lagi seniman-seniman rakyat ala Gombloh. Ada memang si Iwan Fals, tapi rupanya dia terlalu sibuk promosi Top Kopi, minuman yang katanya bagus untuk orang-orang berani.

Ah, andaikan Gombloh masih hidup, apakah dia jadi bintang iklan di TV? Atau tetap menyuarakan kepedihan rakyat dengan gitar dan nyanyiannya?

Yang pasti, generasi muda di bawah 20 tahun tak lagi akrab dengan Gombloh. Paling cuma tahu Gebyar-Gebyar, lagu Gombloh yang mungkin diajarkan di sekolah. Tapi Gombloh iku sopo? Arek gang piro? Hehehe...

Orang lebih mengenal Ayu Ting Ting atau Zaskia Gotik atau Vicky Prasetyo yang bahasanya sangat ajaib itu.

"Saya bikin konser untuk menghormati Gombloh agar anak-anak muda tahu bahwa almarhum seorang seniman besar dari Surabaya," kata Henky Kurniadi, pengusaha yang menggagas acara ini.

Henky juga sedang nyaleg lewat PDI Perjuangan. Mungkin ada pamrih politik. Agar Pak Henky dipilih saat pemilu tahun depan. Tapi bagaimanapun juga sebetulnya ini proyek idealisme. Tak banyak orang yang ingat Gombloh, apalagi bikin acara khusus untuk umum dan gratis pula.

Saya beruntung dapat kesempatan cangkrukan sama Henky Kurniadi dan Sawung Jabo saat persiapan acara Gombloh ini. Keduanya sangat antusias menghidupkan kembali kesenian, khususnya musik, yang tak hanya menghibur orang yang sedang mabok cinta.

Musik pop pun, seperti ditekuni Gombloh, ternyata sangat dahsyat untuk menggelorakan nasionalisme, cinta lingkungan, sesama, dan Sang Pencipta.

Di tengah korupsi yang sistemik dan makin gila-gilaan, ada baiknya kita ingat Gombloh Sujarwoto. Indonesia...

Merah darahku.
Putih tulangku.
Bersatu dalam semangatmu.

Biarpun matahari tebit dari barat!
Kau tetap Indonesiaku!

Biarpun korupsi merajalela...
Kau tetap Indonesiaku....


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

29 November 2013

Asmirandah-Jonas dan soal kawin campur



Nikah beda agama tidak dikenal di Indonesia. Kalau mau nikah ya harus sama agamanya. Bagaimana kalau beda agama? Ya, harus disamakan dulu.

Kalau agama si laki dan wanita belum sama, maka pernikahan itu batal demi hukum. Karena UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menegaskan bahwa pernikahan itu harus berdasar agama. Tidak ada lagi istilah nikah sipil yang tak ada kaitan dengan agama seperti di Singapura atau negara-negara Barat.

Persoalannya jadi pelik ketika tidak ada yang mau mengalah alias pindah agama. Otomatis pernikahan tidak bisa diresmikan. Lebih parah lagi kalau media, khususnya televisi, mengeksposnya setiap hari. Minta komentar ulama, orang tua, paman, tetangga, teman, dan sebagainya. Maka isu nikah beda agama pun menjadi sangat sensitif di negara Pancasila ini.

Kasus pasangan artis Asmirandah-Jonas sebetulnya sudah sering terjadi di masyarakat. Karena Indonesia memang banyak agama, sehingga potensi nikah campur sangat besar. Tapi tidak pernah seheboh Asmi-Jonas.

Sangat klasik! Salah satunya ngalah agar bisa kawin dengan pindah agama. Tapi, karena pindah agama itu cuma strategi agar pernikahannya sah, orang itu balik ke agama semula. Ini yang terjadi dalam kasus Asmi-Jonas.

Jonas sudah jadi mualaf, kemudian nikah secara Islam, tapi kemudian kembali ke agamanya semula. Asmi dan keluarganya meradang. Tapi kayaknya si Asmi tak ingin kehilangan si Jonas. Ini yang membuat cerita selebritas ini menarik dan sangat seru.

Lalu, apa solusinya? Kalau undang-undangnya masih seperti sekarang, ya tidak ada solusi. Jalan buntu. Nikah di luar negeri juga bisa tapi bukan solusi. Dan negara tidak boleh tutup mata dengan kasus-kasus macam Asmi-Jonas.

Nikah beda agama memang tidak ideal. Semua pemimpin agama selalu menyerukan agar umatnya tidak boleh menikah dengan pasangan beda agama. Bahkan ada ancaman api neraka, siksa kubur, dan sebagainya. Tapi, kata Gombloh, kalau cinta sudah melekat, tahi kucing terasa cokelat.

Di televisi beberapa menit lalu, ayah Asmi marah-marah karena merasa dibohongi Jonas. Tapi dia juga kayaknya sulit meyakinkan Asmi agar melupakan laki-laki itu. Piye cak?

Tak ada jalan lain kecuali membahas kembali materi UU Perkawinan yang sudah berusia 40 tahun. Apakah masih relevan? Apakah perlu dilonggarkan untuk mengakomodasi kasus macam Asmi-Jonas? Ataukah perlu diperketat lagi dengan ancaman penjara atau hukuman cambuk?

Melihat fanatisme keagamaan yang makin menggebu-gebu dalam 20 tahun terakhir, rasanya wacana ini mustahil bisa diwujudkan. Kalaupun direvisi, parlemen mungkin membuat aturan baru yang lebih ketat lagi. Sehingga orang-orang seperti Jonas akan dilaporkan ke polisi, diadili, kemudian dipenjara.
Pesan orang tua sederhana saja:

1. Nak, carilah istri yang seiman!
2. Jikalau pacarmu tidak seiman, laksanakan pesan nomor 1.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

28 November 2013

Quo Vadis Angelus Domini?

Lonceng Angelus di Desa Bungamuda, Kecamatan Ileape, Lembata, NTT.


Saya baru menerima kiriman artikel yang ditulis Romo Tondo CM dari Mas Joko. Tolong dikoreksi, katanya. Romo Tondo, yang nama lengkapnya Prof Dr John Tondowidjojo Tondodiningrat CM, merupakan pastor senior di Surabaya. Beliau juga guru besar komunikasi di beberapa universitas.

Tumben! Kali ini Romo Tondo membahas Doa Angelus atau yang di Flores dikenal dengan Doa Malaikat. Doa yang biasa didaraskan tiga kali sehari: jam 6, 12, dan 18. Kebiasaan rutin yang sangat terasa di Flores, pulau di NTT yang sebagian besar penduduknya Katolik.

Membaca uraian Romo Tondo yang sangat dalam, saya pun baru sadar kalau sudah lama tidak melakukan kebiasaan Doa Angelus di Jawa. Sebab devosi semacam ini bukan ritual wajib yang harus dilakukan orang Katolik. Dilakukan sangat bagus, tak dilakukan pun tak melanggar apa-apa. Yang wajib itu ekaristi.

Dulu saya biasa mampir ke beberapa gereja katolik di Surabaya, Malang, Jember setiap menjelang jam 12.00. Oh, ternyata lonceng gereja selalu dibunyikan. Tujuannya tentu untuk mengingatkan umat akan saatnya berdoa Malaikat Tuhan atau Angelus Domini.

Sayang, di Surabaya, saya jarang melihat orang-orang yang kebetulan berada di kompleks gereja seperti di Katedral HKY yang berinisiatif mengajak semua orang berdoa Angelus. Orang-orang di kantin cuek aja. Makan, minum, ngobrol, sesuka hati. Sementara lonceng terus berbunyi.

Kok gak ada doa Angelus?

Okelah, Katolik memang sangat minoritas di Jawa Timur sehingga selalu ada alasan untuk tidak melakukan ibadat devosional seperti Angelus ini. Tapi bukankah orang-orang ini berada di lingkungan Katolik?

Akhirnya, saya pun larut dalam kebiasaan dan rutinitas umat di Jawa, khususnya kota besar, yang memang tak punya kebiasaan Angelus. Karena sering diabaikan ya lama-lama jadi kebal. Lama-lama doa sederhana yang dikenal sejak tahun 1200an itu pun tidak dihafal lagi. Lupa!

Saya baru tersentak ketika ikut ziarah ke Gua Maria di Sendangsono, Jogjakarta. Komunitas Katolik Jawa perdana yang dirintis Romo van Lith sejak 1904, kalau tak salah ingat. Saya lihat beberapa ibu penjual kerupuk dan gula merah selalu mampir ke dekat gua dan berdoa bersama.

Ya, doa Malaikat Tuhan atau Angelus Domini. Mereka berdoa dalam bahasa Jawa halus (krama inggil) seperti kebiasaan mereka selama bertahun-tahun. Tapi di pihak lain saya juga melihat rombongan peziarah dari Surabaya dan kota-kota lain yang cuek aja dengan Angelus. Bahkan tidak tahu kalau ada doa Angelus rutin tiga kali sehari.

Mengapa doa Angelus selalu menyentak saya? Kebetulan dulu ketika masih SD di kampung, pelosok Flores Timur, kami, anak-anak SD, diberi tugas untuk membunyikan lonceng Angelus. Gantian tiga kali sehari.

Setelah lonceng berbunyi, orang-orang berdoa Angelus sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Murid-murid SD spontan berdiri dan salah seorang murid mengucapkan MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN.... dan seterusnya saling menjawab. Kebiasaan masa kecil yang sangat membekas.

Sayang, kebiasaan lama itu rupanya tidak dilakukan di kampung saya. Ketika pulang kampung untuk cuti tahunan, saya tak pernah mendengar lonceng Angelus dibunyikan. Padahal lonceng tua itu masih tergantung di dekat kompleks sekolah.

Quo vadis Angelus Domini?

Rupanya semangat kebersamaan, guyub kompak ala desa, semakin lama semakin memudar. Termasuk dalam urusan Angelus Domini ini.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

27 November 2013

Orang Flores yang Merasul di Pare

Gereja Paroki Santo Mateus di Pare, Kediri, Jawa Timur.

Jadilah garam dan terang dunia! Kalau garammu tawar, dengan apa ia diasinkan? Tak ada gunanya. Selain dibuang dan diinjak-injak orang.

Pesan ini sederhana, tapi sarat makna. Tidak mudah menjadi garam yang sejati sebagai pewarta kabar baik di Jawa. Sebuah pulau yang berbeda jauh tradisi, budaya, religi, hingga peradabannya dengan Flores.

Karena itu, saya sangat mengapresiasi orang-orang Flores yang jadi garam di Jawa. Jadi aktivis, pengurus paroki, motor berbagai kegiatan-kegiatan di lingkungan Gereja Katolik. Di berbagai kota di Jawa, saya selalu menemukan orang Flores yang sangat giat di gereja. Dari tukang kebun, satpam, dirigen, koster, hingga pastor ada.

Salah satunya Aloysius Gas. Orang Ende ini ternyata sangat terkenal di Pare, Kediri, alias Paroki Santo Mateus. Bung Gas ini kayaknya lebih terkenal dari pastor paroki. Kalau pastor sering berganti, Bung Gas dari dulu jadi ujung tombak gereja di kota tahu itu.

Bung Gas aktif di hampir semua lini. Mulai ngurus BIAK, OMK, warta paroki, paduan suara, kerasulan awam, kitab suci, liturgi, hingga lansia. Kalau ada acara di Keuskupan Surabaya, Bung Gas nyaris tak pernah absen.

"Bung Gas ini kayaknya lebih terkenal dari romo di Pare," goda saya.

"Hehehe... Kita ini hanya abdi Tuhan, membantu melayani Tuhan dan gereja tanpa pamrih. Kita orang Flores tidak punya materi, tapi kita bisa ambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan," katanya dalam kata-kata khas seorang katekis tulen.

Tanpa pamrih! Ini bukan omong kosong. Bung Gas punya pekerjaan lain, guru, dan berbagai kegiatannya di gereja tidak dibayar. Bahkan dia harus keluar duit untuk ke Surabaya dan kota-kota lain sebagai utusan Paroki Pare.

Kalau ada orang Flores yang nyasar ke Kediri, silakan mampir saja ke tiga gereja Katolik yang ada di sana. Minta alamat atau telepon Bung Gas. Maka engkau tak akan kelaparan dan diberi tumpangan. Masih banyak lagi orang Flores yang jadi pentolan gereja di Kediri, tapi Gas yang paling terkenal.

Bung Gas selalu menulis berbagai kegiatan parokinya untuk saya edit. Tulisannya mirip notulensi rapat sehingga kurang enak dibaca. Ayat-ayat kitab suci cukup banyak. Tapi selalu ada sisi menarik yang membuat saya ikut haru.

Belum lama ini Bung Gas menemani para lansia Paroki Pare untuk bakti sosial di ziarah di Jogja, tepatnya di Gereja Hati Kudus Yesus, Ganjuran. Ini tempat ziarah umat Katolik terkenal di Jawa yang sangat bernuansa Jawa. Saya beberapa kali ikut misa malam Natal di sini.

Bung Gas menulis bahwa dia sangat terharu ketika mengikuti perayaan ekaristi dalam bahasa Jawa krama inggil. Khotbah, nyanyian, semua doa... dalam bahasa Jawa.

"Oh, ternyata saya justru semakin menemukan Tuhan dalam ekaristi bahasa Jawa meskipun bahasa Jawa saya kurang bagus," katanya.
Melihat sepak terjang Bung Gas di parokinya, saya pun teringat lagu liturgi dengan melodi khas Flores yang diciptakan Pastor Hendri Daros SVD yang diajarkan pak guru ketika saya duduk di SD di pelosok Lembata. Melodinya paling enak di bagian solo soprano.

Syairnya: Pergilah ke seluruh dunia dan wartakanlah kabar sukacita bagi segenap bangsa!

Rupanya Bung Gas diam-diam sudah melakukannya di Pare. Bung Gas juga memberi imej positif bagi orang Flores yang berada di Jawa Timur. Selamat berjuang Bung Gas!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Susahnya Jadi Guru di SMA Minus

Kalau tidak salah, kemarin hari guru. Minggu lalu, saya juga dapat kesempatan memberikan materi pelatihan jurnalistik di sebuah sekolah swasta di kawasan Surabaya Utara. Sekolah swasta yang tergolong minus. Baik minus uang, karena murid-muridnya kelas tengah-bawah, pun minus otak.

Minus otak ini yang susah. Karena itu, antusiasme mengikuti pelajaran hampir tidak ada. Ketika sang guru ngomong di depan, mereka bicara sendiri. Dipancing guyonan, lawakan kecil, juga kayaknya gak mempan. Diputarkan film pendek ya dilihat, tapi kurang membantu menambah pengertian anak-anak itu.

Pembicara senior, yang paling ahli melawak, pun rupanya gak ngefek. Padahal, biasanya acara serupa di tempat lain sangat meriah. Anak-anak begitu antusias, banyak bertanya, angkat tangan memotong pembicaraan yang dianggap kurang jelas, dan  sebagainya.

"Waduh, Cak, kayaknya kita berhadapan dengan para siswa SMA yang kualitasnya sangat parah," kata saya kepada pembicara pertama. "Kayaknya jurus kita sudah habis untuk menghidupkan acara."

"Sing sabar ae, Cak! Jadi guru itu memang gak gampang," kata teman saya seraya tertawa kecil. Juancuk tenan!

Dari pengalaman ini, makin sadarlah saya bahwa para pelajar SMA di Surabaya dan sekitarnya ternyata punya kadar kecerdasan yang berbeda-beda. Bahkan sangat jomplang. Ada pelajar yang juara olimpiade internasional, jagoan matematika, fisika, kimia, pelajaran apa saja lancar. Tapi, sebaliknya, banyak pelajar di SMA-SMA tertentu yang membutuhkan penanganan khusus.

Sudah sering saya masuk keluar SMA/SMK untuk memberi semacam pembekalan atau wawasan singkat tentang jurnalistik. Tapi baru kali ini saya merasakan betapa susahnya mengajari anak-anak muda itu. Teman-teman saya pun merasakan hal yang sama. Padahal, guru-guru setempat mengatakan bahwa peserta pelatihan ini murid-murid pilihan.

Bulan lalu saya juga mengisi di SMA Al-Islam, Krian, Sidoarjo. Wuih, cerdas bukan main anak-anak muda itu. Sangat nyambung, interaktif, rajin bertanya, kritis, bahkan sudah seperti mahasiswa saja. Saking antusiasnya, para pemateri memperpanjang acara karena memang asyik. Tidak rugi kita bicara di depan anak-anak seperti itu meskipun tidak dibayar sepeser pun.

Saya kemudian membayangkan betapa susahnya para guru di sekolah-sekolah yang muridnya seperti SMA di Surabaya Utara itu. Sudah minus bayaran, karena SPP yang masuk sedikit, yayasan tidak kuat, dia harus menghadapi anak-anak yang kayaknya tidak berniat sekolah. Tidak punya antusiasme mengikuti pelajaran. Syukurlah, guru-guru itu masih punya idealisme untuk mengabdi di sekolah papan bawah itu.

Sebaliknya, betapa beruntungnya guru-guru yang mengajar di sekolah-sekolah yang muridnya tergolong bibit unggul. Sebut saja SMA-SMA Negeri kompleks Surabaya, SMA Sint Louis, SMA Santa Maria, SMA Muhammadiyah Pucang, SMA-SMA Petra, atau katakanlah SMA Al-Islam Krian. Guru-guru di sekolah yang pelajarnya memang punya bakat kecerdasan dari sananya justru membuat guru-gurunya antusias mengajar dan terus menambah ilmunya.

Atau, jangan-jangan para guru SMA punya resep khusus untuk membuat pintar anak-anak didiknya di sekolah minus meski (maaf) IQ-nya payah? Cobalah sekali-sekali ada program pertukaran guru antarsekolah di Surabaya. Guru-guru di SMA favorit kayak SMA kompleks, Sinlui, Santa Maria, Muhammadiyah Pucang... disuruh mengajar di SMA-SMA minus (seperti di Surabaya Utara itu). Dan, sebaliknya guru-guru SMA minus mengajar di sekolah-sekolah favorit.

Lulus SMA Jaga Konter



Untuk kesekian kalinya saya tertegun membaca pengumuman di depan pintu saat nggowes pagi. Kali ini di depan Wisma Melodia, kursus musik dan pusat penjualan alat-alat musik di Surabaya.

Rupanya dia tengah mencari karyawan baru untuk jaga konter (admin). Syarat utama: lulusan SMA+. Jadi, bukan sekadar SMA thok tapi ada plusnya. Ijazah paling rendah SMA.

Sarjana S1 tentu lebih baik. S2 pasti tidak mau kerja jaga konter, hitung uangnya orang selama 8-9 jam sehari. Menghadapi pembeli yang karakternya macam-macam.

Saya juga biasa ngobrol dengan beberapa OB alias office boy di Surabaya. Semuanya pasti lulusan SMA. Bahkan nilai-nilai mereka bagus. "Ya, terpaksa kerja gini dulu sambil lihat peluang lain," kata si A.
"Siapa sih yang punya cita-cita jadi OB," si B menambahkan.

Karena itu, para OB ini biasanya tidak tahan lama. Bertahan enam bulan saja sudah bagus. Ketika datang ke sebuah kantor top di kota pahlawan, saya pangling karena OB-nya baru semua. Beberapa kenalan saya sudah tak ada lagi.

Gerakan wajib belajar yang digulirkan sejak Orde Baru sudah menghasilkan buahnya berupa ijazah-ijazah sekolah lanjutan sampai sarjana. Di Jawa Timur, khususnya Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, tak ada lagi anak usia di bawah 20 yang putus sekolah. Apalagi tidak sekolah.

Sebab pemerintah kota menjamin semua warganya bersekolah sampai SMA atau SMK. Beda banget dengan di NTT yang tidak punya program seperti ini. Di NTT, khususnya Flores Timur, Lembata, Adonara, Solor, Alor, Pantar, pendidikan massal yang tinggi belum begitu dipentingkan.

Wajib belajar SD memang sudah berhasil tapi sebagian murid tidak lulus. Dus, tidak punya ijazah. Buat apa ijazah macam-macam kalau sudah ada lowongan pekerjaan yang menunggu di Malaysia Timur? Orang Flores Timur sudah akrab dengan Sabah, Tawau, Sandakan, Kuching.. jauh sebelum Malaysia merdeka.

"Dulu saya ikut babat alas di Sabah. Sekarang Sabah sangat modern, padahal awal 70an masih hutan kayak desa biasa," kata Ama Kalu, orang Lembata yang tinggal di Malang. Dia punya kebiasaan yang aneh, yaitu rajin terapi urine setiap hari. Terapi air ajaib ini, katanya, membuat dia awet muda, lebih kuat, tidak botak, sehat kembali.

Saya suka dengar cerita tentang Malaysia Timur dan komunitas Flores di sana. Saking banyaknya, orang NTT ini punya semacam kampung dan mengembangkan budaya sendiri kayak di kampung halaman. Seperti mengadakan kontas gabungan atau doa rosario keliling setiap bulan Mei dan Oktober.

Nah, karena tak punya ijazah SD, apalagi SMA, anak-anak muda Flores Timur tidak berani merantau di Jawa. Karena pekerjaan apa pun di Jawa membutuhkan ijazah SMA+. Mungkin hanya tukang kebun atau pembantu rumah tangga saja yang boleh di bawah SMA. Yang pasti, seorang pembantu muda di Ngagel yang saya kenal berijazah SMA.

Saya juga belum sempat survei apakah pekerja-pekerja seks di Dolly atau Sememi juga minimal SMA. Yang jelas, sebuah media terkenal baru saja memuat berita bahwa sebagian besar pelacur itu lulusan SMA. "Yang kurang sekolah itu ya di Jarak itu," kata teman saya yang pernah melakukan survei di kawasan lampu merah itu.

Omong-omong soal SMA, saya selalu terkesan dengan para alumni SMA Sin Chung dan Chung Chung di Surabaya dan SMA Ma Chung di Malang. Mereka sangat sering mengadakan temu kangen, bakti sosial, nyanyi Tionghoa, dan sebagainya. Saya pun baru saja ikut acara blusukan Chung Chung alias CHHS di Surabaya.

Luar biasa para alumni sekolah-sekolah Tionghoa yang ditutup Orde Baru pada 1966-67 itu! Hampir semuanya jadi big boss di kotanya masing-masing. Ada yang punya lima pabrik, 6 perusahaan, bahkan puluhan perusahaan. Padahal, sebagian alumni ini tidak punya ijazah SMA karena sekolahnya ditutup ketika mereka baru kelas satu atau dua.

"Bagaimana bisa sekolah, wong sekolah saya tutup. Sementara waktu itu suasananya sangat mencekam, khususnya warga Tionghoa seperti saya," kata pengusaha bermarga Fu kepada saya.

Gara-gara tak punya ijazah SMA inilah dia dijegal teman satu partai ketika menjadi caleg beberapa tahun lalu. Gagal nyaleg, Mr Fu malah makin kaya saja. Showroom-nya makin besar, tiga rumah di sebelahnya dia beli untuk perluasan showroom motor. Sebaliknya, si politikus yang dulu menjegal dia masuk penjara gara-gara korupsi APBD. Keluar penjara ya miskin lagi.

Kok bisa ya lulusan SMA, bahkan protolan SMA, tempo doeloe bisa sebegitu hebatnya di Indonesia? Bisa jadi bos-bos besar dengan ratusan hingga ribuan karyawan? Bos-bos inilah yang kemudian menjadi penyandang dana atau pendiri universitas bagus di berbagai kota. Contoh: alumni SMA Ma Chung bikin Universitas Ma Chung di Malang.

Kok lulusan SMA sekarang, bahkan perguruan tinggi, hanya dicari untuk jaga konter, admin, tukang terima telepon, OB, atau PRT? Iki jenenge wolak walike jaman!
Nuwun.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

26 November 2013

Akhirnya Rubrik LAMPION Ditutup



"Lanjutan Kho Ping Hoo-nya mana? Ceritanya sudah seru nih! Kok diputus?" tanya seorang pengusaha Tionghoa di kompleks Masjid Cheng Hoo, Surabaya, kepada saya.

Dia ternyata sangat aktif membaca cerita silat lawas karya mendiang Khoo Ping Hoo dari Solo itu. Gaya bercerita Paman Kho ini memang luar biasa dahsyat. Deskripsinya begitu kuat. Seakan-akan dia sudah pernah tinggal di Tiongkok. Dia bisa membahasakan aneka jurus silat ala Tiongkok dengan sangat hidup.

Penggemar Kho Ping Hoo ini sempat kecewa karena beberapa kali ceritanya salah muat atau diulang. Saya sendiri terkejut. Tak menyangka Khoo Ping Hoo masih dibaca di era internet ini. Di era audio visual. Apa sih sulitnya masuk ke internet dan membaca versi online?

Amboi, surat kabar ternyata masih jadi rujukan... untuk membaca cerita silat Tionghoa. Syukur puji bagi Tuhan!

Kemudian datang pesan pendek (SMS) dari Su Laoshi, guru bahasa Mandarin di Surabaya, yang paling sering mengantar rombongan pelajar dan guru dari Jawa Timur ke Tiongkok. Su Laoshi baru saja pulang dari Guangdong. Tentu dia membawa cerita, reportase bagus, plus teh hijau khas Tiongkok alias zhongguo cha (baca: cungkuo cha). Itu lho teh sepet yang juga berfungsi sebagai jamu peluruh kolesterol... katanya.

"Kayaknya kamu butuh teh deh. Saya baru kembali dari negeri tirai bambu," katanya.

Sayang, dia kaget karena halaman khusus LAMPION tidak ada lagi di koran. Sudah dihentikan sejak 23 November 2013. LAMPION itu rubrik khusus seni, budaya, tradisi, komunitas, bahasa, dan semua yang berbau Tionghoa baik di Surabaya, kota-kota lain, hingga Tiongkok, Taiwan, Hongkong, Singapura.

Su Laoshi alias Andrean Sugianto pun maklum bahwa hidup itu memang selalu berubah. Tiap hari kita berubah, tiap detik pun usia kita bertambah. Ada tantangan sekaligus peluang baru. Apalagi media massa yang tengah menghadapi tsunami informasi yang luar biasa.

Kalau tidak mau berubah, menyesuaikan irama zaman, ya, bisa jadi dinosaurus. Masih untung komodo-komodo di Flores yang masih sanggup bertahan ketika rekan-rekannya sudah musnah ribuan tahun lalu. Hebat benar engkau, wahai komodo, lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur sejak 20 Desember 1958. Si komodolah pemenang sejati hukum besi survival of the fittest!

Bagi saya, LAMPION memang rubrik yang luar biasa. Berkat LAMPION, saya mau tidak mau dipaksa untuk belajar, membaca, terjun langsung, ke komunitas Tionghoa. Saya pun akhirnya bisa menulis begitu banyak naskah berita, opini, kolom, andekdot.. tentang budaya Tionghoa. Entah sudah berapa tulisan karena saya tidak pernah hitung.

Bahkan, gara-gara tulisan saya di LAMPION pula, yang sebagian dimuat lagi di blog ini, saya sering dianggap sebagai "pemerhati dan pengamat budaya Tionghoa" oleh sejumlah orang. Ada saja yang bertanya ini itu tentang Tionghoa. Memangnya saya ini sinolog seperti almarhum Dr Ong Hok Ham?

Silakan googling wayang potehi di internet, kemungkinan besar nyasarnya ke blog ini. Karena dulu belum ada orang yang membahas wayang potehi di internet. Tradisi budaya Tionghoa dipinggirkan sejak Orde Baru, 1966, dan baru berkembang luas sejak era Gus Dur. Mau cari informasi kelenteng-kelenteng di Surabaya atau Sidoarjo, ya, nyasarnya ke sini.

Emangnya saya orang kelenteng? Hehehe... ternyata tulisan saya tentang kelenteng-kelenteng itu dijiplak, di-copy paste naskah dan foto, kemudian diklaim sebagai tulisan sendiri di blognya orang Tionghoa. Begitulah di Indonesia. Orang Tionghoa sendiri malah minim informasi tentang tradisi budaya leluhurnya, kemudian membaca LAMPION dan blog ini, kemudian mau melacak kembali jejak leluhurnya yang sempat diharamkan Orde Baru.

Saya sedih tapi juga senang karena paling tidak tulisan-tulisan saya di LAMPION, yang sebagian besar dimuat lagi di blog ini, jadi referensi banyak orang. Saya dianggap "pakar masalah Tionghoa". Hehehe....

Rupanya rubrik LAMPION sudah berhasil membangun kesepahaman dan interaksi antaretnis yang beragam di Surabaya, bahkan Jawa Timur, bahkan Indonesia. Dan, setelah reformasi berjalan selama 15 tahun, isu-isu tentang Tionghoa sudah sangat biasa di media massa. Media massa malah seakan berlomba meliput perayaan tahun baru Imlek, Capgomeh, sembahyang rebutan King Hoo Ping, Ceng Beng, perayaan bulan purnama alias Tiong Ciu Jie, dan acara-acara kelenteng.

Ki Subur, dalang wayang potehi yang dulu tinggal di Sidoarjo, kini menjadi SEHU alias dalang potehi paling populer di Indonesia. Setiap kali melihat liputan-liputan tahun baru Imlek di televisi, koran, majalah, internet... rupanya Ki Subur yang badannya memang subur ini paling sering muncul. Ki Subur selalu padat job di pusat belanja di Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

Say (mungkin) pertama kali membahas fenomena Ki Subur dan dalang potehi etnis Jawa di internet. Sebab, dulu, ketika saya mencari wayang potehi di internet baik yahoo, google, dan sebagainya, dalang unik macam Ki Subur dan wayang potehi belum ada. Saya lalu coba-coba menulis dan posting di blog pribadi. Eh, beberapa bulan kemudian, ketika perayaan tahun baru Imlek digelar besar-besaran naskah sederhana itu menjadi sangat laku.

Kembali ke LAMPION yang ditutup. Di satu sisi saya pribadi kehilangan, karena ikut merintis dan paling banyak menulis, tapi di sisi lain ada bagusnya. Sebab, liputan-liputan tentang budaya dan komunitas Tionghoa sudah begitu hebatnya di Surabaya.

Bahkan ada dua surat kabar harian berbahasa Mandarin di Surabaya, yakni GUOJI RIBAO (Jawa Pos Group) dan JIANTAO RIBAO. Sulit dibayangkan ada koran berbahasa Mandarin dengan begitu mendalamnya menurunkan berita dalam bahasa dan aksara Tionghoa. Aksara yang diharamkan rezim Orde Baru karena dianggap sebagai "aksara setan" yang hanya akan membuat orang Indonesia jadi komunis. Inilah kebodohan terbesar rezim Orde Baru selama 32 tahun.

Kini, zaman berubah, dunia terbalik. Semua penindasan itu ada karmanya. Bahasa dan aksara Tionghoa alias hanzhi (saya tahu hanzhi dan putonghua ini juga karena LAMPION) justru berkembang pesat di Indonesia saat ini. Bahasa Tionghoa alias Mandarin diajarkan di sekolah-sekolah. Pemerintah Tiongkok membuka Institut Konfusius di Surabaya dan banyak kota di Indonesia.

Sebaliknya, berapa banyak sih orang Jawa, yang berusia di bawah 40 tahun, yang bisa hanacaraka? Yang bisa krama inggil? Pemerintah Kota Surabaya pernah membuat kebijakan hari wajib bahasa Jawa setiap Jumat, tapi tidak jalan karena diprotes setiap hari. Sekolah-sekolah negeri dan swasta malah lebih gencar mengajarkan bahasa Inggris dan Mandarin demi globalisasi.

Hidup Tionghoa! Hidup LAMPION!

Yang pasti, meski rubrik LAMPION tidak ada lagi, berita-berita tentang Tionghoa tetap ada meskipun tidak lagi punya halaman khusus di Radar Surabaya. Dicampur dengan berita-berita lain tentang Surabaya dan sekitarnya. Apalagi, orang Tionghoa di Jawa Timur, dan Indonesia umumnya, sebetulnya sudah sangat membaur dengan penduduk setempat.

Sudah jadi arek Surabaya! Bicara bahasa Jawa ala Surabaya yang khas dan malah tidak bisa bahasa Hokkian, apalagi Mandarin standar Beijing alias Putonghoa. Arek Kapasan, Bibis, Kembang Jepun, Gemblongan, Blauran... yo podo-podo arek Suroboyo!

Juancuk tenan!

25 November 2013

Catatan Dahlan Iskan Tetap Menarik

Di zaman internet ini berjuta-juta tulisan bisa dengan mudah kita akses. Cukup lihat di ponsel atau komputer. Tsunami informasi sudah lama terjadi.

Tapi saya masih terus menunggu Catatan Dahlan Iskan di halaman satu Jawa Pos tiap Senin. Sejak dulu Pak Bos, sapaan akrab menteri BUMN dan chairman Jawa Pos Group ini memang paling rajin membuat catatan. Tentang apa saja. Mulai dari soal politik, pesantren, NU, Muhammadiyah, umrah dan haji, hingga Tionghoa dan Tiongkok.

Apa saja yang dicatat Dahlan Iskan pasti sangat menarik, kata saya. Meskipun sudah banyak wartawan menulis isu sejenis, sama-sama meliput, pasti kalah jauh sama Pak Bos. Karena itu, wartawan-wartawan lama yang sudah tahu kehebatan Dahlan Iskan pasti malu meliput kegiatan Menteri Dahlan Iskan.

Mengapa? Dahlan Iskan akan membuat sendiri catatannya dan pasti lebih bagus. Banyak nuansa yang tidak akan bisa ditangkap orang lain selain Pak Bos. Orang bisa saja dengan mudah meniru gaya Dahlan Iskan, tapi tak akan pernah sama mutunya.

Itulah antara lain salah satu rahasia mengapa surat kabar atau media cetak masih digandrungi. Yah, karena banyak tulisan dan gaya yang tidak ada di internet. Berita-berita di internet memang unggul kecepatan, wesweswes... tapi pasti tak punya kedalaman. Unsur serius tapi santai, main-main tapi sungguhan itulah yang kita tangkap dari seorang Dahlan Iskan.

Yang paling hebat lagi Dahlan Iskan tetap produktif menulis ketika sudah jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Bukankah menteri itu sangat sibuk? Toh Dahlan Iskan bisa menulis cepat di atas mobil yang membawanya meninjau proyek pemerintah di pelosok. Bahkan menulis di BB sambil tidur di rumah sakit.

Karena itu, aneh sekali kalau wartawan biasa, yang tidak akan sesibuk Menteri Dahlan Iskan selalu berkilah tidak punya waktu untuk membuat catatan atau feature atau boks seperti yang ditauladankan Pak Bos setiap minggu.

Filsafat khas Dahlan -- kerja, kerja, kerja -- rupanya sangat diperlukan di dunia jurnalistik Indonesia. Etos kerja dengan antusiasme tinggi, serba cepat dan efisien, tapi juga tetap bisa mempertahankan kualitas. Dahlan Iskan menunjukkan kepada kita produktivitas dan kualitas bisa berjalan seiring.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

22 November 2013

Jazz Surabaya setelah Bubi Chen

Sepeninggal Bubi Chen, kita tak punya lagi begawan atau maestro jazz di Surabaya. Mendiang Bubi Chen begitu sudah identik dengan jazz dan jazz pun identik dengan Bubi Chen. Lagu apa pun yang dimainkan Bubi Chen, entah pop, dangdut, keroncong, genre apa saja, pasti berasa jazz.

Jazz ala Bubi Chen! Almarhum selalu tersenyum sembari menari-narikan tangannya di atas piano. Saya beruntung mengenal Om Bubi sejak mahasiswa dan kemudian bisa menikmati jazz standar yang tak biasa itu. Saya juga bersyukur bisa menulis profil Bubi Chen panjang lebar di surat kabar di Surabaya.

Akhirnya, saya juga beruntung ikut melekan di Adi Jasa untuk menunggui jenazah Bubi Chen. Juga beruntung mengikuti misa requiem di Adi Jasa malam sebelum jenazah dikremasi di Adi Praya, Kembang Kuning. Mudah-mudahan apresiasi jazz saya ikut naik karena sempat dekat secara fisik dengan beliau.

"Piano di Balai Pemuda ini sudah bobrok. Suaranya gak karuan, kok saya disuruh main," katanya kepada saya usai konser di Balai Pemuda. Saat itu Bubi Chen didapuk untuk mengidupkan kembali Balai Pemuda sebagai tempat pertunjukan musik, khususnya jazz.

Sayang, komunitas jazz Balai Pemuda malah redup setelah sempat beberapa kali bikin konser. Basis penggemar sudah ada, tapi kontinuitasnya yang meragukan. Saat itu Bubi Chen tengah bergulat dengan diabetes yang membuat kakinya diamputasi. Jazz pun ikut sekarat di Kota Pahlawan.
Eh, tak lama kemudian Balai Pemuda terbakar. Arena jazz yang terkenal sejak zaman Belanda itu pun ambyar. Pak Nirwana ikut lesu mengadakan pertunjukan dengan mengundang musisi jazz tingkat nasional. Dan... jazz pun kian meranggas meski tak pernah mati.
Bubi Chen bukan musisi jazz biasa. Dia begawan dan motor penggerak jazz. Dia juga guru piano yang rajin melahirkan musisi-musisi baru seperti Mas Bagus yang tunanetra. Namun, murid-murid Bubi Chen belum punya stamina dan konsistensi seperti guru besarnya.

Setelah Bubi Chen tiada, jazz di Surabaya hanya bisa menggeliat tanpa maestro atau tokoh. Jazz yang memang luwes dari sananya semakin merayap dengan eksperimen, trial and error, suka-suka musisi muda. Ini bisa kita lihat dalam rekaman jazz di SBO TV.

Salut sama SBO yang memberi ruang untuk jazz!

Salut juga pada Suara Surabaya yang masih merawat Jazz Traffic setiap hari. Program jazz yang dulu diasuh mendiang Bubi Chen. Bahkan, Jazz Traffic sudah dikembangkan menjadi sebuah festival jazz pertama di Surabaya yang punya bobot nasional.

Sayang, saya lihat makin lama kualitas jazz di tanah air makin kedodoran. Filsafat dan ideologi jazz ternyata kurang dipahami oleh banyak musisi pop yang sering ditanggap untuk mengisi berbagai festival yang dikemas sebagai "jazz", padahal bukan jazz.
Yah, sekarang memang zamannya kemas-mengemas. Barang apkiran pun bisa dikemas sangat menarik agar bernilai tinggi. Di sinilah bedanya dengan mestro jazz sekaliber Bubi Chen. Beliau dengan enteng dan asyik main musik apa saja, tanpa embel-embel jazz, tapi semua pendengar tahu persis bahwa musik yang keluar adalah jazz.

Salam jazz!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Dengar Angel Pfaff, Ingat Teman Lama


Angel Pfaff bersama dua buah hatinya. Melodi memori!

Kamis siang, 21 November 2013, saya mampir ke Strato FM, radio yang punya siaran bahasa dan musik pop Mandarin di Jalan Jawa, Surabaya. Tujuan utama: menemui Bai Laoshi, guru senior bahasa Mandarin, yang juga penyiar paruh waktu di Strato FM. Laoshi ini juga sering menjadi penerjemah bahasa Mandarin untuk pejabat-pejabat di Jawa Timur, termasuk Gubernur Soekarwo.

Wow, persis di sebelah Strato FM ada studio Media FM, radio spesialis tembang kenangan. Fokus saya ke Bai Laoshi buyar karena mbak penyiar yang jilbaban itu memutar lagu lama dari Angel Pfaff. Lagu yang sudah bertahun-tahun tak pernah saya dengar. Ingatan saya pun langsung melayang jauh ke Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur.

Saya ingat beberapa teman yang sangat gandrung Angel Pfaff (juga ditulis Angel Paff). Penyanyi 80an yang suaranya lantang, artikulasinya jelas, lagu-lagunya manis. Enak sekali dinikmati, menurut selera orang Flores, dan NTT umumnya. Memang, orang Flores itu dari luar kelihatan serem, galak, tapi sukanya lagu-lagu mellow nan melankolis.

Lagu-lagu ciptaan Rinto Harahap, Obbie Messakh, Pance Pondaag, Deddy Dores, Judhi Kristianto, Maxie Mamiri, Wahyu OS, dan sejenisnya laku luar biasa. Orang biasa bersenandung sambil merem-melek, membayangkan sesuatu yang indah-indah, mengikuti syair dan melodi lagu.

Nah, lagu Angel Pfaff yang diputar di Radio Media FM Surabaya syairnya antara lain begini:

"Kuingat dalam hati
Syair dalam simfoni
Indah meresap kalbu
Seakan tahu tentang hidupku

Lagu indah dan merdu

Mengingatkan diriku
Tentang dia kucinta
Dalam hidupku setahun berlalu...."

Enak sekali yang pernah mendengar masa lalu, punya kenangan, tapi biasa-biasa saja untuk mereka yang tak pernah dengar. Bahkan, dianggap lagu pop cengeng ala Obbie atau Pance atau Rinto yang dikecam Menteri Penerangan Harmoko tempo doeloe.


Saya ingat seorang kakak kelas di Larantuka sangat jago membawakan lagu-lagu Angel Pfaff. Lagu ciptaan Doddy K ini termasuk yang paling enak. Kemudian beberapa hit lain Angel Pfaff seperti Harapan Cinta dan paling top pastilah Pernahkah Dulu karya Obbie Messakh. Kalau ada hajatan band atau organ tunggal (elekton), orang Adonara Timur ini selalu nyanyi Angel Pfaff. Beda dengan si Helen yang favorit Dian Piesesha dan Lidya Natalia.

Meski tak bergabung di JK Records, lagu-lagu Angel Pfaff sangat dipengaruhi warna JK alias Judhi Kristianto. Produser rekaman, pemilik JK Records, yang mengorbitkan begitu banyak penyanyi-penyanyi pop manis pada era 1980-an hingga pertengahan 1990-an.

Karena itu, musik yang digarap Paul Irama untuk Angel Pfaff ini sangat manis ala JK. Padahal, kita tahu Paul Irama itu pemusik dan arranger yang kuat untuk jazz Indonesia. Margie Siegers, penyanyi jazz utama masa lalu, tak bisa lepas dari sentuhan Paul Irama. Tapi, begitulah, siapa yang berani melawan tren industri musik yang sedang dihegemoni aliran JK Records?

Angel Pfaff bukanlah penyanyi karbitan. Dia punya pengalaman menyanyi yang luas di panggung sebelum diajak masuk dapur rekaman. Bahkan, dia pernah berduet dengan Andres, penyanyi kondang era 1970an, teman duet andra Reemer, yang ngetop dengan Story Book Children. Angel Pfaff yang masih remaja polos pun makin dilirik para cukong rekaman di Jakarta.

Ketika Obbie Messakh, pencipta lagu yang dikontrak khusus oleh Judhi Kristianto dari JK Records, merajalela di industri musik pop tanah air pada medio 1980-an, Angel Pfaff pun ingin dibuatkan lagu oleh Obbie. Tapi sang komposer asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu terlalu sibuk menggarap pesanan lagu-lagu dari produser. Khususnya JK Records.

"Waktu itu mencari pencipta lagu yang namanya Obbie Messakh itu sulitnya minta ampun. Masih lebih mudah mencari gubernur atau presiden," kata Angel Pfaff suatu ketika. Apa boleh buat. Wanita berambut ikal ini terpaksa menggunakan lagu-lagu karangan komposer lain. Cukup sukses tapi tidak sampai meledak.

Barulah pada 1987, Obbie Messakh membuatkan lagu khusus untuk Angel Pfaff. Judulnya: Pernahkah Dulu. Diproduksi Nur Records (sebelumnya dia ikut Bens Records), album Pernahkah Dulu ini sukses besar. Du..du..du...du... dudududu...dududududu.... Obbie tak hanya membuatkan lagu, tapi ikut main gitar serta brsenandung du..du..du....

Bukan hanya Obbie Messakh, arranger atau penata musik yang sebelum itu menggarap musik artis-artis JK, Hengky Firmansyah, dipercaya mengerjakan album ini. Sejak itulah nama Angel Pfaff booming di tanah air. Lagunya diputar di mana-mana, bahkan hingga ke pelosok NTT yang belum punya listrik PLN seperti di kawasan Flores Timur.  

Ketika tren musik berubah, lagu-lagu pop manis ala JK Records, termasuk Angel Pfaff dan sejenisnya, pun surut. Tapi Angel Pfaff masih tetap menyanyi meskipun tidak lagi membius publik seperti pada 1980-an hingga 1990-an. Tapi, paling tidak, lagu-lagunya yang manis itu masih diputar dan di-request oleh para pendengar Radio Media FM di Surabaya.

Saya pun tersenyum sendiri ketika pulang dari studio Strato dan Media FM d Jalan Jawa itu. Saya ingat gaya teman lama saya di kampung yang berusaha meniru gaya Angel Pfaff menyanyi di televisi. Melodi dan syair lagu lawas berjudul DIA DALAM HIDUPKU itu rasanya sangat sulit dilupakan. Jauh lebih mudah melupakan posisi kendaraan bermotor di halaman parkir ketimbang lagunya si Angel Pfaff.


"Bulan purnama
Aku dan dia 
Bermabuk cinta
Menikmati suasana
Hati terasa, oh bahagianya
Dunia hanya milik kita berdua

Tiada duanya insan bercinta

Hanyalah aku dan dia yang disana
Sunyi dan sepi namun berarti
Di dalam perjalanan hidupku ini"

21 November 2013

Xie Fang Akupunkturis yang Baik Hati

Xie Fang lagi selancar di laman Zhongguo sembari menunggu pasien.
Xie Fang, akupunkturis asal Zhejiang, Tiongkok, itu baru pulang dari kampung halamannya. Saya pun menemui kenalan lama itu di kliniknya. Di pojok kompleks Masjid Cheng Hoo Surabaya kemarin.

Bu dokter lulusan Universitas Shanghai, kemudian lanjut di Universitas Hangzou untuk studi akupunktur Tiongkok, ini lantas menunjukkan foto yang dipajang di atas meja kerjanya. Dekat alat pengukur tekanan darah.

"Itu anak saya. Umurnya sudah 23 tahun," kata Xie Fang seraya tersenyum. 

Anaknya bernama Wang Zhewen. Cuma satu karena ada kebijakan satu anak di negeri Tiongkok. Bahasa Indonesia wanita asal Zhongguo ini memang makin fasih saja. Bicaranya pun makin cepat. Dia tak perlu penerjemah lagi seperti tiga empat tahun lalu.

Seperti biasa, Xie Fang meraba telapak dan jari tangan kiri dan kanan saya. Ini prosedur wajib bagi sinse Tionghoa untuk mendeteksi penyakit seseorang. "Darah kotor. Kolesterol banyak," ujarnya.

Tepat sekali. Sehari sebelumnya saya dan teman-teman menerima rapor checkup dari sebuah laboratorium di Surabaya. Masalah saya, seperti dulu-dulu, adalah kolesterol total yang tinggi. Begitu pula trigliserida.

Xie Fang tidak butuh hasil tes laboratorium untuk mengetahuinya. Dia cukup pegang tangan kita dan dalam sekejab sudah nerocos menasihati kita tentang makanan sehat. "Jangan makan goleng-golengan. Rajin olahlaga," katanya.

Sama persis dengan pesan dokter dari Laboratorium Caya di kawasan MERR 3 Semolo Surabaya. Nasihat yang sederhana, semua orang tahu, tapi selalu dilanggar. Nasi goreng, ikan goreng, gule kambing, mi goreng, pisang goreng, telur dadar.. nasi padang... terlalu enak untuk ditinggal begitu saja. Diet rendah lemak itu gampang-gampang susah.

Ritual berikut adalah masuk ke kamar praktik. Wuih, saya sudah merasa sakit meski belum dipukul-pukul di punggung, bawah tengkuk. Maklum, sudah sering diterapi oleh bu dokter + akupunkturis ini. Ya, sakit banget memang sebelum dikasih api.

Lalu dimulailah kop dengan gelas itu. Darah kotor disedot selama 10 menitan. Sementara itu, dua pasien baru masuk dan casciscus dalam bahasa Tionghoa logat Surabaya. Pasien-pasien di Klinik Cheng Hoo Surabaya ini rata-rata sudah langganan. Xie Fang sudah dianggap keluarga sendiri.

Kop punggung selesai. Gelas penampung darah itu pun dicopot. "Lihat ini, kental sekali. Sangat kotor," ujar Xie Fang menunjukkan darah yang baru disedot. Hm... rasanya enteng setelah terapi tradisional ini.

Xie Fang kemudian ingin membersihkan gelas itu. Saya pun mencegah. "Saya sendiri saja yang membersihkan. Bu Dokter tangani bapak-bapak itu aja," kata saya.

Baik benar wanita Zhejiang 13 November 1957 ini. Pasien diperlakukan dengan sangat hormat meskipun sering tidak bayar. Bahkan, ketika hendak pamit, dia memberikan oleh-oleh berupa teh celup atau semacam jamu Tiongkok yang katanya sangat bagus untuk tubuh.

"Kamu minum itu saja," katanya.

Beli obat apa lagi? 

"Tidak usahlah. Jangan makan golengan, jangan makan malam hari," Xie Fang berpesan.

Xie Fang tidak hanya bicara tapi juga melakoni gaya hidup sehat ini. Dia memilih masak sendiri karena kurang cocok dengan makanan Surabaya yang banyak santan dan minyaknya. Dia hanya makan makanan yang dikukus atau direbus.

Setiap hari dia jalan kaki pergi pulang ke tempat kerja sejauh lima kilometer. Dia juga rutin melakukan senam sehat ala Tiongkok di tempat tinggalnya.

Karena itu, postur tubuh orang Tiongkok asli alias totok ini sangat berbeda dengan kebanyakan orang Tionghoa Surabaya yang umumnya gemuk-gemuk. Warga keturunan Tionghoa di Indonesia juga senang makan enak di restoran mewah. Goleng-golengan disikat habis... maknyussss.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

19 November 2013

Lily Yoshica GM Indonesia Tionghoa Culture Centre

Lily Yoshica bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan.


Lily Yoshica baru saja pulang dari Jombang. Kali ini, general manager (GM) Indonesia Tionghoa Culture Centre (ITCC) Surabaya ini diminta mengembangkan bahasa Mandarin dan membantu memfasilitasi pengiriman mahasiswa S-2 STIE PGRI Dewantara, Jombang.

Kesibukan seperti ini sudah dilakoni Lily Yoshica selama lebih dari satu dasawarsa. Bersama teman-temannya di ITCC, Lily kerap blusukan ke berbagai sekolah, kampus, dan pesantren untuk mengembangkan bahasa nasional Tiongkok itu. Ibu tiga anak ini ingin anak-anak muda Indonesia bisa menimba ilmu pengetahuan dan teknologi di Tiongkok demi kemajuan dan kemakmuran Indonesia.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Lily Yoshica di ITCC-Jawa Pos, Graha Pena Lantai 7, Surabaya, pekan lalu.

Bisa diceritakan latar belakang berdirinya ITCC Surabaya?

Begini. ITCC ini terinspirasi oleh semangat Menteri BUMN Bapak Dahlan Iskan, waktu itu CEO Jawa Pos Group, yang sangat antusias belajar bahasa Mandarin di usia yang tidak muda lagi. Pak Dahlan juga punya semangat yang besar untuk mengusahakan pembauran antara etnis Tionghoa dengan bumiputra dengan program Tekad Sayang di Surabaya. Program ini mendapat sambutan yang sangat baik dari masyarakat.
Nah, pada tahun 2011 dibentuk yayasan pendidikan bahasa Mandarin pertama di Surabaya. Sebab, kami menyadari bahasa bahasa Mandarin makin lama makin dibutuhkan sebagai jembatan komunikasi antara Indonesia dan Tiongkok. Di era globalisasi ini kemampuan bahasa Inggris saja tidak cukup. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok makin berpengaruh dalam ekonomi global. Dan, itu berarti bahasa Mandarin semakin diperlukan oleh orang Indonesia.

Pak Dahlan rupanya jadi inspirasi bagi ITCC dalam mempromosikan bahasa Mandarin di Jawa Timur dan Indonesia umumnya?

Betul sekali. Pak Dahlan Iskan sudah membuktikan bahwa bahasa Mandarin itu bisa dipelajari siapa saja dengan latar belakang apa pun. Pak Dahlan itu asli Jawa, seorang santri, tidak punya latar belakang Tionghoa, tapi akhirnya bisa menguasai bahasa Mandarin. Maka, Pak Dahlan selalu kami jadikan inspirasi ketika turun ke pesantren-pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Jawa Timur.

Selain mengadakan kursus bahasa Mandarin, program apa lagi yang diselenggarakan ITCC?

Cukup banyak. Kami juga membantu siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke Tiongkok dan Taiwan. Sebelumnya, mereka lebih dulu digembleng di ITCC agar menguasai bahasa Mandarin tingkat dasar serta pengenalan tradisi dan budaya Tiongkok. Dengan begitu, mereka tidak akan kesulitan belajar di negara yang berbeda bahasa, budaya, tradisi, iklim, hingga makanannya. Syukurlah, belakangan ini program ini makin diminati para siswa di Jawa Timur. Antusiasme para pelajar kita untuk belajar di Tiongkok sangat besar.

Kami juga melayani program studi banding atau student exchange sekolah-sekolah di Jawa Timur. Rombongan siswa kita tidak hanya berwisata, melancong, tapi ikut merasakan suasana belajar di Guangdong atau provinsi lain di Tiongkok. Kebetulan kami punya perjanjian kerja sama dengan beberapa sekolah dan perguruan tinggi di sana, sehingga program studi banding ini sangat efektif. Biayanya tidak mahal, tapi manfaat yang didapat pelajar-pelajar kita sangat banyak.

Bagaimana dengan pelatihan guru-guru bahasa Mandarin?

Yah, itu juga menjadi perhatian kami dalam beberapa tahun terakhir. Sebab, harus diakui bahwa pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah-sekolah di Indonesia masih tergolong baru. Setelah reformasi (1998) memang ada antusiasme untuk belajar bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa. Namun, di sisi lain kita sangat kekurangan guru-guru bahasa Mandarin karena selama 32 tahun tidak ada pelajaran bahasa Mandarin. Kita benar-benar harus mulai dari nol.

Karena itu, kami sering mengadakan pelatihan guru-guru bahasa Mandarin di Jawa Timur. Tim dari ITCC, yang semuanya lulusan Tiongkok dan Taiwan, turun langsung ke beberapa kota untuk memberikan pelatihan kepada guru-guru bahasa Mandarin. Paling tidak mereka bisa menjadi pelopor pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah masing-masing. Kita harus mulai dengan memanfaatkan potensi tenaga pendidik yang ada di sekolah-sekolah.

Apakah sekolah-sekolah di Jawa Timur sudah punya guru bahasa Mandarin?

Masih sangat sedikit yang punya. Hampir semua sekolah tidak punya guru bahasa Mandarin. Kita belum bicara soal kualitas atau kompetensi mengajar mereka. Yang paling penting bagi ITCC adalah kemauan mereka untuk belajar. Maka, pelatihan guru-guru itu tidak harus guru yang sudah bisa bahasa Mandarin. Guru apa saja silakan ikut asalkan punya kemauan untuk belajar bahasa Mandarin, kemudian diajarkan lagi kepada anak didiknya. Syukurlah, sistem pelatihan seperti ini bisa membantu mengatasi kelangkaan guru-guru bahasa Mandarin di Jawa Timur.

Apakah guru-guru itu harus membayar biaya pelatihan?

Tidak. Tim laoshi (guru) justru dengan senang hati datang untuk memberikan kursus bahasa Mandarin secara cuma-cuma. Bagaimanapun juga ITCC ini juga punya misi sosial. Misi untuk membantu mengembangkan bahasa Mandarin di Indonesia, khususnya Jawa Timur. Inilah yang membedakan ITCC dengan kursus-kursus bahasa Mandarin yang lain. Misi kami adalah ikut membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dalam bidang pendidikan dan pengajaran bahasa Mandarin.

Kalau tidak salah, ITCC bersama Menteri BUMN Dahlan Iskan belum lama ini melepas puluhan mahasiswa Jawa Timur ke Tiongkok. Itu program apa?

Program beasiswa ke berbagai perguruan tinggi di Tiongkok dan Taiwan. Seluruhnya ada 60 orang. Dari 60 orang ini, hanya 15 orang yang keturunan Tionghoa. Sebagian besar pelajar yang diberangkatkan Pak Dahlan Iskan itu berasal dari pesantren dan sekolah-sekolah Islam. Di antaranya, empat santri Pesantren Lirboyo (Kediri), enam santri Pesantren Nurul Jadid (Paiton, Probolinggo), dan sembilan alumni SMA Nahdlatul Ulama Gresik.

Mereka kuliah di kota mana saja?

Ada yang di Zhejiang University of Technology, Taiwan Shoufu University, kemudian ada juga yang diterima di Chongqing dan Hangzhou. Beberapa mahasiswa sudah belajar dua tahun di Surabaya, kemudian menambah dua tahun lagi di Tiongkok. Sistem 2 + 2 (two plus two) ini cukup populer di Tiongkok. Kami juga sudah menjalin memorandum of understanding dengan perguruan tinggi di Guangzhou, Tianjin, Zhejiang, Beijing, Harbin, Shanghai, dan Xiamen.

Bagaimana ITCC bisa dipercaya sekian banyak universitas di Tiongkok dan Taiwan, khususnya dalam program beasiswa?

Ini membutuhkan kerja keras, pendekatan, dan komunikasi selama bertahun-tahun. Universitas-universitas di Tiongkok dan Taiwan itu sejak dulu memang menyiapkan fasilitas beasiswa. Tapi kesempatan itu diberikan secara sangat selektif. Syukurlah, ITCC mendapat kepercayaan dari berbagai universitas di Tiongkok dan Taiwan untuk mengirim para pelajar kita agar bisa menikmati pendidikan di sana. Apalagi, sudah banyak alumni kita yang berhasil menyelesaikan kuliah dengan gemilang, kemudian pulang dan mengembangkan kariernya dengan baik. (rek)

Lily bersama Konjen RRT Wang Huagen.



CV SINGKAT

Nama :  Lily Yoshica
Tempat/Tanggal Lahir :  Madiun, 29 Juni 1972
Hobi :  Travelling dan Membaca
Suami : Wagianto Redjo
Anak : 3  (Janice Brillianda, Regita Jessy G., Jensen Kriston Redjo)

Pendidikan :
· SD St Maria, Madiun, 1979-1985
· SMPK St Yusuf, Madiun, 1985-1988
· SMA St. Bonaventura, Madiun, 1988-1991
· Universitas Widya Mandala, Jurusan Sekretaris, 1991–1994

Aktivitas :
- Director of Indonesia Tionghoa Culture Centre
- Sekretaris IPINAT (Ikatan Pelajar Indonsia Alumni Tiongkok )

Award :
- School Orientation and Teacher Exchange at Oriental Pearl School Guangzhou, 2011
- Speaker in Exploring Culture and Economic System of China at Guangdong University of Science and Technology, 2012

Dimuat di RADAR SURABAYA edisi Minggu, 17 November 2013

Peti Jenazah di Flores yang Sederhana

Melihat peti jenazah di Ario Surabaya.


Untuk kesekian kalinya saya ikut jalan-jalan bersama komunitas Petjinan Surabaya. Melancong sambil belajar mengenal budaya Tionghoa. Jalan-jalan yang asyik, tapi capek. Objek yang dilihat terlalu banyak.

Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Ario, perusahaan jasa kematian di Jalan Dinoyo. Orang Surabaya mengenal Ario sebagai penyedia peti mati untuk warga Tionghoa. Dan memang bisnis utama Ario ya peti jenazah.

Kami diajak Pak Ario Karjanto, bos Ario, melihat peti-peti di bagian belakang. Wuih, penuh sesak. Jeni kayu, tebal tipis, bentuk, ukurannya macam-macam. Yang pling ciamik berupa kayu jati gelondongan yang disebut siupan.

Berapa harganya? Juga macam-macam. Ada yang nol rupiah alias gratis karena memang disediakan manajemen untuk bakti sosial. Tapi rata-rata harganya selangit. Siupan yang bagus dibanderal ratusan juta.

"Siupan di pojok itu harganya Rp 800 juta. Murah ya," ujar teman saya, Yolanda, wartawan JTV, yang sempat wawancara dengan salah satu manajemen.

Hehehe... Delapan ratus juta rupiah untuk peti jenazah yang akan ditanam di dalam tanah bersama sang mayat.

Ini memang persoalan budaya. Bagaimana orang Tionghoa memberikan hormat kepada keluarga yang meninggal agar rohnya bahagia di alam sana. Karena itu, ukuran murah atau mahal tidak cocok untuk soal seperti ini. Bagi orang kaya-raya, 800 juta mungkin keciiiil... Tidak akan membebani keluarga yang masih hidup.

Pulang dari Ario, saya pun membandingkan peti jenazah Tionghoa Surabaya dengan peti jenazah di pelosok Flores, NTT. Ibarat langit dan bumi. Bahkan jauh di atas langit lagi. Karena budaya dan tradisinya memang sangat berbeda.

Di Flores Timur, daerah saya, jenazah memang dimasukkan peti, kecuali orang muslim yang cukup dibungkus kafan. Tapi tidak ada tradisi menyiapkan peti mati, apalagi berdagang peti jenazah seperti di kota-kota besar di Jawa. Sangat tabu!

Bagaimana kalau tiba-tiba ada warga kampung yang meninggal? Gampang sekali. Warga ramai-ramai mencari kayu yang lunak untuk bikin peti. Kayu lunak sangat penting karena cara membuatnya gampang dan mudah rusak di dalam tanah. Apalagi kayunya masih basah alias mentah.

Peti jenazah di NTT, khususnya di desa-desa, memang sengaja dipilihkan dari kayu sederhana yang gampang rusak. Tidak diniatkan untuk tidak rusak dalam waktu lama.

Bahkan, tempo doeloe jenazah hanya dimasukkan dalam keranda yang terbuat dari bambu. Dibuat setengah lingkaran memanjang, keranda ditutupi kain sarung tenun ikat. Cukup! Lalu dikuburkan seperti biasa.

Dalam perkembangannya, kayu-kayu lunak itu biasa diganti papan biasa yang kebetulan tersisa di rumah penduduk. Bahkan tripleks pun bisa dipakai. Saya tidak pernah melihat jenazah dimasukkan ke peti kayu jati.

Karena itu, peti mati di Flores Timur memang tidak ada harganya sama sekali. Pohon randu atau waru kan banyak. Ongkos tukang pun tak ada. Anak-anak kecil pun bisa bikin. Biaya yang diperlukan cuma untuk membeli paku saja.

Itu pun biasanya kita bisa meminta sana-sini dengan mudah. Sebab, ketika ada kematian di desa, semua warga pun berkabung dan mau membantu apa saja. Papan-papan sisa yang nganggur di rumah bisa dipakai. Kalau kurang bisa minta di rumah si A atau si B atau si X.

Yang juga penting, sistem pengawetan jenazah dengan formalin belum dikenal di Flores Timur dan Lembata. Karena itu, jenazah harus segera dikubur. Tidak bisa dibiarkan lama-lama meskipun pihak keluarga sangat berkabung dengan ratapan yang menyayat hati.

Kira-kira begitulah. Lain padang lain belalang... Lain pula peti jenazahnya. Lain pula tradisi dalam penanganan jenazah dan rituat perkabungannya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 November 2013

CHHS Pelesir Petjinan Surabaya




Sebagian besar generasi muda Tionghoa di Surabaya ternyata kurang mengenal tradisi dan budaya leluhurnya. Itulah yang mendorong pengurus CHHS (Chong Hua High School) dan Komunitas Jejak Petjinan mengadakan napak tilas budaya Tionghoa, Minggu (17/11/2013). Acara bertajuk Pelesir Petjinan ini diikuti sekitar 120 siswa kursus bahasa Mandarin CHHS mulai anak-anak hingga dewasa.

Dari markas CHHS di Jalan Undaan Kulon 1, rombongan diantar dengan bus menuju perusahaan jasa kematian Ario di Jalan Dinoyo 94-96. Ario Karjanto, bos Ario, bersama putri dan menantunya, Yohana dan Richard Wu, pun menyambut dengan ramah. Peserta kemudian berdialog seputar sejarah hingga perkembangan bisnis jasa kematian yang tergolong langka di tanah air.

Ario menjelaskan, perusahaan yang berdiri sejak zaman Belanda ini justru dimaksudkan untuk membantu keluarga-keluarga yang sedang berdukacita. Pihaknya menyiapkan peti jenazah, siupan, perawatan jenazah, hingga pengantaran jenazah ke makam.

Mengutip pesan ayahnya, Ario mengatakan, pihaknya tak hanya sekadar berbisnis, mencari keuntungan, tapi juga beramal untuk sesama. "Kalau amal saja tanpa keuntungan, bisnis tidak akan jalan. Perusahaan pasti bangkrut.
Tapi, sebaliknya, kalau bisnis thok tanpa amal, kita akan terkena kanker hati," ujar Ario disambut tawa siswa CHHS dan para laoshi pendamping.

Karena misi sosial itulah, menurut Ario, setiap tahun pihaknya menyediakan 1.500 peti jenazah secara gratis kepada keluarga tidak mampu. Rombongan kemudian diajak melihat-lihat berbagai koleksi peti jenazah di gudang bagian belakang. Ratusan peti dari berbagai kelas berjejalan di gudang. Ada peti yang harganya mencapai Rp 800 juta.

Dari Ario Dinoyo, rombongan Pelesir Petjinan meninjau rumah sembahyang keluarga Han di Jalan Karet 72. Ini merupakan salah satu dari tiga rumah sembahyang keluarga konglomerat Tionghoa pada masa Hindia Belanda, selain keluarga The dan Tjoa.

"Saya sendiri termasuk generasi kesembilan keluarga Han di Indonesia. Selama ini orang menyebut sebagai rumah abu. Padahal, tidak ada abu leluhur di rumah ini," ujar Robert Han, sang tuan rumah.

Robert Han bersama istri, Ling Mei, dan anak-anaknya rajin merawat rumah sembahyang yang sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di kawasan pecinan itu. Para pengunjung terkesan dengan keantikan bangunan yang memadukan seni arsitektur Tionghoa, Jawa, dan Eropa. Pilar-pilar baja, misalnya, didatangkan langsung dari Glasgow, Inggris. Belum lagi kaligrafi Tiongkok dengan syair tempo doeloe yang bernilai sastra tinggi.

Destinasi lain yang didatangi rombongan CHHS adalah Kelenteng Boen Bio di Jalan Kapasan 131. Tempat sembahyang umat Konghucu ini juga dinilai menyimpan jejak sejarah dan tradisi leluhur Tionghoa di Surabaya. Bahkan, pada masa revolusi, kelenteng ini juga sempat dijadikan tempat penampungan pengungsi.

Yang menarik, rombongan CHHS juga menyempatkan diri ziarah ke makam Sunan Ampel. Didampingi pemandu wisata, warga keturunan Arab di Ampel, mereka mendapat penjelasan tentang sosok Sunan Ampel sebagai salah satu dari sembilan wali penyebar agama Islam di tanah Jawa.

"Kabarnya ada wali yang keturunan Tionghoa. Makanya, kami merasa perlu untuk berziarah ke makam Sunan Ampel," kata Paulina Mayasari, koordinator Pelesir Petjinan.

Paulina menjelaskan, acara Pelesir Petjinan ini sangat perlu untuk memberikan wawasan kepada generasi muda Tionghoa yang sempat kehilangan jejak budayanya selama satu generasi. Warga Tionghoa yang lahir pada masa Orde Baru praktis tidak lagi menghayati tradisi dan budaya leluhurnya. "Saya sendiri malah sama sekali tidak bisa berbahasa Tionghoa," katanya.

Karena itu, Paulina sangat antusias melihat begitu banyak anak muda, tak hanya Tionghoa, yang belajar bahasa Mandarin di CHHS Surabaya. SMA Tionghoa papan atas yang didirikan pada 1948 ini pun ditutup pada 1966. Para alumni CHHS kemudian berusaha menghidupkan kembali dengan membuka kursus bahasa Mandarin serta mengadakan berbagai kegiatan sosial budaya.

Orang NTT Ketagihan Beras Miskin

Ladang di kawasan Lembata, NTT.
 
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail punya program ODNR: One Day No Rice. Program yang bagus untuk diversifikasi pangan. Tapi mengapa Pak Nur tidak pakai bahasa Indonesia saja. Mungkin sebagian besar warga Depok yang dekat Jakarta itu lebih fasih English.

Pak Nur, bahasa Indonesianya: sehari tanpa nasi! Penduduk di pelosok akan lebih paham jargon Anda ketimbang yang Inggris itu. Sebagai bekas menteri pertanian, doktor IPB, Pak Nur tentu betul politik beras di Indonesia yang gencar sejak zaman Pak Harto. Beras menjadi makanan pokok istimewa, yang dianggap lebih bergengsi ketimbang jagung, sorgum, sagu, singkong, dan ubi-ubian lain.

Saya kira ODNR di Depok atau Jawa Barat, Banten, Jakarta tidak begitu mendesak. Bogor kota hujan, subur, tumbuh segala macam tanaman pangan. Sawah-sawah bagus di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur.

Lha, orang surplus beras kok disuruh makan singkong? Tidak perlulah. Manusia harus mengkonsumsi makanan-makanan yang dihasilkan bumi tempat tinggalnya. Itulah pesan Prof Hiromi Shinya dalam buku enzimnya yang terkenal itu.

Saya bayangkan orang Bogor akan kesulitan menemukan sagu, jagung, atau sorgum di pasar. Beras mulai kelas raskin sampai super tersedia. Kok wali kotanya yang ahli pangan memaksa warganya tidak makan nasi?

Yang jadi masalah sangat besar adalah di NTT: Nusa Tenggara Timur alias Nusa Tetap Tertinggal alias Nasib Tidak Tentu tapi Nanti Tuhan Tolong. Provinsi kampung halaman saya ini bukan penghasil beras. Lahan basah untuk sawah sangat sedikit. Menanam padi gogo di ladang juga susah.

Kabupaten Flores Timur, Lembata, Alor, Rote Ndao, Sabu Raijua, misalnya, hampir tidak ada yang namanya sawah. Sebagian besar warga di kabupaten saya, Lembata, bahkan seumur hidup tak pernah lihat sawah dan tanaman padi. Paling hanya lihat di televisi.

"Saya baru lihat sawah ketika merantau di Malaysia Timur," kata teman saya yang sudah karatan di Sabah. Dia bahkan lebih merasa sebagai orang Malaysia ketimbang Indonesia karena makan, minum, dapat ringgit di negeri tetangga itu.

Karena itu, sebelum 1990 penduduk NTT yang makan padi (beras) sebagai makanan pokok kurang dari 15 persen. Tapi politik beras yang sistematis membuat warga perlahan-lahan beralih ke beras. Apalagi ada anggapan bahwa makan jagung membuat otak jadi tumpul.

"Kita di NTT ini bodoh karena makan jagung. Orang Jawa itu pintar (termasuk pintar mengakali) karena makannya beras," begitu ungkapan populer yang dulu sering saya dengar.

Warga NTT di pelosok kemudian mencontohkan anak-anak PNS yang dianggap lebih pintar dan bisa diterima di sekolah yang bagus. PNS di NTT selalu dapat jatah beras. Meskipun beras kualitas paling buruk, hasil cuci gudang di Jawa.

Satu-satunya pejabat NTT yang paling konsisten mempromosikan jagung adalah Gubernur Ben Mboi. Bersama istrinya, Nafsiah, yang sekarang menteri kesehatan, keliling ke 12 kabupaten (sekarang dipecah jadi 22 kabupaten) untuk promosi jagung. Bahwa jagung itu makanan pokok yang baik. Tidak kalah dengan beras.

Ben Mboi gencar dengan program Operasi Nusa Makmur alias ONM. Yang jadi andalannya adalah jagung arjuna. Varietas jagung berusia pendek yang tahan kering. ONM ini sukses sehingga NTT terbebas dari penyakit tahunan: kelaparan alias rawan pangan.

Gubernur Ben Mboi juga sempat menelurkan kebijakan mengganti beras jatah PNS dengan jagung. Tapi kebijakan ini diprotes keras sehingga tidak jalan. Inilah satu-satunya kegagalan Ben Moi dan Nafsiah Mboi di NTT.

Sayang, setelah 10 tahun memimpin NTT, komitmen pejabat-pejabat NTT terhadap jagung merosot. Maka budaya makan jagung pun merosot. Belum ada angka pasti, tapi saya perkirakan kini tinggal 60 persen atau bahkan kurang dari 50 persen penduduk NTT yang makan jagung.

Padahal, kemampuan untuk produksi padi di NTT tetap tidak meningkat. Wong iklim, jenis tanah, curah hujannya sama saja. Lebih parah lagi ada penggelontoran raskin atau beras miskin Rp 1000 per kg. Bahkan gratis kalau warga memang benar-benar tak punya uang sama sekali untuk beli raskin.

Gara-gara raskin itulah, warga NTT di kawasan paling kering yang tanpa sawah seperti Flores Timur, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Pantar, Sabu, Raijua, Semau, dan sebagainya ketagihan beras. Makanan khas PNS yang bergengsi, yang dianggap bisa membuat kita jadi pintar seperti orang Jawa. Bukan pinter ngapusi alias pinter berbohong. Hehehe....

Setiap kali berlibur ke kampung halaman, saya selalu minta makan jagung. Tapi tidak pernah mendapatkannya. Ingin nostalgia masa kecil ketika beras langka dan mahal pun tak kesampaian. Bahkan keluarga yang tinggal di gubuk pun makan beras... raskin.

Lebih sedih lagi ketika melihat di kampung saya dan kampung tetangga tak ada lagi selep atau mesin giling jagung baik manual maupun listrik. Mesin giling di rumah saya pun sudah tak ada. Karena memang tak ada lagi yang pakai. Lebih asyik menunggu truk yang membawa beras raskin masuk kampung.

Kesimpulan: Program diversifikasi pangan nonberas ini WAJIB digalakkan lagi di NTT. Bukan sehari tanpa beras, tapi sebaiknya setiap hari tanpa beras. Sesekali bolehlah makan raskin untuk variasi. Tapi kalau ketagihan beras dan meninggalkan jagung, singkong, sorgum, jewawut, ubi-ubian... celakalah orang NTT.

Gebrakan mantan Gubernur Ben Mboi harus dilanjutkan pejabat-pejabat baru. Dan sebaiknya bantuan pangan untuk masyarakat miskin tidak lagi berupa beras, tapi jagung dan pangan nonberas.

Di sisi lain, program ODNR di Depok ada positifnya juga. Paling tidak orang NTT di pelosok bisa mengubah persepsinya terhadap jagung. Oh, orang Jakarta yang pintar-pintar itu ternyata mau juga makan jagung.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

17 November 2013

Temu Kangen Alumni Sekolah Kai Ming Surabaya



Sebelum Orde Baru, 1966, cukup banyak sekolah Tionghoa di Surabaya. Namun, sekolah-sekolah itu ditutup rezim Presiden Soeharto yang sejak awal menganut politik asimilasi. Tak ada ruang untuk budaya, bahasa, atau tradisi Tionghoa berkembang. Bahkan, nama-nama Tionghoa pun dipaksakan untuk diganti dengan bunyi Jawa atau Indonesia.

Salah satu sekolah Tionghoa yang ditutup adalah SD dan SMP Kai Ming di Jalan Kalianyar Wetan, Surabaya. Sekolah ini tinggal sejarah. Namun, para alumninya yang sebagian besar pengusaha sukses mengadakan reuni para guru dan alumni Kai Ming.

Temu kangen ke-60 tersebut digelar di Hotel Shangrilla, Surabaya, Sabtu malam (16/11/2013). Tampak hadir Konsul Jenderal Tiongkok Wang Huagen, politikus Indah Kurnia anggota, taipan Alim Markus, pengusaha Liem Ou Yen, dan masih banyak lagi. Para alumni tak hanya datang dari dalam kota, luar pulau, bahkan dari Hongkong dan Guangzhou.

Soehardjo Gondo, ketua panitia, menjelaskan bahwa Sekolah Kai Ming didirikan pada 1953 oleh Yayasan Yan Ling dari marga Wu. Meski keberadaannya kurang dari 20 tahun, para alumni dan protolannya (maklum, banyak yang DO) tetap menjalin hubungan komunikasi satu sama lain. Yayasan Kai Ming yang telah berjalan 23 tahun diketuai Jusman Purnomo. Yayasan inilah yang rutin mengadakan bakti sosial dan temu kangen.

Salah satu alumni, Trisyanto, khusus datang dari Banjarmasin untuk mengikuti temu kangen di Surabaya. “Saya sudah punya 8 cucu," katanya.

Pada 1950-an itu, Trisyanto datang ke Surabaya naik kapal laut kemudian mendaftar di Sekolah Kai Ming bersama teman-temannya dari Kalimantan. Mereka indekos di Jalan Wijaya Kusuma. Setiap hari ke sekolah dengan bersepeda. Angkutan umum di Surabaya saat itu hanya trem atau kereta listrik.

Ketika Sekolah Kai Ming ditutup, Trisyanto pulang ke Banjarmasin dan bekerja di hutan. Pekerjaan yang sangat berat, katanya. Setelah itu jadi pegawai toko buku. "Saya baru kembali datang ke Surabaya tahun 1990. Saya kaget melihat perkembangan Surabaya sekarang. Beda jauh dengan tahun 1950-an,” katanya.

Rudi sempat mengenyam pendidikan di SD Kai Ming. Dia mengenal huruf dan berbicara bahasa Tionghoa sejak usia empat tahun. Sehingga, dia tak menemukan kesulitan mengikuti pelajaran dalam bahasa Tionghoa alias Mandarin.

"Kami harus bisa bercakap dan menulis Mandarin. Tulisan Mandarin sekarang berbeda dengan dulu," kata Rudi yang didampingi istrinya.

16 November 2013

Perlukah menulis gelar haji dan akademik?

Rombongan calon haji asal Kabupaten Lembata, NTT,2013. Jumlahnya 15 orang.


Di Nusa Tenggara Timur tidak banyak orang yang bergelar haji. Selain biaya naik haji mahal, sementara orang NTT kebanyakan miskin, umat Islam memang minoritas di NTT. Di kabupaten saya, Lembata, setiap tahun yang naik haji cuma 6 atau 10 orang saja. Dua puluh sudah banyak sekali.

Bandingkan dengan haji di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, yang ribuan orang setiap musim. Bahkan ada KBIH di Gedangan, Sidoarjo, yang bisa memberangkatkan satu sampai dua keloter. Satu kelompok terbang atawa keloter itu 450 orang.

Karena itu, haji-haji di NTT punya posisi yang sangat tinggi. Dengan naik haji, status sosianya yang sudah tinggi (karena berada) makin naik lagi. Maka, haji-haji di NTT, khususnya Flores Timur daerah saya selalu melekat di nama mereka. Haji Anwar. Haji Ibrahim. Haji Arsyad. Haji Payong. Haji Bala. Begitu pula hajah-hajah untuk yang wanita.

Seorang bapak yang baru pulang berhaji akan menolak dipanggil namanya yang lama. Dia tak akan menyahut kalau gelar haji yang mahal itu (butuh Rp 40-50 juta) diabaikan begitu saja meskipun tidak sengaja.

"Engkau harus panggil saya Bapak Haji X. Saya ini sudah pulang dari Mekah," katanya. Kisah Pak Haji X ini sering jadi bahan pelipur lara di kampung halaman saya.

Di Jawa populasi haji sudah telalu banyak. Yang antre naik haji jutaan orang, hingga lima hingga 10 tahun ke depan. Karena itu, haji-haji di Surabaya bukan gelar yang sangat khusus seperti di NTT. Mereka tidak merasa perlu mencantumkan gelar hajinya di depan nama.

"Haji itu salah satu rukun Islam, menunaikan ibadah haji. Yang penting mabrur, bukan gelarnnya," kata Eyang Siti yang tak pernah pakai gelar hajah meskipun sudah naik hajah pada awal 2000an.

Koran-koran di Surabaya, yang berpengaruh, pun tak pernah mencantumkan gelar di depan nama seseorang. Bahkan gelar profesor, dokter, dan sebagainya pun tidak perlu dicantumkan. Mantan ketua MPR hanya ditulis Amien Rais, bukan Prof Dr H Amien Rais MSi.

Mengapa? Karena di Jawa sudah terlalu banyak haji, profesor, doktor, sarjana ini itu, doktoranda, dan sebagainya. Akan sangat aneh kalau seorang pencuri sepeda motor atau mobil ditulis nama dengan gelarnya. Misalnya: Tersangka penggelapan mobil Drs H Bagong dicokok polisi.

Beda dengan di koran-koran di NTT yang sangat suka mencantumkan gelar akademis dan haji-hajah di depan nama seseorang. Misalnya Gubernur NTT Drs Frans Lebu Raya MSi membuka seminar pembangunan pertanian di Kupang.

Kita yang biasa membaca koran-koran Jakarta atau Surabaya pasti tergeli-geli melihat deretan gelar di depan nama orang. Bagaimana kalau seorang narasumber punya 5 atau 7 gelar? Apakah harus ditulis semua?

Ya, wartawan di NTT biasanya menuliskan semua. Amboi, betapa space koran dihabiskan untuk menulis gelar orang yang tidak jelas sumbangannya untuk dunia akademis di Indonesia.

Kembali ke gelar haji hajah. Bagi politisi atau pejabat, gelar haji sangat penting untuk menunjukkan siapa dia. Bukan saja sebagai penanda agama seseorang, tapi juga kualitas keimanannya. Paling tidak masyarakat diberi tahu bahwa orang itu sudah menjalankan lima rukun Islam secara lengkap.

Maka, jangan heran kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selalu menulis namanya begini: Dr H Susilo Bambang Yudhoyono. Pesannya jelas: beliau sudah hebat secara akademis, keislamannya pun jangan diragukan lagi.

Teman saya di Bojonegoro pun suka menulis namanya: H. Haryono di kartu nama dan artikel-artikel yang ditulisnya. Padahal si Haryono ini biasanya membahas masalah gereja dan kitab suci kristiani.

"H itu Hendrikus. Hendrikus Haryono," katanya sambil tertawa kecil.

Andaikan jadi caleg, si Haryono bisa dikira haji.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

15 November 2013

Martabat MK yang hancur

Sejak penangkapan Akil Mochtar karena suap Rp 3 miliar, padahal gajinya Rp 300 juta sebulan, wibawa Mahkamah Konstitusi hancur lebur. Dan sangat sulit untuk memulihkan kehormatan mahkamah tertinggi di republik ini.

Maka, saya tidak kaget ketika sejumlah orang membuat kekacauan di MK kemarin. Merusak mikrofon, mencoba menyerang hakim, berteriak, caci maki, dan sebagainya. Putusan MK tak lagi dihargai karena si Akil Mochtar, ketua lama, sudah menunjukkan bahwa putusan sengketa pilkada itu ada harganya.

Kalau mau menang di MK harus bayar sekian ember alias miliar. Si Akil menunjukkan bahwa harga satu perkara pilkada itu tiga ember. Bisa juga empat lima ember tergantung negosiasi.

Setelah Akil ditangkap KPK, sebagian besar rakyat Indonesia, khususnya saya, mempertanyakan integritas 9 hakim konstitusi. Apa iya hanya Akil sendiri yang dagang perkara? Apa iya 8 hakim lain tidak makan suap? Apa iya hakim-hakim yang satu panel dengan Akil tidak kecipratan duit ember-emberan itu?

Maka, sejak awal saya sangat berharap semua hakim konstitusi itu mengundurkan diri. Sebab citra MK sudah rusak. Rakyat sudah tidak percaya lagi dengan integritas semua hakim konstitusi.

Ternyata 8 hakim itu bertahan. Karena itu, saya juga berharap Presiden Susilo BY langsung mengeluarkan peraturan pemerintah undang-undang alias perpu penyelamatan MK. Tidak bimbang menunggu berhari-hari, tapi paling lama sehari setelah Akil dicokok.

Perpu itu berisi penonaktifan semua hakim MK dan langkah-langkah pemulihan institusi. Singkatnya, 9 hakim konstitusi itu harus lengser, terlepas mereka melakukan korupsi, menerima suap, dan sebagainya. Ibarat korps tentara, satu saja tentara berbuat salah, satu kompi harus dihukum. Kemudian dicarikan jalan keluar yang paling memungkinkan.

Sayang, Presiden Susilo BY terlambat mengeluarkan perpu. MK bahkan makin percaya diri dengan memilih ketuanya yang baru. Business as usual!

Sementara itu, para calon kepala daerah yang pernah beperkara di MK ramai-ramai menggugat putusan yang lalu. Mereka sangat curiga bahwa kekalahan mereka itu karena pihak lawan menyuap hakim konstitusi. Krisis kepercayaan terhadap MK pun merebak ke mana-mana.

Patrialis Akbar, hakim MK, mengatakan kericuhan yang dilakukan para pendukung calon gubernur Maluku itu sebagai penghinaan terhadap lembaga pengadilan. Yah, ada benarnya kalau kasus Akil Mochtar itu tidak ada.

Patrialis lupa bahwa justru hakim kontitusi Akil Mochtar-lah yang paling menghina lembaga pengadilan di Republik Indonesia. MK menghina dirinya sendiri sebagai mahkamah yang sangat tercela. Baru pertama kali dalam sejarah Indonesia seorang maling kelas kakap duduk sebagai ketua mahkamah konstitusi.

Boleh saja polisi dan pihak keamanan melakukan penjagaan super ketat, kekecewaan pencari keadilan, dan rakyat Indonesia umumnya sulit diredam. Apalagi kalau mereka merasa sudah menyetor sekian ember rupiah atau apel washington atau duren singapura kepada sang hakim.

Itulah jadinya jika MK menjadi mahkamah yang kehilangan kehormatannya.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

14 November 2013

Kelenteng Rogojampi Rayakan Hari Jadi Ke-98



Kelenteng Tik Liong Tian, Rogojampi, sebentar lagi punya gawe besar. Mereka menggelar berbagai acara untuk merayakan ulang tahun ke-98 tempat ibadah Tridharma yang berlokasi di dekat Kota Banyuwangi itu.

Puncak acara diisi dengan sembahyang dan syukuran bersama perwakilan pengurus kelenteng se-Jawa Timur dan Bali pada 11 Desember 2013. Namun, sebelumnya panitia mengadakan pertandingan basket yang diikuti enam tim. Yakni, CLS Surabaya, TITD Sidoarjo, TITD Rogojampi, Merpati Denpasar, Garuda Jember, dan Sahabat Ponorogo.

Kejuaraan basket ini, menurut Yuwana Subagia, selain untuk memeriahkan acara, juga menjalin keakraban di antara klub basket yang dikelola yayasan Tionghoa di Jawa Timur dan Bali. "Cukup enam tim saja yang dilibatkan. Kalau terlalu banyak, nanti perlu waktu yang lama dan biayanya juga banyak," kata Yuwana Subagia.

Berdasarkan catatan sejarah, kelenteng yang terletak di kawasan pecinan, Kelurahan Karangrejo, sekitar lima menit dari Banyuwangi ini, dibangun pada 1915 oleh Liem Kim Hong, pedagang asal Hokkian yang tinggal di Blambangan. Kelenteng Tik Liong Tian ini untuk dipersembahkan bagi leluhur mereka, Kongco Tan Hu Cin Jin. Tan Hu Cin Jin dipercaya sebagai leluhur warga Tionghoa yang bermukim di kawasan Blambangan atau Banyuwangi tempo doeloe.

Kelenteng ini juga biasa disebut sebagai induk dari sembilang kelenteng pemuja Tan Hu Cin Jin yang tersebar di Jawa Timur hingga Bali. Di antaranya, di Besuki (Situbondo), Probolinggo, Jembrana, Tabanan, Kuta, dan Buleleng. "Kelenteng di Rogojampi yang terbesar sekaligus tertua," cerita Yuwana.

Legenda yang masih hidup di masyarakat Tionghoa saat ini, menurut Yuwana, Kongco Tan Hu Cin Jin menyelamatkan budak-budak Tionghoa yang akan dibawa VOC ke Batavia menggunakan kapal. Kongco juga dipercaya sebagai seorang tabib yang ramuannya manjur menyembuhkan berbagai penyakit.

Karena jasanya inilah, komunitas Tionghoa di Blambangan kemudian memutuskan mendirikan rumah penghormatan bagi Tan Hu Cin Jin yang kini dikenal sebagai Kelenteng Tik Liong Tian.

"Jadi, Kongco Tan Hu Cin Jin itu dewa lokal yang dulu hidup di daerah Blambangan. Beliau tidak dikenal di kalangan masyarakat Tionghoa negara-negara lain," ujarnya.

Selain pertandingan bola basket, menurut Yuwana, peringatan ulang tahun kelenteng sekaligus bertakhtanya Kongco Tan hu Cin Jin ini dimeriahkan dengan wayang kulit semalam suntuk, bakti sosial pembagian sembako, ramah tamah, serta pentas seni. Panitia mendatangkan penyanyi pop Mandarin dari Malaysia, Jakarta, Surabaya, dan Banyuwangi sendiri.