30 September 2013

Romo Albert Nampara SVD Blusukan di Swiss


Suasana perayaan ekaristi atau misa di Gereja Katolik Yohanes Pemandi, Wonokromo, Minggu (29/9), kian meriah dengan kehadiran Romo Albert Nampara SVD. Pastor asal Manggarai, Flores, ini tengah berlibur ditanah air setelah bertugas selama 10 tahun di Swiss.

Saat khotbah, Romo Kris Kia Anen SVD selaku kepala Paroki Wonokromo memberi kesempatan kepada Romo Albert Nampara SVD untuk berbagi pengalaman bertugas di negara penghasil keju dan arloji terkemuka di Eropa itu.

Romo yang suka humor ini mula-mula mengaku terkejut dan bangga melihat gereja-gereja di Indonesia selalu penuh dengan umat. Bahkan, tidak sedikit umat yang terpaksa duduk atau berdiri di luar gereja hingga misa selesai.

"Di Swiss, gerejanya besar, tapi kosong. Umat Katolik yang misa setiap hari Minggu hanya orang-orang lanjut usia saja. Mereka terlalu sibuk dengan urusan duniawi, sehingga tidak punya waktu untuk datang ke gereja," tutur Romo Albert yang bertugas di Paroki Santo Yohanes, kawasan Menzingen, Swiss.

Karena itu, pastor yang piawai bermain sejumlah alat musik ini mengaku lebih banyak bergaul dengan para lansia. Setiap hari dia berkeliling ke rumah-rumah para lansia yang kesepian. Tak ada anak, cucu, atau keluarga dekat yang menengok para jompo itu.

"Saya menjadi teman curhat mereka. Begitu banyak keluhan yang mereka sampaikan. Dan itu menjadi masalah serius di Eropa," katanya.

Saking frustasinya para lansia di rumah-rumah jompo, menurut Romo Albert, tak sedikit warga senior itu yang menyesal menikah dan punya anak. "Kalau tahu menjalani hari tua seperti ini, lebih baik dulu tidak menikah dan punya anak," tuturnya disambut tawa ratusan jemaat.

Romo Albert pun berpesan kepada warga Indonesia, khususnya Surabaya, agar tidak menitipkan orang tuanya di panti jompo. Sebab, para lansia itu umumnya sangat menderita karena merasa disia-siakan oleh anak cucunya.

"Usahakan untuk mengurus orang tua kalian sendiri. Berikan cinta yang tulus untuk mereka hingga dipanggil Tuhan," katanya serius.

Selain rutin mendampingi lansia, Romo Albert pun berusaha merangkul anak-anak muda agar mau ke gereja. Di negara sekuler yang sangat demokratis dan liberal seperti Swiss jelas tidak gampang. Akhirnya, Romo Albert menemukan akal. Dia blusukan ke mana-mana untuk mencari anak-anak muda yang mau berlatih main musik.

Dari situ terbentuklah sebuah orkes musik orang muda Katolik. Romo Albert sendiri selain menjadi pembina, juga menjadi pemain saksofon, harmonika, hingga gitar. Nah, ketika persiapan latihan sudah matang, Romo Albert kemudian mengadakan konser di gereja. Hasilnya luar biasa. Gereja yang biasanya kosong, kalau ada orkes musik itu, jadi penuh.

"Sebab, para orang tua dan kenalan anak-anak itu pun ramai-ramai datang ke gereja untuk menikmati permain musik anak-anak muda itu. Jadi, tujuan utama mereka ke gereja itu bukan untuk misa, tapi melihat pertunjukan musik," ujar Romo Albert seraya tersenyum.

Jika tidak ada pergelaran musik, gereja pun sepi kembali. Jemaat yang ikut misa mingguan tetap saja para lansia yang sudah menganggap Romo Albert sebagai anak/cucunya sendiri."Jadi, di gereja paroki saya di Swiss itu anak-anak muda hanya datang ke gereja enam kali setahun. Sebab, saya memang mengadakan konser enam kali setahun. Lumayan, daripada mereka tidak ke gereja sama sekali," tutur alumnus Seminari Tinggi Ledalero, Flores, ini.

Meski hampir tak pernah gereja, menurut Romo Albert, umat kristiani di Swiss sangat memaksakan kehendak kepada pastor, bahkan uskupnya. Mereka tak segan-segan menolak pastor atau uskup yang dianggap kurang sesuai dengan selera mereka. Ini karena mereka sudah membayar pajak gereja.

"Makanya, pastor seperti saya harus siap setiap saat untuk memimpin upacara pemakaman umat yang seumur hidupnya tidak pernah ke gereja," tutur Romo Albert kembali disambut tawa umat Paroki Wonokromo.

Di akhir misa, sekitar pukul 07.15, Romo Albert memperlihatkan kepiawaiannya bermain saksofon. Dua lagu dimainkan pastor yang mengaku tak bisa menyanyi karena suaranya fals, yakni Amazing Grace dan Ave Maria. Umat pun bertepuk tangan usai sang pastor menyelesaikan lagu rohani kondang itu.

"Kita doakan semoga Romo Albert tetap melayani umat dengan penuh semangat dan cinta di negeri Swiss," kata Romo Vitalis SVD yang mengantar Romo Albert ke Surabaya. (rek)

No comments:

Post a Comment