03 September 2013

Terima kasih makin hilang

Terima kasih alias matur nuwun, suwun, kamsia, xiexie... sebetulnya gampang diucapkan. Atau diketik lewat sms atau email. Tapi anehnya akhir-akhir ini makin banyak orang yang lupa mengucapkan terima kasih atas sedikit jasa yang kita berikan.

Pekan lalu saya lima orang meminta nomor ponsel dan telepon rumah beberapa tokoh dan pakar di Surabaya. "Cak, minta nomor HP-nya Pak Anu," begitu pesan pendek seorang reporter.

Saya sebetulnya malas memberikan nomor telepon tokoh-tokoh karena khawatir disalahgunakan. Saya berprinsip bahwa meminta telepon seharusnya lebih dulu bertatap muka, salaman, perkenalan, tukar kartu nama. Dari situlah kita tahu contact person seseorang. Aneh rasanya kalau kita menelepon seseorang yang belum kita kenal sebelumnya.

Tapi akhirnya saya memberikan nomor telepon kepada lima orang itu. Lalu, diam-diam saya berharap mendapat ucapan terima kasih karena sudah memberikan nomor telepon VIP yang memang tidak gampang mendapatkannya. Apa sih sulitnya mengetik terima kasih atau suwun dan dikirim ke saya?

Eh, tunggu punya tunggu ternyata ucapan terima kasih itu tak juga datang. Saya pun ingat cerita kitab suci Perjanjian Baru tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus Kristus. Dari sepuluh orang yang ditahirkan, hanya satu orang yang mengucapkan terima kasih.

Yah, betapa sulitnya mengucapkan terima kasih atas kebaikan seseorang. Kita sering kali terlalu mudah meminta-minta sesuatu tapi lupa berterima kasih. Lupa bersyukur. Lupa berterima kasih. Lupa bahwa Tuhan begitu baik kepada manusia lewat tangan-tangan sesama.

Lalu, apakah ke depan saya tidak lagi memberikan nomor telepon seseorang karena khawatir tidak dapat ucapan matur nuwun? Kadang saya berpikir begitu. Saya memang masih punya pamrih, ya, mengharapkan ucapan terima kasih itulah.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe, kata orang Jawa.

Ah, ternyata tidak gampang menjadi orang yang benar-benar tanpa pamrih.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment