13 September 2013

Realisasi Ekspektasi Akselerasi Modernisasi


Gaya bahasa Vicky Prasetyo kian heboh di internet dan televisi. Frase-frase seperti KONSPIRASI KEMAKMURAN, KONTROVERSI HATI, STATUTISASI, LABIL EKONOMI, KUDETA HATI menjadi bahan tertawaan. 

Memang menggelikan karena si Vicky rupanya sengaja menjejalkan kata-kata serapan dari bahasa Inggris dengan kata Indonesia, gado-gado, plus petikan bahasa Inggris seenak perutnya.

Kalimat-kalimat Vicky terkesan gagah, layaknya bahasa aktivis atau pakar-pakar di seminar, tapi hampa makna. Tapi bagaimanapun istilah KONSPIRASI KEMAKMURAN atau KUDETA HATI temuan Vicky Prasetyo layak dipuji sekaligus ditertawai. Hehehehe.... 

Konspirasi kemakmuran!

Andai saja Vicky Prasetyo tidak berurusan dengan polisi atau mempermainkan beberapa penyanyi dangdut, kata-kata si Vicky ini sebetulnya satire untuk gaya bahasa manusia Indonesia masa kini. Sebuah bangsa besar yang makin lama makin bangga menjadi bangsa pengimpor. Mengimpor beras, kedelai, daging, jagung, garam... dan kata-kata. 

Gaya bahasa impor ala si Vicky sejatinya bukan hal baru. Jauh sebelum Indonesia merdeka, gaya bahasa impor-imporan sudah mewabah di kalangan masyarakat, khususnya yang merasa intelek, kelas menengah atas. Datang saja ke pertemuan klub-klub Indo-Belanda dan kita bisa menikmati kata-kata campuran Indonesia, Belanda, Jawa, Hokkian, dan entah apa lagi.

Setelah Presiden Sukarno tumbang, mulailah era bahasa impor English karena bahasa Belanda dihapus. Kiblat Orde Baru ke negara Abang Sam itu. Buku pintar Orde Baru ditulis oleh Ali Moertopo dengan judul AKSELERASI MODERNISASI PEMBANGUNAN 25 TAHUN. Opo maneh kuwi?

Akselerasi modernisasi! Begitulah visi rezim Orde Baru yang dipimpin Pak Harto dengan pemikir utama Ali Moertopo yang menggagas CSIS. Pusat penelitian ini dikenal sebagai dapur pemikiran Orde Baru demi AKSELERASI MODERNISASI.

Nah, di era Orde Baru itulah impor kata-kata semakin menjadi-jadi di Indonesia. Meskipun sudah ada kata-kata asli, punya padanan Indonesia, orang intelektual seperti Vicky Prasetyo gandrung menggunakan kata berakhiran -SASI dan -ISASI. 

Di zaman Orde Baru, meski ada polisi bahasa bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa alias Pusat Bahasa, mulai merebak kata bentukan Indonesia + Inggris. Beda dengan AKSELERASI atau MODERNISASI sebagai serapan yang benar, pada 1980-an dan 1990-an kita mengenal LAMTORONISASI, TURINISASI, PIPANISASI, KUNINGISASI, PAVINGISASI, POMPANISASI, SENGONISASI.. dan SASI-SASI lainnya.

Bahkan, surat kabar sehebat KOMPAS pun rajin menggunakan HILIRISASI. Mungkin tak lama lagi ada istilah HULUNISASI di koran Jakarta itu. Koran-koran di Jawa Timur pun akhir-akhir ini lebih suka menggunakan EKSPEKTASI sebagai pengganti HARAPAN atau ASA. 

Contoh: 

Hilirisasi komoditas domestik merupakan ekspektasi massal untuk merealisasi konpirasi kemakmuran futuristik yang menciptakan harmonisasi statutisasi simbolik. 

Ah, gaya bahasanya si Vicky lagi! 

Juancuk tenan!

5 comments:

  1. Pengamat Indonesia6:32 AM, September 14, 2013

    Akselerasi itu asalnya kata pinjaman dari ilmu fisika. Dalam pelajaran fisika bahasa Indonesia, digunakan istilah "percepatan", walaupun simbolnya tidak diubah, yaitu a. Rumus hukum Newton F = m*a, tiap istilah ada padanan kata Indonesianya. Force = gaya. Mass = massa. Acceleration = percepatan. Begitu juga velocity = kecepatan (bukan velositas).

    Orang Indonesia kehilangan jati dirinya. Dulu Bung Karno fasih berbahasa Belanda, Inggris, bahkan Prancis, tapi selalu pake bahasa Indonesia dalam tulisan dan pidatonya.

    Orang yang sok sekolah tinggi suka pakai kata2 akar bahasa latin seenaknya, sama bodohnya dengan Vicky Prasetyo ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun Mas Pengamat Indonesia. Penjelasan yg mencerahkan sekaligus mengingatkan saya pelajaran fisika dulu ketika saya SMA jurusan A1 alias Fisika.

      Istilah2 sains tempo dulu memang sangat sederhana dan membumi. Contoh: Ilmu Bumi (Geografi), Ilmu Hayat (Biologi), Ilmu Hewan (Zoologi), berat jenis, gaya berat, dan sebagainya.

      Makin lama seiring era yang disebut globalisasi, orang Indonesia makin gandrung istilah2 serapan asing karena dianggap lebih gagah dan mentereng. Petugas keamanan atau satpam lebih suka disebut security. Sopir alias pengemuda senang disebut driver.

      Istilah asli yang paling bertahan adalah WARTAWAN. Meskipun ada upaya untuk mengganti dengan JURNALIS atau REPORTER, tetap saja orang Indonesia lebih suka sebut WARTAWAN. Kira-kira begitulah.

      Delete
    2. Pengamat Indonesia4:11 AM, September 19, 2013

      Seiring perkembangan ilmu, terjemahan itu perlu di-update. Misalnya, gravitasi itu tidak tepat diterjemahkan gaya berat, karena di luar angkasa misalnya, berat kita hampir gak ada, walaupun gaya tarik gravitasi tetap ada, gitu lhooo... Begitu juga berat jenis, karena dalam fisika lebih baik dipakai massa jenis, atau dalam bahasa Inggris density, berhubung massa itu tetap (tidak tergantung gravitasi), sedangkan berat itu berubah-ubah tergantung lingkungan.

      Mengenai wartawan, dalam bahasa Inggris ada nuansa berbeda antara jurnalis dan reporter. Jurnalis itu lebih luas maknanya, yaitu seorang editor (redaktur) itu masih seorang jurnalis, tetapi bukan reporter. Seorang reporter itu hanyalah ia yang tugasnya melaporkan dari lapangan. Wartawan kiranya lebih padan dengan jurnalis, karena ia adalah siapa saja yang tugasnya berkenaan dengan dunia pewartaan (jurnalisme). Adakah kata Indonesia "pelapor"?

      Delete
  2. vicky memang lucu banget... dan goblog hehehe

    ReplyDelete
  3. Ada hikmahnya si Vicky ini. Vicky itu hanya puncak gunung es. Sebetulnya setiap hari kita menemukan Vicky-Vicky lain di sekitar kita. Termasuk pejabat2 yang kalimatnya penuh jargon dan tidak jelas artinya.

    ReplyDelete