24 September 2013

Pengusaha Kadin Jatim dan Politik

La Nyalla, Soekarwo, Alim Markus

 Pengusaha yang aktif sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri alias Kadin biasanya sangat aktif berpolitik. Bahkan sepak terjang di jagat politiknya daripada bisnisnya. Maka, jangan heran ketua Kadin Jawa Timur La Nyala Mattalitti sangat aktif berpolitik karena sejak dulu dia ini memang pengusaha yang politikus atau politikus yang pengusaha. 

La Nyalla juga dikenal sebagai tokoh Pemuda Pancasila, pentolan Partai Patriot Pancasila. Karena itu, menjelang pemilihan gubernur Jatim 29 Agustus 2013, La Nyalla aktif kampanye untuk Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Lima tahun lalu Nyalla jadi tim sukses Khofifah tapi kemudian menarik diri pada putaran kedua. Dan kalah. "Kali ini jago yang saya dukung menang. Alhamdulillah," katanya.
Ketua Kadin Jatim sebelumnya, Erlangga Satriagung, pun sangat politis. Sempat maju sebagai calon wali kota Surabaya, tapi kalah. Tapi DNA politik Erlangga masih kalah jauh sama La Nyalla.

Para pengusaha Tionghoa biasanya kurang tertarik politik karena trauma masa lalu. Mereka pengusaha murni. Tak begitu mengincar proyek-proyek APBD. Karena itu, mereka cenderung tidak berkepentingan dengan Kadin yang memang sejak dulu diarahkan sebagai wadah pengusaha bumiputra alias yang bukan Tionghoa.

Pengusaha-pengusaha Tionghoa lebih banyak bermain di Apindo alias Asosiasi Pengusaha Indonesia. Alim Markus bos Maspion ketua Apindo Jatim sejak dulu. Apindo pusat dipegang Sofjan Wanandi. Apindo jadi penting dan strategis karena terkait penentuan upah minimum regional.

Membaca kliping koran Jawa Pos lama edisi Kamis 12 Januari 1989, sejumlah nama bersaing memperebutkan posisi ketua Kadin Jatim. Pada 1980an itu Kadin Jatim dijabat TUBAGUS MOCHTAR ATMADJA (kini almarhum).

TB Mochtar bukan pengusaha murni melainkan tentara TNI AD yang dikaryakan untuk mengurus beberapa perusahaan daerah di Jatim. Di antaranya pabrik karet Ngagel, pabrik cat Patna, pabrik asam sulfat, hingga pabrik aki di Sepanjang.

Linggar Mulyono menggambarkan TB Mochtar di Jawa Pos sebagai tokoh blakblakan, terbuka terhadap kritik dan saran. Dia juga dikenal sebagai bapaknya pengusaha Jawa Timur, bukan saja karena usianya 65 tahun (pada 1989), tapi juga sifatnya yang ngemong.

"Dia dekat dengan semua pihak baik kalangan swasta maupun pemerintah. Juga terhadap wartawan dia tidak pernah menolak bila diminta keterangan, bahkan sering kali bicaranya lebih banyak dibanding permintaan," tulis Linggar.

Berpengalaman mengelola berbagai perusahaan daerah, Mochtar kemudian mendirikan PT Sarana Ampuh, perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Mochtar mendirikan PT Sarana Ampuh setelah pensiun.

Begitulah. Kadin, Hipmi, dan sejumlah wadah pengusaha lain sejak awal didesain untuk mencetak sebanyak mungkin pengusaha, enterpreneur, dari kalangan bumiputra. Tapi, kita tahu, orang-orang bumiputra ini lebih gandrung politik ketimbang fokus mengurus bisnis.

Aburizal Bakrie, pengusaha top, pentolan Kadin pusat, pun rupanya belum puas kalau hanya sekadar jadi pengusaha sukses. Dunia politik punya daya pikat luar biasa sehingga dia berjuang habis-habisan agar bisa jadi presiden.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Bung Lambertus punya observasi yang tajam. Generasi yang sekarang ini jadi bos, memang begitu cara kerjanya. Seperti Aburizal, dia aktif di politik agar DPR dan kabinet meloloskan kebijakan yang melindungi dan melanggengkan perusahaannya. Ya sama dengan kroni Suharto lah di jaman dulu. Hanya, dulu (dan imbasnya sampai sekarang) Tionghoa tidak bisa langsung berkecimpung di politik, jadi mereka "lobi" atau menggunakan komisaris perwira pensiunan TNI. Sedangkan mereka yang seperti ARB bisa dua-2-nya.

    ReplyDelete