19 September 2013

Diet puasa ala Deddy Corbuzier

Begitu banyak orang yang kelebihan berat badan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Karena itulah, buku-buku diet dan kiat menguruskan badan pun menjamur di toko buku.

Artikel-artikel diet di koran, majalah, internet sangat populer. Diet apa saja dibaca kemudian coba dijalani kemudian gagal karena memang tidak mudah. Mengubah gaya hidup dan pola makan tak gampang di era sekarang. Program makan enak atau kuliner di televisi sangat menggoda selera.

Buku-buku diet cenderung bertentangan satu sama lain. Ahli gizi menganjurkan agar kita wajib sarapan. Makan pagi untuk energi awal hari itu. Kini Deddy Corbuzier muncul dengan diet ala biksu Shaolin yang melarang sarapan. Makan pagi dianggap tidak ada manfaatnya. Bungung kan?

"Tidak makan pagi lebih baik dibanding tidak makan malam. Sarapan bagus untuk tubuh itu hanya pola pikir yang berkembang di masyarakat," kata si Deddy dikutip majalah Tempo 22 September 2013.

Diet ala Deddy ini intinya puasa setiap hari. Tapi tetap boleh minum air putih. Lama puasa bisa sampai 24 jam. Pediet hanya boleh makan saat jendela makan tiba. Kita bisa memilih pola 16, 18, 20, atau 24 jam.

Deddy sendiri memakai pola puasa 20 jam. Artinya, dia hanya boleh makan sepanjang durasi empat jam itu saja. "Saya buka puasa jam tiga sore," katanya.

Setelah jam tujuh malam tak boleh ada lagi asupan makanan ke dalam mulutnya kecuali air putih, teh, atau minuman tak berkalori.

"Jika tidak ada makanan yang masuk, otomatis lemak di dalam tubuh yang dibakar," kata Deddy yang mengunggah buku elektronik dietnya di internet.

Diet ala Deddy Corbuzier ini jelas memicu polemik di kalangan pakar kesehatan. Khususnya soal sarapan dan puasa yang terus-menerus.

Tapi barangkali kita bisa mengambil jalan tengahnya saja. Misalnya puasa pada pukul 18.00 hingga 07.00. Alias tidak makan malam sama sekali agar pembakaran lemak di dalam tubuh bisa lebih lancar.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Mayoritas rakyat Indonesia itu masih kurang gizi. Yang kelebihan gizi hanya yang di kota besar dan yang penghasilannya tinggi. Sebenarnya tidak perlu diet kalau pola makan sehat: makan sampai kenyang, tapi tidak sampai terlalu kenyang. Makan sering dalam jumlah kecil lebih bagus daripada makan jarang dalam jumlah besar. Makan sayur yang banyak, atau yang dari bahan sayuran. Makan daging (sapi, ayam, babi) seminggu cukup 2x saja. Ingat, kakek nenek kita makan daging hanya pada saat hari raya saja, lha kita sekarang makan daging tiap hari, ya pantes aja banyak penyakit. Jangan makan gorengan tiap hari, begitu juga gula. Jaman dulu orang gak makan gula tiap hari, hanya kalau ada perayaan atau hari raya. Lha sekarang tiap hari minum gula. Terakhir: gerak badan. Dulu papa mama kita ke-mana2 naik sepeda, jalan kaki naik turun trem. Sekarang semua orang naik motor dan mobil. Tidak ada gerak badan. Apapun kalau terlalu ekstrem termasuk diet itu hasilnya tidak bagus, bikin shock buat tubuh kita.

    ReplyDelete