06 September 2013

Tino Sidin guru lukis anak


Anak-anak pada era 1980an dan 1990an tak asing dengan Tino Sidin. Bapak berkacamata tebal, pakai pet khas seniman, ini selalu muncul di TVRI sebagai guru menggambar. Pak Tino mengasuh program Gemar Menggambar di TVRI.

Karena saat itu Indonesia hanya punya satu televisi, otomatis semua anak Indonesia tahu betul Tino Sidin. Orang tua yang sabar dan selalu mengapresiasi lukisan anak. "Bagus, bagus," ujar Pak Tino setiap kali menilai gambar yang dikirim anak-anak.

Bagi Tino Sidin, tidak ada lukisan anak yang jelek. Seburuk apa pun lukisan seorang bocah, pria kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925 ini selalu memberikan apresiasi. Bukan malah mematahkan semangat anak. Lalu sang guru ini memberi contoh sederhana teknik menggambar yang mudah ditiru anak-anak usia TK dan SD.

Menggambar atau seni lukis memang sejak dulu menjadi pelajaran di sekolah. Anak-anak biasanya membeli buku gambar, membawa pensil, karet penghapus. Ada juga yang bawa cat minyak atau krayon.
Tapi hanya sedikit sekolah yang punya guru menggembar yang kompeten. Maka Tino Sidin pun jadi jujukan. Kok gambarnya Pak Guru beda dengan Pak Tino? Kok begitu, bukan begini? Yah, Tino Sidin memang fenomena di era kejayaan TVRI sebagai media pendidikan yang luar biasa.

Mengapa saya tiba-tiba menyinggung Tino Sidin?

Kebetulan saya menemukan katalog pameran lukisan 45 pelukis Jogjakarta Mei 1993. Pak Tino menampilkan gambar bunga, oil on canvas 80x75 cm. Sama sekali bukan lukisan anak sebagaimana bayangan saya selama ini.

Saya pun baru tahu kalau Tino Sidin ini tinggal di Jogjakarta, Jalan Wates, Kadipiro 297. Selama ini saya menyangka Tino Sidin tinggal dan berkarya di Jakarta.

Dari CV singkat di katalog lawas itu, saya jadi tahu bahwa Tino Sidin merintis pendidikan lukis untuk anak-anak di Seni Sono Jogjakarta. Sebelum menasional di TVRI pusat, Tino lebih dulu mengajar gambar di TVRI Jogja.

Dia juga pernah ikut pameran seni rupa di dalam dan luar negara. Pernah pameran tunggal di Malaysia, kemudian pameran di Jakarta, Medan, Jogjakarta, dan beberapa kota lain.

Melihat foto dan lukisan Tino Sidin hari ini, saya membayangkan betapa amannya televisi di masa lalu. Ada Tino Sidin guru gambar, Ibu Sud mengajar nyanyi, Pranajaya mempertajam teknik vokal seriosa, hingga si Unyil yang selalu ditunggu anak-anak.

Kini puluhan bahkan ratusan televisi yang menyerbu rumah rakyat Indonesia cuma fokus pada hiburan, gosip, iklan, dan pencitraan politisi. Saat mengetik kalimat ini di televisi muncul wajah Aburizal Bakrie.
"Suwe ora ketemu, ketemu pisan...."

Sebelumnya SCTV membahas panjang lebar kasus penyanyi dangdut koplo Saskia Gotik yang diperdaya laki-laki buaya darat. Wah, rupanya Tino Sidin hanya jadi kenangan anak-anak tempo doeloe yang belum kenal HP, laptop, atau tablet.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

2 comments:

  1. Yah, kalau jaman Suharto, kan tidak ada pilihan. Jadi bukan masyarakat yang bebas lah, tapi masyarakat yang otaknya dijajah oleh Orde Baru, yang memutuskan mana yang boleh ditonton, dll. Pilihan harus tetap ada, tapi harus ada rambu2nya. Di negara2 maju, acara2 untuk konsumsi orang dewasa hanya boleh ditayangkan setelah jam anak kecil tidur, lewat jam 9 malam. Dan di USA, kalau mempertontonkan yang tidak layak, seperti buah dada, bisa kena denda.

    ReplyDelete
  2. hehehe... pak tino sidin guru menggambar yg sabar dan asyik untuk anak2 jadul.

    ReplyDelete