03 September 2013

TVRI tahun 1970an tutup jam 23.00



Bongkar gudangnya eyang di kawasan Ngagel, Surabaya, saya menemukan tabloid Monitor TVRI edisi Agustus 1973. Sampulnya penyanyi Andi Meriem Mattalatta yang masih berusia 16 tahun. Cakep memang penyanyi yang sudah almarhumah ini.

Sesuai namanya, Monitor TVRI mengulas acara-acara yang ditayangkan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia yang hitam putih itu. Ulasan musiknya bagus karena ditulis musisi macam Mus K Wirya. Kemudian sinopsis film seri seperti Batman, Monte Cristo, The Minstrel's Shakedown, atau Fury.

Ada bahasan tentang Carl Pini, kuartet (waktu itu masih ditulis KWARTET) gesek Australia yang tayang di TVRI pada 9 Agustus 1973. Musik klasik memang punya tempat istimewa di TVRI pada era 1970an dan 1980an. Beda dengan zaman sekarang, musik klasik, keroncong, seriosa hilang di televisi.

Saya pun memperhatikan daftar acara TVRI selama dua minggu. Siaran dibuka pukul 17.55 WIB dan berakhir pukul 23.00. Seluruh rakyat Indonesia diminta segera tidur karena tidak baik bergadang sampai pagi hanya untuk nonton TV thok.

Ambil contoh siaran TVRI Kamis 2 Agustus 1973. Dibuka berita daerah, dilanjutkan Cepat Tepat SLA, kemudian film seri Family Affair. Pukul 20.00 Siaran Berita diteruskan dengan Pengajian Alquran selama 10 menit. Kemudian Mimbar Agama Islam 30 menit.

Luar biasa! Zaman dulu mimbar agama justru ditayangkan pada prime time alias jam utama. Bandingkan dengan televisi-televisi zaman sekarang. Film seri The Saint tayang satu jam disusul Sari Berita & Berita Olahraga. Pukul 22.17 Irama melayu. Pukul 23.00 tutup.

Luar biasa! Televisi zaman dulu jelas sekali fokus pada pendidikan, apresiasi, dan pembinaan karakter. Bina Vokalia asuhan Pranajaya disiarkan pukul 19.00 alias super prime time. Belum ada goyang bahenol, goyang ngebor atau goyang gergaji di dunia musik hiburan kita.

Malam Minggu 11 Agustus 1973 pemirsa TVRI dikasih bonus hiburan berupa Film Cerita Akhir Pekan. Pukul 00.30 baru tutup.

Yang juga sangat menarik adalah Pembinaan Bahasa Indonesia oleh Amin Singgih pada Senin malam pukul 19.00. Sekali lagi prime time dipakai untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, bukan menyuguhkan hiburan yang kurang edukatif.

Pelajaran bahasa Inggris juga disiarkan jam tujuh malam setiap Rabu.

Bagaimana dengan musik jazz?

Ojo kuwatir. Minggu malam pukul 22.17 ada sajian Irama Jazz hingga tutup layar pukul 23.00.

Ini semua hanya cerita televisi masa lalu yang masih dikontrol sepenuhnya oleh negara. Ketika rezim Orde Baru tumbang, negara makin lemah, kapitalisme dan liberalisasi yang berkuasa, maka ratusan stasiun televisi kita hanya menyiarkan acara-acara konyol yang ratingnya tinggi.

Dus, bisa dipahami mengapa masih banyak orang lama yang merindukan acara-acara televisi seperti pada masa lalu.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Saya suka acara2 tv jaman dulu cuma sayang...nontonya dirumah tetangga.

    ReplyDelete