14 October 2013

Terlalu banyak salam di Indonesia

Sabtu malam, 12 Oktober 2013, Menteri Pemuda dan Olahraga membuka kejuaraan tinju di Surabaya. Tinjunya sendiri sih kurang menarik. Bagi saya, yang menarik justru salam yang dipakai Menteri Roy di awal sambutannya.

Pak Roy mulai dengan ASSALAMUALAIKUM... salam khas umat Islam yang sudah lama jadi salam resmi di acara-acara formal.

Kedua, Pak Menteri mengucapkan SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA.

Seharusnya, menurut saya, bunyinya SALAM SEJAHTERA UNTUK SAUDARA SEKALIAN. Aneh, orang menyampaikan salam untuk dirinya sendiri. Tapi SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA sudah jadi salah kaprah di lingkungan pemerintahan.

Ketiga, kalau tidak salah ingat, SELAMAT MALAM.

Keempat, OM SWASTI ASTU. Salam khas orang Bali yang beragama Hindu. Padahal kejuaraan diadakan di GOR Brawijaya Surabaya yang tak ada orang Balinya.

 Kelima, SYALOM khas Kristen Protestan, khususnya gereja-gereja aliran Karismatik dan Pentakosta.

Saya yang berasal dari kawasan Flores, yang mayoritas Katolik, seumur hidup tidak pernah mendengar pastor mengucapkan SYALOM di gereja. Salam di lingkungan Katolik di Indonesia sangat netral: SELAMAT PAGI, SELAMAT SIANG, SELAMAT SORE, SELAMAT MALAM. Khusus di Flores, selamat siang diganti SELAMAT TENGAH HARI.

Karena itu, ketika berada di Jawa Timur atau Jakarta, saya sering kagok mendengar orang Protestan/Pentakosta/Karismatik/Evangelical terlampau sering menyebut SYALOM SYALOM SYALOM SYALOM. Syalomisasi ini juga menular ke komunitas karismatik Katolik.

Kembali ke salamnya Menteri Roy Suryo yang banyak itu. Apakah salam khas semua agama di Indonesia perlu dimunculkan? Agar adil? Agar tidak ada komunitas agama/suku yang tidak merasa ditinggalkan?

Lantas, mana salam untuk umat Konghucu yang populasinya cukup banyak di Surabaya? Komunitas Tionghoa yang punya kampung pecinan di Surabaya sejak zaman Belanda? Umat Buddha dengan salam NAMO BUDAYA? Mana salam untuk Sapto Darmo atau kelompok Kejawen yang cukup banyak itu? 

Lah, kalau semua mau dituruti mungkin perlu lima menit untuk unjuk salam. Sementara pidatonya sendiri mungkin hanya tiga menit.

Buat saya, salam di awal pidato atau kata sambutan itu cukup SATU KALI. Cukup Assalamualaikum Wr Wb. 

Kalau pejabat muslim mau menambah dengan kalimat pujian sesuai agamanya, silakan. Tidak perlu terlalu banyak salam karena pendengar yang bukan Islam pun (seperti saya) menyadari bahwa salam berbahasa Arab itu ditujukan kepda semua orang. Bukan hanya untuk orang Islam saja.

Maka, warga nonmuslim seperti saya pun wajib menjawabnya: Walaikumsalam.... Toh semua orang Indonesia sudah paham arti assalamualaikum itu.

Awal Mei 2013 di Sidoarjo, ketua RT di Pondok Jati, yang Islam, memberikan kata sambutan menjelang pemakaman Patricia, yang beragama Katolik. Upacara secara Katolik dihadiri ratusan guru dan siswa Sekolah Petra yang sudah pasti hampir semuanya Protestan. Mendiang Patricia yang ayahnya orang Flores itu memang guru bahasa Inggris di Petra Surabaya.

Pak RT itu menyampaikan salam dengan tegas ASSALAMUALAIKUM.... Dan jemaat kristiani itu menjawab dengan tegas pula WALAIKUM SALAM. Hanya satu salam itu. Tak ada SYALOM atau SALAM SEJAHTERA dan sebagainya.

Seharusnya, menurut saya, seperti itulah. Pak RT tahu bahwa hampir semua jemaat bukan Islam. Tapi beliau juga tahu salam itu universal, bahkan sudah jadi salam nasional. Di kampung saya yang hampir semuanya Katolik, warga asyik saja bila orang Islam memulai sambutan dengan assalamualakum.

Belum lama ini saya pun berbicara di depan pelajar SMA Al Islam Krian, Sidoarjo. Ini sekolah swasta Islam yang terkenal di kawasan Krian dan Mojokerto. Muridnya 100 persen Islam.

Saya pun dengan tegas memberi salam ASSALAMUALAIKUM.... Dan para peserta pelatihan jurnalistik itu pun menjawab dengan tegas. Jangan-jangan para siswi itu (hanya dua siswa) tidak tahu kalau saya bukan muslim? Hehehe....

Indonesia ini memang beda dengan Amerika, Eropa, atau Tiongkok yang punya salam pembukaan yang netral. Orang Indonesia lebih senang membawa salam khas agamanya ke depan publik. Bahkan kefasihan logat bahasa Arab sering dijadikan ukuran kadar keislaman seseorang.


Saya terkesan dengan Hamdan Zoelva, wakil ketua Mahkamah Konstitusi. Kita tahu, Pak Hamdan ini berlatar belakang politikus Partai Bulan Bintang. Partai yang sejak dulu gencar memperjuangkan formalisasi syariat Islam di Indonesia. PBB juga punya hubungan erat dengan Dewan Dakwah Islamiyah yang juga kita kenal sangat konservatif paham keislamannya.

Tapi, yang menarik, setiap kali jumpa pers tentang perkembangan yang terjadi di MK, Hamdan Zoelva selalu mengatakan selamat pagi, selamat siang, selama sore, selamat malam. Tidak pakai assalamualaikum. Barangkali saja hakim konstitusi kita ingin menjaga kenetralan sebagai pengawal konstitusi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

6 comments:

  1. PDI Perjuangan punya salam khas: MERDEKA!!!

    ReplyDelete
  2. Repotnya tidak semua orang Islam rela kalau assalamualaikum itu diucapkan oleh orang non Islam.

    ReplyDelete
  3. Kemarin dulu saya mengunjungi seorang teman kuliah, seorang warga Mesir bermarga Schenuda. Dia adalah keponakan dari Papst Schenuda III, Paus-nya orang Mesir yang beragama Kristen-Orthodox ( Kopten ).
    Bagi saya orang Mesir, ya orang Arab, jadi waktu berjumpa saya salami dengan Assalamualaikum, dan dijawabnya dengan Walaikum Salam. Istrinya, wanita Jerman, tertawa ter-pingkal2,
    ketika mendengar kita saling bersalaman, berpelukan, dan berciuman, lazimnya orang Arab ketemu konco lawas.
    Saya lalu bertanya kepada istrinya : Kenapa lu ketawa, apakah ada yang lucu ?
    Jawab istrinya : Lu lihat foto2 besar itu yang tergantung didinding, Yang sebelah kanan adalah pamannya, mendiang Papst Schenuda III dan yang disebelah kiri adalah penggantinya Papst Tawadros II. Kedua orang itu jika ketemu dengan temanmu si-Samir, juga salamnya dengan Assalamualaikum, walaupun kami adalah penganut Kristen Orthodox Mesir.
    Mungkin terjemahan bebas Assalamualaikum, sama seperti jika orang Austria atau orang Jerman Selatan bersalaman dengan kata Gruss Gott ! " Aku menyalami dikau atas nama Tuhan "
    Jika Bung Hurek kebetulan ke Tiongkok, tepatnya kekota Sanya dipulau Hainan dan ingin membeli oleh2. Disana penjual Souvenir hampir semuanya wanita China yang beragama Islam dan berjilbab. Sebelum tawar-menawar, ucapkanlah Assalamualaikum, maka akan dijawab Walaikum Salam.
    Kalau tidak, maka mereka akan buka harga sembarangan, 300 Yuan, padahal harga barang sebenarnya cuma 20 Yuan. Jika
    ditawar 100, mereka akan teriak2 mengeluh: rugi-rugi. Jika kita pergi langsung barang dikasihkan. Tertipulah kita.
    Jika Bung Hurek menyalami dengan Assalamualaikum, maka mereka buka harga langsung dengan 30 Yuan, ditawar 20 Yuan dikasih. Waktu menawar giliran kita-lah yang harus mengeluh-eluh, Astaga dan beberapa kata2 Arab yang sering diucapkan oleh para politisi dan pejabat Indonesia. Pokoknya kata2 Arab, entah artinya apa ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Informasi yang menarik. Sebagai tambahan, Orang Copt seperti teman engkong itu tidak menganggap dirinya orang Arab, tetapi orang Mesir, walaupun mereka berbahasa Arab.

      Delete
  4. BUNG HUREK SAYA JUGA ORANG SIDOARJO, MAU TANYA APA SALAMNYA SESAMA KOROPTOR KALAU BERTEMU MOHON PENJELASAN

    ReplyDelete
  5. om hurek... menurutku walaupun diriku non-Muslim tapi saya sangat menghargai jika umat Islam mengucapkan "Assalamualaikum" dalam aneka pertemuan apapun... itu salam (lebih tepatnya "doa") yg indah sekali, mendoakan supaya orang lain dalam keadaan damai (salam) dalam kasih sayang dan rahmat dari Tuhan...

    kalo saya sedang ada kumpul2 atau misalkan pada kegiatan di kampus saya harus berbicara di depan umum, saya tau kalo mayoritas penghuninya Muslim jadi saya sampaikan saja "Assalamualaikum" dan mereka menjawab "Waalaikumsalam" walaupun mereka tau saya Kristen dan tidak ada satupun keheranan atau kegundahan dari mereka...

    dan tidak ada sedikit pun perasaan saya terdiskriminasi, hanya karena salam khas agama saya "Syalom" tidak disebutkan... kenapa??? karena keindahan "Assalamualaikum" itu... saya justru senang, saya didoakan oleh orang lain supaya saya dalam keadaan damai...

    dan kalau ditelusuri, "Syalom Aleikhem" dan "Assalamualaikum" itu ya akarnya sama... bedanya yg satu bahasa Ibrani, satu lagi bahasa Arab... kebetulan keduanya termasuk rumpun bahasa Semitik... jadi ya gak ada masalah...

    kalo di Malaysia malah agak lebih ribet om... aku pernah jalan2 di museum, sang guide mengucapkan "Assalamualaikum, salam sejahtera, dan salam 1 Malaysia"... 1 Malaysia adalah kampanye pemerintah dalam mempersatukan etnis2 di Malaysia (yg ternyata tidak berjalan efektif)... jadi ada salam agama, salam umum, dan salam politis, hihihihi...

    ReplyDelete