16 October 2013

Kapan beritanya dimuat?

Ada beberapa tokoh di Surabaya, khususnya pengusaha, yang suka menagih wartawan. Kapan berita tentang kegiatannya dimuat di koran atau televisi? Sudah dua hari kok gak nongol?

Capek juga menjelaskan persoalan yang sama berkali-kali. Bu, beritanya gak keluar karena kemakan iklan. Kalau iklannya banyak, ruang untuk memuat berita berkurang. Kalau biasanya 10 berita, mungkin cuma enam atau lima berita yang masuk.

Terus, kapan dimuat? Si penelepon tetap saja menagih. Seakan-akan wartawan peliput berita itu punya utang. Seakan-akan ada jaminan bahwa setiap event yang didatangi wartawan itu pasti dimuat media massa.

"Kalau Ibu/Bapak pasang iklan atau advertorial, dijamin pasti dimuat," kata saya dalam sebuah diskusi di Surabaya belum lama ini.

Bicara soal iklan atau advertorial atau pariwara atau apa pun namanya pasti ada harganya. Dan biasanya si empunya acara langsung gamang karena merasa tarif iklan terlampau mahal. Dia hanya mau traktir makan enak si wartawan dan enggan bayar iklan.
Eh, dia sudah merasa sudah berinvestasi agar kegiatannya dimuat koran. Lalu berkali-kali menelepon ke kantor redaksi media. Memangnya sampean pasang iklan?

Beberapa wartawan koran besar sudah lama kapok dengan sikap sumber berita yang sok mendikte reporter lapangan. Bukan apa-apa. Acara yang berbau marketing atau pencitraan seperti itu biasanya tidak laku di media. Kecuali di ruang pariwara atau advertorial.

Seorang mantan wartawan di Surabaya terkenal sangat piawai mengemas acara yang dia anggap layak muat. Event apa saja dia rancang agar didatangi reporter. Awalnya sih banyak wartawan, khususnya pemula, yang terpukau karena kemasannya bagus.

Tapi lama-lama para wartawan sadar telah dikerjain Mr D yang bekas wartawan itu. Suatu ketika D bikin acara lagi yang dikemas heboh. Baiklah, kita gantian garap si D.

Bukan reporter yang turun ke lapangan untuk meliput acaranya, tapi tim iklan. D diminta agar pasang advertorial saja ketimbang merekayasa kegiatan hanya agar diliput wartawan. Apalagi si D ini biasanya sudah dapat duit dari sponsornya.

"Waduh, kok gini sih? Kami gak punya bujet untuk iklan," kata si D.
Yo wis, gak bisa iklan ya sudah. Silakan diteruskan kegiatan sampean. Semoga sukses. Sejak itu tak ada lagi wartawan yang menghadiri acara-acara yang dikoordinasi si D sebagai konsultan public relations.

Yang hebat di Jawa Timur adalah Pakde Karwo alias Gubernur Soekarwo. Beliau tahu betul nilai berita, prioritas berita, marketing, iklan display, pariwara, dan sebagainya. Dia punya tim khusus yang selalu meliput kegiatan-kegiatannya di seluruh Jawa Timur.

Tim khusus Pakde Karwo ini bekerja sama dengan tim iklan media massa. Maka, tak heran kegiatan-kegiatan Pakde Karwo selalu muncul di media massa dalam ukuran yang menonjol.

Inilah yang disebut Jer Basuki Mawa Beya - slogan Provinsi Jawa Timur. Artinya, semua keberhasilan itu membutuhkan pengorbanan atau beya atau biaya. Tidak ada makan siang gratis!

Kalau ingin beriklan ya harus keluarkan beya atau uang dulu. Kecuali Anda punya televisi atau media sendiri kayak Aburizal Bakrie, Surya Paloh, atau Hary Tanoesudibyo.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment