25 October 2013

Gaya Ahok Bikin Cemas Tionghoa


Saya suka gaya Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur Jakarta, yang tegas, blakblakan, tanpa basa-basi. Bicaranya lurus tanpa diplomasi layaknya politisi. 

Ahok alias Basuki ini termasuk ini memang benar-benar manusia langka. Latar belakangnya minoritas Tionghoa, Kristen, orang luar Jakarta, tapi keberaniannya luar biasa. Bukan tipe safety player layaknya golongan minoritas yang biasanya sangat hati-hati bicara atau bertindak. 

Ungkapan Jawa, "ngono yo ngono tapi ojo ngono" sepertinya tak berlaku untuk Ahok. "Saya hanya takut konstitusi, bukan konstituen. Kalau konstituen melanggar konstitusi ya kita sikat," kata bekas bupati Belitung Timur ini. 

Selasa, 22 Oktober 2013, saya mengikuti wawancara Ahok di tvOne. Wow, keras sekali omongannya. Benar-benar pemimpin yang bernyali. Kata-katanya nerocos begitu saja tanpa khawatir kata-katanya menyinggung orang lain, meskipun orang lain itu warga yang melanggar aturan atau konstitusi. 

"Saya tidak ambil pusing dipilih kembali atau tidak pada tahun 2017. Saya dan Pak Jokowi hanya bekerja sesuai konstitusi," katanya. 

"Kalau memang kami tidak dipercaya, ya, silakan pilih orang lain yang bisa mengurus Jakarta," Ahok menambahkan. Nadanya tetap tegas meski sering tersenyum. 

Beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan sejumlah warga Tionghoa di Surabaya. Tak hanya pengusaha, beberapa di antaranya Tionghoa intelektual, doktor lulusan Barat, ada yang tinggal lama di Taiwan, aktivis NGO, dosen, hingga agamawan. 

Mereka geleng-geleng kepala melihat sikap Ahok yang terlalu tegas. "Seharusnya lebih diplomatislah. Bagaimanapun dia itu politisi," kata teman Tionghoa yang baru pulang dari Taiwan. 

"Tidak apa-apa. Justru ketegasan ala Ahok itu dibutuhkan. Toh yang dia katakan itu tidak ada yang salah," ujar saya. 

"Tapi ya jangan kelewat tegas kayak gitulah. Mestinya Ahok bisa memperhalus bahasanya. Dia gak cocok jadi presiden," teman Tionghoa lain menimpali. 

Yah, saya bisa memahami kegundahan orang Tionghoa di Jawa. Secara sosiologis, psikologis, dan politik sangat berbeda dengan Tionghoa Belitong ala Ahok atau Tionghoa NTT seperti bupati di kampung saya yang Tionghoa. Orang Tionghoa di luar Jawa sudah biasa bercampur baur dengan penduduk setempat. 

Biasa ngobrol, ngopi bareng. Biasa blusukan ke kampung-kampung dan menginap di rumah penduduk desa yang sederhana beralas tanah. Makan makanan kampung seperti orang-orang desa lainnya. Karena itu, Tionghoa luar Jawa seperti Ahok sejak kecil sudah biasa ceplas-ceplos, bicara apa saja yang dianggap benar. 

Sebaliknya, Tionghoa di Jawa punya masalah psikologis dan historis yang berbeda dengan di NTT atau Kalimantan Barat atau Bangka Belitung. Tionghoa di Jawa cenderung punya komunitas atau kelompok sendiri. Punya semacam sekat atau jarak dengan yang bukan Tionghoa. 

Karena itu, ketika Basuki Ahok muncul ke permukaan dengan gaya blak-blakan ala Tionghoa luar Jawa, orang-orang Tionghoa di Jawa pun terkaget-kaget. Kok ada ya orang Tionghoa bisa seberani itu ya? Minoritas kok berani banget?

Ahok menjawab, "Saya hanya takut sama Tuhan dan konstitusi!"

Kita dukung Ahok untuk memberantas preman-preman kelas teri hingga kelas kakap di Jakarta! Ahok ini ibarat Kwan Kong yang punya pedang sakti, tak kenal takut, dan selalu menang.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

25 comments:

  1. lama ta jumpa kk, aduh kaka jangan bawa2 dia minoritas atau kristen, seharusnya kita bisa menerima pak Ahok dan Jokowi seperti kita menerima pemimpin2 lain di Indonesia yang beragama Islam atau lainnya tanpa pretensi agama tapi berdasarkan kerja dan semangat pluralitas, salam kaka :)

    ReplyDelete
  2. Orang-orang Tionghoa di Jawa ketir-ketir walaupun ada rasa kagum kepada Ahok, karena sejak dulu kalau ada pembantaian atau kerusuhan yang kena siapa? Tionghoa di Jawa. Padahal, Tionghoa di Jawa itu paling membaur. Bahasa sudah tidak pake Hokkian atau Mandarin. Makanan sudah terbiasa selera Jawa. Maka itu Ahok diharapkan lebih terukur dalam berbicara, walaupun dalam bertindak tetap keras dan lurus.

    ReplyDelete
  3. hallo kawan Tionghoa Jawa, iya saya tau klo gaya Ahok meledak2 dan jg saya berharap Ahok lebih calm pembawaanya cuma yg saya liat bnyak pemberitaan yg mengangkat karena masalah minoritas, so what klo Ahok minoritas, menurut saya harus dilihat konteksnya, Ahok lagi menjelaskan sesuatu di media yg ga bener datanya, saya pernah menjadi wartawan dan saya tau akal2an wartawan dalam membuat berita wlpun tidak semua wartawan seperti itu.

    ReplyDelete
  4. Hello kawan Anonymous, terima kasih atas dukungannya. Emang kenapa kalau minoritas? Ya begitulah, karena masih banyak segolongan mayoritas yang merasa kalau bukan Islam dan bukan bumiputra, jangan terlalu banyak beraksi. Pada dasarnya mereka itu yang takut sumber keuangannya yang nggak bener jadi tertutup.

    ReplyDelete
  5. pak basuki ahok perlu sedikit menurunkan emosinya karena persoalan di Indonesia itu sangat ruwet.

    ReplyDelete
  6. ya, saudara Tionghoa Jawa saya menghargai pendapat Anda tapi isu mayoritas dan minoritas itu bagi Indonesia sesuatu yg harus dilawan keberadaannya karena memang Ahok nyatanya tidak menguntungkan minoritas so ngapain bawa2 mayoritas dan minoritas, mare kita melihat pemimpin di Indonesia tidak berdasarkan SARA tapi prestasi, semangat patuh akan konstitusi tapi jika masalah pembawaan Ahok yg meledak2 ya saya setuju dia harus lebih soft, klo memang Ahok nanti terbukti tidak plural, anti konstitusi yg turunin aja. Akhir kata kata Wiji Thukul seorang penyair, jika kekuasaan itu membelenggu, hanya ada satu kata: LAWAN !!! tak peduli dia mayoritas atau minoritas bung.

    ReplyDelete
  7. sebenernya Ahok itu komentarnya cerdas, tapi banyak politikus kita itu ga cerdas apalagi yang 'freeman', taunya bahasa berantem doank. Kata2 Ahok itu bener adanya cuman emang penyampaiannya kurang enak. Perlu belajar banyak dari Jokowi tentang diplomatik, makanya kenapa Jokowi lebih cocok jadi presiden daripada Ahok.

    ReplyDelete
  8. kalo menurut saya,... apa adanya Pak AHOK aja, gak usah atur2 beliau,.. toh kita udah tau cara dia baik, ya sudah terima saja,... galak salah, baik salah,.. yg penting mereka tidak seperti mantan gubernur yg dulu2 lah...

    ReplyDelete
  9. Jalan terus Bung Ahok, saya Jawa Sleman suka gayamu. Tunjukkan kepintaranmu, Bung!! Yang penting tidak melanggar hukum. Kalau melanggar hukum......yaa......resiko kamu sendiri!!

    ReplyDelete
  10. Adalah fakta bahwa banyak di antara ETNIS TIONGHOA TIDAK MERASA SEBAGAI BANGSA INDONESIA. Mengapa demikian? Padahal mereka tinggal di Indonesia sejak lahir. Saya melihat beberapa faktor penyebab, yaitu:
    1. Agama
    Mayoritas etnis bumi putera beragama Islam. Sedangkan
    mayoritas etnis Tionghoa bukan Islam. Perbedaan agama
    menimbulkan jarak sosial dan komunikasi yang sangat
    berarti, apalagi ditambah adanya perbedaan lainnya.

    2. Ekonomi.
    Etnis Tionghoa yang jumlahnya sedikit (minoritas), akan
    tetapi secara umum dapat memenangkan persaingan dalam
    bisnis dengan etnis bumi putera. Hal ini menimbulkan
    kebanggaan, yaitu bahwa etnis Tionghoa lebih unggul dari
    pada etnis bumi putera. Mereka merasa punya kelas sosial
    yang lebih tinggi.

    3. Budaya
    Harus diakui bahwa kebudayaan/ peradaban bangsa
    Tionghoa sudah sangat tua, jauh lebih tua dari pada
    kebudayaan bumi putera, Jawa misalnya. Oleh karena itu
    orang Tionghoa merasa memiliki tingkat kebudayaan/
    peradaban yang lebih tinggi dan lebih baik dari pada
    kebudayaan/ peradaban orang bumi putera. Mereka tidak
    mau disetarakan dengan orang bumi putera yang umumnya
    miskin dan rendah peradabannya. Beda agama pula. Hal -hal
    Inilah yang sangat menghambat terjadinya interaksi sejajar
    antara tionghoa dan bumi putera.

    4. Negara
    Republik Indonesia dianggap sebagai negara yang "buruk".
    Mengapa demikian? Masa Presiden Soekarno kemajuan
    ekonomi lambat karena banyak pemberontakan dan
    pemerintahan yang jatuh bangun. Masa Presiden Soeharto
    ada kemajuan ekonomi tetapi pemerintahan otoriter,
    demokrasi dipasung, korupsi meraja lela, penegakan hukum
    bobrok. Semua bisa diatur dengan SUAP. Meskipun
    sejumlah orang termasuk orang Tionghoa (pengusaha)
    diuntungkan dengan keadaan ini, akan tetapi orang
    Tionghoa pasti berhitung. "Negara macam apa model begini,
    nggak SINGAPURA banget!" "Apakah benar
    setiap warga negara , termasuk warga negara dari etnis
    Tionghoa akan dilindungi hak-haknya?" "Jangan-jangan
    tidak, karena kita sangat berbeda dengan etnis bumi
    putera!" "Ngapain Gue cinta sama negara model begini?"

    ReplyDelete
  11. Gaya Ahok Bikin Cemas Semua Umat Manusia Yang Berpendidikan Dan Berbudi Pekerti.
    Ada pepatah2 asing yang patut disimak oleh Ahok:
    Der Ton macht die Musik. Peribahasa ini untuk gaya Ahok yang cenderung kasar, ceplas ceplos dan menyakiti hati orang lain.
    Eigenlob stinkt. Peribahasa ini untuk gaya Ahok yang merasa paling bersih, jujur dan rajin diseluruh Indonesia.
    Ahok yang suka Youtube, saya anjurkan untuk menonton gaya Helmut Schmidt, mantan Kanselir Jerman. HS tegas, jujur, gentleman, sangat pandai rhetorik, menggunakan kalimat2 yang pedas tanpa bersifat menghina, menyakiti hati.
    Sejak sebelum Ahok menjadi Wagub DKI, saya sudah sebal melihat gaya tengik engkoh satu ini diacara TV.
    Jika Ahok mengaku tiap hari bangun pukul 4.30 pagi, lalu sport dan sarapan diatas balkon rumahnya, apakah babu-nya ( maaf PRT-nya ) tidak bangun lebih pagi daripada dia ?
    Jika Ahok mengaku tidak pernah mencuri pajak, apakah PRT-nya pernah mencuri pajak atau harta kekayaan majikannya ?
    Jika Ahok koar2 tiap hari bekerja 12 jam, apakah seorang kuli bangunan, babu, buruh, tukang ojek, hanya tiduran 12 jam ?
    Ahok sangat prepotent, seharusnya dia sadar dan jangan arogan, bukannya malah bangga jadi seorang yang arogan dan sombong.
    Jika dia tahu diri, maka harus bisa merasa, bahwa ; gua ini tidak cocok untuk menjadi publik-figur, sebab gua orangnya terlalu kasar, karena DNA- atau keturunan-gua memang begitu adanya.
    Saya pernah bertanya kepada ipar-saya; wong kasar koyok ngono koq iso dadi pemimpin ? Jawab ipar-saya ; yo wong Indonesia lek ora dikasari ora mempan !
    Amit amit Astagafirullah ! Quo vadis Indonesia ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak usah bawa rasis bro ,jiwa Indonesia ahok gua yakin lebih dari elu ,segala bawa Tionghoa ,gak jaman lagi dan gak jaminan pribumi lebih bagus dari Tionghoa ,elu liat tuh wakil elu di DPR ,ada gak yg mikir in perut rakyat ?

      Delete
    2. Oww ... Agreed !

      Ahok jadi manusia tuh harus ada pikiran ke minoritas yang lain . Lu kemana waktu tahun 98 .. Ada di jawa ? Tolong lu kalo ngomong mikir dulu jangan langsung nyeplos kayak ember .. Emang anda pikir kalo marah marah kelihatan kayak pemimpin keren .. Mentok cuma kelihatan kayak mandor tukang bangunan ... Dan yang masalah kalo lu ngelakuin nya di rumah lu sendiri ama tetangga lu sih terserah lu dhe .. Ini jakarta bung .. Jangan karena ulah anda semua minoritas dimusuhin .. Coba pikir pakai otak apa pantes kami minoritas tanggung semua akibat dr tingkah laku anda !!!!

      Delete
    3. setuju...ahok terlalu arogan....

      Delete
  12. Sayah mah lebih syuka sm #SoeDADANG dari SUNDA-MERDESA dan tidak berAGAMA-IMPOR . . . !!!!

    ReplyDelete
  13. @Koh AHOK..
    JUJUR, TEGAS dan DISIPLIN itu harus...!
    Tapi jangan terlalu AROGAN...!

    ReplyDelete
  14. Baru dikasih kekuasaan segitu jangan terlalu arogan lah.
    Ingat lu cuma nebeng terpilih jadi wagub! Sadar hok tanpa Jokowi, lu ga akan pernah ngerasain kadi wagub DKI.

    JUJUR, TEGAS dan DISIPLIN itu harus...!
    Tapi jangan terlalu AROGAN...!

    ReplyDelete
  15. orang jawa lbih cnderung kalem klau china lbih ke sifat agresif misal dsiplin,dan hemat rajin ,,,mgkin ini prbedaan yg plg mdasar dri orang pribumi asli dangan orang kturunan china.. gue pny pngalaman gue prnh krj d pt mlik orang kturunan tionghoa..saat itu usia q msih rmaja dn plos yg blm pny pngalaman krj...tmbul dr kalasahan sdikit gue lgsung d pcat tnp ampun ...sdagkn orang pribumi biasanya suka mrah mrah tp tdk d srtai sfat agresif...orang pribumi lbih enak...lbh mmaklumi tgkat kslahan...slagi masih bisa d tolerir...............................................plus minus====+++++= skarang mdia bs d kontrak asal pny duitt...jman skarang jman mdia masa...sgla tehnik pencitraan mlai brkembang pesat..SDM di indonesia msih miris thnik pncitraan hny Mgrt olh klangan intlektual smntara d lpisan bwah mlhat ssok mreka sbgai orang yg tegas, brwibawa...brtanggung jwab....jika kita mgilhami dan mresapi...mslah di yg ppuler di indonesia adlh demam korup...korup sngat ppuler di indonsia bhkan d anggap sbagai mdia untk jlan mnuju sukses..( Metamorfosis )- masyarakat tdk mnilai kjujuran dr orang trpilih- msyarakat lbh mmilih uang dr mreka yg mau diplih...yg ingin dipilih tau bhwa msyarakat hny mw mmilh klau ada uang-----timbilah niat blas dmdam bg mreka yg trplih dngan bujet besar.....d hti mreka brkata emangnya mdah apa' cari uang"
    = populer adalah kberhasilan

    ReplyDelete
  16. ahhhhh" nimbrungg cari sensi smga bkn pncitraan,gue udh pnglaman dgan kturunan chaines mreka pd umumny brsifat frontal agresif kesit dsiplin ulet dan tk menolerir sekecil apa pun ksalahan itlah orang china klu gk prcaya cek d lpangan sndiri...bda sma orang pribumi sfatnya smbrono,mlas bkerja ,kaya sdikit sombong ,jumawa tp jg pemaaf gk prcaya lht klau orang pribumi sdh sukses past larinya ke wanita--red--mghamburkan uang ---red kalu g prcaya cek d lpangan sndiri...survey di lakukan pd tingkat sosial tinggi mnengah...pndapat ini hny mwakili 50 - 70 %

    ReplyDelete
  17. JUJUR, TEGAS dan DISIPLIN itu harus...!
    Tapi jangan terlalu AROGAN...!

    ReplyDelete
  18. Ygpenting jujut tegas deh dan bawa diri dlm,kebijaksanaan

    ReplyDelete
  19. Gaya pak Ahok memang beda dari kebanyakan kaumnya
    Sehingga menimbulkan kekwatiran kelompok yg tua tua

    Siapa yang belum dewasa? Pak Ahok kah? Atau para tua tua?

    Time will tell, waktu jua yang akan bercerita, siapa yang benar?mungkin pak Ahok sudah benar memang harus bersikap seperti itu, mungkin juga yang tua tua yang benar, kita sama sama akan menyaksikan.

    Setidaknya pak Ahok sudah menyuguhkan tontonan politik yang menarik, tontonan politik yang belum pernah ada sebelumnya

    Pak Ahok juga tampak sebagai pekerja keras, sepanjang pak Ahok tidak korupsi dan bekerja hanya demi Jakarta yang lebih baik dan lebih baik lagi, maka dia layak didukung dan semoga berhasil

    Pak Ahok juga bisa menjadi inspirasi bagi kepala daerah lainnya, agar berani melawan arus yang sudah terlalu lama menjadi penghambat kemajuan bangsa dan negara.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju!!!!! yg penting tidak korupsi.

      Delete
  20. mr Ahok ini unik dan menarik. lanjutkan!!!!!

    ReplyDelete