13 October 2013

Menolak jargon dengan bahasa sederhana

Bahasa Indonesia itu sebetulnya sederhana. Sangat bersahaja. Tapi menjadi rumit dan canggih karena makin lama makin banyak orang Indonesia yang keminggris. Contohnya ya si Vicky Prasetyo dengan 'konspirasi kemakmuran' atau 'statutisasi labil ekonomi' itu.
Setiap kali mengikuti acara pertemuan musik Surabaya, yang dipandu pianis-komponis Slamet Abdul Sjukur, saya seperti diingatkan tentang kata-kata sederhana. Gak usah ndakik-ndakik. Penyakit yang kata Pak Slamet diidap guru-guru musik klasik di Surabaya.

"Istilah guru-guru musik kita itu canggih-canggih, hampir semuanya pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lain. Padahal sejak dulu kita sudah mengenal istilah musik dalam bahasa Indonesia," kata Slamet A Sjukur.
Pak Slamet menyebut contoh SUARA KEPALA yang sekarang diganti HEAD VOICE. Penjarian diganti FINGERING. Dirigen mulai hilang diganti conductor. Paduan suara tak dipakai lagi diganti choir.

Istilah KOR CAMPUR yang biasa dipakai di Gereja Katolik diganti MIXED CHOIR. Kor anak-anak diganti children choir. Istilahnya makin keren tapi mutunya belum tentu lebih baik daripada kor ibu-ibu di pelosok Flores.

Slamet Abdul Sjukur tinggal di Prancis selama 14 tahun. Dus, dia fasih bahasa Prancis, Inggris, Jerman, Italia dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Tapi ketika memberikan kuliah musik klasik atau kontemporer, wah, kalimat-kalimatnya sederhana dan enak. Masalah musik yang jelimet dia sederhanakan sehingga bisa diterima siapa saja.

Karena itu, saya selalu berusaha mengikuti kuliah musiknya setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda. Pak Slamet pun kerap menyentil bahasa koran-koran (media) kita yang makin jelimet, terlalu banyak kata-kata ruwet. Terlalu banyak kata serapan Inggris yang tidak perlu.

Mendengar sentilan Pak Slamet, saya jadi ingat Farid Gaban. Wartawan senior Tempo ini memang piawai menulis, gurunya wartawan muda, punya perhatian luar biasa pada bahasa jurnalistik. Saya suka Bang Farid karena kegigihannya dalam memerangi jargon di media massa.

Farid Gaban menulis:

"Para wartawan makin sering memproduksi JARGON, mengganti kata sederhana dengan istilah rumit.... Kerusakan makin parah karena banyak wartawan lupa pada salah satu tugas pentingnya, yakni mencari kejelasan dalam kekaburan."

Jargon-jargon itu mudah dijumpai di koran atau majalah. Beberapa contoh:

INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI TERDEGRADASI, bukan JALAN DAN JEMBATAN RUSAK.

MENGKONSUMSI NASI AKING padahal lebih sederhana MAKAN NASI AKING.

KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH bisa disederhanakan menjadi WABAH DEMAM BERDARAH.

ALUTSISTA (ALAT UTAMA SISTEM PERSENJATAAN) bisa diganti SENJATA.

Membaca ulang tulisan-tulisan Farid Gaban dan sentilan Slamet Abdul Sjukur, saya pun geli sendiri. Yah, memang begitulah virus nginggris yang sudah begitu merasuk di benak sebagian orang Indonesia, khususnya awak media massa. Seakan tanpa jargon, akronim, istilah-istilah yang ndakik-ndakik si penulis dianggap orang bodoh.

Siang tadi saya membaca majalah Tempo lama, edisi 5 Desember 2004. Saya temukan kata DISTRIBUSI yang memang sangat disukai wartawan ketika menulis berita tentang pemilihan kepala daerah atau kongres, muktamar, musyawarah, dan sejenisnya.

Majalah Tempo menulis begini:

"Sisa suara lainnya TERDISTRIBUSI ke 16 kandidat...."

Mungkin akan lebih sederhana kalau TERDISTRIBUSI diganti dengan TERSEBAR.

Ah, majalah Tempo yang paling teliti, peka bahasa, gencar melawan jargon dan akronim saja masih sering kecolongan, apalagi media-media lain yang masih centang perenang.

No comments:

Post a Comment