26 October 2013

Presenter TV terlalu cepat memotong



Menonton dialog atau wawancara di televisi kadang bikin perut mules. Saya lebih sering kecewa karena si host atau presenter terlalu cepat memotong omongan narasumber. Baru satu dua kalimat sudah dipotong. Padahal inti jawaban belum muncul.

Saya paling jengkel sama Nona WC di tvOne. Dia cepat sekali memotong, kurang memberi ruang kepada narasumber untuk bicara. Belum dielaborasi atau bahasa Jawanya dijlentreh, eh, sudah dicecar pertanyaan baru. Si WC ini terlalu nafsu berbicara dan kurang mendengar jawaban si narasumber yang sejatinya ditunggu pemirsa televisi.

Suatu ketika WC mewawancarai Denny Indrayana, wakil menteri hukum. WC bertanya dan Pak Denny menjawab. Baru satu dua kalimat, yang sifatnya pengantar, eh sudah disusul pertanyaan baru. Pak Menteri pun tampak agak marah.

"Lho, Anda ini kan bertanya kepada saya. Saya belum jawab kok sudah ditanya lagi. Kasih dong kesempatan kepada saya," ujar Denny Indrayana ketus.

Hehehe.... Rupanya Nona WC kena batunya. Tapi, dasar sudah jadi karakter, WC tetap saja begitu. Sudah mengundang narasumber ke studio, tapi kurang diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan secara memadai.

Betul bahwa durasi waktu di televisi sangat mepet. Iklan sudah menunggu. Tapi pewawancara yang baik seharusnya sedikit bicara dan memberi kesempatan yang cukup kepada narasumber. Dia perlu memotong atau mengarahkan narasumber yang ngelantur. Bukan main potong seenaknya.

Rupanya ada perubahan yang drastis dalam gaya wawancara televisi kita. Dulu, di era TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia, narasumber terlalu banyak bicara, presenter kurang cepat memotong, sehingga dialognya mirip ceramah atau khotbah.

Kemudian muncul RCTI dengan presenter-presenter bagus macam Adolf Posumah, Desi Anwar, atau Dana Iswara yang saya angap sangat ideal untuk wawancara televisi. Asyik sekali mengikuti wawancara yang dipandu Adolf, Desi, Dana, serta beberapa presenter 1990-an.

Cara bertanya Desi Anwar dan teman seangkatannya halus, cermat, merangsang narasumber bicara secara hangat. Layaknya ngobrol dengan teman sendiri. Teknik inilah yang sangat sukses dimainkan Oprah dengan program-programnya yang fenomenal.

Ada lagi teknik wawancara layaknya interogasi ala Ira Koesno di Liputan 6 SCTV tempo doeloe. Narasumber seakan-akan dianggap musuh atau tersangka, sementara si Ira berperan layaknya polisi atau penyidik. Kesannya heboh, berani, tapi saya kurang suka.

Kini ada beberapa host TVRI yang justru lebih banyak bicara ketimbang narasumber. Wartawan tapi gaya bicaranya menggantikan narasumber. Saya lupa namanya laki-laki yang biasa mengasuh dialog sosial politik di TVRI pusat itu.

Gayanya mengingatkan saya pada Ussy Karundeng, presenter TVRI lawas, yang juga lebih banyak mengambil alih peran pengamat atau narasumber. Beda banget dengan presenter-presenter kawakan di televisi dunia macam CNN, BBC, ABC, dan sebagainya.

Mengapa Andy Flores Noya sangat sukses dengan Kick Andy? Jawabnya jelas. Andy yang mantan pemimpin redaksi Metro TV ini menimba inspirasi dari Oprah. Andy bertanya sedikit sebagai pemancing, narasumber punya waktu bicara, ada bumbu guyonnya.

Andy F Noya tidak asal potong omongan narasumber. Kalaupun memotong, Andy justru memberi pancingan baru untuk menguras keterangan si sumber. Andy pun selalu tampak punya kedekatan, intimasi, dengan narasumber. Ngobrol hangat layaknya sesama teman.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment