03 September 2013

Bila ustad dan pendeta cinta uang

Ustad Solmed jadi buah bibir di internet gara-gara pasang tarif mahal untuk ceramah di Tiongkok, tepatnya Tiongkok. Padahal para TKI yang mengundangnya sudah menyiapkan ongkos pesawat pergi-pulang, akomodasi, konsumsi, dan sebagainya.

Sang ustad pun dinilai mata duitan karena mematok tarif kelewat tinggi. Apalagi jamaahnya warga Indonesia pekerja rumah tangga yang bukan orang kaya. Ustad kok pasang tarif mahal?

Lantas, berapa tarif wajar untuk seorang pencermah? 

"Harusnya tidak perlu pasang tariflah. Yang wajar saja tergantung kemampuan pengundang," kata HM Handoko, penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sidoarjo kepada saya.

Orang Islam, menurut Handoko, sangat paham berapa tarif yang pantas untuk seorang penceramah. Sang ustad pun sudah tahu bahwa dia bekerja untuk dakwah, bukan bisnis atau jualan barang. Karena itu, Handoko sangat tidak setuju dengan ustad-ustad yang pasang tarif.

"Kalau mau benar-benar dakwah ya jangan pasang tarif. Yang penting transportasi dan penginapan dijamin panitia," kata Handoko yang kerap mengundang ustad-ustad terkenal untuk ceramah di Sidoarjo.

Sebagai pengusaha sukses, setahu saya Handoko selalu membayar ongkos ceramah sang ustad dengan nilai jauh lebih tinggi dari rata-rata. Penceramah pemula pun dia bayar mahal. "Itu cara kita untuk mendukung kegiatan dakwah."

Karena itu, Handoko geram ketika mendengar pendakwah langganannya mulai jual mahal atau pasang tarif. Kalau tidak dibayar sekian dia tak mau datang. "Saya sedih sekali kok ustad itu meminta tarif yang mahal ketika diundang komunitas kurang mampu," katanya.

Dari diskusi ringan dengan tokoh Islam Tionghoa di sebuah restoran di dekat Hotel Sommerset Surabaya ini sadarlah saya bahwa sejumlah ustad alias mubaligh alias dai di Indonesia sudah terjangkit penyakit penginjil-penginjil sukses. Misionaris golongan ini memang sejak dulu sudah pasang tarif minimal untuk bicara satu jam lebih sedikit.

Makin ngetop si pendeta atau evangelis, makin mahalnya tarifnya. Fee atau tarif ini dibungkus dengan istilah persembahan kasih atau berkat Tuhan. Di lingkungan Kristen evagelis alias gereja-gereja Haleluya sudah lama terjadi inflasi kata berkat berkat berkat berkaaaattt....

Kalau Anda mendengar kata-kata 'pendeta itu sungguh diberkati', itu maksudnya si pendeta itu mendapat banyak sekali uang persembahan kasih. Alias tarifnya mahal. Orang yang tidak punya uang alias miskin disebut sebagai orang yang tidak diberkati.

Fenomena penginjil-penginjil sukses ala Amerika ini sangat terbalik dengan misionaris-misionaris zaman dulu yang merintis pekabaran Injil di Indonesia. Mereka benar-benar bekerja untuk mengembangkan kebun anggur Tuhan. Sama sekali bukan mencari uang untuk diri sendiri dan keluarganya.

Alih-alih membayar pendeta, para pendeta zaman dulu yang malah mengusahakan berbagai fasilitas di pelosok-pelosok NTT seperti air bersih, obat-obatan, alat tulis, hingga pakaian anak-anak. Misionaris-misionaris lama pula yang berjuang keras untuk memperbaiki gereja atau membangun gereja baru.

Rupanya zaman sekarang rohaniwan kita sudah terbalik-balik. Sudah pasang tarif layaknya penyanyi atau pemain band profesional. Tidak heran saat ini kita semakin sulit menemukan misionaris idealis yang berkarya di pelosok-pelosok Indonesia.

Jangan lupa pesan kitab suci: "Cinta uang adalah akar segala kejahatan!"

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. Betul sekali Pak, mungkin awalnya murni ceramah, lama-lama ketergantungan terhadap uang ...

    ReplyDelete
  2. ustad2 n pendeta2 perlu bertobat... jangan cuman bisa khotbah doang!!!

    ReplyDelete
  3. Bung Hurek, Khan ada ungkapan: Belajarlah dari negeri China.
    Nah, seharusnya kita bertanya kepada pendeta2-, penginjil2- Haleluya:
    Kalau gua sudi datang mendengarkan ceramah- atau khotbah-lu, apakah gua dapat nasi-bungkus dan es shanghai gratis ?
    Cara itulah yang dipakai oleh orang2 Tiongkok, jika mereka diminta untuk mendengarkan ceramah para penginjil, sehingga penginjil2 memaki orang China sebagai Reiskristen. Kristen-Nasi !
    Kalau KBRI mengadakan acara resmi, para ibu-ibu Darma-Wanita juga menyediakan hidangan khas Indonesia, supaya kita para mahasiswa mau datang mendengarkan pidato Pak Dubes.
    Bukan Ustad2 dan Pendeta2 yang perlu bertobat, melainkan kita yang harus pakai otak, jangan hanya disimpan didengkul.

    ReplyDelete
  4. duit duit duit... memang dicari semua orang selagi masih hidup.

    ReplyDelete