06 October 2013

Sulitnya menangkap Inggris bule

Saya lagi menyaksikan pembukaan konferensi tingkat tinggi APEC di Bali yang disiarkan langsung TVRI. Bahasa pengantarnya tentu bahasa Inggris. Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun berpidato dalam English. Begitu juga Wisnu ketua panitia.

Rasanya kalimat-kalimat Pak SBY dan Wisnu mudah dimengerti... setidaknya oleh saya. Hampir tidak ada kata-kata sulit. Begitu pula bunyinya: Indonesia banget! Istilah guyonnya di Surabaya: Inggris Jowo! Bahasa Inggris yang logatnya Jawa atau Indonesia.

Sebaliknya, ketika si bule penutur asli berbicara Inggris dengan begitu mengalir cepat, saya mulai kesulitan menerka kata-katanya. Kurang jelas. Mungkin hanya 60-70 persen saja yang rada jelas.

Persoalan fonologi atau bunyi memang selalu bikin bingung kita yang bukan english speaking nation. Coba kalimat-kalimat si bule Amerika itu ditranskripsi, saya bisa paham sepenuhnya atau setidaknya 90 persen. Bahasa native speaker memang selalu ada kata-kata sulit, tapi kita bisa menebak dengan melihat konteks dan kaitan dengan kata atau kalimat sebelumnya.

Karena itu, ada beberapa kenalan saya yang hebat sekali menerjemahkan artikel atau buku berbahasa Inggris, bahkan jadi pekerjaannya, tapi tidak bisa berbicara lancar dalam bahasa Inggris. Sebaliknya, si Meme mantan PRT di Singapura lancar bercakap English tapi tak bisa menerjemahkan artikel berbahasa Inggris.

Suatu ketika si Meme ini saya sodori koran The Jakarta Post yang berbahasa Inggris. "Emoh, aku gak iso moco koran," kata wanita yang memang malas membaca ini.

Sebetulnya tak hanya orang Indonesia yang bahasa Inggrisnya sederhana. Orang-orang Asia umumnya jarang menggunakan kata-kata sulit saat berbahasa Inggris. Ini saya perhatikan pada sebuah konferensi komunikasi Asia Pasifik di Surabaya. Saya kebetulan ikut memantau, bahkan membantu panitia dari kalangan gereja.

Delegasi dari Filipina paling banyak bicara dan menurut saya paling lancar. Tapi tetap saja bunyinya beda dengan gaya orang USA atau Inggris asli. Tak banyak beda dengan indonesia. Delegasi Hongkong pun lancar, maklum eks jajahan Inggris. Tapi tetap saja bunyi khas orang Han tak bisa hilang.

Orang Malaysia yang diwakili wong India gaya bicaranya seperti orang India + Melayu berbahasa Inggris. Dus, kata-kata sulitnya hampir tidak ada.

Tiba giliran panelis dari Amerika, wah, peserta dari Indonesia mulai kelimpungan. Ngomong opo iku? Aku kok gak mudeng? Begitu celetukan beberapa teman.

Maklum, si bule itu rupanya kurang memahami sosiolingusitik. Dia membayangkan orang-orang Indonesia (Asia umumnya) bisa berbicara Inggris selancar orang Boston, Texas, New York, Liverpool, atau London. Dia lupa bahwa orang Amerika sejak bayi sudah lancar bahasa Inggris, sementara bahasa Inggris di Indonesia adalah bahasa ketiga, keempat, bahkan kelima. Itu pun hanya pelajaran tingkat dasar di sekolah. Itu pun lebih banyak rumus 16 macam tenses dan bukan mengajari anak berbicara dalam bahasa Inggris.

Satu-satunya orang Amerika yang menurut saya sangat paham sosiolinguistik adalah Presiden Barack Obama. Ini saya perhatikan ketika Obama berpidato di Jakarta beberapa tahun lalu. Selain menyisipkan beberapa ungkapan bahasa Indonesia, Obama sengaja memakai kata-kata Inggris yang sederhana yang bisa dipahami oleh warga yang bukan english speaking nation.

Bahkan, Obama juga tidak bicara cepat-cepat, tapi menekankan kata-katanya sehingga kita orang Indonesia bisa dengan mudah menangkap. Obama yang pernah tinggal di Jakarta saat anak-anak rupanya sadar betul betapa sulitnya orang Indonesia menangkap kata-kata bule alias penutur asli.

Syukurlah, di Surabaya ada Konsul Amerika Serikat Mr Wakin yang bahasa Indonesianya bahkan jauh lebih lancar ketimbang orang asli Indonesia yang tinggal di pelosok NTT, kampung halaman saya. Saya sendiri hingga 12 tahun, bahkan sampai SMP, belum lancar berbahasa Indonesia karena kekurangan kosa kata.

Maka, suatu ketika saya guyon sama diplomat kawakan ini. "Memang jauh lebih mudah bagi orang Amerika untuk fasih berbahasa Indonesia daripada orang Indonesia fasih berbahasa Inggris selevel penutur asli," kata saya.

"Kok bisa?" Sang diplomat bertanya.

Yah, lihat saja orang Indonesia yang belajar bahasa Inggris sejak SD sampai SMA. Berapa banyak sih yang bisa casciscus lancar kayak bule Amrik?

8 comments:

  1. 2 Minggu saja di Amrik atau Inggris pasti lancar mendengarnya.

    ReplyDelete
  2. Rantau Kalifornia8:37 AM, October 08, 2013

    Bhs Inggris adalah bahasa ke-4. Bhs pertama: Indonesia / Melayu Pasar. Bahasa ke-2: Cina Mandarin, ke-3: Cina Hokkian (tidak lengkap), ke-4: Jawa, ke-5: Madura (tidak lengkap). Eh, setelah tinggal di Amrik, malah jadi bahasa nomer 1. Indonesia ke-2. Jawa ke-3. Yang lain2nya mundur ke belakang.

    ReplyDelete
  3. Terimakasih mas perantau, semoga tetap sehat di rantau. Dari pengalaman saya tinggal di banyak kota, bhs indonesia tidak pernah jadi bahasa pertama. Di flores dan indonesia timur yg bahasa daerahnya banyak, bhs indonesia itu bhs keempat, kelima, keenam... Itu sebabnya sampai SMP saya belum bisa bahasa indonesia ketika sekolah di Larantuka ibukota flores timur.

    Urutan penguasaan bahasa saya dulu: 1 bahasa ileape 2 adonara 3 larantuka atau bhs nagi 4 bhs kupang 5 bhs indonesia 6 inggris.

    Di surabaya bhs indonesia juga jarang dipakai kecuali utk ceramah, khotbah dan urusan formal. Bahasa jawa suroboyoan lebih dominan. Belakangan dioplos dg bhs sinetron ala melayu betawi.

    ReplyDelete
  4. Rantau Kalifornia5:06 AM, October 09, 2013

    Bung Hurek, kalau kalangan Tionghoa di Surabaya, Malang (daerah arek) bahasa pertamanya memang bahasa Melayu pasar, bukan bahasa Indonesia yang baik. Bunyinya seperti ini: "Lu bo gitu, urusan sing itu kan wes tak bilangno Koh Liang. Jadi mestine lu ojok ungkit-ungkit lagi, jadine malah gak karuan kabeh. Gua makan ati nek urusan duit goh-pek-ching ae dietrek-etrek sak suwe-suwene. Lu itu bo-ceng-li, pancene. Sa'munggo'o papa sek ada, lu kan gak wani omong masalah ini lagi. Wis daripada lu ribut terus, iki tak bayari ce-tiauw ae, menengo cep."

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mas, pengalamanku di sby sm temen ku yg org sby asli tapi keturunan tionghoa pertama dgr dia ngmg dgn dialek sby aku pusing ga ngerti yg dia maksud. tapi lama2 enjoy dan unik di telinga ku. Sewaktu mau kuliner cari es krim ala tempo doeloe, dia tny, mau pilih yg ACEAN atau ga? aku balik tny, yg ASEAN? emang apa hubnya es krim sm ASEAN ko? dia blg bukan ASEAN organisasi bangsa2 di asia tenggara dek, tapi itu mau duduk di ruangan yg ACEAN atau ga? nah di saat dgr kata ruangan baru aku sadar kalo ACEAN yg di mksd sm koko temenku itu adalah ruangan yg pake AC bukan ASEAN. hahahhahahhahahha... unik dan kocak! tapi sesuatu bgt.

      Delete
  5. hehehe mas perantau suroboyo amrik. itu bahasanya tante giok juragan kue keranjang n bacang di pecinan sidoarjo. saya sering mampir ke rumahnya ngombe cungkuocha yg khas itu.

    Om saya tinggal di pecinan malang, kotalama, dekat kelenteng sehingga saya cukup akrab dg gaya bahasa tionghoa jawa yg campuran capcay itu. Sangat unik dan menarik meskipun sering dianggap merusak bahasa jawa.

    Tionghoa di NTT bicara melayu pasar dan bahasa daerahnya layaknya pribumi. Tionghoa di NTT itu hampir semuanya BABA dan sudah kawin-mawin dengan penduduk setempat. Baba-baba ini biasa mampir ke rumah wong kampung di desa2, kayak rumah saya, dan sebaliknya orang desa pun mampir ke rumahtoko tionghoa di kota kabupaten. Interaksi ini membuat tionghoa NTT tidak punya gaya bahasa khusus kayak di jawa.

    kamsia, matur nuwun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sori om Hurek, gaya bahasa yg itu nenurutku tidak merusak bahasa apapun, sama seperti orang Manado orang Ambon juga orang Jawa dll dalam berbahasa Indonesia ada rasa etniknya :)

      Delete
  6. bahasa ibu memang sangat mempengaruhi bahasa kedua. makanya logat bahasa indonesia orang jawa beda dengan batak, madura, papua, flores dsb. selancar apapun bahasa indonesianya, orang china asli tidak akan kehilangan logat bahasa aslinya.

    ReplyDelete