21 October 2013

Beli koran dapat air sebotol

Kaget juga pagi ini. Saya membeli surat kabar di lapak Pasar Pucang, Surabaya. Koran edisi Senin biasanya ada laporan panjang, indepth reporting, tentang masalah aktual negeri ini.

Ada bonusnya lho, kata Mbak Siti, penjual koran langganan saya.

Mbak itu kemudian memasukkan koran ke dalam tas kresek. Plus sebotol air mineral yang harganya Rp 2500 atau 3000. Wah, matur nuwun Mbak.

Surabaya memang lagi panas terik, sekitar 50 celcius siang hari. Maka kita perlu banyak minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Maka bonus sebotol tanggung air kemasan itu sangat tepat.

Saat ini harga koran 3000. Kalau dikurangi 3000 untuk air mineral, ya impas. Koran seperti tak punya harga lagi. Yah, ini kan cuma musim promosi. Tidak setiap hari begini.

Tapi jelas merisaukan. Ketika surat kabar tak bisa dijual lagi, harus pakai iming-iming air mineral dan sebagainya, bisnis newspaper semakin terancam. Bisnis berita di atas kertas makin tergusur oleh berita di televisi dan internet.

Saat ini orang bisa dengan mudah membaca apa saja di internet. Termasuk berita-berita yang masih hangat. Tidak perlu menunggu besok pagi setelah dicetak di atas kertas.

Syukurlah, saya melihat koran pagi ini banyak artikel berbobot yang tidak ada di internet. Kalaupun ada, kita pun harus membeli koran elektronik alias e-paper. Konten-konten bermutu seperti itulah yang membuat koran kertas masih punya napas hidup lebih panjang lagi.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Pengamat Indonesia12:04 AM, October 22, 2013

    Pendapatan koran di USA sekarang ya dari iklan saja bukan dari penjualan cetak. Koran2 pada mati suri semua, kalah dengan Yahoo Finance, Google News, Huffington Post (AOL), semuanya online boss.

    ReplyDelete
  2. Kutipan ANTARA JATIM 01 Okt 2013
    Azrul Ananda: Koran Tidak akan Mati

    Praktisi media dan Presiden Direktur PT Jawa Pos Grup, Azrul Ananda, menegaskan bahwa koran tidak akan mati, meski media "online" akhir-akhir ini bermunculan. Hasil survei pada tahun 2010 menyebutkan pengakses media online di dunia saat ini mencapai 2,2 miliar, padahal pembaca koran masih berjumlah 2,5 miliar.

    Menurut putra Menteri BUMN Dahlan Iskan itu, pertumbuhan koran saat ini masih tetap baik, bahkan tetap mengalami kenaikan, meskipun tidak banyak, yakni naik 4,7 persen.

    "Koran hanya mati di Amerika, sedangkan di Eropa masih stabil, bahkan di Asia justru tumbuh," kata lulusan dari International Marketing Universitas California, Amerika Serikat itu.

    Tidak hanya itu, kata pemimpin muda kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur pada 4 Juli 1977 itu, penghasilan iklan koran juga masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan media "online".

    "Media online hanya mendapatkan 2 persen iklan dari koran, karena itu kami belum melihat potensi daripada media online itu. Peralihan bentuk dari cetak ke iPad juga belum perlu, karena pengguna iPad masih 15 juta, sedangkan penduduk dunia tujuh miliar," ujarnya.

    Oleh karena itu, ia menilai perubahan orientasi media justru lebih penting. Untuk itulah, Jawa Pos mendorong tumbuhnya pembaca muda lewat program DetEksi (rubrik yang membahas gaya hidup remaja).

    "Hasilnya, pembaca muda kami sekarang mencapai 51 persen dan Jawa Pos pun berhasil mendapatkan penghargaan World Young Reader Prize di tahun 2011, 2012, dan 2013 dengan mengalahkan koran-koran dunia, seperti Wall Streat Journal, Chicago Tribune dan Yomiuri Shimbun," katanya.

    Selanjutnya, kata Azrul Ananda yang mengaku dipercaya memimpin Jawa Pos setelah 10 tahun menangani keredaksian, keuangan, dan sebagainya itu, rubrik DetEksi melahirkan "Development Basketball League" (DBL) yang merupakan kompetisi bola basket SMA se-Indonesia.

    ReplyDelete