31 October 2013

Mimpi bahasa Indonesia jadi bahasa Asean



Bulan Oktober itu bulan bahasa. Tapi sejak reformasi tidak ada gerakan yang masih untuk membuat orang Indonesia bangga akan bahasa nasionalnya. Bahasa Indonesia justru makin terpuruk.

Virus nginggris, yang diperlihatkan Vicky Prasetyo, sudah jadi makanan sehari-hari. Vicky tidak sendiri. Di televisi kita bisa dengan mudah menemukan Vicky-Vicky lain yang tak kalah nginggris. Sok ber-english ria meskipun kita punya banyak kata atau istilah Indonesia.

Saat ini di televisi saya sedang melihat iklan yang bahasanya gado-gado nginggris. Si penulis terkenal, yang setiap hari bergulat dengan kata-kata Indonesia bicara begini:

"I NEED A GADGET YANG BISA MAKE ME HAPPIER."

Kalau yang bicara orang macam Vicky, yang cuma cari sensasi atau berlagak intelektual, kita masih bis mengerti. Tapi ini yang bicara penulis novel populer berbahasa Indonesia. Bicara untuk stasiun televisi di Indonesia dan untuk pemirsa Indonesia.

Bahasanya kok nginggris sontoloyo begitu? Oh, Vickynisasi memang virus laten yang sudah begitu lama merasuk di benak sebagian orang Indonesia kelas menengah-atas yang ingin terlihat kosmopolit. Makin nginggris makin hebatlah dia.

Bukankah kata-kata bahasa Inggris sederhana itu bisa diganti bahasa Indonesia? Mengapa harus gado-gado begitu. Kata gadget mungkin masih sulit diterjemahkan, bisa dipakai sebagaimana aslinya. Tapi kata-kata yang lain?

Karena itu, ketika membaca Kompas kemarin (30/10/2013) yang memuat pernyataan beberapa peneliti bahasa yang ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Asia Tenggara (Asean), saya hanya tertawa pahit. Rupanya ahli-ahli bahasa kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia hari ini sangat gandrung bernginggris ria. Tidak suka berbahasa Indonesia secara sederhana.

Saya lebih suka melihat orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, Spanyol, dan sebagainya. Tapi bicaralah dengan baik dalam bahasa asing itu secara penuh. Jangan tanggung! Bahasa Indonesia separuh atau sepertiga, sisanya Inggris.

Sudah lama orang asing terheran-heran dengan virus nginggris yang menjangkiti sebagian orang Indonesia. Termasuk intelektual muda, penulis, artis, atau pesohor yang kemampuan bahasa Inggrisnya sebetulnya juga tidak begitu bagus. Kok bahasa Indonesia kok oplosan gitu?

Salah satu pakar asing yang prihatin dengan fenomena nginggris adalah Prof Dr Josef Glinka SVD. Pastor senior asal Polandia ini selain profesor antropologi di Universitas Airlangga, juga fasih berbicara dan menulis dalam banyak bahasa alias poliglot.

Tapi coba Anda berbicara dengan Prof Glinka? Saya tak pernah mendengar kata-kata Inggris mentahan keluar dari mulut sang profesor. Beliau selalu menggunakan kata-kata Indonesia apa adanya. Begitu pula buku-buku karya Prof Glinka, meskipun sangat ilmiah, selalu menggunakan kata-kata Indonesia yang gampang dipahami.

Karena sudah lama mengenal Prof Glinka, saya sendiri malu kalau berbicara atau menulis dengan kata-kata Inggris mentahan (maksudnya yang belum diserap). Sedapat mungkin memakai kata-kata Indonesia.
Melihat derasnya arus nginggris di Indonesia, sebaiknya jangan mimpi menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean. Tertibkan dulu deh bahasa Indonesia di dalam negara sendiri. Kalau sudah menyangkut antarbangsa, sebaiknya pakai saja bahasa Inggris. Bahasa internasional yang sudah jelas dipelajari di seluruh dunia.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Oh Bung Hurek, jangankan Prof. Glinka, yang kelahiran Polandia, bingung dengan bahasa Indonesia oplosan, bahkan saya, yang lahir di Indonesia dan lulusan SMA-Indonesia, pusing mendengarkan bahasa Indonesia oplosan, jika menonton acara TV di Indonesia.
    Pada tahun 1958 di-Alun-alun kota Denpasar terpasang baliho besar, Presiden Soekarno melarang seluruh rakyat Indonesia menggunakan bahasa Belanda. Harus memakai bahasa Indonesia.
    Dan Beliau juga memerintahkan pemberantasan buta huruf.
    Para pelayan rumah tangga saya, mbok dan bli, meminta kepada saya, untuk diajari membaca dan menulis bahasa Indonesia.
    Ya saya ajari mereka menulis dan membaca alphabet latin, lalu menyepel kata2 Indonesia. Setelah itu mereka harus menulis kalimat, yang harus saya koreksi. Mereka belajarnya cepat sekali.
    Bli Malen ( arti kata Jawa-nya Semar ) dalam setahun sudah bisa menulis surat tjinta, walaupun hanya dengan pensil dan pengorbanan stip ( karet hapus ). Sedangkan sipelayan wanita juga sudah sangat lancar membaca buku bacaan Matahari Terbit.
    Ketika itu Bahasa Indonesia lazimnya dipasar masih disebut bahasa Melayu, dan saya masih duduk dibangku SRN kelas 5, jadi sama sekali tidak ngerti bahasa Inggris. Bagaimana mantan murid2 saya saat ini, jika seandainya mereka masih hidup, bisa mengerti apa yang dibicarakan di TV Indonesia ?
    Abang saya yang menetap dikota Aachen/Jerman, sering berbelanja ke Holland, membeli makanan Indonesia disana. Istrinya orang Jerman, selalu guyonan meng-olok2-nya; kamu ini koq selalu masih kangen sama tuan-mu yang lama, kapankah kamu bisa menanggalkan mentalitas kolonial mu. Saya tekankan, bahwa abang-saya itu bukan seorang belandis, melainkan anak lulusan SMA Chung-chung, jalan Baliwerti, Surabaya.
    Apakah guyonan kakak ipar saya itu memang masih melekat pada mental bangsa Indonesia, cuma sekarang tuan-nya bukan Belanda, melainkan Amerika ?

    ReplyDelete