17 October 2013

Yusuf Mansur berkhotbah dengan tangan

Iseng-iseng saya mengikuti ceramah Ustad Yusuf Mansur di tvOne saat Idul Kurban. Kebetulan tidak ada acara bagus di televisi lain. Gaya sang ustad komunikatif, berbahasa informal (Betawi), tapi enak.

Yang paling menarik bagi saya adalah gaya Yusuf Mansur yang tak pernah lepas dari papan tulis. Mengingatkan saya pada guru-guru lama di SD sampai SMA dulu yang pakai kapur tulis, kemudian dihapus, menulis lagi, dan seterusnya. Ustad kondang ini pakai spidol, tapi gayanya benar-benar klasik.

Oh, di era teknologi informasi ini, ketika semuanya serba digital, Yusuf Mansur berhasil melestarikan papan tulis biasa. Berbeda dengan ustad-ustad atau penceramah lain yang hanya omong, omong, omong, lempar guyonan... atau yang mengandalkan animasi IT, video, dan sebagainya, Yusuf Mansur menampilkan sosok sebagai guru beneran.

Guru Yusuf Mansur yang mengajar di depan kelas besar. Jemaatnya yang banyak itu berperan sebagai murid. Yusuf Mansur tak bosan-bosannya menulis apa saja yang dia anggap penting -- mulai ayat-ayat suci, grafis, ilustrasi, poin-poin kunci -- agar ceramahnya lebih nyantol di kepala jemaat.

Setelah papan tulis penuh, dia hapus untuk menulis lagi. Luar biasa! Yusuf Mansur seorang guru, ustad, yang menulis. Bukan hanya bicara, khotbah, kelakar, tapi tangannya selalu jalan. Dan... papan tulis harus selalu menemani Yusuf Mansur ke mana pun pergi. Tanpa papan tulis, beliau jelas masih tetap fasih mengajar, tapi tak akan sebagus jika didukung blackboard atau whiteboard.

Saya tidak heran ketika diberi tahu teman saya bahwa Yusuf Mansur ini seorang ustad di Indonesia yang tercatat sebagai penulis buku-buku islami paling produktif di Indonesia. Bagaimana tidak produktif kalau setiap hari tangannya selalu bergerak, menulis, menulis, dan menulis....

Yusuf Mansur tak hanya berkhotbah dengan mulut, tapi juga tangan dan buku.

No comments:

Post a Comment