14 October 2013

Khotbah pastor yang kurang basah

Minggu ini, 13 Oktober 2013, pastor tamu yang memimpin misa di salah satu paroki di Surabaya. Pastor tamu sering membawa kesegaran baru, tapi bisa juga malah menyajikan homili atau khotbah yang tidak menarik.

Seorang romo yang terlalu lama bertugas di desa atau kota kecil tidak mudah berkhotbah di hadapan umat Katolik kota besar macam Surabaya atau Jakarta. Humor yang bikin orang Flores terbahak-bahak, di Surabaya terasa garing. Dan sebaliknya.

Bacaan kitab suci yang dibahas tentang Sepuluh Orang Kusta. Mereka disembuhkan Yesus Kristus tapi hanya SATU orang yang bilang terima kasih. Sembilan eks penderita kusta pergi entah ke mana. Kusta adalah penyakit paling mengerikan pada zaman Yesus, sehingga penderita dikucilkan dari masyarakat.

Tema ini sangat saya suka dan sering saya kutip di beberapa artikel saya. Saya sering mengeluh karena banyak orang lupa bilang terima kasih setelah saya bantu. Saya samakan orang-orang itu seperti sembilan orang kusta.

Nah, saat khotbah tiba, saya bayangkan pastor yang menyanyinya enak itu bisa memberikan siraman rohani yang segar. Bukankah Injil Lukas 17:11-19 itu sangat menarik?

Saya ingat benar beberapa romo di Keuskupan Malang yang membuat khotbah teatrikal. Sepuluh anak diminta ke depan dan berperan sebagai orang kusta. Hidup sekali khotbah seorang romo Karmelit di Gereja Kayutangan, Malang, beberapa tahun silam.

Kali ini saya keliru. Pastor tamu itu bicara datar-datar saja. Tak ada pemanis khotbah, ilustrasi, atau kontekstualisasi ayat suci dengan peristiwa aktual di masyarakat. Romo tamu itu hanya menekankan agar umat selalu bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang sudah kita terima.

Bagi saya, khotbah atau homili menjadi menarik jika dikaitkan dengan situasi aktual umat. Apa yang terjadi di masyarakat. Harus ada cerita yang memudahkan jemaat menangkap poin penting atau pesan kitab suci. Tanpa cerita maka khotbah tak ada bedanya dengan pernyataan atau statement belaka.

Pikiran saya pun melayang ke mana-mana. Saat romo meminta umat untuk pandai bersyukur, saya langsung ingat Akil Mochtar, ketua Mahkamah Konstitusi yang ditangkap karena dugaan korupsi. Akil jelas orang yang tak punya syukur. Penghasilannya sekitar Rp 200 juta sebulan tapi rupanya belum cukup juga.

Akil Mochtar minta uang suap Rp 3 miliar untuk satu perkara pemilukada. Luar biasa! Saya bayangkan sang romo mengangkat cerita Akil Mochtar untuk menambah sedap khotbahnya. Ah, cuma khayalan seorang umat biasa yang tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah mendengarkan khotbah meski tidak menarik.

Menarik atau tidak menarik itu sangat subjektif. Barangkali saja sang pengkhotbah menganggap khotbahnya sudah bagus dan menarik. Saya jadi ingat seorang pastor di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT, yang sudah meninggal dulu. Khotbahnya panjang lebar tidak karuan, ngelantur, dan sangat tidak menarik, menurut saya.

Anehnya, pastor itu sering merasa khotbahnya sangat menarik karena banyak umat yang tertawa. Hehehe....
Syukurlah, dua minggu lalu saya menikmati khotbah yang paling menarik di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir. Romo Albert Nampara SVD menceritakan pengalamannya selama 10 tahun bertugas di Swiss.

 Cerita Romo Albert menurut saya luar biasa menarik. Bagaimana gereja kosong, hanya ada beberapa orang tua (lansia), anak muda yang tak lagi ke gereja, umat yang mendikte pastor, bahkan uskup, meskipun tak pernah ke gereja seumur hidup, dan sebagainya.

Salam damai!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment