20 October 2013

Gadis kecil mencatat khotbah romo

Saat khotbah tiba, seorang gadis kecil usia SD atau SMP segera mengambil buku tulis di tasnya. Lalu mencatat poin-poin khotbah yang disampaikan Romo Silas Wayan SVD di Gereja Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya.

Hebat benar cara si remaja itu memetik intisari khotbah. Tentang pentingnya kita menyediakan waktu untuk Tuhan. Berkomunikasi dengan Sang Pencipta lewat doa, perayaan ekaristi, ziarah, dan sebagainya.

Saya melamun saat khotbah... seperti biasa. Tapi gadis Tionghoa di samping saya itu bikin saya malu. Masak, anak kecil fokus menyimak khotbah, sementara orang dewasa mengawang entah ke mana.

Saya pun bertanya untuk apa mencatat khotbah di gereja. Oh, ini bagian dari pelajaran agama karena putri ini termasuk katekumen. Dia harus catat khotbah, minta tanda tangan romo, ujian ini itu, hafalkan doa-doa harian... agar bisa dipermandikan.

"Tahun depan saya dan teman-teman akan dibaptis," katanya sumringah.

Oh, ternyata untuk dibaptis itu perlu proses panjang. Tidak bisa ujug-ujug begitu saja. Juga perlu konsultasi, wawancara dengan orang tuanya. Si gadis belasan tahun ini pun mengikuti proses katekumenat ini dengan ikhlas. Hanya agar bisa jadi Katolik.

Saya pun geli sendiri. Bukan apa-apa. Kita yang dibaptis saat masih bayi tidak pernah menjalani proses mencatat khotbah, pelajaran agama, dan sebagainya. Orang tua yang membawa bayi-bayi merah untuk dibaptis alias dipermandikan.

Betapa berlikunya perjalanan si gadis cilik ini. Betapa dia harus membuat keputusan penting dalam hidupnya untuk memilih agama tertentu. Mungkin juga harus meninggalkan keyakinannya yang lama. Kemudian harus mengikuti proses yang diwajibkan pihak paroki.

Saya bayangkan katekumen-katekumen itu akan lebih dalam kekatolikannya ketimbang kita-kita yang taken for granted. Apalagi kami, orang Flores, sering disebut sudah Katolik sebelum dilahirkan ke dunia. Orang tua, lingkungan, semuanya membuat kita tahu-tahu sudah ikut berbagai ritual dan tradisi Katolik.

Beda banget dengan si cewek imut yang pagi tadi duduk di samping saya. Bahwa untuk memeluk sebuah agama ternyata butuh perjuangan. Butuh kesabaran. Sebab bisa saja dia tidak lulus ujian sehingga masa katekumennya diperpanjang.

Lantas, apa khotbah Romo Wayan hari ini?

Waduh, saya sudah agak lupa meski baru lewat dua jam. Betapa pendeknya ingatan. Betapa khotbah pastor tidak sempat nyantol di kepala umat, khususnya saya.

Oh ya, saya ingat sedikit. Romo Silas mengajak umat untuk lebih intens berkomunikasi dengan Tuhan. Satu hari 24 jam. Satu minggu 168 jam. Berapa jam kita sisihkan untuk Tuhan dalam seminggu?

Mungkin paling lama dua jam, misa mingguan sih paling lama 75 menit. Mungkin juga tidak sempat ke gereja karena sibuk macam-macam, ikut acara ini itu, cari duit, kuliner, nonton film, televisi, media sosial, internet, dsb. Kita lupa bahwa Tuhan masih memberikan hidup dan berkat untuk manusia.

Ah, saya masih ingat wajah polos gadis kecil itu! Salam damai!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Kalau yang dibaptis sejak lahir kan harus ikut katekisasi juga pada waktu komuni pertama dan / atau sakramen krisma / penguatan. Sakramen penguatan itu kan seperti sunatan atau kalau di Yahudi bar mitzvah, di mana anak-anak yang mau akil balik (biasanya SMP) harus belajar ajaran-ajaran gereja dan kitab suci.

    ReplyDelete