30 September 2013

Bendera setengah tiang peringati G30S PKI




Pada 30 September 2013 ini saya ingat eyang putri. Almarhumah paling semangat memasang bendera setengah tiang di halaman rumah. Padahal rumah-rumah lain di RT 4 nyaris tak melaksanakan ritual tahunan ini sejak Orde Baru tumbang.

Pak RT dan Pak RW pun tak mengeluarkan surat edaran ihwal peringatan peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu. Beda dengan masa Orde Baru ketika seluruh rakyat mulai SD hingga lanjut usia diindoktrinasi tentang betapa kejamnya PKI. Film Pengkhianatan G30S PKI diputar setiap tahun.

Saya masih ingat dulu kami, pelajar di Flores, diwajibkan menonton film itu di lapangan. Layar tancap. Tiap tahun film propaganda itu diputar. Dan wajib ditonton. Lalu membuat karya tulis tentang kekejaman PKI yang sangat luar biasa.

Ketika masih hidup eyang sering bertanya kepada saya mengapa masyarakat sekarang tak mau pasang bendera setengah tiang 30 September. Apakah mereka lupa kekejaman PKI? Bukankah PKI itu musuh abadi republik ini?

Tidak mudah menjawabnya. Sebab eyang tidak tahu kalau sejak reformasi sudah banyak buku dan tulisan kritis membahas G30S. Buku putih versi Orde Baru sudah sering dibantah atau diluruskan. Dus, peristiwa Gestok itu sekarang tidak satu versi tapi macam-macam.

Saya tak berani meminjamkan buku-buku versi tandingan itu kepada eyang. Sebab saya tahu eyang dulu ikut memimpin barisan sukarelawati anti-PKI di Surabaya.  Saat itu aksi mengganyang PKI dan ormas-ormasnya sedang membara di republik ini.

"Lihat ini, eyang di depan," kata eyang menunjuk foto hitam putih barisan sukwati di Gunungsari, Surabaya, 1966.

Berseragam doreng ala tentara, para wanita pada waktu itu getol melakukan aksi pengganyangan PKI dan ormas-ormasnya. Sejak melihat foto lama itu, saya pun bisa mengerti mengapa eyang sangat membenci PKI dan ideologi komunisme. Beliau pun paling rajin mengibarkan bendera setengah tiang setiap 30 September, pasang bendera penuh pada 1 Oktober memperingati kesaktian Pancasila. 

Kini, eyang tak ada lagi di dunia. Tapi saya ingin mengenang beliau dengan mengibarkan bendera setengah tiang di halaman rumah. Walaupun saya tahu belum ada satu pun tetangga di RT 4 yang memasang benderanya. Termasuk Pak RT yang pensiunan tentara hehehe....


Salam Pancasila! Semoga masih SAKTI mandraguna!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. Nenek bung Lambertus orang Jawa kah, kok memanggilnya dengan sebutan Eyang Putri?

    ReplyDelete
  2. di florestimur nenek dan kakek disapa NENE. tidak dibedakan laki perempuan. biasanya anak kecil panggil nene mama utk nenek dan nene bapa utk kakek.

    sejak di jawa timur saya punya beberapa "nenek angkat" alias eyang krn mereka jadi guru bahasa krama inggil. beberapa eyang kesepian krn anak2nya kerja jauh di kota lain. makanya saya malah sering dianggap cucunya hehehe

    maturnuwun sudah baca dan komen soal eyang putri itu.

    ReplyDelete
  3. Sekarang sudah tidak diputar lagi ya filmnya bang? Padahal saya ingin lihat gimana film itu. Gimana sih kekejaman PKI dulu, saya pengen tahu. :(

    ReplyDelete
  4. Ber-ribu2 maaf Mas Hurek, jika Anda sudah memahami sejarah G-30-S yang sebenarnya ( konspirasi para Nekolim ), saya rasa
    tidak elok, jika kita masih tetap mengibarkan bendera setengah tiang. Saya sangat mengerti betul, maksud Bung Hurek, yaitu setengah guyonan, orang Jerman mengatakan Gefuehlsduselei.
    Dipesawat saya pernah minta majalah Der Spiegel dari pramugari, didalam majalah ada satu Artikel tentang pembunuhan 6 juta orang Yahudi waktu zaman Hitler.
    Si-pengarang seorang sejarahwan muda bangsa Jerman, dia tidak bisa mengerti, mengapa bangsa Jerman, ( hampir semuanya ), bisa sedemikian buas, waktu itu, secara aktiv atau passiv, ikut2-an membantai orang yang tak bersalah.
    Saya seorang pengagum mantan Kanselir Jerman, Helmut Schmidt, beliau selalu mengingatkan kepada rakyat Jerman, untuk tidak melupakan sejarahnya. Beliau selalu menentang, jika orang2- atau politisi-Jerman yang sekarang sok2-an ber-teriak2
    menggurui bangsa lainnya, terutama di-negara2 berkembang, dalam hal demokrasi dan hak2 asasi manusia.
    Achir tahun 1965 - 1967, getol mengganyang PKI, artinya getol membantai dan memulau Buru -kan jutaan bangsa Indonesia yang belum tentu bersalah atau berdosa, bahkan mungkin tidak bersalah sama sekali.
    Pencucian otak yang dilakukan oleh penguasa atau orang yang menjadi panutan, sangat mengerikan akibatnya.
    Semoga di Indonesia selalu (relativ) tentram seperti 14 tahun achir2 ini. Maaf Bung Hurek. Anda adalah salah satu manusia yang saya tidak berani kritisi.

    ReplyDelete