18 September 2013

Iklan ARB yang bikin mual

Saat ini di televisi di depan saya Abu Rizal Bakrie untuk kesekian kalinya muncul. ARB ARB ARB... Temanya hari ini tentang kepeduliaan ARB pada guru-guru berpenghasilan rendah.

Sebelumnya ARB digambarkan sebagai tokoh yang dekat dengan orang Jawa dan Madura. Suwe ora jamu.... ARB juga muncul menyampaikan selamat melakukan konvensi untuk Partai Demokrat.

Waduh, televisi-televisi di Indonesia saat ini memang dimanfaatkan pemiliknya untuk kampanye politik. Harrr Tanoe bersama Wiranto rajin kampanye di jaringan televisi MNC Group. Iklan kecap politik menjelang pemilihan umum ini memang luar biasa dan sulit dikontrol siapa pun.

Komisi Penyiaran tidak berdaya. Teguran, imbauan, sanksi dan sebagainya tidak pernah mempan. Negara di era reformasi kehilangan kemampuan untuk mengontrol media penyiaran seperti televisi dan radio. Kontras dengan negara Orde Baru yang sangat digdaya.

Kembali ke ARB. Meskipun ketua umum Partai Golkar ini mencitrakan diri sebagai orang yang tahu budaya Jawa, rupanya Pak Ical ini belum paham ungkapan OJO RUMONGSO ISO. Petuah Jawa agar manusia yang njawani atau berbudaya itu harus tahu diri. Harus bisa mengukur diri sebelum melangkah.

Ical rupanya rumongso iso mentang-mentang karena televisinya banyak, pernah jadi orang terkaya di Indonesia, punya Lapindo Brantas yang terkenal itu, punya segalanya. Dengan modal seabreg, Ical rupanya sangat yakin bisa dengan mudah melangkah jadi presiden Republik Indonesia.

Ical alias ARB rupanya tidak sadar bahwa propaganda yang masif di televisi tidak serta-merta ditelan masyarakat yang makin cerdas. Ical tidak sadar bahwa iklan-iklan ARB itu hanya membuat pemirsa televisi seperti saya ini mual. Kecuali orang-orang Golkar dan Lapindo yang sepaham.

Karena itu, tidak heran kalau survei membuktikan bahwa popularitas ARB masih jauh di bawah tokoh-tokoh lain. Tokoh yang menang survei malah tidak pernah beriklan di televisi.

Makanya, ojo dumeh, ojo mentang-mentang! Selesaikan dulu persoalan lumpur di Sidoarjo yang sudah berlangsung tujuh tahun.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

5 comments:

  1. Jangan mau dibodohi Bakrie. Jangan lupa akar kenapa Sri Mulyani diturunkan dari kabinet: 1) Beliau tidak mau memasukkan dana talangan Lapindo ke dalam APBN sebagai bencana alam, karena memang Lapindo yang salah ngebor, kok enak aja pembayar pajak harus menanggung. 2) Beliau tidak mau lelah menagih tunggakan pajak Bakrie group yang ratusan milyar. Maka Golkar sebagai tunggangan politik Bakrie di DPR, disuruh lah bikin dagelan politik, bikin kasus bank Century lah yang gak ada juntrungan. Begitu Sri Mulyani mundur dan jadi Wapres Bank Dunia, mana kasusnya?

    Jadi jangan lupakan dan sebarkan, Aburizal Bakrie ialah pencoleng negara dan pembuat sengsara ribuan rakyat Jawa Timur. Jangan pilih Golkar apalagi Aburizal Bakrie yang menjijikkan.

    ReplyDelete
  2. ingat ARB ingat lumpur lapindo!!!!
    susah ngomongin si ARB itu.

    ReplyDelete
  3. Lebih baik si ARB ini jadi Presiden Republik Lapindo saja. Nanti habis pelantikan ditenggelamkan ramai ramai di kolam lumpur Lapindo.

    ReplyDelete
  4. ARB wani kampanye nang Surabaya, todhik tompes, nak kanak!

    ReplyDelete