22 October 2013

Gaji Hakim MK untuk Lima Istri

Berapa gaji seorang hakim konstitusi? Mengapa Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar harus pasang tarif Rp 3 miliar untuk sebuah perkara pemilukada? Apakah gajinya kurang?

Hamdan Zoelva, wakil ketua MK, yang menjadi pelaksana tugas ketua MK setelah si Akil dicokok karena suap Rp 3 miliar, punya jawaban menarik. Kepada Tempo Hamdan mengatakan:

"Kisaran Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Itu lebih dari cukup untuk hidup mewah. Untuk istri lima juga cukup kok... Tergantung produktivitas. Hehehe..."

Hamdan hanya ingin menggambarkan bahwa gaji sembilan hakim konstitusi sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup. Apalagi seorang ketua MK seperti Akil Mochtar pasti lebih tinggi ketimbang delapan hakim lain. Lima istri, tujuh istri, delapan istri... cukuplah.

Hakim berlatar belakang politisi seperti Hamdan Zoelva biasanya suka bercanda. Tapi guyonan cukup buat lima istri dalam konteks penyuapan Akil Mochtar jadi sangat tidak lucu. Guyonan yang garing. Salah tempat, salah waktu, dan tak pantas untuk hakim tertinggi yang bertugas mengawal konstitusi.

Guyonan Hakim Hamdan Zoelva juga memperlihatkan cara berpikirnya yang membuka ruang lebar untuk poligami. Seorang laki-laki boleh punya istri banyak asalkan duitnya banyak. Mau punya lima istri, silakan. Enam istri, delapan istri, sembilan istri?

Aneh juga lawakan Pak Hamdan mengingat hukum Islam hanya membolehkan seorang laki-laki paling banyak punya empat istri. Kita tentu belum lupa Eyang Subur yang punya delapan istri dan sempat jadi bahan perdebatan ramai beberapa bulan lalu.

Mengacu pada komentar Hamdan Zoelva di Tempo, apa yang salah dengan Eyang Subur? Bukankah si eyang punya uang untuk memberikan nafkah istri-istrinya? Yah, komentar pendek Hamdan Zoelva punya implikasi panjang. Melanggar asas kepatutan yang berlaku di berbagai daerah di tanah air.

Poin paling penting adalah apakah gaji hakim konstitusi sebesar Rp 100 juta (versi lain menyebut Rp 200 juta atau Rp 300 juta) itu sudah lebih dari cukup? Apakah tidak kurang?

Dari kasus penangkapan Akil Mochtar, jelas terlihat bahwa gaji Rp 200 juta per bulan masih sangat kurang. Jauh dari kebutuhannya yang miliaran rupiah sebulan. Andaikan Akil Mochtar digaji Rp 3 miliar per bulan pun rasanya masih kurang juga buat si Akil yang rupanya tak pernah puas dengan gajinya.

Orang-orang hebat seperti Akil Mochtar biasanya lupa bahwa puluhan juta rakyat Indonesia masih dibayar di bawah Rp 2 juta per bulan. Masih ada puluhan juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Masih banyak rakyat yang mati kelaparan atau mati konyol karena tak bisa berobat ke rumah sakit.

Rupanya, setahu saya, Akil Mochtar hanya punya satu istri. Beliau belum tertarik menambah beberapa istri lagi meskipun penghasilannya sangat memungkinkan. Kalau tidak salah, petugas KPK sempat menemukan obat kuat di ruang kerjanya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

3 comments:

  1. Ahh tulisan-tulisan di blog ini selalu bikin kecanduan..
    Opininya selalu menarik untuk dibaca. Seandainya bisa 5-7 artikel ditulis dalam sehari ...
    Maaf agak ngelunjak mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... iki cuman curhat atau ngudarasa, kata orang Jawa. Gumun, kok sering terjadi hal2 aneh tapi nyata di republik ini. Nulis santai buat iseng2 ringan aja kok. Matur nuwun sudah baca...

      Delete
  2. Gaji para pejabat tinggi di Indonesia sudah sangat melebihi kecukupan, dibandingkan dengan gaji pejabat negara2 lainnya termasuk negara2 kaya di Eropa.
    Contoh : Gaji seorang Angelina Sondakh sebagai anggota DPR-RI, dua kali lipat lebih besar dari gaji putri-saya yang usianya sebaya, lulusan universitas dari dua fakultas, bekerja diperusahaan Siemens sejak 10 tahun.
    Pejabat2 Indonesia kecuali di-test UUD 45 dan Pancasila, juga saya anjurkan disuruh membaca dan menghayati buku filsafah,
    Tao-te-king / Dao-de-jing ( 道德经 ), supaya sebelum korupsi bisa mikir2 terlebih dahulu. Tao-te-king bisa dibaca di Google, dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Bacanya gampang, tetapi mengertinya agak susah.

    ReplyDelete