28 September 2013

Pelajaran Jurnalistik di SMA Al-Islam Krian Sidoarjo



Minat remaja terhadap jurnalistik ternyata cukup tinggi. Ini terlihat saat pelatihan jurnalistik dasar di SMA Al-Islam Krian, Sidoarjo, Jumat 27 September 2013.

Saya ikut menjadi pemateri bersama Muhammad Fail, wartawan senior yang sudah 23 tahun berkecimpung di Jawa Pos Group. Berbeda dengan pelatihan di sekolah-sekolah lain yang pesertanya banyak, ratusan, di Yapalis Krian ini hanya 30an peserta.

Namun justru sangat fokus karena mereka benar-benar meminati jurnalisme. Mereka sedang dipersiapkan pihak sekolah untuk mengelola majalah sekolah. Yakni majalah cetak, majalah dinding, dan website sekolah.

Pihak sekolah memberi perhatian serius terhadap pengembangan media sekolah. Mereka ingin para siswa bisa membuat majalah bagus yang bisa dibaca 1766 siswa (total siswa SMA Al Islam), orang tua murid, komite sekolah, dan masyarakat umum. Ini penting karena Al Islam tergolong sekolah terkenal di kawasan Krian dan sekitarnya.

Saya sempat mengevaluasi tulisan berita peserta pelatihan yang hampir semuanya wanita. Laki-laki hanya dua orang. Seperti jurnalis pelajar umumnya, mereka kesulitan membuat berita yang agak panjang karena kurang bahan. Sumber yang diwawancarai tidak ada. Mereka hanya menulis berdasar observasi atau pengalaman langsung saja.

Tapi saya juga terkejut membaca tulisan empat atau lima pelajar kelas satu dan dua SMA itu yang sangat bagus. Tulisan seorang siswi bahkan pressklaar alias nyaris tanpa cacat. Tak perlu diedit lagi karena ceritanya runtut, menarik, ada nuansa cerpennya, tak ada kesalahan ketik maupun ejaan.

Gadis bernama Romi ini pun aktif bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaannya sudah bukan lagi tingkat SMA melainkan mahasiswi jurnalistik, bahkan wartawan senior. Dia sangat peka bahasa sehingga bisa membedakan gaya penulisan di koran yang langsung, stright news, dengan majalah yang bergaya features.

Berhadapan dengan pelajar-pelajar cerdas SMA Al Islam Krian ini membuat kita jadi terpacu untuk berpikir lebih keras. Tidak asal jawab karena jelas si pelajar itu sudah banyak membaca buku atau informasi di internet. Jawaban yang tidak nyambung hanya akan jadi bahan tertawaan anak-anak muda generasi internet itu.

Saya membayangkan para guru dan dosen saat ini kelimpungan jika menghadapi anak-anak muda kritis dan cerdas ala si Romi di Krian itu. Guru saat ini harus lebih rendah hati, tidak sok tahu, karena bisa saja peserta didiknya sudah banyak tahu.

Ada juga siswi yang bertanya enak tidak enaknya jadi wartawan?

Hehehe.... Kalau soal itu Pak Fail saja yang bicara."Enaknya banyak tapi enggak enaknya juga buanyaaak," kata wartawan senior yang dijuluki penguasa Tanjungperak ini.

Tak sedikit wartawan dikriminalisasi, rumahnya dirusak, diteror, diperlakukan sewenang-wenang karena beritanya tidak disukai pihak tertentu. Di masa Orde Baru, Fail mengaku beberapa kali mendapat sanksi gara-gara beritanya menyinggung keluarga Cendana.

"Itu memang risiko jadi wartawan," katanya.

2 comments:

  1. Saya juga tertarik dengan dunia jurnalistik, bang Hurek. Hanya saja ketika saya hendak menulis sebuah artikel saya suka bingung harus mulai dari mana, gaya bahasanya harus seperti apa, dan sebagainya gitu. Mungkin bang Hurek bisa kasih saran untuk saya hehehe ..

    ReplyDelete
  2. Ada yang minat lomba Jurnalistik Sidoarjo ? Lomba tgl 26okt13 di Pazkul, Perum Kahuripan Nirwana, Sidoarjo. Come and join Us !! Minat ? Hubungi 089635929517 untuk informasi lebih lanjut ! Menangkan hadiah jutaan rupiahh >< ! Present by Universitas Ciputra

    ReplyDelete