04 September 2013

Penerima BLSM lebih kaya dari wartawan

Selalu muncul pemandangan menggelikan setiap kali pembagian subsidi bahan bakar minyak sejak era BLT hingga BLSM sekarang. Sejumlah keluarga miskin penerima balsem Rp 150.000 sebulan itu ternyata pakai Blakcberry.

Sebaliknya, beberapa wartawan di Surabaya masih memakai HP made China yang murah itu. Padahal kalangan wartawan ini tidak tergolong gakin alias keluarga miskin.

"Lha, katanya miskin kok bergaya dengan BB? HP-ku malah cuma dua ratusan," kata seorang teman wartawan.

Tidak hanya telepon pintar, sebagian penerima balsem pun diketahui membawa sepeda motor bagus ke kantor pos. Sementara sebagian wartawan dan petugas pos, yang membagikan balsem itu, masih setia dengan motor butut.

Ketidaktepatan sasaran ini memang selalu terlihat dalam acara-acara bakti sosial di mana pun. Menjelang Lebaran lalu saya melihat ada penerima bantuan beras di sebuah kelenteng di Surabaya yang membawa mobil.

Lha, punya mobil kok gak malu terima bantuan beras untuk keluarga miskin? Aneh tapi nyata. Budaya malu rupanya sudah semakin hilang di Indonesia. Orang tak segan-segan berbohong untuk mendapat beras atau balsem yang sejatinya menjadi hak orang miskin.

Dan kita tak bisa menyalahkan orang miskin atau setengah miskin. Mengapa? Masyarakat setiap hari melihat betapa serakahnya pemimpin-pemimpin kita yang semakin asyik korupsi, menikmati uang suap, tak malu-malu memamerkan kerakusannya di depan umum.

Lha, orang sekaliber Rudi Rubiandini yang sudah digaji puluhan bahkan ratusan juta saja masih meminta uang pelicin 7 miliar. Bagaimana kita bisa meminta wong cilik untuk jujur?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment