17 October 2013

Gagalnya kampanye pantang daging

Kampanye para ahli gizi, khususnya pegiat vegetarianisme, untuk menghilangkan menu daging, paling tidak menguranginya, jelas belum berhasil di Indonesia. Orang bukannya takut makan daging, malah antre daging sapi dan kambing.

Bahkan ada yang meninggal dunia gara-gara daging yang tidak seberapa banyak. Rupanya, bagi orang Indonesia, daging adalah segalanya. Makanan yang punya nilai gizi luar biasa.

Kapan lagi bisa makan daging enak kalau bukan sekarang? Itulah suara wong cilik penerima sedekah daging kurban. Mendapat sumbangan daging seperti mendapat harta yang luar biasa.

Prof Hiromi Shinya dalam bukunya yang terkenal The Miracle of Enzyme menyebutkan bahwa makanan ideal itu 85 persen nabati dan 15 persen hewani. Porsi daging sangat sedikit. Itu pun diutamakan ikan, bukan binatang berkaki empat atau daging merah.

Orang Buddha Tzu Chi paling gencar mengadakan kampanye vegetarian, festival makanan vegetarian, dan sejenisnya di Surabaya. Komunitas yang berpusat di Taiwan ini tak jemu-jemu menunjukkan bahaya makan daging. Orang lebih baik melupakan daging, kata Bu Vivian, pengurus Tzu Chi Surabaya.

Tulisan di media massa, khususnya internet, sangat berlimpah tentang pentingnya mengurangi konsumsi daging. Kalau memang protein hewani diperlukan, makanlah ikan, khususnya ikan laut.

Tapi begitulah, ribuan warga kita yang antre daging memang bukan orang-orang yang biasa membaca buku-buku diet dan nutrisi. Bagi mereka daging adalah segalanya, apalagi gratisan. Maka, orang rela berdesak-desakkan, saling jegal, hanya untuk mendapatkan beberapa kerat daging.

Mengubah budaya makan sebuah bangsa memang tidak mudah. Kampanye kaum vegan segencar apa pun tak akan membuat orang meninggalkan daging merah sebagai menu sehari-hari. Orang tak segan keluar uang banyak untuk membeli daging ketimbang ikan laut atau tahu tempe.

Boro-boro menambah praktisi vegetarian, sebagian besar restoran di Surabaya justru bangkrut dan tutup. Dan... berjayalah daging sapi, kambing, kerbau, dan sebagainya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment