17 September 2013

Pesta bulan purnama di Surabaya



Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kelenteng Sanggar Agung Kenjeran merayakan Tiong Chiu Jie secara meriah. Perayaan bulan purnama khas Tionghoa itu digelar di halaman kelenteng pada Kamis (19/9/2013) malam.

"Tiong Chiu Jie itu selalu diadakan pada malam bulan purnama bulan kedelapan penanggalan Tionghoa. Tiap tahun kita selalu membuat konsep yang berbeda," ujar Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, pemilik Sanggar Agung kemarin.

Menurut dia, tahun ini pihaknya mengedepankan festival tari-tarian tradisional dan modern. Aneka tarian nusantara ditampilkan di hadapan jemaat dan pengunjung lainnya. Pergelaran tari-tarian ini juga untuk melestarikan seni budaya Indonesia.

Soetiadji menjelaskan, pesta bulan purnama di Tiongkok sejak dulu selalu dikemas sebagai festival seni budaya. Saat itulah masyarakat yang masih tradisional bisa menikmati hiburan murah dan aneka makanan tradisional. Malam purnama juga jadi ajang perkenalan muda-mudi.

"Kita di Surabaya tentu menyesuaikan dengan kondisi setempat. Tapi intinya kita tetap menampilkan atraksi seni budaya Indonesia," ujarnya.

Pemilik sejumlah hotel di Surabaya ini mengaku tidak lagi mendatangkan artis-artis dari luar negeri, khususnya Tiongkok atau Mongolia. Alasannya, Indonesia sebetulnya punya begitu banyak seni budaya yang bisa ditampilkan saat pesta bulan purnama. "Mendatangkan rombongan seniman dari luar juga ribet dan mahal. Kalau bisa dari dalam negeri, kenapa harus selalu dari Tiongkok?"

Sebelum atraksi seni budaya di kompleks Sanggar Agung, menurut Soetiadji, umat Tridarma lebih dulu mengadakan sembahyang bersama. Saat itulah kue bulan alias tiong chiu pia didoakan sebelum dinikmati atau dibawa pulang. m
Menurut dia, kue bulan atau mooncake memang jajanan khas Tionghoa yang identik dengan perayaan bulan purnama.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment