31 October 2013

Mimpi bahasa Indonesia jadi bahasa Asean



Bulan Oktober itu bulan bahasa. Tapi sejak reformasi tidak ada gerakan yang masih untuk membuat orang Indonesia bangga akan bahasa nasionalnya. Bahasa Indonesia justru makin terpuruk.

Virus nginggris, yang diperlihatkan Vicky Prasetyo, sudah jadi makanan sehari-hari. Vicky tidak sendiri. Di televisi kita bisa dengan mudah menemukan Vicky-Vicky lain yang tak kalah nginggris. Sok ber-english ria meskipun kita punya banyak kata atau istilah Indonesia.

Saat ini di televisi saya sedang melihat iklan yang bahasanya gado-gado nginggris. Si penulis terkenal, yang setiap hari bergulat dengan kata-kata Indonesia bicara begini:

"I NEED A GADGET YANG BISA MAKE ME HAPPIER."

Kalau yang bicara orang macam Vicky, yang cuma cari sensasi atau berlagak intelektual, kita masih bis mengerti. Tapi ini yang bicara penulis novel populer berbahasa Indonesia. Bicara untuk stasiun televisi di Indonesia dan untuk pemirsa Indonesia.

Bahasanya kok nginggris sontoloyo begitu? Oh, Vickynisasi memang virus laten yang sudah begitu lama merasuk di benak sebagian orang Indonesia kelas menengah-atas yang ingin terlihat kosmopolit. Makin nginggris makin hebatlah dia.

Bukankah kata-kata bahasa Inggris sederhana itu bisa diganti bahasa Indonesia? Mengapa harus gado-gado begitu. Kata gadget mungkin masih sulit diterjemahkan, bisa dipakai sebagaimana aslinya. Tapi kata-kata yang lain?

Karena itu, ketika membaca Kompas kemarin (30/10/2013) yang memuat pernyataan beberapa peneliti bahasa yang ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Asia Tenggara (Asean), saya hanya tertawa pahit. Rupanya ahli-ahli bahasa kita tidak sadar bahwa masyarakat Indonesia hari ini sangat gandrung bernginggris ria. Tidak suka berbahasa Indonesia secara sederhana.

Saya lebih suka melihat orang Indonesia yang fasih berbahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Arab, Spanyol, dan sebagainya. Tapi bicaralah dengan baik dalam bahasa asing itu secara penuh. Jangan tanggung! Bahasa Indonesia separuh atau sepertiga, sisanya Inggris.

Sudah lama orang asing terheran-heran dengan virus nginggris yang menjangkiti sebagian orang Indonesia. Termasuk intelektual muda, penulis, artis, atau pesohor yang kemampuan bahasa Inggrisnya sebetulnya juga tidak begitu bagus. Kok bahasa Indonesia kok oplosan gitu?

Salah satu pakar asing yang prihatin dengan fenomena nginggris adalah Prof Dr Josef Glinka SVD. Pastor senior asal Polandia ini selain profesor antropologi di Universitas Airlangga, juga fasih berbicara dan menulis dalam banyak bahasa alias poliglot.

Tapi coba Anda berbicara dengan Prof Glinka? Saya tak pernah mendengar kata-kata Inggris mentahan keluar dari mulut sang profesor. Beliau selalu menggunakan kata-kata Indonesia apa adanya. Begitu pula buku-buku karya Prof Glinka, meskipun sangat ilmiah, selalu menggunakan kata-kata Indonesia yang gampang dipahami.

Karena sudah lama mengenal Prof Glinka, saya sendiri malu kalau berbicara atau menulis dengan kata-kata Inggris mentahan (maksudnya yang belum diserap). Sedapat mungkin memakai kata-kata Indonesia.
Melihat derasnya arus nginggris di Indonesia, sebaiknya jangan mimpi menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa Asean. Tertibkan dulu deh bahasa Indonesia di dalam negara sendiri. Kalau sudah menyangkut antarbangsa, sebaiknya pakai saja bahasa Inggris. Bahasa internasional yang sudah jelas dipelajari di seluruh dunia.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

28 October 2013

Prof Hiromi Shinya: Susu, kopi, teh, berbahaya

Membaca dua buku Prof Dr Hiromo Shinya yang laris manis itu membuat saya mulai belajar mengubah kebiasaan makan dan minum. Kebiasaan minum kopi sejak kecil sangat sulit ditinggalkan. Apalagi menyeruput kopi itu ada kenikmatan dan sensasi sendiri.

Menikmati kopi sambil membaca buku, majalah, koran... asyik banget. Menulis artikel atau apa saja akan lebih mantap kalau ditemani kopi. Yah, kopi sudah menjadi bagian dari hidup saya.

Tapi Hiromi Shinya, dokter USA keturunan Jepang itu, memaksa saya untuk berubah. Harus melawan kecanduan kopi, teh biasa, dan belakangan teh cungkuo yang sepat dan pahit itu. Susu memang tak pernah minum karena kurang cocok. Mual kalau minum susu.

Prof Hiromi dengan tegas menyarankan masyarakat untuk minum AIR PUTIH. Air yang murah meriah. Menurut dia, mukosa lambung para peminum kopi dan teh biasanya rusak atau menipis. Hiromi membantah pendapat para ahli yang sangat pro teh. Dia mengajukan fakta tandingan bahwa kopi, susu, teh, apalagi alkohol, merupakan minuman berbahaya.

Di Indonesia minuman populer seperti kopi dan teh selalu dicampur gula. Bahkan dosis gula pasirnya cukup banyak. Ada istilah teh nasgitel: panas legi kentel. Aha, sudah pasti melanggar teori keajaiban enzim yang dipropagandakan Hiromi Shinya.

Betapa tidak. Gula pasir alias gula putih (refined sugar), menurut Hiromi, merupakan zat pemanis yang menakutkan. Jika terlalu banyak mengkonsumsi gula putih, "Tubuh akan kehilangan kalsium," ujar profesor yang terapi enzimnya makin banyak dibicarakan praktisi diet itu.

Bagaimana dengan susu? Hiromi menegaskan, susu seharusnya tidak dikonsumsi manusia karena sangat berbahaya. Tak ada mamalia yang minum susu setelah dewasa kecuali manusia. Susu hanya untuk bayi yang baru lahir.

Susu segar semakin berbahaya ketika diolah di pabrik dengan proses homogenisasi dan pasteurisasi pada suhu tinggi. Bahayanya justru berlipat ganda. Terlalu banyak minum susu, kata Hiromi, justru tidak baik untuk tulang. Dokter senior ini sangat konsisten melawan iklan aneka produk susu yang katanya bisa mencegah osteoporosis.

Masih banyak lagi sebetulnya teori Hiromi Shinya yang mengguncang food habit kita di Indonesia. Khususnya pecandu kopi, teh cungkuo, atau pisang goreng seperti saya.

Minum kopi ditemani pisang goreng, membaca, sembari dengar musik? Ehm, itu kebiasaan lama saya yang perlu segera diubah sesuai anjuran Prof Hiromi Shinya. Sekarang cukup minum air putih saja. Tak perlu lagi ke warkop, kafe, mal, plaza untuk menikmati kopi atau teh yang mahal, yang ternyata justru tidak sehat bagi tubuh.

Andaikan buku-buku Hiromi Shinya ini dibaca banyak orang Indonesia, kemudian dipraktikkan masyarakat, maka akan banyak sekali manfaat ekonomi yang bisa dinikmati orang Indonesia. Kita tak akan lagi mendengar kekurangan stok gula pasir. Kurang terigu. Kurang susu. Kurang teh, kopi, margarin, atau minyak goreng.

Pola makan dan gaya hidup kita menjadi sangat sederhana. Tidak banyak neko-neko untuk konsumsi makanan-makanan enak, wisata kuliner, yang boros tapi justru merusak tubuh.

Hakim konstitusi seperti Akil Mochtar pun tak perlu korupsi lagi karena gaji Rp 200 juta per bulan sebetulnya cukup untuk membeli air putih, buah-buahan, sayur-mayur, beras merah, tempe, tahu, ikan laut, jagung, ubi jalar.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

26 October 2013

Karate dan Karakter Editor Bahasa



Salah ketik, salah eja, menjadi hal rutin di surat kabar atau majalah atau media online. Khususnya di Indonesia. Maklum, komputer atau laptop yang kita pakai dirancang untuk bahasa Inggris. Sistem auto correct hanya efektif untuk kata-kata Inggris.

Kompas pagi ini, Sabtu 26 Oktober 2013, memuat salah eja atau salah ketik itu. Berita pendek tentang Mathias Muchus di halaman 32 terdapat salah kata: KARATE. Padahal, maksudnya jelas KARAKTER.
Yang benar tentulah KARAKTER BANGSA, bukan KARATE BANGSA.

Apa hubungan KARAKTER dengan KARATE? Tidak ada. Itu semata-mata wartawan yang salah ketik. Kerja cepat, dikejar tenggat, jadilah karate meski maksudnya karakter.

Si redaktur atau editor atau penyunting sudah membaca dan mengedit. Tapi ya tetap saja lolos. Setelah diedit naskah diserahkan ke editor bahasa atau copy editor untuk dipelototi apakah ada gramatical error, khususnya salah ketik, salah eja, salah logika, dan pakem media. Eh, lolos juga.

Lantas, siapa yang harus disalahkan kalau sudah telanjur jadi koran?

Ya, semuanya salah: mulai wartawan penulis, redaktur, dan copy editor. Tapi jelas si copy editor-lah yang gagal menjaga gawang alias kebobolan. Copy editor tidak cermat. Kurang membaca ulang dan membaca ulang.

Tak mudah menemukan editor bahasa alias copy editor di Indonesia. Editor bahasa sekaliber Slamet Jabarudi (almarhum) sangat langka. Dan tidak ada sekolahnya. Sarjana bahasa Indonesia kita, bahkan dosen S-3 bahasa Indonesia, tidak disiapkan untuk menjadi editor bahasa di media massa.

Jika seorang dosen bahasa Indonesia dipaksa jadi editor bahasa atau copy editor, maka dipastikan koran-koran kita jadi "rusak" bahasanya. Mengapa? Bahasa Indonesia akademis ala Pusat Bahasa, biasa disebut baik dan benar, tidak selalu cocok untuk bahasa jurnalistik yang sangat menekankan unsur komunikatif, enak, akrab, gampang dipahami pembaca.

Pakar bahasa Indonesia pasti tidak akan setuju kata-kata seperti TETAPI, SEHINGGA, NAMUN, DAN, SEBAB, SEHINGGA... dipakai di awal kalimat. Alasannya, kata-kata itu sebagai penghubung di dalam kalimat. Tidak bisa berdiri sendiri.

Penjelasan ini pasti didengar para redaktur, tapi tidak akan diikuti. Mengapa? Kalimat-kalimatnya akan menjadi terlalu panjang. Kalimat-kalimat panjang sangat melelahkan pembaca. Sulit bernapas. Jangan heran masyarakat malas membaca tulisan akademis karena kalimat-kalimatnya tidak enak dan panjang-panjang.

Betapa sulitnya mencari copy editor di Indonesia. Setiap tahun ribuan sarjana bahasa dicetak perguruan tinggi kita. Tapi sangat jarang yang bisa langsung menjadi copy editor yang benar. Apalagi sarjana-sarjana kita ini umumnya tidak pernah atau jarang membaca koran atau majalah yang punya bobot bahasa bagus seperti Tempo, Kompas, atau Jawa Pos.

Almarhum Slamet Jabarudi bisa menjadi copy editor terbaik, menurut saya, bukan produk sekolahan (si copy editor akan mengubah jadi SEKOLAH) atau universitas. Beliau belajar sendiri, mendalami jurnalistik, mencintai kata-kata, dan punya rasa bahasa yang sangat tinggi.

Tanpa rasa bahasa, cinta sastra, kutu buku... jangan harap copy editor mampu menjaga gawang media. Apalagi kalau tidak bisa membedakan KARATE dan KARAKTER.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Presenter TV terlalu cepat memotong



Menonton dialog atau wawancara di televisi kadang bikin perut mules. Saya lebih sering kecewa karena si host atau presenter terlalu cepat memotong omongan narasumber. Baru satu dua kalimat sudah dipotong. Padahal inti jawaban belum muncul.

Saya paling jengkel sama Nona WC di tvOne. Dia cepat sekali memotong, kurang memberi ruang kepada narasumber untuk bicara. Belum dielaborasi atau bahasa Jawanya dijlentreh, eh, sudah dicecar pertanyaan baru. Si WC ini terlalu nafsu berbicara dan kurang mendengar jawaban si narasumber yang sejatinya ditunggu pemirsa televisi.

Suatu ketika WC mewawancarai Denny Indrayana, wakil menteri hukum. WC bertanya dan Pak Denny menjawab. Baru satu dua kalimat, yang sifatnya pengantar, eh sudah disusul pertanyaan baru. Pak Menteri pun tampak agak marah.

"Lho, Anda ini kan bertanya kepada saya. Saya belum jawab kok sudah ditanya lagi. Kasih dong kesempatan kepada saya," ujar Denny Indrayana ketus.

Hehehe.... Rupanya Nona WC kena batunya. Tapi, dasar sudah jadi karakter, WC tetap saja begitu. Sudah mengundang narasumber ke studio, tapi kurang diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan secara memadai.

Betul bahwa durasi waktu di televisi sangat mepet. Iklan sudah menunggu. Tapi pewawancara yang baik seharusnya sedikit bicara dan memberi kesempatan yang cukup kepada narasumber. Dia perlu memotong atau mengarahkan narasumber yang ngelantur. Bukan main potong seenaknya.

Rupanya ada perubahan yang drastis dalam gaya wawancara televisi kita. Dulu, di era TVRI sebagai satu-satunya televisi di Indonesia, narasumber terlalu banyak bicara, presenter kurang cepat memotong, sehingga dialognya mirip ceramah atau khotbah.

Kemudian muncul RCTI dengan presenter-presenter bagus macam Adolf Posumah, Desi Anwar, atau Dana Iswara yang saya angap sangat ideal untuk wawancara televisi. Asyik sekali mengikuti wawancara yang dipandu Adolf, Desi, Dana, serta beberapa presenter 1990-an.

Cara bertanya Desi Anwar dan teman seangkatannya halus, cermat, merangsang narasumber bicara secara hangat. Layaknya ngobrol dengan teman sendiri. Teknik inilah yang sangat sukses dimainkan Oprah dengan program-programnya yang fenomenal.

Ada lagi teknik wawancara layaknya interogasi ala Ira Koesno di Liputan 6 SCTV tempo doeloe. Narasumber seakan-akan dianggap musuh atau tersangka, sementara si Ira berperan layaknya polisi atau penyidik. Kesannya heboh, berani, tapi saya kurang suka.

Kini ada beberapa host TVRI yang justru lebih banyak bicara ketimbang narasumber. Wartawan tapi gaya bicaranya menggantikan narasumber. Saya lupa namanya laki-laki yang biasa mengasuh dialog sosial politik di TVRI pusat itu.

Gayanya mengingatkan saya pada Ussy Karundeng, presenter TVRI lawas, yang juga lebih banyak mengambil alih peran pengamat atau narasumber. Beda banget dengan presenter-presenter kawakan di televisi dunia macam CNN, BBC, ABC, dan sebagainya.

Mengapa Andy Flores Noya sangat sukses dengan Kick Andy? Jawabnya jelas. Andy yang mantan pemimpin redaksi Metro TV ini menimba inspirasi dari Oprah. Andy bertanya sedikit sebagai pemancing, narasumber punya waktu bicara, ada bumbu guyonnya.

Andy F Noya tidak asal potong omongan narasumber. Kalaupun memotong, Andy justru memberi pancingan baru untuk menguras keterangan si sumber. Andy pun selalu tampak punya kedekatan, intimasi, dengan narasumber. Ngobrol hangat layaknya sesama teman.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

25 October 2013

Doa Rosario yang terlupakan

Ada undangan doa rosario bersama di Gua Maria, Wonokromo. Sebelumnya juga ada acara doa rosario di Gereja Marinus Yohanes, Kenjeran. Undangan sederhana yang mengingatkan saya kan bulan rosario. Bulan Maria.

Oktober dan Mei memang bulan rosario. Bulan untuk memperbanyak devosi, ziarah, doa rosario, baik perorangan maupun bersama-sama. Hidup di kota besar yang sibuk macam Surabaya sering kali membuat kita lupa devosi.

Doa rosario yang sederhana, hafalan, tak sampai 20 menit, rasanya berat sekali. Padahal, saya biasa menonton siaran langsung sepak bola di televisi dua jam nonstop.

Mea culpa mea maxima culpa!

Minggu lalu saya iseng-iseng bertanya kepada beberapa tetangga yang Katolik. Apakah ada doa rosario bersama di wilayah atau lingkungan? Ibu-ibu itu menjawab tidak tahu. Karena memang tidak ada.

Sangat sulit memang mengumpulkan orang Katolik di kota besar untuk doa rosario bersama pada bulan Oktober. Tak usah tiap hari, seminggu sekali pun susah. Dua minggu sekali juga sulit. Sebulan sekali pun tak dapat.

"Kita doa sendiri-sendiri saja," kata seorang bekas aktivis mudika.

Yah, doa sendiri-sendiri! Orang kota punya kesibukan yang luar biasa. Pulang kerja sore, bahkan malam hari. Capek luar biasa. Mana sempat berkumpul untuk doa rosario di lingkungan?

Maka, saya pun teringat pengalaman masa kecil di NTT, pelosok Flores Timur. Setiap bulan Oktober seperti sekarang orang ramai-ramai mengadakan doa rosario di gabungannya masing-masing. Istilah GABUNGAN itu semacam LINGKUNGAN di Gereja Katolik di Jawa.

Setiap malam usai rosario bersama, umat Katolik mengantar panji Bunda Maria ke rumah yang akan jadi tuan rumah besoknya. Begitu seterusnya selama 30 hari. Pada 31 Oktober diadakan perayaan ekaristi atau misa raya penutupan bulan Maria. Sangat meriah!

Setelah menetap bertahun-tahun di Jawa, akhirnya saya sadar bahwa jauh lebih mudah mengajak wong cilik, wong miskin, di desa untuk doa rosario bersama. Orang desa tak punya kegiatan malam hari. Tak ada hiburan malam. Maka acara doa bersama pun jadi semacam hiburan rohani.

Saya pun membaca kembali bunyi pengumuman doa rosario di kawasan Wonokromo itu:
"Acaranya dijamin tidak membosankan...."

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Gaya Ahok Bikin Cemas Tionghoa


Saya suka gaya Basuki Tjahaja Purnama, wakil gubernur Jakarta, yang tegas, blakblakan, tanpa basa-basi. Bicaranya lurus tanpa diplomasi layaknya politisi. 

Ahok alias Basuki ini termasuk ini memang benar-benar manusia langka. Latar belakangnya minoritas Tionghoa, Kristen, orang luar Jakarta, tapi keberaniannya luar biasa. Bukan tipe safety player layaknya golongan minoritas yang biasanya sangat hati-hati bicara atau bertindak. 

Ungkapan Jawa, "ngono yo ngono tapi ojo ngono" sepertinya tak berlaku untuk Ahok. "Saya hanya takut konstitusi, bukan konstituen. Kalau konstituen melanggar konstitusi ya kita sikat," kata bekas bupati Belitung Timur ini. 

Selasa, 22 Oktober 2013, saya mengikuti wawancara Ahok di tvOne. Wow, keras sekali omongannya. Benar-benar pemimpin yang bernyali. Kata-katanya nerocos begitu saja tanpa khawatir kata-katanya menyinggung orang lain, meskipun orang lain itu warga yang melanggar aturan atau konstitusi. 

"Saya tidak ambil pusing dipilih kembali atau tidak pada tahun 2017. Saya dan Pak Jokowi hanya bekerja sesuai konstitusi," katanya. 

"Kalau memang kami tidak dipercaya, ya, silakan pilih orang lain yang bisa mengurus Jakarta," Ahok menambahkan. Nadanya tetap tegas meski sering tersenyum. 

Beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan sejumlah warga Tionghoa di Surabaya. Tak hanya pengusaha, beberapa di antaranya Tionghoa intelektual, doktor lulusan Barat, ada yang tinggal lama di Taiwan, aktivis NGO, dosen, hingga agamawan. 

Mereka geleng-geleng kepala melihat sikap Ahok yang terlalu tegas. "Seharusnya lebih diplomatislah. Bagaimanapun dia itu politisi," kata teman Tionghoa yang baru pulang dari Taiwan. 

"Tidak apa-apa. Justru ketegasan ala Ahok itu dibutuhkan. Toh yang dia katakan itu tidak ada yang salah," ujar saya. 

"Tapi ya jangan kelewat tegas kayak gitulah. Mestinya Ahok bisa memperhalus bahasanya. Dia gak cocok jadi presiden," teman Tionghoa lain menimpali. 

Yah, saya bisa memahami kegundahan orang Tionghoa di Jawa. Secara sosiologis, psikologis, dan politik sangat berbeda dengan Tionghoa Belitong ala Ahok atau Tionghoa NTT seperti bupati di kampung saya yang Tionghoa. Orang Tionghoa di luar Jawa sudah biasa bercampur baur dengan penduduk setempat. 

Biasa ngobrol, ngopi bareng. Biasa blusukan ke kampung-kampung dan menginap di rumah penduduk desa yang sederhana beralas tanah. Makan makanan kampung seperti orang-orang desa lainnya. Karena itu, Tionghoa luar Jawa seperti Ahok sejak kecil sudah biasa ceplas-ceplos, bicara apa saja yang dianggap benar. 

Sebaliknya, Tionghoa di Jawa punya masalah psikologis dan historis yang berbeda dengan di NTT atau Kalimantan Barat atau Bangka Belitung. Tionghoa di Jawa cenderung punya komunitas atau kelompok sendiri. Punya semacam sekat atau jarak dengan yang bukan Tionghoa. 

Karena itu, ketika Basuki Ahok muncul ke permukaan dengan gaya blak-blakan ala Tionghoa luar Jawa, orang-orang Tionghoa di Jawa pun terkaget-kaget. Kok ada ya orang Tionghoa bisa seberani itu ya? Minoritas kok berani banget?

Ahok menjawab, "Saya hanya takut sama Tuhan dan konstitusi!"

Kita dukung Ahok untuk memberantas preman-preman kelas teri hingga kelas kakap di Jakarta! Ahok ini ibarat Kwan Kong yang punya pedang sakti, tak kenal takut, dan selalu menang.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

The Singapore of Surabaya dan Kota Pahlawan



Sentilan Prof Sri Edi Swasono di Jawa Pos hari ini, 25 Oktober 2013, mengingatkan saya pada almarhum Cak Kadar. Kadaruslan merupakan budayawan besar arek Surabaya, penggagas berbagai festival seni budaya di Kota Pahlawan.

Dalam sebuah obrolan di kantor Pusura, depan DPRD Surabaya, Cak Kadar menyampaikan kegundahannya tentang patung-patung atau ikon-ikon di Surabaya yang makin lama makin ngawur. Patung karapan sapi malah dipasang di Keputran, bukan patung pahlawan atau pejuang. "Karapan sapi itu cocoknya di Bangkalan," katanya.

Kemudian patung-patung dan bangunan bergaya Eropa atau Romawi di lokasi strategis. Lokasi yang dulu dijadikan ajang pertempuran antara arek-arek Surabaya dan penjajah Belanda dan sekutunya. Persis di depan Tugu Pahlawan muncul bangunan yang sama sekali mengabaikan sejarah pertempuran 10 Noember 1945.

Kemudian kawasan Surabaya Barat lebih heboh lagi. Yang dibangun justru patung merlion alias singa khas negara tetangga Singapura. Dibuat menyerupai aslinya di Xinjiapo sana. Ada air yang muncrat dari mulut sang singa.

Kawasan elite itu diberi nama The Singapore of Surabaya. Cak Kadar makin gundah karena cita-citanya sejak dulu agar Surabaya dibangun dengan konsep kota pahlawan, kota arek, kota perjuangan tidak diindahkan oleh para pengembang dan orang-orang kaya. Mungkin saja mereka lebih paham Singapura atau Eropa dan lupa bahwa Surabaya itu kota pahlawan.

Prof Sri Edi Swasono menulis artikel menjelang Sumpah Pemuda dengan judul SURABAYA MASIH KOTA PAHLAWAN? Cak Kadar sejak 1980an sudah sering mengulang-ulang gugatan yang sama. Gugatan agar pemerintah kota mau peduli dengan karakter dan sejarah kotanya.

Membaca tulisan Sri Edi Swasono, kita jadi paham mengapa dia, Cak Kadar, Cak Roes, Cak Gombloh dan tokoh-tokoh Surabaya lainnya gundah dengan konsep The Singapore of Surabaya. Pada 1968 dua marinis Indonesia bernama Usman dan Harun digantung pemerintah Singapura saat konfrontasi Dwikora.

Bung Hatta kirim surat agar kedu pahlawan kita itu tidak digntung. Tapi Singapura tetap mengeksekusi dua anggota TNI Angkatan Laut itu. Bung Hatta sang proklamator pun bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di Singapura seumur hidupnya.

"Sumpah ini dipegang tegas hingga akhir hayatnya," tulis Sri Edi Swasono yang juga menantu Bung Hatta.

Saya yakin pengembang Citraland bukanlah pemuja Singapura dengan berbagai ikon serta patung merlion. Pihak developer hanya ingin membuat citra, branding, bahwa kawasan hunian di Surabaya Barat itu sangat bersih, hijau, penuh taman, tertata apik, disiplin, tidak acak-acakan... seperti Singapura. Tidak lebih.

Tapi kita, orang Indonesia, memang terlalu mudah melupakan sejarah. Begitu banyak bangunan lama yang bersejarah di Surabaya sudah lama disulap jadi pusat belanja modern. Salah satu dari dua sinagoge di Indonesia yang di Jalan Kayoon Surabaya pun sudah rata tanah.

Pengusaha kita rupanya lebih mudah mengemas dagangannya dengan merek Singapore, merlion, Raffles, dewa-dewi Romawi ketimbang mengangkat ikon arek Surabaya.

Si pengembang top itu mungkin bertanya begini:

"Usman & Harun iku sopo? Arek Blauran, Kampung Malang, opo Pandegiling? Aku gak ngerti blas. Ngertiku ya singo merlion iku!"

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

24 October 2013

Prof Wang Xiaohuai bahas kanker di Surabaya

Satu-satunya negara yang paling serius melakukan riset kanker dengan memadukan pengobatan tradisional dan modern adalah Tiongkok. Tak heran, sistem pengobatan kanker di negara naga itu maju pesat. Saat ini ribuan pasien dari seluruh dunia ramai-ramai ke Tiongkok untuk berobat.

Dalam sepuluh tahun terakhir, penderita kanker asal Indonesia, termasuk Surabaya, pun ikut menikmati hasil riset kanker yang dikembangkan dokter-dokter senior di Tiongkok.

Menurut rencana, Prof Dr Wang Xiaohuai akan membahas berbagai teknik pengobatan penyakit kanker yang biasa dilakukan para dokter di Tiongkok. "Prof Wang ini menghabiskan waktu 36 tahun khusus untuk penelitian kanker. Beliau pakar kanker yang sangat dihormati di negaranya," kata Edi Karimun, panitia seminar kanker, Kamis 24 Oktober 2013.

Wang Xiaohuai diminta membahas teknik pengobatan kanker terbaru di hadapan sejumlah pasien, keluarga pasien, dokter, serta berbagai pihak yang concern dengan penyakit kanker. Seminar di sebuah restoran di kawasan Jalan HR Muhammad ini berlangsung pada Ahad (27/10) petang.

Ikut menemani dokter yang bertugas di sebuah rumah sakit militer di Guanghou ini Prof Zhao Yan, ahli internis onkologi.

Edi Karimun menjelaskan, saat ini terdapat 10 metode pengobatan kanker di Tiongkok. Metode paling tua adalah pengobatan tradisional alias TCM.

Kemudian kemoterapi lokal, tomoterapi, imunoterapi sel dendritik, radio seed implantation, sistem pembekuan dan pemanasan, dan imunoterapi seluler antikanker.

"Nah, metode baru yang ditemukan Prof Wang adalah SPDT atau sonophotodynamic therapy. Metode ini sudah diterapkan di Tiongkok dengan hasil yang sangat memuaskan," tutur Edi yang dikenal sebagai salah satu perintis kursus bahasa Mandarin di Surabaya ini.

Edi memaparkan, SPDT ini tidak memakai sistem kemoterapi, melainkan teknik gabungan suara dengan sel aktif. "Ini merupakan cara pengobatan paling mutakhir atau generasi keempat yang disempurnakan dengan memasukkan fotosintesis klorofil," ujarnya.

Edi menyebutkan, Prof Wang Xiaohuai merupakan dokter yang sangat sibuk melakukan penelitian dan supervisi pasien kanker di Kota Dongguan. Karena itu, dia jarang bepergian ke luar kota atau luar negeri.

"Makanya, kedatangan beliau ke Surabaya ini layak disyukuri," kata Edi.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Akil Mochtar Sebaiknya Mengadili Diri Sendiri

Hukuman apa yang paling pantas untuk Akil Mochtar? Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang tertangkap basah menerima suap Rp 3 miliar? Yang diduga kuat sudah biasa memperdangkan perkara sengketa pilkada di MK?

Pak Jimly, mantan ketua MK, bilang hukuman mati. Sebab manusia bobrok seperti Akil tidak layak hidup di Indonesia. Penjara sudah penuh. Percuma memberi makan kepada hakim konstitusi yang mengkhianati rakyat Indonesia.

Pak Mahmud, juga mantan ketua MK, bilang sebaiknya Akil dihukum seberat-beratnya. Hukuman mati untuk koruptor belum dikenal di Indonesia. Hukuman 100 tahun atau 150 tahun pun tak ada.

Pak Mahmud rupanya lupa bahwa di Indonesia ini ada obral remisi. Si Polly yang dihukum karena meracuni Munir sebentar lagi bebas. Hukum di Indonesia bisa diatur. Bisa dibeli dengan uang. Dan Akil Mochtar sudah punya duit banyak untuk bisa bermain-main di lembaga penegak hukum agar bisa bebas.

Membaca artikel Radhar Panca Dahana di Kompas hari ini, 24 Oktober 2013, saya makin gregetan dengan hakim-hakim pemakan suap. Khususnya Akil Mochtar yang memeras Rp 3 miliar per perkara meskipun penghasilan resminya Rp 200 juta sebulan.

Orang seperti Akil Mochtar, hakim konstitusi, rasanya tak perlu diadili lagi. Bukankah Akil itu rajanya hakim-hakim di seluruh Indonesia? Akan lucu melihat Akil Mochtar duduk di kursi terdakwa di pengadilan negeri atau pengadilan tindak pidana korupsi. Sang raja hakim diadili hakim-hakim dari pengadilan tingkat paling rendah.

Dus, Akil Mochtar tidak perlu mengikuti proses verbaal, pemeriksan, sidang-sidang yang bisa berlangsung satu dua tahun, yang kemudian dilupakan orang. Akan lebih memenuhi rasa keadilan kalau Akil Mochtar mengadili dirinya sendiri.

Caranya? Gampang saja. Dan ini sudah biasa dilakukan di Jepang, Korea, atau Tiongkok. Pejabat-pejabat di ketiga negara itu punya rasa malu yang luar biasa besar ketika terlibat skandal korupsi kelas kakap. Mereka merasa tak layak lagi hidup di dunia ini.

Mereka juga tak akan tahan malu kalau disidang lama-lama di pengadilan, pakai baju tahanan, disorot kamera, ditulis tiap hari di koran. Maka, pejabat-pejabat korup di sana memilih keluar dari dunia ini.

Bunuh diri! Selesai.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

23 October 2013

Ikan-ikan yang mati kepanasan

Tidak semua orang punya kecintaan yang luar biasa pada satwa seperti drh Liang Kaspe. Selama 32 tahun Liang Kaspe tekun merawat ribuan satwa di Kebun Binatang Surabaya. Kini ibu yang murah senyum, tapi tegas ini, dipercaya sebagai manajer operasional KBS.

Saya selalu geleng-geleng kepala melihat kedekatan Bu Liang dengan binatang. Sedekat manusia. Seperti seorang ibu yang memberi perhatian total kepada bayi kesayangannya.

"Kuncinya dua: cinta kasih dan tanggung jawab," kata Bu Liang kepada saya tentang resepnya bertahan di dunia satwa di Kota Surabaya.

Minggu lalu, tiga ekor ikan di kolam ikan itu mati. Kepanasan. Surabaya akhir-akhir ini memang panas luar biasa siang hari. Ketika air di kolam berkurang karena penguapan dan diminum ikan-ikan itu, para satwa air itu seperti direbus saja.

Tahun lalu pun suasananya seperti itu. Tapi tidak ada ikan yang mati. Dua bulan ini sudah tujuh ikan saya yang mati. Rest in hot water! Mati kepanasan. Saya pun khawatir ikan-ikan lain akan menyusul kalau satwa air itu kurang perhatian.

Saya sering ke kawasan Kenjeran, Sanggar Agung, melihat orang Tionghoa mengadakan fangshen. Melepaskan binatang-binatang seperti burung, ikan, kura-kura kembali ke habitatnya di alam bebas. Ritual ini harus selalu dilakukan untuk menjaga keseimbangan alam. Intinya, jangan biarkan seekor pun binatang tersiksa di dalam sangkar atau kurungan.

Sebaik-baiknya sangkar, kolam, atau kandang, binatang-binatang itu lebih sejahtera hidup di alam bebas. Lihatlah burung-burung yang terbang dengan riang di alam. Mencari makan sendiri, berkembang biak, ikut menyumbang kehidupan di jagat raya ini. Begitu antara lain wejangan sang biksu Buddhis yang sering saya tulis di surat kabar.

Tapi saya sendiri tidak melakoni fangsen, melepasliarkan satwa. Itu kan tradisi buddhisme? Kita hormati pandangan, doktrinnya, sama seperti mereka pun menghargai tradisi kita yang bukan Buddha.

Nah, setelah ikan-ikanku mati kepanasan, karena air kolam menyusut, dan itu jelas kesalahan saya, akhirnya saya ingat tradisi fangshen Tionghoa di Pantai Kenjeran, Surabaya. Oh, ternyata saya tidak mampu memelihara ikan. Saya sering keluar kota, ngelencer sana sini, dan lupa memperhatikan ikan di kolam.

Ah, seandainya ikan-ikan itu dilepas ke sungai! Mereka tentu bebas berenang ke sana kemari, mencari makan sendiri, tak akan mati kepanasan. Meskipun, kita tahu, sungai di Surabaya ini sudah tercemar limbah rumah tangga, limbah industri, logam berat, dan sebagainya. Maka, saya pun berencana untuk melepas ikan-ikan itu (toh bukan ikan hias yang mahal) ke alam aslinya.

Tugas dan kewajiban moral yang besar juga harus diemban orang-orang yang memelihara burung, anjing, reptil, dan binatang apa saja di rumahnya. Harus bisa memastikan bahwa binatang-binatang itu tidak mati kepanasan, kelaparan, penyakit, dan sebagainya. Kalau suka ngelencer, tugas ke luar kota atau luar negeri, saya rasa sebaiknya di-fangshen saja. Dilepas ke alam bebas!

Yang pasti, saya sendiri tidak akan pernah memelihara burung karena trauma berat. Ketika masih bocah SD di pelosok NTT, dua burung peliharaan saya mati karena kelaparan. Lupa kasih makan!

Belajar dari pengalaman sederhana ini, ikan-ikan mati kepanasan di kolam, saya akhirnya bisa mengerti mengapa Mas Rosek dan kawan-kawan dari Pro-Fauna sangat getol meminta warga Jawa Timur untuk menyerahkan satwa-satwa peliharaannya ke BKSDA, khususnya yang dilindungi seperti orang utan atau jalak bali, agar dikembalikan ke habitatnya. Juga melarang segala bentuk eksploitasi binatang berupa animal show seperti topeng monyet, sirkus binatang, dan sebagainya.

22 October 2013

Gaji Hakim MK untuk Lima Istri

Berapa gaji seorang hakim konstitusi? Mengapa Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar harus pasang tarif Rp 3 miliar untuk sebuah perkara pemilukada? Apakah gajinya kurang?

Hamdan Zoelva, wakil ketua MK, yang menjadi pelaksana tugas ketua MK setelah si Akil dicokok karena suap Rp 3 miliar, punya jawaban menarik. Kepada Tempo Hamdan mengatakan:

"Kisaran Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Itu lebih dari cukup untuk hidup mewah. Untuk istri lima juga cukup kok... Tergantung produktivitas. Hehehe..."

Hamdan hanya ingin menggambarkan bahwa gaji sembilan hakim konstitusi sudah cukup. Bahkan lebih dari cukup. Apalagi seorang ketua MK seperti Akil Mochtar pasti lebih tinggi ketimbang delapan hakim lain. Lima istri, tujuh istri, delapan istri... cukuplah.

Hakim berlatar belakang politisi seperti Hamdan Zoelva biasanya suka bercanda. Tapi guyonan cukup buat lima istri dalam konteks penyuapan Akil Mochtar jadi sangat tidak lucu. Guyonan yang garing. Salah tempat, salah waktu, dan tak pantas untuk hakim tertinggi yang bertugas mengawal konstitusi.

Guyonan Hakim Hamdan Zoelva juga memperlihatkan cara berpikirnya yang membuka ruang lebar untuk poligami. Seorang laki-laki boleh punya istri banyak asalkan duitnya banyak. Mau punya lima istri, silakan. Enam istri, delapan istri, sembilan istri?

Aneh juga lawakan Pak Hamdan mengingat hukum Islam hanya membolehkan seorang laki-laki paling banyak punya empat istri. Kita tentu belum lupa Eyang Subur yang punya delapan istri dan sempat jadi bahan perdebatan ramai beberapa bulan lalu.

Mengacu pada komentar Hamdan Zoelva di Tempo, apa yang salah dengan Eyang Subur? Bukankah si eyang punya uang untuk memberikan nafkah istri-istrinya? Yah, komentar pendek Hamdan Zoelva punya implikasi panjang. Melanggar asas kepatutan yang berlaku di berbagai daerah di tanah air.

Poin paling penting adalah apakah gaji hakim konstitusi sebesar Rp 100 juta (versi lain menyebut Rp 200 juta atau Rp 300 juta) itu sudah lebih dari cukup? Apakah tidak kurang?

Dari kasus penangkapan Akil Mochtar, jelas terlihat bahwa gaji Rp 200 juta per bulan masih sangat kurang. Jauh dari kebutuhannya yang miliaran rupiah sebulan. Andaikan Akil Mochtar digaji Rp 3 miliar per bulan pun rasanya masih kurang juga buat si Akil yang rupanya tak pernah puas dengan gajinya.

Orang-orang hebat seperti Akil Mochtar biasanya lupa bahwa puluhan juta rakyat Indonesia masih dibayar di bawah Rp 2 juta per bulan. Masih ada puluhan juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Masih banyak rakyat yang mati kelaparan atau mati konyol karena tak bisa berobat ke rumah sakit.

Rupanya, setahu saya, Akil Mochtar hanya punya satu istri. Beliau belum tertarik menambah beberapa istri lagi meskipun penghasilannya sangat memungkinkan. Kalau tidak salah, petugas KPK sempat menemukan obat kuat di ruang kerjanya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

21 October 2013

Menikmati Igor Stravinsky di PMS

Pertemuan Musik Surabaya alias PMS siang tadi membahas Igor Stravinsky. Kali ini peserta tidak banyak. Toh komponis asli Surabaya, Slamet Abdul Sjukur, tetap antusias bercerita. Berbagi ilmu tentang si Igor, komponis nyentrik asal Rusia itu.

Seratus tahun lalu, 1913, terjadi tawuran di Paris, Prancis, gara-gara komposisi karya Stravinsky yang dianggap nyeleneh. Musik aneh. Melodi dan harmoninya tak jelas. Bikin penonton pusing. Kita bisa melihat suasana yang kacau itu lewat film berjudul Le Sacre du Printemps.

Stravinsky sangat mengutamakan ritme atau irama. Dia hanya punya melodi sederhana, kemudian melakukan pengolahan-pengolahan yang rancak. Penikmat musik dibuat lupa pada yang namanya lagu dan keselarasan harmoninya.

Birama pun dibuat tak beraturan. Aksen-aksennya jatuh pada tempat yang keliru. Maka pergelaran perdana karya Igor Stravinsky di sebuah gedung bergengsi di Paris bikin penonton stres. Kemudian bikin ulah karena merasa sudah bayar mahal. Pak Slamet memakai istilah tawuran di dalam gedung pertunjukan.

Komposisi Igor macam apa pula? Tawuran seperti apa? Nah, di PMS ini Pak Slamet membagikan partitur Le Sacre untuk dianalisis. Ini tentu membutuhkan kemampuan membaca not balok kelas pianis klasik atau guru piano. Tapi cara Pak Slamet menjelaskan sangat hidup, mudah diterima peserta nonpianis macam saya.

Suasana makin hidup setelah Pak Slamet, 78 tahun, memutar film tentang Igor Stravinsky. Film musikal yang menarik. Kita jadi tahu kehidupan Igor di Rusia, kemudian diajak pindah ke Paris, dibiayai tinggal di vila yang bagus bersama istri anak. Kemudian malah selingkuh sama nyonya yang membiayai dia.

Sang istri ngamuk dan minta pulang bersama anak-anaknya, sementara Igor tetap menciptakan komposisi-komposisi musik yang luar biasa. Vila antik itu, kata Pak Slamet, masih dilestarikan di Paris sampai sekarang.

"Prancis itu negara yang sangat menghargai sejarah. Mereka itu bangsa yang sangat berbudaya. Beda dengan kita di sini. Bangunan-bangunan tua yang bersejarah malah dihancurkan untuk bikin mal," kata Pak Slamet dengan suaranya yang halus tapi nyelekit.

Kuliah musik ala Slamet Abdul Sjukur tak hanya melulu soal analisis musik, tapi juga seni budaya, tata krama, etika, dan kehidupan. Pak Slamet kembali resah ketika ada peserta PMS yang membuka BlackBerry atau HP ketika film Stravinsky sedang diputar.

Dia juga marah ketika film panjang itu hendak distop karena memang ceritanya sudah selesai. Tinggal rangkaian nama-nama pemain dan pndukung pembuatan film itu. Orang yang berbudaya, kata Slamet, harus menikmati film itu sampai layarnya sudah benar-benar putih.

"Jangan kayak di bioskop-bioskop kita. Film belum selesai semua penonton sudah buru-buru pulang. Bahkan pengelola bioskop sudah menghidupkan lampu sehingga kita tidak bisa menikmati sampai benar-benar habis. Ini budaya orang Indonesia yang kesusu dan makin mengerikan," kata Pak Slamet.

Wah, kali ini saya kena sindir sangat telak. Saya termasuk orang yang selalu cabut lebih dulu dari bioskop ketika cerita film saya anggap sudah klimaks. Saya pun tak pernah membaca nama-nama puluhan, bahkan ratusan orang yang kerja bareng mewujudkan sebuah karya seni layar lebar.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Beli koran dapat air sebotol

Kaget juga pagi ini. Saya membeli surat kabar di lapak Pasar Pucang, Surabaya. Koran edisi Senin biasanya ada laporan panjang, indepth reporting, tentang masalah aktual negeri ini.

Ada bonusnya lho, kata Mbak Siti, penjual koran langganan saya.

Mbak itu kemudian memasukkan koran ke dalam tas kresek. Plus sebotol air mineral yang harganya Rp 2500 atau 3000. Wah, matur nuwun Mbak.

Surabaya memang lagi panas terik, sekitar 50 celcius siang hari. Maka kita perlu banyak minum untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Maka bonus sebotol tanggung air kemasan itu sangat tepat.

Saat ini harga koran 3000. Kalau dikurangi 3000 untuk air mineral, ya impas. Koran seperti tak punya harga lagi. Yah, ini kan cuma musim promosi. Tidak setiap hari begini.

Tapi jelas merisaukan. Ketika surat kabar tak bisa dijual lagi, harus pakai iming-iming air mineral dan sebagainya, bisnis newspaper semakin terancam. Bisnis berita di atas kertas makin tergusur oleh berita di televisi dan internet.

Saat ini orang bisa dengan mudah membaca apa saja di internet. Termasuk berita-berita yang masih hangat. Tidak perlu menunggu besok pagi setelah dicetak di atas kertas.

Syukurlah, saya melihat koran pagi ini banyak artikel berbobot yang tidak ada di internet. Kalaupun ada, kita pun harus membeli koran elektronik alias e-paper. Konten-konten bermutu seperti itulah yang membuat koran kertas masih punya napas hidup lebih panjang lagi.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

20 October 2013

Gadis kecil mencatat khotbah romo

Saat khotbah tiba, seorang gadis kecil usia SD atau SMP segera mengambil buku tulis di tasnya. Lalu mencatat poin-poin khotbah yang disampaikan Romo Silas Wayan SVD di Gereja Yohanes Pemandi, Wonokromo, Surabaya.

Hebat benar cara si remaja itu memetik intisari khotbah. Tentang pentingnya kita menyediakan waktu untuk Tuhan. Berkomunikasi dengan Sang Pencipta lewat doa, perayaan ekaristi, ziarah, dan sebagainya.

Saya melamun saat khotbah... seperti biasa. Tapi gadis Tionghoa di samping saya itu bikin saya malu. Masak, anak kecil fokus menyimak khotbah, sementara orang dewasa mengawang entah ke mana.

Saya pun bertanya untuk apa mencatat khotbah di gereja. Oh, ini bagian dari pelajaran agama karena putri ini termasuk katekumen. Dia harus catat khotbah, minta tanda tangan romo, ujian ini itu, hafalkan doa-doa harian... agar bisa dipermandikan.

"Tahun depan saya dan teman-teman akan dibaptis," katanya sumringah.

Oh, ternyata untuk dibaptis itu perlu proses panjang. Tidak bisa ujug-ujug begitu saja. Juga perlu konsultasi, wawancara dengan orang tuanya. Si gadis belasan tahun ini pun mengikuti proses katekumenat ini dengan ikhlas. Hanya agar bisa jadi Katolik.

Saya pun geli sendiri. Bukan apa-apa. Kita yang dibaptis saat masih bayi tidak pernah menjalani proses mencatat khotbah, pelajaran agama, dan sebagainya. Orang tua yang membawa bayi-bayi merah untuk dibaptis alias dipermandikan.

Betapa berlikunya perjalanan si gadis cilik ini. Betapa dia harus membuat keputusan penting dalam hidupnya untuk memilih agama tertentu. Mungkin juga harus meninggalkan keyakinannya yang lama. Kemudian harus mengikuti proses yang diwajibkan pihak paroki.

Saya bayangkan katekumen-katekumen itu akan lebih dalam kekatolikannya ketimbang kita-kita yang taken for granted. Apalagi kami, orang Flores, sering disebut sudah Katolik sebelum dilahirkan ke dunia. Orang tua, lingkungan, semuanya membuat kita tahu-tahu sudah ikut berbagai ritual dan tradisi Katolik.

Beda banget dengan si cewek imut yang pagi tadi duduk di samping saya. Bahwa untuk memeluk sebuah agama ternyata butuh perjuangan. Butuh kesabaran. Sebab bisa saja dia tidak lulus ujian sehingga masa katekumennya diperpanjang.

Lantas, apa khotbah Romo Wayan hari ini?

Waduh, saya sudah agak lupa meski baru lewat dua jam. Betapa pendeknya ingatan. Betapa khotbah pastor tidak sempat nyantol di kepala umat, khususnya saya.

Oh ya, saya ingat sedikit. Romo Silas mengajak umat untuk lebih intens berkomunikasi dengan Tuhan. Satu hari 24 jam. Satu minggu 168 jam. Berapa jam kita sisihkan untuk Tuhan dalam seminggu?

Mungkin paling lama dua jam, misa mingguan sih paling lama 75 menit. Mungkin juga tidak sempat ke gereja karena sibuk macam-macam, ikut acara ini itu, cari duit, kuliner, nonton film, televisi, media sosial, internet, dsb. Kita lupa bahwa Tuhan masih memberikan hidup dan berkat untuk manusia.

Ah, saya masih ingat wajah polos gadis kecil itu! Salam damai!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

19 October 2013

Tidak Perlu Pemilihan Langsung

Konstitusi dirombak total setelah reformasi. Filosofi dan prinsip dasar UUD 1945 sudah tak terlihat karena konstitusi bersejarah ini diubah berkali-kali. Trauma semasa Orde Baru membuat DPR/MPR seperti dewa mabuk yang kesetanan membabat apa saja... atas nama reformasi.

Sebetulnya yang paling mendesak diubah dari UUD 45 adalah pembatasan masa jabatan presiden. Paling lama dua periode lima tahunan. Tanpa ketentuan yang eksplisit inilah Presiden Soeharto berkuasa 32 tahun. Kebablasan 22 tahun.

Sayang, semua sudah telanjur sangat liberal. Pemilihan bupati, wali kota, gubernur, presiden diadakan secara langsung. Hasilnya? Kerunyaman luar biasa seperti kita saksikan sekarang.

Politik uang menjadi kebutuhan. Ambil uangnya, silakan memilih sesuai hati nurani! Para calon kepala daerah harus mengeluarkan miliaran, bahkan triliunan rupiah agar bisa ikut pemilukada dan belum tentu menang.

Biaya pemilihan gubernur Jawa Timur lima tahun lalu hampir satu triliun karena diadakan tiga putaran. Biaya pemilihan langsung di daerah lain pun luar biasa. Belum biaya khusus untuk menyuap penegak hukum jika ada sengketa pemilukada.

Penangkapan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar semakin membuka mata kita tentang permainan uang untuk menggapai kursi kekuasaan. Biaya suap untuk si Akil Rp 3 miliar per kasus. Bagaimana kalau hakim-hakim lain pun pasang tarif?

Bisa-bisa calon kepala daerah harus menyediakan Rp 10-20 miliar hanya untuk suap yudikatif. Belum biaya lain-lain yang juga puluhan miliar. Iklan, tim sukses, bayar saksi, logistik, alat peraga kampanye, dan sebagainya.

Saya termasuk salah satu responden tim peneliti Kementerian Dalam Negeri soal perlu tidaknya pemilukada dikembalikan ke parlemen alias DPRD. Dulu, sebelum reformasi, saya ikut unjuk rasa dan gencar meminta agar semua pemilihan diselenggarakan secara langsung. Sebab, DPR/DPRD waktu itu hanya stempel pemerintah.

Tapi, melihat mudarat yang luar biasa, kehancuran moral politisi yang menjalar ke rakyat, akhirnya saya pun menyetujui tesis kemendagri. Bahwa sebaiknya tak perlu ada pemilihan kepala daerah secara langsung. Yang memilih cukup wakil rakyat dalam "hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan".

Bahkan, pemilihan presiden pun sebaiknya diserahkan ke MPR. Tak perlu pemilihan presiden langsung seperti yang sudah berlangsung dua periode dan dimenangi Susilo Bambang Yudhoyono itu. Biaya politik, biaya sosial, mudaratnya terlalu tinggi.

Para pendiri bangsa kita, founding fathers, rupanya sangat bijaksana dan sudah bisa melihat jauh ke depan. Pada 1945 mereka sudah membayangkan kekacauan luar biasa jika sistem pemilihan dibuat secara langsung. Sayang, parlemen semasa Orde Baru memilih menjadi stempel karet Pak Harto dan mengkhianati rakyat.

Apatisme rakyat dalam pemilihan langsung pun kian menjadi-jadi. Saat ini angka golput atau warga yang tak mau mencoblos rata-rata 30-40 persen. Adapun perolehan suara pemenang pemilukada rata-rata di bawah golput.

Opo tumon?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Semua hakim MK harus diganti

Setelah Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, maka mahkamah tertinggi ini ambruk. Kehilangan legitimasi. Martabat hakim konstitusi itu pun jatuh ke titik nol.

Bukankah hanya Akil yang dicokok karena menerima suap tiga miliar? Betul. Tapi implikasi kasus ketamakan si Akil ini menimpa mahkamah secara keseluruhan. Delegitimasi menimpa MK secara kelembagaan.

Akil Mochtar diduga doyang. memperdagangkan perkara sengketa pemilukada. Diduga, tarif perkara yang ditangani Akil minimal Rp 3 miliar. Bayangkan, berapa duit yang masuk ke kantong si Akil sejak menjadi hakim konstitusi?

Luar biasa brengseknya manusia berjubah hakim yang selalu mengklaim sebagai wakil Tuhan pemutus perkara itu!

Tadinya saya bayangkan delapan hakim konstitusi lain rame-rame mundur beberapa jam setelah Akil dicokok. Ketika delapan hakim melakukan rapat darurat, saya kira tujuannya untuk mundur.

Eh, saya kecele. Hamdan Zoelva dan kawan-kawan tetap bertahan dengan berbagai alasan yang terdengar konstitusional.

Benarkah hanya si Akil yang doyan suap? Delapan hakim lain bersih? Hehehe.... Jangan lupa, korupsi di Indonesia sangat masif, sistematis, dan terstruktur. Korupsi berjemaah terjadi di mana-mana. Termasuk di lembaga yudikatif.

Langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang sangat beralasan. Negara memang genting karena penjaga pilar konstitusinya ambruk.

Sayang, perpunya terlambat. Seharusnya perpu pembubaran MK sehari setelah Akil Mochtar ditangkap basah oleh petugas KPK.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 October 2013

Skid Row, Steelheart, Firehouse, dan Metalicca

Steelheart dan Firehouse baru saja tampil di Surabaya. Minggu lalu, Skid Row juga manggung di Kenjeran, Surabaya. Ketiganya band lawas yang pernah sangat populer pada 1990-an. Ketika demam musik rock terasa begitu menggelegar di taah air.

Ketika kampus-kampus seakan berlomba mengkloning gaya band-band top mancanegara itu. Ketika kaset-kaset rock, metal, diputar keras-keras di koskosan mahasiswa di hampir semua kota di Indonesia, khususnya di Jawa. Ketika Log Zhelebour begitu bersemangat menggelar festival musik rock yang finalnya berlangsung di Stadion Tambaksari, Surabaya.

Log Zhelebour rupanya masih antusias membawa Skid Row ke Surabaya. "Sekali rock tetap rock. Surabaya itu dari dulu barometer musik rock. Makanya, saya bawa grup-grup legendaris ke sini," kata Log Zhelebour yang sempat tenggelam di industri musik dalam beberapa tahun terakhir.

Sayang, atmosfer musik hari ini sudah jauh berbeda dengan era 1980-an dan 1990-an. Band-band besar di masa lalu malah tidak dikenal anak muda masa kini. Mereka punya idola sendiri, akses musik tak terbatas di internet. Mereka tak bisa lagi didikte oleh produser, promotor, atau pengusaha hiburan macam Log Zhelebour dan sejenisnya.

Karena itu, kedatangan Skid Row, Steelheart, dan Firehouse disambut biasa-biasa saja. Hanya orang-orang lawas yang datang ke hotel untuk menyambut idolanya. "Aku malah gak kenal sama sekali," kata seorang wartawan musik berusia 23 tahun kepada saya. Ironis, karena pemuda ini gandrung musik.

Saya pun sudah lama kehilangan antusiasme terhadap band-band lawas. Tak pernah lagi menonton konser musik, kecuali pergelaran musik klasik seperti Surabaya Symphony Orchestra dan wayang kulit. Padahal, dulu saya hampir tak pernah absen bila ada konser pop atau rock di Surabaya atau Malang.

Yang bikin saya kecewa, mengapa Skid Row, Steelheart, Firehouse tidak bikin konser di tanah air ketika masih di puncak kejayaan? Kok datang setelah semua personelnya sudah kakek-kakek? Kenapa tidak datang dari dulu-dulu?

Syukurlah, saya masih sempat menyaksikan Helloween di Stadion Tambaksari, ketika band metal asal Jerman ini masih berjaya. Kalau gak jaya, mana mungkin main di stadion sebesar Tambaksari?

Syukurlah, beberapa waktu lalu Metalicca manggung di Jakarta, Gelora Bung Karno, dan disaksikan ribuan penggemar musik cadas dari seluruh Indonesia. Saya pun sebenarnya ingin melihat langsung, tapi pekerjaan tidak memungkinkan. Tapi saya bersyukur Metalicca tetap prima dan tetap berjaya hingga kakek-kakek.

Saya kira, di dunia ini hanya Metalicca yang bisa begini.

17 October 2013

Yusuf Mansur berkhotbah dengan tangan

Iseng-iseng saya mengikuti ceramah Ustad Yusuf Mansur di tvOne saat Idul Kurban. Kebetulan tidak ada acara bagus di televisi lain. Gaya sang ustad komunikatif, berbahasa informal (Betawi), tapi enak.

Yang paling menarik bagi saya adalah gaya Yusuf Mansur yang tak pernah lepas dari papan tulis. Mengingatkan saya pada guru-guru lama di SD sampai SMA dulu yang pakai kapur tulis, kemudian dihapus, menulis lagi, dan seterusnya. Ustad kondang ini pakai spidol, tapi gayanya benar-benar klasik.

Oh, di era teknologi informasi ini, ketika semuanya serba digital, Yusuf Mansur berhasil melestarikan papan tulis biasa. Berbeda dengan ustad-ustad atau penceramah lain yang hanya omong, omong, omong, lempar guyonan... atau yang mengandalkan animasi IT, video, dan sebagainya, Yusuf Mansur menampilkan sosok sebagai guru beneran.

Guru Yusuf Mansur yang mengajar di depan kelas besar. Jemaatnya yang banyak itu berperan sebagai murid. Yusuf Mansur tak bosan-bosannya menulis apa saja yang dia anggap penting -- mulai ayat-ayat suci, grafis, ilustrasi, poin-poin kunci -- agar ceramahnya lebih nyantol di kepala jemaat.

Setelah papan tulis penuh, dia hapus untuk menulis lagi. Luar biasa! Yusuf Mansur seorang guru, ustad, yang menulis. Bukan hanya bicara, khotbah, kelakar, tapi tangannya selalu jalan. Dan... papan tulis harus selalu menemani Yusuf Mansur ke mana pun pergi. Tanpa papan tulis, beliau jelas masih tetap fasih mengajar, tapi tak akan sebagus jika didukung blackboard atau whiteboard.

Saya tidak heran ketika diberi tahu teman saya bahwa Yusuf Mansur ini seorang ustad di Indonesia yang tercatat sebagai penulis buku-buku islami paling produktif di Indonesia. Bagaimana tidak produktif kalau setiap hari tangannya selalu bergerak, menulis, menulis, dan menulis....

Yusuf Mansur tak hanya berkhotbah dengan mulut, tapi juga tangan dan buku.

Gagalnya kampanye pantang daging

Kampanye para ahli gizi, khususnya pegiat vegetarianisme, untuk menghilangkan menu daging, paling tidak menguranginya, jelas belum berhasil di Indonesia. Orang bukannya takut makan daging, malah antre daging sapi dan kambing.

Bahkan ada yang meninggal dunia gara-gara daging yang tidak seberapa banyak. Rupanya, bagi orang Indonesia, daging adalah segalanya. Makanan yang punya nilai gizi luar biasa.

Kapan lagi bisa makan daging enak kalau bukan sekarang? Itulah suara wong cilik penerima sedekah daging kurban. Mendapat sumbangan daging seperti mendapat harta yang luar biasa.

Prof Hiromi Shinya dalam bukunya yang terkenal The Miracle of Enzyme menyebutkan bahwa makanan ideal itu 85 persen nabati dan 15 persen hewani. Porsi daging sangat sedikit. Itu pun diutamakan ikan, bukan binatang berkaki empat atau daging merah.

Orang Buddha Tzu Chi paling gencar mengadakan kampanye vegetarian, festival makanan vegetarian, dan sejenisnya di Surabaya. Komunitas yang berpusat di Taiwan ini tak jemu-jemu menunjukkan bahaya makan daging. Orang lebih baik melupakan daging, kata Bu Vivian, pengurus Tzu Chi Surabaya.

Tulisan di media massa, khususnya internet, sangat berlimpah tentang pentingnya mengurangi konsumsi daging. Kalau memang protein hewani diperlukan, makanlah ikan, khususnya ikan laut.

Tapi begitulah, ribuan warga kita yang antre daging memang bukan orang-orang yang biasa membaca buku-buku diet dan nutrisi. Bagi mereka daging adalah segalanya, apalagi gratisan. Maka, orang rela berdesak-desakkan, saling jegal, hanya untuk mendapatkan beberapa kerat daging.

Mengubah budaya makan sebuah bangsa memang tidak mudah. Kampanye kaum vegan segencar apa pun tak akan membuat orang meninggalkan daging merah sebagai menu sehari-hari. Orang tak segan keluar uang banyak untuk membeli daging ketimbang ikan laut atau tahu tempe.

Boro-boro menambah praktisi vegetarian, sebagian besar restoran di Surabaya justru bangkrut dan tutup. Dan... berjayalah daging sapi, kambing, kerbau, dan sebagainya.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

16 October 2013

Kapan beritanya dimuat?

Ada beberapa tokoh di Surabaya, khususnya pengusaha, yang suka menagih wartawan. Kapan berita tentang kegiatannya dimuat di koran atau televisi? Sudah dua hari kok gak nongol?

Capek juga menjelaskan persoalan yang sama berkali-kali. Bu, beritanya gak keluar karena kemakan iklan. Kalau iklannya banyak, ruang untuk memuat berita berkurang. Kalau biasanya 10 berita, mungkin cuma enam atau lima berita yang masuk.

Terus, kapan dimuat? Si penelepon tetap saja menagih. Seakan-akan wartawan peliput berita itu punya utang. Seakan-akan ada jaminan bahwa setiap event yang didatangi wartawan itu pasti dimuat media massa.

"Kalau Ibu/Bapak pasang iklan atau advertorial, dijamin pasti dimuat," kata saya dalam sebuah diskusi di Surabaya belum lama ini.

Bicara soal iklan atau advertorial atau pariwara atau apa pun namanya pasti ada harganya. Dan biasanya si empunya acara langsung gamang karena merasa tarif iklan terlampau mahal. Dia hanya mau traktir makan enak si wartawan dan enggan bayar iklan.
Eh, dia sudah merasa sudah berinvestasi agar kegiatannya dimuat koran. Lalu berkali-kali menelepon ke kantor redaksi media. Memangnya sampean pasang iklan?

Beberapa wartawan koran besar sudah lama kapok dengan sikap sumber berita yang sok mendikte reporter lapangan. Bukan apa-apa. Acara yang berbau marketing atau pencitraan seperti itu biasanya tidak laku di media. Kecuali di ruang pariwara atau advertorial.

Seorang mantan wartawan di Surabaya terkenal sangat piawai mengemas acara yang dia anggap layak muat. Event apa saja dia rancang agar didatangi reporter. Awalnya sih banyak wartawan, khususnya pemula, yang terpukau karena kemasannya bagus.

Tapi lama-lama para wartawan sadar telah dikerjain Mr D yang bekas wartawan itu. Suatu ketika D bikin acara lagi yang dikemas heboh. Baiklah, kita gantian garap si D.

Bukan reporter yang turun ke lapangan untuk meliput acaranya, tapi tim iklan. D diminta agar pasang advertorial saja ketimbang merekayasa kegiatan hanya agar diliput wartawan. Apalagi si D ini biasanya sudah dapat duit dari sponsornya.

"Waduh, kok gini sih? Kami gak punya bujet untuk iklan," kata si D.
Yo wis, gak bisa iklan ya sudah. Silakan diteruskan kegiatan sampean. Semoga sukses. Sejak itu tak ada lagi wartawan yang menghadiri acara-acara yang dikoordinasi si D sebagai konsultan public relations.

Yang hebat di Jawa Timur adalah Pakde Karwo alias Gubernur Soekarwo. Beliau tahu betul nilai berita, prioritas berita, marketing, iklan display, pariwara, dan sebagainya. Dia punya tim khusus yang selalu meliput kegiatan-kegiatannya di seluruh Jawa Timur.

Tim khusus Pakde Karwo ini bekerja sama dengan tim iklan media massa. Maka, tak heran kegiatan-kegiatan Pakde Karwo selalu muncul di media massa dalam ukuran yang menonjol.

Inilah yang disebut Jer Basuki Mawa Beya - slogan Provinsi Jawa Timur. Artinya, semua keberhasilan itu membutuhkan pengorbanan atau beya atau biaya. Tidak ada makan siang gratis!

Kalau ingin beriklan ya harus keluarkan beya atau uang dulu. Kecuali Anda punya televisi atau media sendiri kayak Aburizal Bakrie, Surya Paloh, atau Hary Tanoesudibyo.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

14 October 2013

Terlalu banyak salam di Indonesia

Sabtu malam, 12 Oktober 2013, Menteri Pemuda dan Olahraga membuka kejuaraan tinju di Surabaya. Tinjunya sendiri sih kurang menarik. Bagi saya, yang menarik justru salam yang dipakai Menteri Roy di awal sambutannya.

Pak Roy mulai dengan ASSALAMUALAIKUM... salam khas umat Islam yang sudah lama jadi salam resmi di acara-acara formal.

Kedua, Pak Menteri mengucapkan SALAM SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA.

Seharusnya, menurut saya, bunyinya SALAM SEJAHTERA UNTUK SAUDARA SEKALIAN. Aneh, orang menyampaikan salam untuk dirinya sendiri. Tapi SALAM SEJAHTERA UNTUK KITA SEMUA sudah jadi salah kaprah di lingkungan pemerintahan.

Ketiga, kalau tidak salah ingat, SELAMAT MALAM.

Keempat, OM SWASTI ASTU. Salam khas orang Bali yang beragama Hindu. Padahal kejuaraan diadakan di GOR Brawijaya Surabaya yang tak ada orang Balinya.

 Kelima, SYALOM khas Kristen Protestan, khususnya gereja-gereja aliran Karismatik dan Pentakosta.

Saya yang berasal dari kawasan Flores, yang mayoritas Katolik, seumur hidup tidak pernah mendengar pastor mengucapkan SYALOM di gereja. Salam di lingkungan Katolik di Indonesia sangat netral: SELAMAT PAGI, SELAMAT SIANG, SELAMAT SORE, SELAMAT MALAM. Khusus di Flores, selamat siang diganti SELAMAT TENGAH HARI.

Karena itu, ketika berada di Jawa Timur atau Jakarta, saya sering kagok mendengar orang Protestan/Pentakosta/Karismatik/Evangelical terlampau sering menyebut SYALOM SYALOM SYALOM SYALOM. Syalomisasi ini juga menular ke komunitas karismatik Katolik.

Kembali ke salamnya Menteri Roy Suryo yang banyak itu. Apakah salam khas semua agama di Indonesia perlu dimunculkan? Agar adil? Agar tidak ada komunitas agama/suku yang tidak merasa ditinggalkan?

Lantas, mana salam untuk umat Konghucu yang populasinya cukup banyak di Surabaya? Komunitas Tionghoa yang punya kampung pecinan di Surabaya sejak zaman Belanda? Umat Buddha dengan salam NAMO BUDAYA? Mana salam untuk Sapto Darmo atau kelompok Kejawen yang cukup banyak itu? 

Lah, kalau semua mau dituruti mungkin perlu lima menit untuk unjuk salam. Sementara pidatonya sendiri mungkin hanya tiga menit.

Buat saya, salam di awal pidato atau kata sambutan itu cukup SATU KALI. Cukup Assalamualaikum Wr Wb. 

Kalau pejabat muslim mau menambah dengan kalimat pujian sesuai agamanya, silakan. Tidak perlu terlalu banyak salam karena pendengar yang bukan Islam pun (seperti saya) menyadari bahwa salam berbahasa Arab itu ditujukan kepda semua orang. Bukan hanya untuk orang Islam saja.

Maka, warga nonmuslim seperti saya pun wajib menjawabnya: Walaikumsalam.... Toh semua orang Indonesia sudah paham arti assalamualaikum itu.

Awal Mei 2013 di Sidoarjo, ketua RT di Pondok Jati, yang Islam, memberikan kata sambutan menjelang pemakaman Patricia, yang beragama Katolik. Upacara secara Katolik dihadiri ratusan guru dan siswa Sekolah Petra yang sudah pasti hampir semuanya Protestan. Mendiang Patricia yang ayahnya orang Flores itu memang guru bahasa Inggris di Petra Surabaya.

Pak RT itu menyampaikan salam dengan tegas ASSALAMUALAIKUM.... Dan jemaat kristiani itu menjawab dengan tegas pula WALAIKUM SALAM. Hanya satu salam itu. Tak ada SYALOM atau SALAM SEJAHTERA dan sebagainya.

Seharusnya, menurut saya, seperti itulah. Pak RT tahu bahwa hampir semua jemaat bukan Islam. Tapi beliau juga tahu salam itu universal, bahkan sudah jadi salam nasional. Di kampung saya yang hampir semuanya Katolik, warga asyik saja bila orang Islam memulai sambutan dengan assalamualakum.

Belum lama ini saya pun berbicara di depan pelajar SMA Al Islam Krian, Sidoarjo. Ini sekolah swasta Islam yang terkenal di kawasan Krian dan Mojokerto. Muridnya 100 persen Islam.

Saya pun dengan tegas memberi salam ASSALAMUALAIKUM.... Dan para peserta pelatihan jurnalistik itu pun menjawab dengan tegas. Jangan-jangan para siswi itu (hanya dua siswa) tidak tahu kalau saya bukan muslim? Hehehe....

Indonesia ini memang beda dengan Amerika, Eropa, atau Tiongkok yang punya salam pembukaan yang netral. Orang Indonesia lebih senang membawa salam khas agamanya ke depan publik. Bahkan kefasihan logat bahasa Arab sering dijadikan ukuran kadar keislaman seseorang.


Saya terkesan dengan Hamdan Zoelva, wakil ketua Mahkamah Konstitusi. Kita tahu, Pak Hamdan ini berlatar belakang politikus Partai Bulan Bintang. Partai yang sejak dulu gencar memperjuangkan formalisasi syariat Islam di Indonesia. PBB juga punya hubungan erat dengan Dewan Dakwah Islamiyah yang juga kita kenal sangat konservatif paham keislamannya.

Tapi, yang menarik, setiap kali jumpa pers tentang perkembangan yang terjadi di MK, Hamdan Zoelva selalu mengatakan selamat pagi, selamat siang, selama sore, selamat malam. Tidak pakai assalamualaikum. Barangkali saja hakim konstitusi kita ingin menjaga kenetralan sebagai pengawal konstitusi.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Khotbah pastor yang kurang basah

Minggu ini, 13 Oktober 2013, pastor tamu yang memimpin misa di salah satu paroki di Surabaya. Pastor tamu sering membawa kesegaran baru, tapi bisa juga malah menyajikan homili atau khotbah yang tidak menarik.

Seorang romo yang terlalu lama bertugas di desa atau kota kecil tidak mudah berkhotbah di hadapan umat Katolik kota besar macam Surabaya atau Jakarta. Humor yang bikin orang Flores terbahak-bahak, di Surabaya terasa garing. Dan sebaliknya.

Bacaan kitab suci yang dibahas tentang Sepuluh Orang Kusta. Mereka disembuhkan Yesus Kristus tapi hanya SATU orang yang bilang terima kasih. Sembilan eks penderita kusta pergi entah ke mana. Kusta adalah penyakit paling mengerikan pada zaman Yesus, sehingga penderita dikucilkan dari masyarakat.

Tema ini sangat saya suka dan sering saya kutip di beberapa artikel saya. Saya sering mengeluh karena banyak orang lupa bilang terima kasih setelah saya bantu. Saya samakan orang-orang itu seperti sembilan orang kusta.

Nah, saat khotbah tiba, saya bayangkan pastor yang menyanyinya enak itu bisa memberikan siraman rohani yang segar. Bukankah Injil Lukas 17:11-19 itu sangat menarik?

Saya ingat benar beberapa romo di Keuskupan Malang yang membuat khotbah teatrikal. Sepuluh anak diminta ke depan dan berperan sebagai orang kusta. Hidup sekali khotbah seorang romo Karmelit di Gereja Kayutangan, Malang, beberapa tahun silam.

Kali ini saya keliru. Pastor tamu itu bicara datar-datar saja. Tak ada pemanis khotbah, ilustrasi, atau kontekstualisasi ayat suci dengan peristiwa aktual di masyarakat. Romo tamu itu hanya menekankan agar umat selalu bersyukur kepada Tuhan atas berkat yang sudah kita terima.

Bagi saya, khotbah atau homili menjadi menarik jika dikaitkan dengan situasi aktual umat. Apa yang terjadi di masyarakat. Harus ada cerita yang memudahkan jemaat menangkap poin penting atau pesan kitab suci. Tanpa cerita maka khotbah tak ada bedanya dengan pernyataan atau statement belaka.

Pikiran saya pun melayang ke mana-mana. Saat romo meminta umat untuk pandai bersyukur, saya langsung ingat Akil Mochtar, ketua Mahkamah Konstitusi yang ditangkap karena dugaan korupsi. Akil jelas orang yang tak punya syukur. Penghasilannya sekitar Rp 200 juta sebulan tapi rupanya belum cukup juga.

Akil Mochtar minta uang suap Rp 3 miliar untuk satu perkara pemilukada. Luar biasa! Saya bayangkan sang romo mengangkat cerita Akil Mochtar untuk menambah sedap khotbahnya. Ah, cuma khayalan seorang umat biasa yang tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah mendengarkan khotbah meski tidak menarik.

Menarik atau tidak menarik itu sangat subjektif. Barangkali saja sang pengkhotbah menganggap khotbahnya sudah bagus dan menarik. Saya jadi ingat seorang pastor di Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT, yang sudah meninggal dulu. Khotbahnya panjang lebar tidak karuan, ngelantur, dan sangat tidak menarik, menurut saya.

Anehnya, pastor itu sering merasa khotbahnya sangat menarik karena banyak umat yang tertawa. Hehehe....
Syukurlah, dua minggu lalu saya menikmati khotbah yang paling menarik di Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir. Romo Albert Nampara SVD menceritakan pengalamannya selama 10 tahun bertugas di Swiss.

 Cerita Romo Albert menurut saya luar biasa menarik. Bagaimana gereja kosong, hanya ada beberapa orang tua (lansia), anak muda yang tak lagi ke gereja, umat yang mendikte pastor, bahkan uskup, meskipun tak pernah ke gereja seumur hidup, dan sebagainya.

Salam damai!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

13 October 2013

Menolak jargon dengan bahasa sederhana

Bahasa Indonesia itu sebetulnya sederhana. Sangat bersahaja. Tapi menjadi rumit dan canggih karena makin lama makin banyak orang Indonesia yang keminggris. Contohnya ya si Vicky Prasetyo dengan 'konspirasi kemakmuran' atau 'statutisasi labil ekonomi' itu.
Setiap kali mengikuti acara pertemuan musik Surabaya, yang dipandu pianis-komponis Slamet Abdul Sjukur, saya seperti diingatkan tentang kata-kata sederhana. Gak usah ndakik-ndakik. Penyakit yang kata Pak Slamet diidap guru-guru musik klasik di Surabaya.

"Istilah guru-guru musik kita itu canggih-canggih, hampir semuanya pakai bahasa Inggris atau bahasa asing lain. Padahal sejak dulu kita sudah mengenal istilah musik dalam bahasa Indonesia," kata Slamet A Sjukur.
Pak Slamet menyebut contoh SUARA KEPALA yang sekarang diganti HEAD VOICE. Penjarian diganti FINGERING. Dirigen mulai hilang diganti conductor. Paduan suara tak dipakai lagi diganti choir.

Istilah KOR CAMPUR yang biasa dipakai di Gereja Katolik diganti MIXED CHOIR. Kor anak-anak diganti children choir. Istilahnya makin keren tapi mutunya belum tentu lebih baik daripada kor ibu-ibu di pelosok Flores.

Slamet Abdul Sjukur tinggal di Prancis selama 14 tahun. Dus, dia fasih bahasa Prancis, Inggris, Jerman, Italia dan beberapa bahasa Eropa lainnya. Tapi ketika memberikan kuliah musik klasik atau kontemporer, wah, kalimat-kalimatnya sederhana dan enak. Masalah musik yang jelimet dia sederhanakan sehingga bisa diterima siapa saja.

Karena itu, saya selalu berusaha mengikuti kuliah musiknya setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda. Pak Slamet pun kerap menyentil bahasa koran-koran (media) kita yang makin jelimet, terlalu banyak kata-kata ruwet. Terlalu banyak kata serapan Inggris yang tidak perlu.

Mendengar sentilan Pak Slamet, saya jadi ingat Farid Gaban. Wartawan senior Tempo ini memang piawai menulis, gurunya wartawan muda, punya perhatian luar biasa pada bahasa jurnalistik. Saya suka Bang Farid karena kegigihannya dalam memerangi jargon di media massa.

Farid Gaban menulis:

"Para wartawan makin sering memproduksi JARGON, mengganti kata sederhana dengan istilah rumit.... Kerusakan makin parah karena banyak wartawan lupa pada salah satu tugas pentingnya, yakni mencari kejelasan dalam kekaburan."

Jargon-jargon itu mudah dijumpai di koran atau majalah. Beberapa contoh:

INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI TERDEGRADASI, bukan JALAN DAN JEMBATAN RUSAK.

MENGKONSUMSI NASI AKING padahal lebih sederhana MAKAN NASI AKING.

KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH bisa disederhanakan menjadi WABAH DEMAM BERDARAH.

ALUTSISTA (ALAT UTAMA SISTEM PERSENJATAAN) bisa diganti SENJATA.

Membaca ulang tulisan-tulisan Farid Gaban dan sentilan Slamet Abdul Sjukur, saya pun geli sendiri. Yah, memang begitulah virus nginggris yang sudah begitu merasuk di benak sebagian orang Indonesia, khususnya awak media massa. Seakan tanpa jargon, akronim, istilah-istilah yang ndakik-ndakik si penulis dianggap orang bodoh.

Siang tadi saya membaca majalah Tempo lama, edisi 5 Desember 2004. Saya temukan kata DISTRIBUSI yang memang sangat disukai wartawan ketika menulis berita tentang pemilihan kepala daerah atau kongres, muktamar, musyawarah, dan sejenisnya.

Majalah Tempo menulis begini:

"Sisa suara lainnya TERDISTRIBUSI ke 16 kandidat...."

Mungkin akan lebih sederhana kalau TERDISTRIBUSI diganti dengan TERSEBAR.

Ah, majalah Tempo yang paling teliti, peka bahasa, gencar melawan jargon dan akronim saja masih sering kecolongan, apalagi media-media lain yang masih centang perenang.

11 October 2013

Ke mana penyanyi jebolan AFI

Semalam saya sempat menyaksikan beberapa penyanyi Akademi Fantasi indonesia (AFI). Sebuah kontes menyanyi ala televisi yang sempat memukau jutaan orang Indonesia enam atau tujuh tahun silam.

Trie Utami masih jadi juri utama didampingi Maia Estianty dan David. Ketiga juri terlalu banyak bercanda, tapi Trie masih berperan bagai guru sekaligus analis seni suara. Di Indonesia memang tak banyak penyanyi pop yang punya wawasan musik vokal sehebat Trie Utami.

Secara umum kualitas peserta AFI 2013 ini cukup bagus. Bahkan lebih bagus ketimbang beberapa AFI sebelumnya. Tak berbeda jauh dengan peserta Indonesia Idol atau X Factor.

Yah, hakikat lomba ini memang sama saja. Ajang pencarian bakat menyanyi, reality show, yang pemenangnya ditentukan oleh pemirsa televisi dengan pesan pendek. Makin banyak SMS, peluang menang makin besar. Bisnis seluler sangat dominan di sini.

Selama ini Indonesian Idol paling unggul dari segi kualitas vokal. AFI paling kedodoran meskipun juri utamanya Trie Utama terkesan paling galak dan paling tahu seluk-beluk how to sing. Suara peserta Indonesia Idol sebagian besar menggelegar layaknya penyanyi klasik atau yang makan kursus vokal.

Itu juga yang membuat saya agak kecanduan Indonesian Idol sejak era Joy Tobing, Delon, Winda, hingga Regina dan Sean. Yang saya lihat semalam di AFI 2013, kualitas vokal peserta masih kalah sama Idol. Anehnya, ketika ada peserta yang suaranya rada fals di beberapa bagian, malah dibilang bagus oleh si David. Hehehe ...

Melihat AFI di sela turun minum pertandingan Indonesia vs Filipina (kejuaraan sepakbola U13), saya jadi penasaran dengan alumni AFI di masa lalu. Veri yang melejit di AFI jilid pertama, kemudian juara, ke manakah dia? Kemudian Kia yang berdarah Flores itu?

Industri musik saat ini memang punya logika sendiri yang kerap bertentangan dengan logika juri reality show ala Trie Utami. Para pemenang kontes nyanyi macam AFI atau X Factor belum tentu dapat kesempatan di industri.

Yang melejit di industri justru penyanyi-penyanyi yang dekat dengan Ahmad Dhani dan sejenisnya. Mulan tak perlu ikut AFI atau Indonesia Idol untuk melejit di industri musik pop tanah air. Mulan cukup mendekat ke Dhani, kemudian dipoles di Republik Cinta, kemudian dijadikan istri Dhani.

Terus terang saja, malam itu saya menilai kualitas vokal tiga peserta AFI 2013 jauh lebih bagus ketimbang Maia, sang juri. Tapi Maia punya hoki yang bagus karena sangat paham logika industri.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

06 October 2013

Sulitnya menangkap Inggris bule

Saya lagi menyaksikan pembukaan konferensi tingkat tinggi APEC di Bali yang disiarkan langsung TVRI. Bahasa pengantarnya tentu bahasa Inggris. Presiden Susilo Bambang Yudoyono pun berpidato dalam English. Begitu juga Wisnu ketua panitia.

Rasanya kalimat-kalimat Pak SBY dan Wisnu mudah dimengerti... setidaknya oleh saya. Hampir tidak ada kata-kata sulit. Begitu pula bunyinya: Indonesia banget! Istilah guyonnya di Surabaya: Inggris Jowo! Bahasa Inggris yang logatnya Jawa atau Indonesia.

Sebaliknya, ketika si bule penutur asli berbicara Inggris dengan begitu mengalir cepat, saya mulai kesulitan menerka kata-katanya. Kurang jelas. Mungkin hanya 60-70 persen saja yang rada jelas.

Persoalan fonologi atau bunyi memang selalu bikin bingung kita yang bukan english speaking nation. Coba kalimat-kalimat si bule Amerika itu ditranskripsi, saya bisa paham sepenuhnya atau setidaknya 90 persen. Bahasa native speaker memang selalu ada kata-kata sulit, tapi kita bisa menebak dengan melihat konteks dan kaitan dengan kata atau kalimat sebelumnya.

Karena itu, ada beberapa kenalan saya yang hebat sekali menerjemahkan artikel atau buku berbahasa Inggris, bahkan jadi pekerjaannya, tapi tidak bisa berbicara lancar dalam bahasa Inggris. Sebaliknya, si Meme mantan PRT di Singapura lancar bercakap English tapi tak bisa menerjemahkan artikel berbahasa Inggris.

Suatu ketika si Meme ini saya sodori koran The Jakarta Post yang berbahasa Inggris. "Emoh, aku gak iso moco koran," kata wanita yang memang malas membaca ini.

Sebetulnya tak hanya orang Indonesia yang bahasa Inggrisnya sederhana. Orang-orang Asia umumnya jarang menggunakan kata-kata sulit saat berbahasa Inggris. Ini saya perhatikan pada sebuah konferensi komunikasi Asia Pasifik di Surabaya. Saya kebetulan ikut memantau, bahkan membantu panitia dari kalangan gereja.

Delegasi dari Filipina paling banyak bicara dan menurut saya paling lancar. Tapi tetap saja bunyinya beda dengan gaya orang USA atau Inggris asli. Tak banyak beda dengan indonesia. Delegasi Hongkong pun lancar, maklum eks jajahan Inggris. Tapi tetap saja bunyi khas orang Han tak bisa hilang.

Orang Malaysia yang diwakili wong India gaya bicaranya seperti orang India + Melayu berbahasa Inggris. Dus, kata-kata sulitnya hampir tidak ada.

Tiba giliran panelis dari Amerika, wah, peserta dari Indonesia mulai kelimpungan. Ngomong opo iku? Aku kok gak mudeng? Begitu celetukan beberapa teman.

Maklum, si bule itu rupanya kurang memahami sosiolingusitik. Dia membayangkan orang-orang Indonesia (Asia umumnya) bisa berbicara Inggris selancar orang Boston, Texas, New York, Liverpool, atau London. Dia lupa bahwa orang Amerika sejak bayi sudah lancar bahasa Inggris, sementara bahasa Inggris di Indonesia adalah bahasa ketiga, keempat, bahkan kelima. Itu pun hanya pelajaran tingkat dasar di sekolah. Itu pun lebih banyak rumus 16 macam tenses dan bukan mengajari anak berbicara dalam bahasa Inggris.

Satu-satunya orang Amerika yang menurut saya sangat paham sosiolinguistik adalah Presiden Barack Obama. Ini saya perhatikan ketika Obama berpidato di Jakarta beberapa tahun lalu. Selain menyisipkan beberapa ungkapan bahasa Indonesia, Obama sengaja memakai kata-kata Inggris yang sederhana yang bisa dipahami oleh warga yang bukan english speaking nation.

Bahkan, Obama juga tidak bicara cepat-cepat, tapi menekankan kata-katanya sehingga kita orang Indonesia bisa dengan mudah menangkap. Obama yang pernah tinggal di Jakarta saat anak-anak rupanya sadar betul betapa sulitnya orang Indonesia menangkap kata-kata bule alias penutur asli.

Syukurlah, di Surabaya ada Konsul Amerika Serikat Mr Wakin yang bahasa Indonesianya bahkan jauh lebih lancar ketimbang orang asli Indonesia yang tinggal di pelosok NTT, kampung halaman saya. Saya sendiri hingga 12 tahun, bahkan sampai SMP, belum lancar berbahasa Indonesia karena kekurangan kosa kata.

Maka, suatu ketika saya guyon sama diplomat kawakan ini. "Memang jauh lebih mudah bagi orang Amerika untuk fasih berbahasa Indonesia daripada orang Indonesia fasih berbahasa Inggris selevel penutur asli," kata saya.

"Kok bisa?" Sang diplomat bertanya.

Yah, lihat saja orang Indonesia yang belajar bahasa Inggris sejak SD sampai SMA. Berapa banyak sih yang bisa casciscus lancar kayak bule Amrik?

05 October 2013

Kampung Tionghoa Kapasan Gelar Sedekah Bumi Ke-117



Kapasan Dalam di Surabaya Utara semakin menunjukkan diri sebagai kampung Bhinneka Tunggal Ika. Ratusan warga yang berbeda etnis, ras, agama, afiliasi politik bersama-sama melestarikan upacara sedekah bumi yang digelar tiap tahun menjelang hari jadi Guru Khonghucu itu.
Senin malam, 30 September 2013, warga Tionghoa, Jawa, Madura, berbaur dalam proses mengarak tumpeng dan aneka hasil bumi ke lokasi sedekah bumi di depan panggung pergelaran wayang kulit.

Seorang modin memimpin doa dalam bahasa Jawa dan diaminkan beramai-ramai juga dalam bahasa Jawa.
"Saya jadi ingat pengalaman waktu masih kecil ketika upacara seperti ini digelar di berbagai kampung. Syukurlah, warga Kapasan Dalam masih melestarikan sampai sekarang," kata Sawung Jabo, musisi asal Surabaya, yang menghadiri sedekah bumi ini.

Pentolan Sirkus Barock itu mengaku baru tiba dari Australia dan langsung meluncur ke Kapasan Dalam. Didampingi temannya, Hengky Kurniadi, yang juga pemerhati sejarah dan budaya, Sawung Jabo mengaku kaget mendengar bahwa upacara sedekah bumi ini sudah berlangsung 117 kali.
Antusiasme serupa diperlihatkan Hengky Kurniadi. Dia memuji warga Kapasan Dalam yang masih aktif melestarikan tradisi leluhur di tengah arus globalisasi yang kerap menyapu budaya dan kearifan lokal. Mengutip pesan Bung Karno tentang Trisakti, Hengky menegaskan bahwa bangsa yang besar harus mampu berdaulat di bidang kebudayaan.

"Dan wayang kulit yang dimainkan di Kapasan Dalam oleh teman saya Boen Liong, dalang keturunan Tionghoa asli Kapasan, merupakan seni budaya kita yang wajib dilestarikan," ujar Hengky didampingi pengurus Kelenteng Boen Bio.

Hengky juga memuji Kapasan Dalam sebagai miniatur keberagamaan Indonesia, permukiman yang layak disebut kampung Pancasila. Di samping Kelenteng Boen Bio terdapat gereja dan mushala.

"Warganya juga bermacam-macam mulai Tionghoa, Jawa, Madura, bahkan ada yang berasal dari luar Jawa," katanya.

Usai selamatan menikmati tumpeng, warga dan undangan dihibur musik campursari dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit semalam suntuk. "Lakone Dewa Amral," ujar The Boen Liong, dalam keturunan Tionghoa bergelar Ki Sabdha Suteja.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

02 October 2013

Radio Pertanian Wonocolo Setia di Jalur AM



Sebelum 1990 hampir semua radio swasta di Jawa Timur berada di jalur AM. Kemudian satu per satu hijrah ke FM. Di Malang, Radio Kalimaya Bhaskara menjadi radio FM pertama.
Tahun 2000-an radio yang bermain di jalur AM hampir tak ada lagi karena kualitas suara FM jauh lebih bagus. Apalagi radio-radio FM ini sangat menonjolkan musik. Mana asyik menikmati musik di radio AM?

Dulu saya mengira tak ada lagi radio AM di Surabaya. Eh, ternyata saya keliru. Setiap kali menyaksikan wayang kulit saya selalu bertemu awak Radio Pertanian Wonocolo alias RPW yang mengadakan siaran langsung. Radio milik kementerian pertanian ini punya mobil siaran keliling sehingga mereka bisa bersiaran dari mana saja.
"Kami baru pulang dari Nganjuk, siaran langsung wayang kulit," ujar seorang penyiar senior RPW kepada saya.
Malam Selasa itu, 30 September 2013, kami menyaksikan pergelaran wayang kulit untuk sedekah bumi kampung Kapasan Dalam, Surabaya. Dalangnya The Boen Liong alias Ki Sabda Sutejo, dalang keturunan Tionghoa asli Kapasan. 

Kru RPW pun menyiarkan pergelaran itu sampai pagi. Gayeng sekali suasananya khas kampung-kampung lama yang guyub. Tahun 2013 ini sudah 117 kali warga Kapasan yang mayoritas Tionghoa mengadakan sedekah bumi + wayang kulit semalam suntuk. 

Setiap kali ada gelar wayang kulit, kata sang manajer siaran luar RPW Surabaya, pihaknya berusaha mengadakan siaran langsung. Apalagi wayang kulit sangat disukai penggemar radio yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Surabaya, samping Bulog Jatim, itu. 

"Segmen pendengar kami memang warga menengah bawah, khususnya petani dan nelayan. Selera mereka memang beda dengan pendengar radio-radio lain di Surabaya," kata sang manajer itu.
Paling sedikit dua kali seminggu RPW menyiarkan wayang kulit semalam suntuk, yakni malam Jumat dan malam Minggu. Kalau tidak ada pergelaran, maka diputar rekaman. Tapi pihak radio lebih suka siaran langsung, khususnya dalang-dalang terkenal.

Lantas, mengapa tidak pindah saja ke jalur FM? 

Manajemen RPW sebetulnya sudah lama mempertimbangkan hal ini. Tapi rupanya mereka masih betah di AM karena jangkauannya jauh lebih luas ketimbang AM. Pindah ke FM berarti radio informasi pertanian ini akan kehilangan sebagian besar pendengar karena komunitas petani itu berada di luar Kota Surabaya. 

Selain itu, saat ini jalur FM sudah penuh sesak. Biaya peralatannya pun sangat mahal dibandingkan AM. Sementara kementerian pertanian tak tertarik untuk meng-upgrade radio ini menjadi radio yang modern. 

Selain RPW, di Surabaya ada empat atau lima radio lagi yang bermain di jalur AM. Salah satunya radio milik yayasan Raden Rahmat di Kembang Kuning yang seratus persen berisi dakwah Islam. Orang Surabaya pun menjadikan radio ini sebagai acuan adzan untuk salat lima waktu.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Dr Hendrian Soebagjo: Kebutaan di Indonesia Sangat Parah



Selama bertahun-tahun dr Hendrian Dwikoloso Soebagjo SpM terlibat aktif dalam operasi mata di Surabaya dan kota-kota lain. Dokter spesialis mata kelahiran Surabaya, 20 Januari 1965, ini mengaku prihatin dengan banyaknya penderita gangguan mata, khususnya katarak, di tanah air.

Oleh Lambertus Hurek

Dokter Hendrian Soebagjo pun meminta dengan tegas agar pemerintah segera mengambil kebijakan untuk menyelamatkan jutaan orang Indonesia dari ancaman kebutaan. Sabtu (28/9/2013), ketua bidang organisasi Persatuan Dokter spesialis Mata Indonesia (Perdami) Jawa Timur ini memimpin operasi katak di Klinik Dian, kawasan Wiyung, Surabaya. Sebanyak 41 pasien pun menjalani operasi katarak secara cuma-cuma berkat donasi pasutri Agus Wibisono-Shinta Wibisono.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan dr Hendrian Soebagjo SpM saat rehat operasi katarak tersebut.

Di Surabaya sangat sering dilakukan operasi katarak massal. Tapi mengapa pasien katarak ini kok masih tetap banyak?

Begini. Saat ini kebutaan merupakan ancaman serius yang menimpa warga di seluruh dunia. Setiap menit, 15 orang mengalami kebutaan. Dan, empat di antaranya terjadi di Asia.

Indonesia sendiri bagaimana?

Sangat gawat. Sebab, penderita kebutaan di Indonesia itu nomor dua di dunia setelah Ethiopia. Ini tidak main-main karena ancaman kebutaan karena katarak atau penyakit mata yang lain ada di sekitar kita. Makanya, para dokter spesialis mata yang tergabung dalam Perdami sangat concern untuk melakukan operasi katarak seperti yang dilaksanakan saat ini. Kita ingin agar masyarakat kita, khususnya warga kurang mampu, bisa ditolong. Mata itu organ yang sangat vital untuk kehidupan ini. Kita harus bertindak agar penderita kebutaan bisa ditekan seminimal mungkin di tanah air.

Berapa persen penduduk Indonesia yang mengalami kebutaan?

Menurut data terakhir yang saya ketahui, 1,5 persen dari penduduk Indonesia mengalami kebutaan. Ini angka yang sangat tinggi mengingat jumlah penduduk Indonesia sekitar 220 juta hingga 230 juta. Jadi, bisa dibilang 3,67 juta orang Indonesia yang mengalami kebutaan. Sementara ada jutaan orang lagi yang juga mengalami ancaman kebutaan. Target kami, pada 2020 nanti angka kebutaan di Indonesia harus ditekan hingga 0,5 persen.

Apakah realistis?

Yah, kita harus berusaha dan kerja keras. Kalau semua pihak bahu-membahu, pemerintah punya komitmen yang tinggi, mudah-mudahan bisa tercapai.

Mungkin karena dokter spesialis mata di Indonesia masih kurang, sehingga banyak penderita katarak atau gangguan mata lain yang tidak mendapat penanganan?

Dokter spesialis mata kita sangat-sangat kurang. Saat ini hanya terdapat sekitar 1.600 dokter spesialis mata di seluruh Indonesia. Itu pun penyebarannya tidak merata. Di Surabaya dan daerah lain di Jawa Timur saja pasien katarak begitu banyak. Apalagi provinsi-provinsi lain di luar Jawa yang layanan kesehatannya masih sangat minim seperti di NTT (Nusa Tenggara Timur). Ini merupakan masalah kesehatan nasional yang harus dipikirkan semua pihak, khususnya pemerintah. Sesuai konstitusi, negara bertugas untuk menangani jutaan penderita kebutaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Apakah jutaan penderita kebutaan itu bisa diatasi dengan operasi?

Saya kira, 80 persen bisa diatasi, bisa melihat lagi, kalau penyebab kebutaannya disebabkan oleh katarak. Sisanya yang 20 persen sudah sulit diatasi.

Lantas, mengapa Anda bersama Perdami tidak mendorong pemerintah untuk mengatasi kebutaan yang diderita sekian juta orang itu?

Wah, kami sudah sering bicara soal ini. Tapi, kita juga perlu menyadari bahwa operasi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dan, jujur saja, negara kita belum memiliki kemampuan untuk membiayai operasi mata untuk rakyatnya, khususnya yang tidak mampu, di seluruh Indonesia.

Karena itu, kami sangat berterima kasih kepada pihak swasta, para pengusaha, dan siapa saja yang peduli untuk mengadakan bakti sosial operasi katarak seperti yang dilakukan di siini. Ini artinya mereka telah ikut meringankan beban negara. Saya salut sama pihak swasta, elemen masyarakat, dan semua pihak yang membantu pembiayaan operasi mata. Biaya yang dikeluarkan jelas tidak kecil.

Makanya, pemerintah perlu memberikan penghargaan dan dukungan kepada mereka. Kalau ada persoalan supaya dicarikan solusi. Jangan malah dihambat atau dipersulit! Sebab, katarak ini tidak bisa hanya ditangani oleh negara. Kalau negara bisa menangani sendiri, tingkat kebutaan di Indonesia tidak mungkin sebanyak sekarang.

Mengapa banyak penderita katarak kita yang baru dioperasi setelah menderita puluhan tahun? Tadi saya bertemu seorang bapak yang mengalami katarak di mata kanannya sejak usia 17 tahun dan baru dioperasi saat dia berusia 71 tahun.

Itu karena sebagian besar masyarakat memang tidak mengerti gangguan mata. Dan itu terkait erat dengan faktor pendidikan. Orang Indonesia itu kan tingkat pendidikannya rata-rata masih rendah. Sebagian besar lulusan sekolah dasar, bahkan tidak tamat SD. Itu juga menjadi tugas negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak heran, sebagian besar pasien yang ditangani saat ini justru ditemukan oleh Ibu Shinta dan sukarelawannya yang blusukan ke kampung-kampung. Kalau tidak ditemukan, ya, jelas mereka tidak bisa ditangani. Sebab, mereka memang tidak punya biaya untuk operasi di rumah sakit.

Kita kan punya RT/RW yang bisa mendeteksi warga penderita kebutaan di kampung-kampung. Mengapa panitia baksos katarak perlu blusukan ke mana-mana?

Ini masalah kepeduliaan kita terhadap sesama. Sebaik apa pun sistemnya, kalau kepeduliaan kita kurang, ya, tidak akan jalan. Syukurlah, masih ada sejumlah relawan swasta yang mau blusukan mencari penderita katarak untuk ditangani dengan biaya dari kantong mereka sendiri. Solidaritas atau kesetiakawanan sosial ini harus ditumbuhkan kembali di tanah air.

Operasi katarak di Surabaya rata-rata 30 menit per pasien. Padahal, kabaranya, di India dan Nepal hanya perlu tiga menit. Mengapa bisa begitu?

Itu menyangkut skill dan teknologi. Kalau skill dokter spesialis mata Indonesia dengan dokter di negara-negara lain sih tidak berbeda jauh. Kita hanya kalah di bidang teknologi medis, medical technology. Makanya, kami meminta perguruan tinggi kita menciptakan teknologi medis guna mendukung kinerja kedokteran. Kita harus melakukan kerja simultan, tidak bisa jalan sendiri-sendiri. (rek)



Harus Rutin Periksa Mata

KATARAK merupakan penyebab kebutaan paling banyak di Indonesia. Menurut dr Hendrian D Soebagjo, spesialis mata dari RSUD dr Soetomo, Surabaya, semua orang berpotensi mengalami gangguan mata katarak karena berhubungan dengan proses penuaan alias aging process.

"Usia harapan hidup orang Indonesia semakin tinggi. Karena itu, peluang terjadi gangguan mata pun makin besar," ujar Hendrian di sela baksos operasi katarak di kawasan Wiyung, Surabaya.

Selain faktor usia, menurut dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini, paparan sinar matahari ikut menyumbang gangguan mata. Tak heran, warga yang bekerja di tengah terik matahari, dengan paparan ultraviolet yang intensif, berpotensi mengalami gangguan penglihatan.

"Bisa juga karena kecelakaan, trauma, infeksi, atau virus. Tapi, yang paling banyak memang aging process," tutur dokter yang ramah ini.

Bagaimana dengan gizi?

Hendrian menjelaskan, kekurangan gizi atau vitamin A jelas mengganggu kesehatan mata. Namun, berdasar pengalamannya, faktor gizi ini kurang signifikan dalam kasus katarak. "Faktor gizi memang ada hubungannya, tapi tidak banyak," katanya.

Karena semua orang berpotensi mengalami gangguan mata, dokter yang juga aktif di Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jawa Timur ini mengimbau masyarakat untuk rutin memeriksakan mata ke dokter spesialis mata.

Yang paling mendesak adalah orang-orang yang merasa penglihatannya kabur perlahan-lahan maupun secara mendadak. Mata kabur itu sering tidak disadari karena prosesnya sangat lambat.

"Tapi banyak juga yang mendadak langsung kabur, bahkan tidak bisa melihat sama sekali. Kalau tidak segera ditangani, bukan tidak mungkin akan mengalami kebutaan seumur hidup," ucap alumnus SMAN 5 Surabaya ini.

Hendrian juga mengingatkan, banyak warga yang tidak sadar kalau salah satu matanya tidak berfungsi lagi. Sebab, selama ini dia bisa melihat hanya dengan sebelah mata. Nah, ketika diperiksa di klinik atau rumah sakit, baru diketahui bahwa salah satu matanya buta. "Kasus seperti ini banyak terjadi di masyarakat," katanya.

Karena itu, Hendrian mengimbau masyarakat untuk selalu mengecek penglihatannya sendiri. Caranya sederhana saja. Yakni, dengan menutup salah satu mata secara bergantian. Dengan begitu, ujar Hendrian, kita bisa mengetahui ketajaman penglihatan mata kiri dan kanan. (rek)


CV SINGKAT

Nama : dr Hendrian Dwikoloso Soebagjo SpM
Lahir : Surabaya, 20 Januari 1965
Anak : 3 orang
Profesi : Dokter spesialis mata RSUD dr Soetomo
Dosen : Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya
Kantor  : Jalan Prof Dr Moestopo 6-8 Surabaya
Rumah : Kertajaya Indah Timur, Surabaya
E-mail : hendrians@yahoo.com

Organisasi
Persatuan Dokter Spesialis Mata (Perdami) Jawa Timur, Ketua Bidang Organisasi
Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jawa Timur, Ketua Harian