09 September 2013

Bangsa tempe yang impor tempe

Saya lagi menyimak diskusi pendek soal tempe di Metro TV. Para pembuat tempe mogok kerja di berbagai kota memprotes harga kedelai yang makin gila-gilaan. Seiring melemahnya rupiah, impor kedelai jelas ikut mahal pula.

Begitulah. Sudah lama sekali Indonesia mengimpor bahan-bahan makanan seperti kedelai, beras, jagung, buah, bahkan garam. Sudah lama sekali klaim kita sebagai negara pertanian, agraris, terpatahkan. Negara agraris kok impor beras, jagung, kedelai... dan hampir semua bahan makanan yang dibutuhkan industri makanan.

Teman sekaligus guru jurnalistik saya, Khudori, sedang jadi narasumber di Metro TV. Wow, rupanya mantan pentolan HMI ini sudah jadi pengamat dan analisis pertanian tingkat nasional. Cara bicaranya tetap runut dengan logat khas Lamongan. Yang pasti, Khudori makin pakar dalam membedah persoalan pertanian di Indonesia.

Khudori mengatakan, sebenarnya Indonesia punya kedelai lokal yang lebih bergizi dan enak ketimbang kedelai impor. Hanya saja, ukurannya kurang besar dan tidak seragam. Ini membuat perajin tempe dan tahu kesulitan menjadikannya bahan baku tempe. Hasil tempenya pun lebih menarik kalau pakai kedelai impor.

Lantas, mengapa kita tidak membudidayakan kedelai varietas bagus untuk bahan tempe industri? Bukankah tanah dan iklim kita cocok untuk tanaman polong seperti ini?

Hehehe.... Saya kira Mas Khudori paling tahulah soal ilmu tanah, pemuliaan tanaman, budidaya, hama penyakit, hingga sosial ekonomi pertanian. Maklum, Mas Khudori itu salah satu lulusan terbaik Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Dulu, universitas di kawasan timur Jawa Timur itu berhasil mengembangkan kedelai edamame untuk konsumsi orang Jepang. Persyaratan tumbuh kembang edamame jelas jauh lebih sulit ketimbang kedelai impor untuk bahan baku tempe.

Kalau kedelai edamame saja bisa sukses, masak kedelai biasa tidak bisa? Kampus-kampus yang punya fakultas pertanian di Indonesia seperti IPB, Brawijaya, UGM, atau Universitas Jember bisa melakukannya dengan mudah. Sejak dulu kita punya begitu banyak insinyur, doktor, profesor di bidang pertanian.

Jangan lupa Presiden Susilo BY itu seorang doktor pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor dengan spesialisasi sosial ekonomi pertanian. Doktor SBY pasti tahu persis persoalan pertanian di Indonesia, khususnya masalah pertempean dan perberasan.

Kita tunggu aksi nyata sang doktor pertanian yang sedang menjadi orang pertama di Republik Impor ini. Merdeka!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

4 comments:

  1. saat ini yang menjadi masalah adalah sumber masalah yang kompleks, sulitnya impor karena naiknya dollar, pengadaan dalam negeri terhambat bahan baku lokal yang tidak tersedia, birokrasi yang rumit, dan berbagai sumber masalah lainnya, komentar balik ya ke blog saya www.goocap.com

    ReplyDelete
  2. Sundul Gan, baru sekarang ini, tepatnya di tahun 2013, para pengusaha tahu dan tempe pada demo selama 3 hari.

    ReplyDelete
  3. kedele memang jadi masalah serius karena menyangkut ketahanan dan kedaulatan pangan. gimana pemerintah menyikapi ini dgn impor pangan atau????

    ReplyDelete
  4. Mengapa kita menjadi bangsa yang pelupa ? Tigapuluh tahun silam kita punya seorang menteri yang jenius, beliau tidak mau bangsa Indonesia menjadi petani, biarlah bangsa lain yang agraris. Visi beliau, Negara Indoneisa harus menjadi negara industri bukan lagi negara agraris.
    Tak jemu-jemunya beliau ceramah tentang Wertschoepfung, value added.
    Kita harus bikin pesawat, yang Wertschoepfung-nya ratusan kali lipat daripada nanam kedelai, beras, jagung, buah, lombok, atau membikin garam sendiri.
    Jika kita bertanya kepada seorang Indonesia; Pak apa pekerjaan bapak ?
    Jawabannya malu-malu; kulo wong cilik, cuma petani !
    Kalau di Eropa, seseorang dengan bangganya menyebut dirinya seorang Bauer ( petani ).

    ReplyDelete