26 October 2013

Karate dan Karakter Editor Bahasa



Salah ketik, salah eja, menjadi hal rutin di surat kabar atau majalah atau media online. Khususnya di Indonesia. Maklum, komputer atau laptop yang kita pakai dirancang untuk bahasa Inggris. Sistem auto correct hanya efektif untuk kata-kata Inggris.

Kompas pagi ini, Sabtu 26 Oktober 2013, memuat salah eja atau salah ketik itu. Berita pendek tentang Mathias Muchus di halaman 32 terdapat salah kata: KARATE. Padahal, maksudnya jelas KARAKTER.
Yang benar tentulah KARAKTER BANGSA, bukan KARATE BANGSA.

Apa hubungan KARAKTER dengan KARATE? Tidak ada. Itu semata-mata wartawan yang salah ketik. Kerja cepat, dikejar tenggat, jadilah karate meski maksudnya karakter.

Si redaktur atau editor atau penyunting sudah membaca dan mengedit. Tapi ya tetap saja lolos. Setelah diedit naskah diserahkan ke editor bahasa atau copy editor untuk dipelototi apakah ada gramatical error, khususnya salah ketik, salah eja, salah logika, dan pakem media. Eh, lolos juga.

Lantas, siapa yang harus disalahkan kalau sudah telanjur jadi koran?

Ya, semuanya salah: mulai wartawan penulis, redaktur, dan copy editor. Tapi jelas si copy editor-lah yang gagal menjaga gawang alias kebobolan. Copy editor tidak cermat. Kurang membaca ulang dan membaca ulang.

Tak mudah menemukan editor bahasa alias copy editor di Indonesia. Editor bahasa sekaliber Slamet Jabarudi (almarhum) sangat langka. Dan tidak ada sekolahnya. Sarjana bahasa Indonesia kita, bahkan dosen S-3 bahasa Indonesia, tidak disiapkan untuk menjadi editor bahasa di media massa.

Jika seorang dosen bahasa Indonesia dipaksa jadi editor bahasa atau copy editor, maka dipastikan koran-koran kita jadi "rusak" bahasanya. Mengapa? Bahasa Indonesia akademis ala Pusat Bahasa, biasa disebut baik dan benar, tidak selalu cocok untuk bahasa jurnalistik yang sangat menekankan unsur komunikatif, enak, akrab, gampang dipahami pembaca.

Pakar bahasa Indonesia pasti tidak akan setuju kata-kata seperti TETAPI, SEHINGGA, NAMUN, DAN, SEBAB, SEHINGGA... dipakai di awal kalimat. Alasannya, kata-kata itu sebagai penghubung di dalam kalimat. Tidak bisa berdiri sendiri.

Penjelasan ini pasti didengar para redaktur, tapi tidak akan diikuti. Mengapa? Kalimat-kalimatnya akan menjadi terlalu panjang. Kalimat-kalimat panjang sangat melelahkan pembaca. Sulit bernapas. Jangan heran masyarakat malas membaca tulisan akademis karena kalimat-kalimatnya tidak enak dan panjang-panjang.

Betapa sulitnya mencari copy editor di Indonesia. Setiap tahun ribuan sarjana bahasa dicetak perguruan tinggi kita. Tapi sangat jarang yang bisa langsung menjadi copy editor yang benar. Apalagi sarjana-sarjana kita ini umumnya tidak pernah atau jarang membaca koran atau majalah yang punya bobot bahasa bagus seperti Tempo, Kompas, atau Jawa Pos.

Almarhum Slamet Jabarudi bisa menjadi copy editor terbaik, menurut saya, bukan produk sekolahan (si copy editor akan mengubah jadi SEKOLAH) atau universitas. Beliau belajar sendiri, mendalami jurnalistik, mencintai kata-kata, dan punya rasa bahasa yang sangat tinggi.

Tanpa rasa bahasa, cinta sastra, kutu buku... jangan harap copy editor mampu menjaga gawang media. Apalagi kalau tidak bisa membedakan KARATE dan KARAKTER.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment