30 September 2013

Bendera setengah tiang peringati G30S PKI




Pada 30 September 2013 ini saya ingat eyang putri. Almarhumah paling semangat memasang bendera setengah tiang di halaman rumah. Padahal rumah-rumah lain di RT 4 nyaris tak melaksanakan ritual tahunan ini sejak Orde Baru tumbang.

Pak RT dan Pak RW pun tak mengeluarkan surat edaran ihwal peringatan peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu. Beda dengan masa Orde Baru ketika seluruh rakyat mulai SD hingga lanjut usia diindoktrinasi tentang betapa kejamnya PKI. Film Pengkhianatan G30S PKI diputar setiap tahun.

Saya masih ingat dulu kami, pelajar di Flores, diwajibkan menonton film itu di lapangan. Layar tancap. Tiap tahun film propaganda itu diputar. Dan wajib ditonton. Lalu membuat karya tulis tentang kekejaman PKI yang sangat luar biasa.

Ketika masih hidup eyang sering bertanya kepada saya mengapa masyarakat sekarang tak mau pasang bendera setengah tiang 30 September. Apakah mereka lupa kekejaman PKI? Bukankah PKI itu musuh abadi republik ini?

Tidak mudah menjawabnya. Sebab eyang tidak tahu kalau sejak reformasi sudah banyak buku dan tulisan kritis membahas G30S. Buku putih versi Orde Baru sudah sering dibantah atau diluruskan. Dus, peristiwa Gestok itu sekarang tidak satu versi tapi macam-macam.

Saya tak berani meminjamkan buku-buku versi tandingan itu kepada eyang. Sebab saya tahu eyang dulu ikut memimpin barisan sukarelawati anti-PKI di Surabaya.  Saat itu aksi mengganyang PKI dan ormas-ormasnya sedang membara di republik ini.

"Lihat ini, eyang di depan," kata eyang menunjuk foto hitam putih barisan sukwati di Gunungsari, Surabaya, 1966.

Berseragam doreng ala tentara, para wanita pada waktu itu getol melakukan aksi pengganyangan PKI dan ormas-ormasnya. Sejak melihat foto lama itu, saya pun bisa mengerti mengapa eyang sangat membenci PKI dan ideologi komunisme. Beliau pun paling rajin mengibarkan bendera setengah tiang setiap 30 September, pasang bendera penuh pada 1 Oktober memperingati kesaktian Pancasila. 

Kini, eyang tak ada lagi di dunia. Tapi saya ingin mengenang beliau dengan mengibarkan bendera setengah tiang di halaman rumah. Walaupun saya tahu belum ada satu pun tetangga di RT 4 yang memasang benderanya. Termasuk Pak RT yang pensiunan tentara hehehe....


Salam Pancasila! Semoga masih SAKTI mandraguna!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Romo Albert Nampara SVD Blusukan di Swiss


Suasana perayaan ekaristi atau misa di Gereja Katolik Yohanes Pemandi, Wonokromo, Minggu (29/9), kian meriah dengan kehadiran Romo Albert Nampara SVD. Pastor asal Manggarai, Flores, ini tengah berlibur ditanah air setelah bertugas selama 10 tahun di Swiss.

Saat khotbah, Romo Kris Kia Anen SVD selaku kepala Paroki Wonokromo memberi kesempatan kepada Romo Albert Nampara SVD untuk berbagi pengalaman bertugas di negara penghasil keju dan arloji terkemuka di Eropa itu.

Romo yang suka humor ini mula-mula mengaku terkejut dan bangga melihat gereja-gereja di Indonesia selalu penuh dengan umat. Bahkan, tidak sedikit umat yang terpaksa duduk atau berdiri di luar gereja hingga misa selesai.

"Di Swiss, gerejanya besar, tapi kosong. Umat Katolik yang misa setiap hari Minggu hanya orang-orang lanjut usia saja. Mereka terlalu sibuk dengan urusan duniawi, sehingga tidak punya waktu untuk datang ke gereja," tutur Romo Albert yang bertugas di Paroki Santo Yohanes, kawasan Menzingen, Swiss.

Karena itu, pastor yang piawai bermain sejumlah alat musik ini mengaku lebih banyak bergaul dengan para lansia. Setiap hari dia berkeliling ke rumah-rumah para lansia yang kesepian. Tak ada anak, cucu, atau keluarga dekat yang menengok para jompo itu.

"Saya menjadi teman curhat mereka. Begitu banyak keluhan yang mereka sampaikan. Dan itu menjadi masalah serius di Eropa," katanya.

Saking frustasinya para lansia di rumah-rumah jompo, menurut Romo Albert, tak sedikit warga senior itu yang menyesal menikah dan punya anak. "Kalau tahu menjalani hari tua seperti ini, lebih baik dulu tidak menikah dan punya anak," tuturnya disambut tawa ratusan jemaat.

Romo Albert pun berpesan kepada warga Indonesia, khususnya Surabaya, agar tidak menitipkan orang tuanya di panti jompo. Sebab, para lansia itu umumnya sangat menderita karena merasa disia-siakan oleh anak cucunya.

"Usahakan untuk mengurus orang tua kalian sendiri. Berikan cinta yang tulus untuk mereka hingga dipanggil Tuhan," katanya serius.

Selain rutin mendampingi lansia, Romo Albert pun berusaha merangkul anak-anak muda agar mau ke gereja. Di negara sekuler yang sangat demokratis dan liberal seperti Swiss jelas tidak gampang. Akhirnya, Romo Albert menemukan akal. Dia blusukan ke mana-mana untuk mencari anak-anak muda yang mau berlatih main musik.

Dari situ terbentuklah sebuah orkes musik orang muda Katolik. Romo Albert sendiri selain menjadi pembina, juga menjadi pemain saksofon, harmonika, hingga gitar. Nah, ketika persiapan latihan sudah matang, Romo Albert kemudian mengadakan konser di gereja. Hasilnya luar biasa. Gereja yang biasanya kosong, kalau ada orkes musik itu, jadi penuh.

"Sebab, para orang tua dan kenalan anak-anak itu pun ramai-ramai datang ke gereja untuk menikmati permain musik anak-anak muda itu. Jadi, tujuan utama mereka ke gereja itu bukan untuk misa, tapi melihat pertunjukan musik," ujar Romo Albert seraya tersenyum.

Jika tidak ada pergelaran musik, gereja pun sepi kembali. Jemaat yang ikut misa mingguan tetap saja para lansia yang sudah menganggap Romo Albert sebagai anak/cucunya sendiri."Jadi, di gereja paroki saya di Swiss itu anak-anak muda hanya datang ke gereja enam kali setahun. Sebab, saya memang mengadakan konser enam kali setahun. Lumayan, daripada mereka tidak ke gereja sama sekali," tutur alumnus Seminari Tinggi Ledalero, Flores, ini.

Meski hampir tak pernah gereja, menurut Romo Albert, umat kristiani di Swiss sangat memaksakan kehendak kepada pastor, bahkan uskupnya. Mereka tak segan-segan menolak pastor atau uskup yang dianggap kurang sesuai dengan selera mereka. Ini karena mereka sudah membayar pajak gereja.

"Makanya, pastor seperti saya harus siap setiap saat untuk memimpin upacara pemakaman umat yang seumur hidupnya tidak pernah ke gereja," tutur Romo Albert kembali disambut tawa umat Paroki Wonokromo.

Di akhir misa, sekitar pukul 07.15, Romo Albert memperlihatkan kepiawaiannya bermain saksofon. Dua lagu dimainkan pastor yang mengaku tak bisa menyanyi karena suaranya fals, yakni Amazing Grace dan Ave Maria. Umat pun bertepuk tangan usai sang pastor menyelesaikan lagu rohani kondang itu.

"Kita doakan semoga Romo Albert tetap melayani umat dengan penuh semangat dan cinta di negeri Swiss," kata Romo Vitalis SVD yang mengantar Romo Albert ke Surabaya. (rek)

28 September 2013

Pelajaran Jurnalistik di SMA Al-Islam Krian Sidoarjo



Minat remaja terhadap jurnalistik ternyata cukup tinggi. Ini terlihat saat pelatihan jurnalistik dasar di SMA Al-Islam Krian, Sidoarjo, Jumat 27 September 2013.

Saya ikut menjadi pemateri bersama Muhammad Fail, wartawan senior yang sudah 23 tahun berkecimpung di Jawa Pos Group. Berbeda dengan pelatihan di sekolah-sekolah lain yang pesertanya banyak, ratusan, di Yapalis Krian ini hanya 30an peserta.

Namun justru sangat fokus karena mereka benar-benar meminati jurnalisme. Mereka sedang dipersiapkan pihak sekolah untuk mengelola majalah sekolah. Yakni majalah cetak, majalah dinding, dan website sekolah.

Pihak sekolah memberi perhatian serius terhadap pengembangan media sekolah. Mereka ingin para siswa bisa membuat majalah bagus yang bisa dibaca 1766 siswa (total siswa SMA Al Islam), orang tua murid, komite sekolah, dan masyarakat umum. Ini penting karena Al Islam tergolong sekolah terkenal di kawasan Krian dan sekitarnya.

Saya sempat mengevaluasi tulisan berita peserta pelatihan yang hampir semuanya wanita. Laki-laki hanya dua orang. Seperti jurnalis pelajar umumnya, mereka kesulitan membuat berita yang agak panjang karena kurang bahan. Sumber yang diwawancarai tidak ada. Mereka hanya menulis berdasar observasi atau pengalaman langsung saja.

Tapi saya juga terkejut membaca tulisan empat atau lima pelajar kelas satu dan dua SMA itu yang sangat bagus. Tulisan seorang siswi bahkan pressklaar alias nyaris tanpa cacat. Tak perlu diedit lagi karena ceritanya runtut, menarik, ada nuansa cerpennya, tak ada kesalahan ketik maupun ejaan.

Gadis bernama Romi ini pun aktif bertanya. Dan pertanyaan-pertanyaannya sudah bukan lagi tingkat SMA melainkan mahasiswi jurnalistik, bahkan wartawan senior. Dia sangat peka bahasa sehingga bisa membedakan gaya penulisan di koran yang langsung, stright news, dengan majalah yang bergaya features.

Berhadapan dengan pelajar-pelajar cerdas SMA Al Islam Krian ini membuat kita jadi terpacu untuk berpikir lebih keras. Tidak asal jawab karena jelas si pelajar itu sudah banyak membaca buku atau informasi di internet. Jawaban yang tidak nyambung hanya akan jadi bahan tertawaan anak-anak muda generasi internet itu.

Saya membayangkan para guru dan dosen saat ini kelimpungan jika menghadapi anak-anak muda kritis dan cerdas ala si Romi di Krian itu. Guru saat ini harus lebih rendah hati, tidak sok tahu, karena bisa saja peserta didiknya sudah banyak tahu.

Ada juga siswi yang bertanya enak tidak enaknya jadi wartawan?

Hehehe.... Kalau soal itu Pak Fail saja yang bicara."Enaknya banyak tapi enggak enaknya juga buanyaaak," kata wartawan senior yang dijuluki penguasa Tanjungperak ini.

Tak sedikit wartawan dikriminalisasi, rumahnya dirusak, diteror, diperlakukan sewenang-wenang karena beritanya tidak disukai pihak tertentu. Di masa Orde Baru, Fail mengaku beberapa kali mendapat sanksi gara-gara beritanya menyinggung keluarga Cendana.

"Itu memang risiko jadi wartawan," katanya.

26 September 2013

Jamaah Calon Haji vs Calon Jamaah Haji

Orang yang akan menunaikan ibadah haji kita sebut calon haji. Meskipun kita tahu beberapa di antaranya sudah sering naik haji. Dulu, ketika belum ada kuota, H Ali di Jember setiap tahun pasti naik haji. Dia memang tuan tanah yang sangat kaya.

Karena calon haji itu banyak (tak mungkin naik haji sendiri), maka mereka disebut JAMAAH alias JEMAAH. Bisa juga disebut JEMAAT karena akar katanya sama-sama bahasa Arab. Anehnya, JEMAAT biasanya hanya digunakan di lingkungan kristiani di Indonesia.

Lengkapnya: JAMAAH CALON HAJI. Kalau mau disingkat menjadi JCH.

Lantas, mengapa kita sering membaca atau mendengar istilah CALON JAMAAH HAJI alias CJH?

CJH itu istilah lawas, salah kaprah, yang dulu dipakai di berbagai media massa pada era Orde Baru. Istilah keliru, tapi karena dipakai ribuan kali, akhirnya dianggap benar.

Istilah CALON JAMAAH dalam konteks ini keliru karena rombongan yang berkumpul di Asrama Haji Sukolilo itu jelas banyak sehingga layak disebut jamaah. Mereka bukanlah calon jamaah, melainkan CALON HAJI. Lengkapnya: JAMAAH CALON HAJI.

Usai menjalankan ritual hukum kelima Islam ini, maka rombongan jamaah itu pun sah menyandang gelar HAJI dan HAJAH. Maka, kata CALON hilang, berubah menjadi JAMAAH HAJI.

Logika bahasanya sangat sederhana. Berangkat sebagai JAMAAH CALON HAJI dan kembali ke tanah air sebagai JAMAAH HAJI.

Bagaimana dengan orang yang sudah mendaftar di kementerian agama, tapi belum dapat giliran berangkat?

Jelas belum bisa disebut calon haji. Mereka masih dalam kategori BAKAL CALON HAJI.

Disebut bakal calon karena peluang untuk tidak berangkat ke Makkah sangat besar. Apalagi kuota dikurangi cukup banyak oleh pemerintah Arab Saudi karena ada pembangunan di tanah suci.

Yang layak disebut calon haji hanya mereka-mereka yang sudah dapat kepastian berangkat satu dua bulan lagi oleh jawatan haji kemenag. Lebih afdal lagi, mereka-mereka yang dikumpulkan di alun-alun untuk dilepas secara resmi oleh bupati menuju Sukolilo sebelum terbang dengan Saudi Airlines ke tanah suci.

Bagaimana dengan tetangga saya yang baru dapat kesempatan berangkat lima tahun lagi?

Menurut saya, dia belum bisa disebut bakal calon haji karena masih terlalu jauh hari H pemberangkatan. Kita juga tidak tahu apakah dia masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan dalam lima tahun ke depan. Dia juga jelas belum memenuhi berbagai persyaratan yang diwajibkan bagi seorang bakal calon haji.

Lha, kalau definisi atau batasan bahasa Indonesia terlalu longgar, bisa-bisa semua orang Islam akan disebut bakal calon haji! Bukankah berhaji dan berhajah itu diwajibkan bagi umat Islam yang mampu?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

25 September 2013

Soe Tjen Melawan Kanker dengan Buku

 

Melihat aktivitasnya yang seabreg, tak ada yang menyangka kalau Soe Tjen Marching PhD (42) pernah terserang kanker. Penyakit ganas itu bahkan menyerang wanita kelahiran Surabaya, 23 April 1971, itu selama empat kali berturut-turut.

Hebatnya, justru setelah mengidap kanker itulah, So Tjen makin produktif menulis buku, menerbitkan majalah, mengelola komunitas Bhinneka, mengelola sekolah, hingga mengisi seminar dan diskusi di berbagai kota di dalam dan luar negeri.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Soe Tjen Marching di kediamannya, kawasan Putroagung, Surabaya, Sabtu (21/9/2013).

Anda sekarang sudah benar-benar sehat?

Dibilang sehat ya sehat, karena saya bisa beraktivitas seperti biasa. Saya baru keliling beberapa daerah seperti Malang, besok ke Jogjakarta, kemarin memutar film Jagal dilanjutkan diskusi bareng. Tapi, yang namanya bibit-bibit kanker itu ya masih ada di dalam tubuh saya. Sebab, kanker itu tidak bisa dimatikan sama sekali. Ia hanya bisa ditidurkan.

Lantas, bagaimana menjaga agar si kanker itu tidak bangun?

Yah, saya harus menjaga asupan makanan. Harus banyak makan sayur-sayuran dan buah. Kita harus bersyukur karena Indonesia ini gudangnya makanan sehat. Sayur-sayur di sini sangat murah. Di London, Inggris, harga sayur seperti terong itu sama dengan daging, bahkan lebih mahal. Saya juga harus selalu minum obat-obatan yang diresepkan dokter saya di Inggris sana. Kemudian, saya harus kontrol ke rumah sakit enam bulan sekali.

Bagaimana ceritanya Anda pertama kali terdeteksi mengidap kanker?

Tahun 2002, ketika saya masih tinggal di Australia, dokter mendiagnosis bahwa saya terkena kanker tiroid. Penyakit itu mengganggu saluran pernapasan dan pita suara saya. Saya menjalani operasi dan radioterapi di Melbourne, dan berhasil. Tapi suara saya menjadi serak-serak seperti sekarang. Agak beda dengan suara saya yang dulu. Sampai sekarang pun saya merasa tidak enak kalau berbicara terlalu banyak. Sebagai dosen, saya sempat khawatir jadi bisu total, tidak bisa bicara. Syukurlah tidak terjadi.

Selanjutnya?

Hanya berselang satu tahun, 2013, saya kembali terkena kanker tiroid masih di Australia juga. Syukurlah, di Australia dan Inggris, seperti yang saya alami, masyarakat bisa berobat di rumah sakit secara gratis. Saya pun berobat secara cuma-cuma. Saya hanya membayar obat-obatan dan beberapa macam tes laboratorium. Saya bermimpi, sistem jaminan kesehatan seperti di negara-negara maju ini bisa diterapkan di negara kita. Di Indonesia, orang yang terkena kanker bisa bangkrut atau benar-benar 'kanker', kantong kering. Setelah sembuh, saya bersama suami pindah ke London, September 2004.

Kanker tiroid itu sembuh?

Tidak. Tahun 2005 saya terserang lagi di London. Saya ditangani seperti di Australia dulu. Semua pengobatannya gratis. Sistem jaminan sosialnya lebih bagus lagi ketimbang Australia. Hanya saja, kita perlu lebih bersabar menunggu giliran untuk ditangani. Beda dengan orang kaya yang punya asuransi khusus. Mereka membayar mahal sehingga bisa segera ditangani.

Anda bisa beraktivitas biasa setelah beberapa kali terkena kanker tiroid itu?

Ya, biasa saja, cuma perlu menjaga makanan dan banyak istirahat. Sejak itulah saya berpikir saya harus mengisi hidup ini dengan berbuat sesuatu yang bermafaat bagi banyak orang. Sebab, orang yang terkena kanker itu kan sudah divonis kalau hidupnya tidak akan lama lagi. Akhirnya, saya membentuk komunitas Bhinneka, bikin majalah, untuk mengajak orang Indonesia merayakan keberagaman di antara kita. Kebetulan saya dapat bantuan dari Ford Foundation untuk menggarap beberapa proyek saya di Indonesia, termasuk Surabaya. Saya juga tetap membuat komposisi musik karena saya juga seorang komponis.

Nah, ketika menggarap Bhinneka itu, tahun 2011, tiba-tiba saya lumpuh di Surabaya. Saya tidak bisa jalan sama sekali. Dokter spesialis saraf dan tulang yang saya temui mengatakan, ada dua benjolan di tulang belakang saya. Dan, benjolan itu ada kaitan dengan kanker tiroid yang saya idap sebelumnya. Dokter di Surabaya itu meminta agar saya segera ditangani oleh dokter di London yang selama ini menangani saya. Soalnya, biaya operasi di Indonesia bisa habis Rp 200 juta. Dari mana uang sebanyak itu?

Lantas, Anda berangkat berobat ke London?

Apa boleh buat. Saya naik pesawat pakai kursi roda ke London. Saya masih ingat tanggal 14 Februari 2011, tepat Valentine's Day, saya divonis mengidap kanker ganas. Dokter bilang usiaku paling lama tinggal setahun.

Wow, bagaimana perasaan Anda waktu itu?

Biasa saja, sudah kebal hehehe.... Walaupun dibilang bakal mati tahun depan, saya biasa-biasa saja. Waktu kena kanker pertama dan kedua, saya memang takut, cemas. Ketiga kali sudah biasa, keempat kali biasa aja. Yang paling khawatir justru ibu dan suami saya. Ibu saya bahkasi.

Nah, ternyata diagnosis dokter yang mengatakan kanker ganas itu dibantah oleh dokter yang lain. Katanya, kanker biasa, cuma ada risiko kelumpuhan kaki kanan 30 persen. Saya antre dua minggu untuk operasi sebelum ditangani dokter terbaik kedua di Inggris di bidang ini. Satu bulan kemudian saya baru belajar jalan. Kaki kanan seperti hilang. Saya merasa seperti tidak punya kaki lagi. Setelah menjalani latihan beberapa kali, akhirnya saya bisa berjalan normal seperti biasa.

Lantas, apa kegiatan Anda saat ini?

Diskusi, menulis buku, melakukan penelitian, mengajar, bikin komposisi, mengisi seminar di berbagai kota. Mungkin dalam bulan ini buku terbaru saya akan terbit. Judulnya, Kubunuh di Sini. Buku itu tentang pengalaman saya menderita penyakit kanker hingga empat kali. Saya ingin membunuh kanker itu dengan menulis buku serta berbagai aktivitas yang bermanfaat. Saya juga sudah menyiapkan buku untuk kalangan mahasiswa berjudul Logika. Ini penting karena saya melihat sering kali logika atau akal sehat tidak jalan di Indonesia. Pokoknya, masih banyak proyek yang harus saya tangani dalam beberapa bulan ke depan.

Apa saran Anda untuk penderita kanker di tanah air?

Tetap gembira, tetap semangat, optimistis, tenang, tidak usah cemas. Sebisa mungkin mengisi hidup dengan kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak. Perhatikan makanan, istirahat, rajin minum obat, kontrol secara rutin di rumah sakit. Kanker itu bisa ditidurkan kok. (*)  

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu, 23 September 2013

24 September 2013

Christine Rod dari Swiss ke Jogjakarta



Rumput tetangga selalu lebih hijau dan segar. Artis Maudy Ayunda di majalah Tempo menggambarkan Swiss ibarat surga. "Swiss itu gila. Di seberang toko roti ada danau dan pegunungan, juga burung-burung. Itu pemandangan yang luar biasa," kata si artis 18 tahun ini. 

Saya cuma senyam-senyum. Lalu ketawa sendiri ketika membaca kutipan Maudy di Tempo. Bukan apa-apa. Sepuluh menit lalu saya bicara agak panjang dengan Christine Rod, wanita Swiss asal Kota Jenewa, yang sedang mencari rumah di Jogjakarta.

"Saya sudah memutuskan untuk pindah di Jogja sampai seterusnya. Indonesia terlalu indah," katanya.

Guru matematika ini sejak 1980an bolak-balik ke Indonesia. Menjelajah berbagai wilayah dan dia sangat menikmati bumi nusantara. Setiap tahun dia berlibur ke beberapa negara, karena guru di Swiss punya penghasilan melimpah. Tapi menurut dia Indonesia yang paling menarik.

Bingung kan? Maudy dan banyak orang Indonesia memuji negara lain setinggi langit. Tapi Christine yang punya vila di pegunungan Swiss malah keranjingan dengan Indonesia. Bahkan kemudian menikahi Nasrullah, pelukis asal kampung lumpur Lapindo, Sidoarjo, kemudian ingin menghabiskan masa senja di Indonesia.

Meski lebih banyak berlibur di Jawa Timur, sering diskusi dengan saya, Christine dengan tegas memilih Jogja. Mengapa? 

"Aroma budaya Jawanya sangat kental. Dan itu yang membuat saya sangat cocok."

Di Jogja, Christine mengatakan ingin menjalin jaringan dengan komunitas seniman, khususnya seni rupa, karena sejak dulu ia gandrung lukisan. Dia ingin membuka padepokan yang tidak mudah dijangkau seniman.

Sudah dapat tempat? 

"Ada beberapa pilihan, tapi saya masih terus mencari. Karena saya tidak mau sering pindah," katanya.

Orang bule Barat kayak Christine ini sudah lama memberi pelajaran hidup kepada saya. Pelajaran yang berbeda 180 derajat dengan propaganda iklan televisi yang masif di Indonesia. Ketika orang Indonesia tergila-gila dengan pemutih kulit, mbak Christine ini malah ingin kulitnya yang bule itu jadi gelap.

"Orang yang kulitnya gelap itu punya banyak keuntungan di katulistiwa. Orang berkulit gelap itu juga menarik kok," katanya serius.

Mungkin, karena itulah, si Christine ini rela berpacaran jarak jauh dengan Nasrullah yang berkulit gelap, kemudian menikah. Christine pun mengaku senang melihat wajah-wajah manusia Indonesia Timur kayak Papua, Maluku, Flores, Timor... yang gelap. Selera orang memang macam-macamlah!

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Pengusaha Kadin Jatim dan Politik

La Nyalla, Soekarwo, Alim Markus

 Pengusaha yang aktif sebagai pengurus Kamar Dagang dan Industri alias Kadin biasanya sangat aktif berpolitik. Bahkan sepak terjang di jagat politiknya daripada bisnisnya. Maka, jangan heran ketua Kadin Jawa Timur La Nyala Mattalitti sangat aktif berpolitik karena sejak dulu dia ini memang pengusaha yang politikus atau politikus yang pengusaha. 

La Nyalla juga dikenal sebagai tokoh Pemuda Pancasila, pentolan Partai Patriot Pancasila. Karena itu, menjelang pemilihan gubernur Jatim 29 Agustus 2013, La Nyalla aktif kampanye untuk Soekarwo-Saifullah Yusuf.

Lima tahun lalu Nyalla jadi tim sukses Khofifah tapi kemudian menarik diri pada putaran kedua. Dan kalah. "Kali ini jago yang saya dukung menang. Alhamdulillah," katanya.
Ketua Kadin Jatim sebelumnya, Erlangga Satriagung, pun sangat politis. Sempat maju sebagai calon wali kota Surabaya, tapi kalah. Tapi DNA politik Erlangga masih kalah jauh sama La Nyalla.

Para pengusaha Tionghoa biasanya kurang tertarik politik karena trauma masa lalu. Mereka pengusaha murni. Tak begitu mengincar proyek-proyek APBD. Karena itu, mereka cenderung tidak berkepentingan dengan Kadin yang memang sejak dulu diarahkan sebagai wadah pengusaha bumiputra alias yang bukan Tionghoa.

Pengusaha-pengusaha Tionghoa lebih banyak bermain di Apindo alias Asosiasi Pengusaha Indonesia. Alim Markus bos Maspion ketua Apindo Jatim sejak dulu. Apindo pusat dipegang Sofjan Wanandi. Apindo jadi penting dan strategis karena terkait penentuan upah minimum regional.

Membaca kliping koran Jawa Pos lama edisi Kamis 12 Januari 1989, sejumlah nama bersaing memperebutkan posisi ketua Kadin Jatim. Pada 1980an itu Kadin Jatim dijabat TUBAGUS MOCHTAR ATMADJA (kini almarhum).

TB Mochtar bukan pengusaha murni melainkan tentara TNI AD yang dikaryakan untuk mengurus beberapa perusahaan daerah di Jatim. Di antaranya pabrik karet Ngagel, pabrik cat Patna, pabrik asam sulfat, hingga pabrik aki di Sepanjang.

Linggar Mulyono menggambarkan TB Mochtar di Jawa Pos sebagai tokoh blakblakan, terbuka terhadap kritik dan saran. Dia juga dikenal sebagai bapaknya pengusaha Jawa Timur, bukan saja karena usianya 65 tahun (pada 1989), tapi juga sifatnya yang ngemong.

"Dia dekat dengan semua pihak baik kalangan swasta maupun pemerintah. Juga terhadap wartawan dia tidak pernah menolak bila diminta keterangan, bahkan sering kali bicaranya lebih banyak dibanding permintaan," tulis Linggar.

Berpengalaman mengelola berbagai perusahaan daerah, Mochtar kemudian mendirikan PT Sarana Ampuh, perusahaan yang bergerak di berbagai bidang. Mochtar mendirikan PT Sarana Ampuh setelah pensiun.

Begitulah. Kadin, Hipmi, dan sejumlah wadah pengusaha lain sejak awal didesain untuk mencetak sebanyak mungkin pengusaha, enterpreneur, dari kalangan bumiputra. Tapi, kita tahu, orang-orang bumiputra ini lebih gandrung politik ketimbang fokus mengurus bisnis.

Aburizal Bakrie, pengusaha top, pentolan Kadin pusat, pun rupanya belum puas kalau hanya sekadar jadi pengusaha sukses. Dunia politik punya daya pikat luar biasa sehingga dia berjuang habis-habisan agar bisa jadi presiden.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

19 September 2013

Diet puasa ala Deddy Corbuzier

Begitu banyak orang yang kelebihan berat badan di Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Karena itulah, buku-buku diet dan kiat menguruskan badan pun menjamur di toko buku.

Artikel-artikel diet di koran, majalah, internet sangat populer. Diet apa saja dibaca kemudian coba dijalani kemudian gagal karena memang tidak mudah. Mengubah gaya hidup dan pola makan tak gampang di era sekarang. Program makan enak atau kuliner di televisi sangat menggoda selera.

Buku-buku diet cenderung bertentangan satu sama lain. Ahli gizi menganjurkan agar kita wajib sarapan. Makan pagi untuk energi awal hari itu. Kini Deddy Corbuzier muncul dengan diet ala biksu Shaolin yang melarang sarapan. Makan pagi dianggap tidak ada manfaatnya. Bungung kan?

"Tidak makan pagi lebih baik dibanding tidak makan malam. Sarapan bagus untuk tubuh itu hanya pola pikir yang berkembang di masyarakat," kata si Deddy dikutip majalah Tempo 22 September 2013.

Diet ala Deddy ini intinya puasa setiap hari. Tapi tetap boleh minum air putih. Lama puasa bisa sampai 24 jam. Pediet hanya boleh makan saat jendela makan tiba. Kita bisa memilih pola 16, 18, 20, atau 24 jam.

Deddy sendiri memakai pola puasa 20 jam. Artinya, dia hanya boleh makan sepanjang durasi empat jam itu saja. "Saya buka puasa jam tiga sore," katanya.

Setelah jam tujuh malam tak boleh ada lagi asupan makanan ke dalam mulutnya kecuali air putih, teh, atau minuman tak berkalori.

"Jika tidak ada makanan yang masuk, otomatis lemak di dalam tubuh yang dibakar," kata Deddy yang mengunggah buku elektronik dietnya di internet.

Diet ala Deddy Corbuzier ini jelas memicu polemik di kalangan pakar kesehatan. Khususnya soal sarapan dan puasa yang terus-menerus.

Tapi barangkali kita bisa mengambil jalan tengahnya saja. Misalnya puasa pada pukul 18.00 hingga 07.00. Alias tidak makan malam sama sekali agar pembakaran lemak di dalam tubuh bisa lebih lancar.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

18 September 2013

Iklan ARB yang bikin mual

Saat ini di televisi di depan saya Abu Rizal Bakrie untuk kesekian kalinya muncul. ARB ARB ARB... Temanya hari ini tentang kepeduliaan ARB pada guru-guru berpenghasilan rendah.

Sebelumnya ARB digambarkan sebagai tokoh yang dekat dengan orang Jawa dan Madura. Suwe ora jamu.... ARB juga muncul menyampaikan selamat melakukan konvensi untuk Partai Demokrat.

Waduh, televisi-televisi di Indonesia saat ini memang dimanfaatkan pemiliknya untuk kampanye politik. Harrr Tanoe bersama Wiranto rajin kampanye di jaringan televisi MNC Group. Iklan kecap politik menjelang pemilihan umum ini memang luar biasa dan sulit dikontrol siapa pun.

Komisi Penyiaran tidak berdaya. Teguran, imbauan, sanksi dan sebagainya tidak pernah mempan. Negara di era reformasi kehilangan kemampuan untuk mengontrol media penyiaran seperti televisi dan radio. Kontras dengan negara Orde Baru yang sangat digdaya.

Kembali ke ARB. Meskipun ketua umum Partai Golkar ini mencitrakan diri sebagai orang yang tahu budaya Jawa, rupanya Pak Ical ini belum paham ungkapan OJO RUMONGSO ISO. Petuah Jawa agar manusia yang njawani atau berbudaya itu harus tahu diri. Harus bisa mengukur diri sebelum melangkah.

Ical rupanya rumongso iso mentang-mentang karena televisinya banyak, pernah jadi orang terkaya di Indonesia, punya Lapindo Brantas yang terkenal itu, punya segalanya. Dengan modal seabreg, Ical rupanya sangat yakin bisa dengan mudah melangkah jadi presiden Republik Indonesia.

Ical alias ARB rupanya tidak sadar bahwa propaganda yang masif di televisi tidak serta-merta ditelan masyarakat yang makin cerdas. Ical tidak sadar bahwa iklan-iklan ARB itu hanya membuat pemirsa televisi seperti saya ini mual. Kecuali orang-orang Golkar dan Lapindo yang sepaham.

Karena itu, tidak heran kalau survei membuktikan bahwa popularitas ARB masih jauh di bawah tokoh-tokoh lain. Tokoh yang menang survei malah tidak pernah beriklan di televisi.

Makanya, ojo dumeh, ojo mentang-mentang! Selesaikan dulu persoalan lumpur di Sidoarjo yang sudah berlangsung tujuh tahun.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

17 September 2013

Pesta bulan purnama di Surabaya



Seperti tahun-tahun sebelumnya, Kelenteng Sanggar Agung Kenjeran merayakan Tiong Chiu Jie secara meriah. Perayaan bulan purnama khas Tionghoa itu digelar di halaman kelenteng pada Kamis (19/9/2013) malam.

"Tiong Chiu Jie itu selalu diadakan pada malam bulan purnama bulan kedelapan penanggalan Tionghoa. Tiap tahun kita selalu membuat konsep yang berbeda," ujar Soetiadji Yudho, bos PT Granting Jaya, pemilik Sanggar Agung kemarin.

Menurut dia, tahun ini pihaknya mengedepankan festival tari-tarian tradisional dan modern. Aneka tarian nusantara ditampilkan di hadapan jemaat dan pengunjung lainnya. Pergelaran tari-tarian ini juga untuk melestarikan seni budaya Indonesia.

Soetiadji menjelaskan, pesta bulan purnama di Tiongkok sejak dulu selalu dikemas sebagai festival seni budaya. Saat itulah masyarakat yang masih tradisional bisa menikmati hiburan murah dan aneka makanan tradisional. Malam purnama juga jadi ajang perkenalan muda-mudi.

"Kita di Surabaya tentu menyesuaikan dengan kondisi setempat. Tapi intinya kita tetap menampilkan atraksi seni budaya Indonesia," ujarnya.

Pemilik sejumlah hotel di Surabaya ini mengaku tidak lagi mendatangkan artis-artis dari luar negeri, khususnya Tiongkok atau Mongolia. Alasannya, Indonesia sebetulnya punya begitu banyak seni budaya yang bisa ditampilkan saat pesta bulan purnama. "Mendatangkan rombongan seniman dari luar juga ribet dan mahal. Kalau bisa dari dalam negeri, kenapa harus selalu dari Tiongkok?"

Sebelum atraksi seni budaya di kompleks Sanggar Agung, menurut Soetiadji, umat Tridarma lebih dulu mengadakan sembahyang bersama. Saat itulah kue bulan alias tiong chiu pia didoakan sebelum dinikmati atau dibawa pulang. m
Menurut dia, kue bulan atau mooncake memang jajanan khas Tionghoa yang identik dengan perayaan bulan purnama.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Anita Sarawak Tragedi Buah Apel



Tragedi buah apel sudah lama terjadi di Indonesia. Sudah lama apel malang hancur, kalah bersaing dengan apel impor. Apel kita terlalu kecut, lebih cocok untuk membuat cuka ketimbang dimakan segar.

Setiap kali melintas di Malang Raya, dari Singasari hingga Batu saya prihatin melihat tumpukan apel di pinggir jalan. Apel lokal yang murah tapi kurang diminati. Saya pun ingat TRAGEDI BUAH APEL, lagu pop lawas milik ANITA SARAWAK. Rupanya penyanyi asal Singapura ini sudah meramalkan tragedi buah apel di Indonesia sejak 1980an.

Saya sendiri suka lagu yang dipopulerkan kembali di Indonesian Idol itu. Lagu bagus dengan lirik yang puitis. Tapi saya belum pernah melihat dan memutar kaset asli Anita Sarawak.

Baru hari ini 17 September 2013 saya menemukan kaset Anita Sarawak di gudang lama. Wow, ini tho Anita Sarawak yang pernah jadi istri Broery Marantika. Biasa aja, gak cakep, tapi suaranya khas. Lebih cakep Agnes Monica hehehe...

Diproduksi Varia Nada Jakarta, album Anita Sarawak berisi 10 lagu. Musisi pendukung: Harry Anggoman, Liliek, Uce Hudioro, Addie MS, Idham, Johny, Maman. Yang menarik, Broery jadi backing vocal dan menciptakan satu lagu berjudul CERITA.

Dibuka dengan BAWALAH DAKU PERGI, hit TRAGEDI BUAH APEL berada di urutan kedua, kemudian CERITA, SELAMAT TINGGAL dan BULAN PAKE PAYUNG.

Sisi B menampilkan KAULAH SINAR ABADI, BURUH, CINTA KITA, LOVING EYES, SURAT CINTA. Bukan main! Di zaman itu lagu tentang buruh karya Dani Mamesah masuk album biduan terkemuka. Juga lagu daerah Maluku BULAN PAKE PAYUNG.

Retaknya rumah tangga Anita-Broery perlahan membuat keterkenalan penyanyi Melayu Singapura ini merosot. Si Broery yang sempat jadi Broery Abdullah malah kian berkibar setelah kembali ke Indonesia dan menjadi Broery Pesulima.

Sekitar 20 tahun setelah album ini terbit, ramalan Anita Sarawak tentang tragedi buah apel benar-benar terbukti. Kita ke pasar buah di Surabaya dan tak lagi menemukan apel malang.

MUNGKIN KAU BELUM MERASA GELISAH
DAN TERLEPAS DARI RASA RAGU....

16 September 2013

Album SANTAI Rien Djamain

Wah, saya menemukan kaset lama Rien Djamain saat membersihkan gudang lama di Pucangsewu, Surabaya. Ternyata si empunya rumah dulunya suka musik. Banyak kaset artis lawas meski pitanya sudah rusak.

Saya terkesan dengan kaset RIEN DJAMAIN volume 1 bertajuk SANTAI. Musik digarap A Riyanto, komposer top 1970an, kaset terbitan Musica ini berisi 18 lagu. Santai ciptaan Yoel Crizal ini berada di nomor urut satu Side A.

Nama-nama pencipta lagu tak asing lagi di jagat musik pop masa itu. A Riyanto, Johanes Purba, Zaenal Arifin, Surni Warkiman, Wedhasmara, Yahya. Hits maker saat itu Zaenal Abidin menyumbang 5 lagu, A Riyanto satu lagu berjudul Jangan Engkau Nodai.

Saya sendiri hanya tahu Rien Djamain sebagai pelantun lagu-lagu bosas, jazzy ala Indonesia. Lembut suaranya, irama mengalir lembut, asyik. Rien ini angkatan Margie Sieger yang disusul Ermy Kullit, Cici Sumiati, dan sebagainya.

Ireng Maulana juga berhasil mempopulerkan irama bosas ini lewat Rafika Duri dan Harvey Malaiholo. Sayang, musik pelepas penat yang jazzy sudah lama hilang di Indonesia. Di televisi kita hanya menemukan lagu-lagu pop yang seragam. Atau lagu-lagu dangdut koplo dengan busana artis yang serbaminim.

Rien Djamain bagaimanapun juga telah meninggalkan jejak di dunia musik pop Indonesia. Sayang, saya tak punya lagi tape recorder untuk memutar kaset lawas nan berdebu itu. Saat ini kaset dan tape recorder sudah jadi barang antik di era digital dan internet.

BB smartfren gangguan terus

Blackberry memang tengah memasuki usia senja. BB yang awalnya selangit mahalnya kini makin terjangkau. Bahkan lebih murah ketimbang Cross buatan Tiongkok.

Tapi pepatah lama tetap berlaku: Alah membeli menang memakai. Ketika harga sudah kelewat murah, kita pun sadar mutunya seperti apa. Beli murah kok minta yang bagus!

Yang paling fatal BB smartfren yang pakai sistem CDMA. Murah banget tapi hanya bertahan kurang dari satu bulan. Kebiasaan mengetik, menulis naskah pendek untuk blog, pasti sangat terganggu.

Beberapa tombol keyboard yang paling sering dipakai seperti A, titik, koma... tidak bisa melenting. Mengetiknya jelas tidak asyik lagi. Baterainya tidak tahan satu hari. Padahal Huawei saya, smartphone dari Tiongkok, tahan 50 jam.

Yang paling menjengkelkan adalah jaringannya yang lelet. Kita hanya bisa menikmati telepon biasa, bukan BB yang tujuan utamanya push email dan BBM-an. Lha, kalau BB tidak bisa dipakai BBM-an dan push mail ya hakikat BB sudah hilang. Tak ada bedanya dengan ponsel murah dari Tiongkok itu.

Ironisnya, ketika menghubungi customer service, solusi tidak ada. Petunjuk yang diberikan di laman resminya pun ternyata tidak efektif. Repot banget!

Industri seluler memang gila-gilaan. Masa kejayaan sangat pendek, tiba-tiba muncul produk baru yang mematikan pemain lama. Siapa sangka Nokia yang dulu sangat berjaya kini sangat terpuruk?

Siapa sangka BB hari ini tak berbeda jauh dengan ponsel made in China.

15 September 2013

Cinta Liang Kaspe untuk KBS



Ketika Pemerintah Kota Surabaya mengambil alih manajemen Kebun Binatang Surabaya (KBS), Wali Kota Tri Rismaharini tanpa ragu-ragu menunjuk drh Liang Kaspe sebagai direktur operasional PD Taman Satwa KBS. Bagi Risma, sapaan akrab Tri Rismaharini, Liang Kaspe merupakan dokter hewan yang paling berpengalaman dalam mengurus ribuan satwa di KBS.


Kecintaan dan pengetahuan Liang Kaspe soal satwa memang tidak perlu diragukan lagi. Meski kebun binatang di kawasan Wonokromo ini berkali-kali diguncang konflik pengurus, Liang Kaspe tak pernah kehilangan cinta untuk satwa di KBS.

Berikut petikan wawancara LAMBERTUS HUREK dengan Liang Kaspe di ruang kerjanya:

Sudah berapa tahun Anda mengabdi sebagai dokter hewan di KBS?

Baru 32 tahun. Belum lama kok. Hehehe....

Luar biasa! Apa resepnya bisa bekerja di KBS yang sering dilanda gejolak manajemen?

Resepnya sederhana saja. Harus punya cinta kasih dan tanggung jawab. Orang yang tidak punya cinta kasih dan tanggung jawab tidak akan mungkin bisa bekerja di lingkungan satwa. Kita harus punya kecintaan yang tulus kepada satwa-satwa yang ada di kebun binatang ini. Satwa-satwa itu juga membutuhkan perhatian dan cinta seperti manusia.

Apakah para pengurus dan karyawan KBS punya cinta kasih dan tanggung jawab itu?

Saya yakin karyawan KBS yang jumlahnya 167 orang ini punya cinta kasih dan tanggung jawab untuk mengurus lebih dari 3.400 satwa yang ada di sini. Bayangkan, 3.400 satwa diurus oleh 167 orang. Artinya, satu karyawan menangani 20 satwa. Padahal, yang namanya karyawan itu ada yang bekerja loket, kebun, kantor, dan sebagainya. Karena itu, semua karyawan dan pengurus harus memiliki tanggung jawab yang sangat besar agar KBS ini bisa terus eksis dan berkembang.

Setelah dipercaya sebagai direktur operasional, apa langkah-langkah Anda untuk memperbaiki kondisi KBS?

Saya dari dulu selalu tekankan tiga prinsip yang saling berkaitan satu sama lain. Yakni, kesejahteraan satwa, kesejahteraan karyawan, dan kesejahteraan pengunjung. Kalau satwanya tidak sejahtera, kurus, penyakitan, siapa yang mau datang menyaksikan binatang-binatang seperti itu? Jadi, makanan, minuman, kebersihan, dan sebagainya harus diperhatikan.

Kesejahteraan satwa tentu berimbas ke kesejahteraan karyawan karena pemasukan KBS lebih banyak. Kalau karyawan tidak sejahtera, dia tidak bisa bekerja maksimal untuk mengurusi ribuan satwan itu. Pengunjung juga perlu sejahtera supaya bisa membeli tiket masuk yang harganya Rp 15.000 per orang. Kalau 10 orang sudah berapa? Makanya, pengunjung juga harus sejahtera supaya bisa menghidupi KBS ini.

Bagaimana dengan kesejahteraan pengurus?

Hehehe... Pengurus itu kan termasuk bagian dari karyawan juga.

Menyangkut kesejahteraan satwa, mengapa sering terjadi kasus kematian satwa dan satwa-satwa berpenyakit di KBS?

Masalah itu cukup kompleks dan berkaitan satu sama lain. Pertama, faktor air yang dikonsumsi ribuan satwa di KBS ini masih menggunakan air dari Kali Surabaya. Kita kan tahu bagaimana kualitas air dari Kali Surabaya itu. Begitu banyak pencemaran limbah, logam berat, dan sebagainya. Memang ada filter, tapi kualitas air untuk KBS ini kurang bagus. Kedua, makanan yang diberikan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Saya minta media massa perlu membantu mendidik pengunjung KBS agar tidak memberikan makanan apa pun kepada satwa-satwa.
Saya tegaskan bahwa satwa-satwa di KBS ini sudah cukup makan dan minum, tidak kelaparan. Mereka sama sekali tidak membutuhkan makanan dari pengunjung. Para pengunjung juga sering membuang sampah sembarangan yang membuat lingkungan KBS ini menjadi kotor. Kalau di Singapura pasti sudah dihukum denda. Satwa juga mati karena penyakit atau usia tua.

Lantas, apa solusi soal air bersih tadi?

Kami sudah mendapat jaminan dari PDAM Surabaya yang akan memasok air bersih ke KBS. PDAM dan KBS ini kan sama-sama milik Pemerintah Kota Surabaya. Jadi, sudah selayaknya bila PDAM Surabaya memasok air bersih untuk keperluan KBS. Sebab, air bersih ini sangat penting untuk kehidupan dan kesejahteraan satwa. Mudah-mudahan tahun depan ribuan satwa KBS ini tidak minum air sungai lagi, tapi air bersih dari PDAM Surabaya.

Bagaimana dengan pendapat bahwa satwa di KBS ini sudah terlalu banyak?

Itu pendapat yang salah. Saya tegaskan bahwa KBS ini tidak mengalami overpopulasi. Lahan yang kosong masih ada untuk pengembangan KBS.

Jadi, tidak perlu memindahkan satwa KBS luar?

Tidak perlu. Kalau ada yang memaksakan pengiriman satwa KBS ke luar, itu namanya perampokan satwa. Dan, sudah pasti melanggar hukum dan aturan kebun binatang yang berlaku di seluruh dunia. KBS ini punya hubungan kerja sama dengan kebun-kebun binatang baik di dalam maupun luar negeri. Nah, kerja sama yang sudah biasa dilakukan adalah tukar-menukar satwa tertentu. Misalnya, KBS pernah menukar okapi (hewan dari Afrika) dengan komodo. Kita juga mengirim bekantan ke Jepang, sementara pihak Jepang mengirim satwanya ke Surabaya.

Ada juga mekanisme yang disebut pelepasliaran satwa. Pada tahun 1990-an KBS pernah melepas liar jalak bali ke Bali barat karena populasinya sudah banyak. Proses pelepasliaran ini tidak sederhana, harus bertahap, tidak langsung dilepas ke hutan. Bayangkan saja, si jalak yang selama ini selalu dikasih makan, tiba-tiba dibiarkan mencari makan sendiri. Maka, harus dilatih cukup lama agar bisa survive di habitat aslinya.

Bagaimana kalau satwa KBS ditukar dengan kendaraan untuk operasional KBS?

Itu salah! Tidak benar! Kebun binatang di seluruh dunia itu tidak mengenal program penukaran satwa dengan mobil atau sepeda motor.

Ngomong-ngomong, satwa apa yang jadi favorit di KBS?

Kita punya banyak kok satwa-satwa andalan. Misalnya, komodo, babi rusa, jalak bali, bekantan. KBS mampu mengembangbiakkan bekantan dengan mudah, sementara kebun binatang lain malah kesulitan. Begitu juga jalak bali, komodo, atau babi rusa. Ini artinya KBS masih punya keunggulan dibandingkan kebun-kebun binatang lain.

Mengenai rencana membuat Sea World dan Night Zoo?

Program itu akan direalisasikan tahun depan, 2014. Kita membuat akuarium raksasa yang bagus agar pengunjung bisa menikmati aneka jenis ikan. Nantinya pengunjung bisa berjalan di tengah akuarium itu. Ada ikan air tawar dan air lautnya.

Kalau Night Zoo itu dibuatkan bangunan khusus untuk binatang-binatang malam (nocturnal). Ada pujasera dan tempat nongkrong yang nyaman. Jangan dibayangkan, pengunjung bisa menonton unta, jerapah, atau komodo pada malam hari. Tapi khusus untuk binatang-binatang yang hanya beraktivitas malam hari.

Selama 32 tahun mengabdi di KBS, menurut Anda, kapan sebetulnya masa kejayaan KBS?

Masa kejayaan KBS itu mudah-mudahan tahun depan di era kepengurusan sekarang. Apalagi setelah ada Sea World dan Night Zoo. KBS ini akan genap berusia 100 tahun pada 31 Agustus 2016. Nah, pada usia satu abad itulah KBS akan mencapai puncak kejayaannya.

Anda optimistis?

Harus optimis dong!

Tentang Liang Kaspe

Nama : drh Liang Kaspe
Lahir : Surabaya, 24 November 1954
Jabatan : Direktur Operasional Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya.
Alamat : Jalan Setail 1, Wonokromo, Surabaya.
Hobi : Membaca, mengurus satwa

Pendidikan :
- SD-SMA Yayasan Dapena, Surabaya, 1960-1972
- Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, 1973-1981

Riwayat Pekerjaan :

- Dokter Hewan Kebun Binatang Surabaya, 1981-kini
- Kepala Kesehatan Satwa, Kepala penelitian dan
Pengembangan, Kepala Nutrisi, KBS, 1984-2003
- Kepala Konservasi KBS, 2003-2006
- Kepala Unit Kesehatan Hewan, 2006-2011
- Kepala Bagian Rumah Sakit Hewan Setail, KBS, Juni
  2011-2013.
- Direktur Operasional PD Taman Satwa KBS, 2013-sekarang

Dimuat RADAR SURABAYA edisi Minggu 15 September 2013.

13 September 2013

Karet Ngagel, Cardentol, BAT, Bir, hingga Carrefour



Tempo doeloe, kawasan Ngagel dan sekitarnya merupakan pusat industri di Kota Surabaya. Jejak industri itu masih ada meskipun perlahan-lahan berubah wajah. Kompleks pabrik karet yang sangat terkenal hingga 1980-an kini menjadi pusat belanja modern Carrefour. 

Orang Surabaya yang 30-an tahun tinggal di luar Surabaya atau luar negeri pasti pangling melihat Ngagel yang sudah berubah pesat. Pabrik Bir Bintang jadi AJBS, kompleks toko kantor dan pusat belanja. Pusat kebudayaan Prancis pun ikut pindah dari Darmokali ke AJBS, eks Bir Bintang.

Di sebelahnya, bekas pabrik rokok BAT, sedang dibangun Marvell City oleh Dian Istana Group. Agus Wibisono, bos Dian Istana, tengah sibuk membangun eks pabrik yang mangrak puluhan tahun itu. Dulu ada apartemen, tapi tidak ditempati, kemudian diambrukkan lagi. Aneh tapi nyata!

Sebelahnya lagi, lapangan Barata, tempat latihan Lingtienkung setiap pagi, dulunya pabrik mesin-mesin Barata. Sebelumnya Braat pada era Hindia Belanda. Tak terlihat lagi jejak pabrik mesin yang sangat terkenal di tanah air zaman dulu.

Ada lagi Iglas, pabrik gelas di dekat sungai, masih di kawasan Ngagel. Wow, banyak banget pabrik lawas yang sudah kedaluwarsa. Di dekat PLN Ngagel ada eks pabrik karung goni (rosela) dan perusahaan pengolahan hasil perkebunan, PT Perkebunan, milik pemerintah daerah. 

Dari jalan raya di depan kantor KPID Jawa Timur kita masih melihat mesin-mesin tua yang tak terpakai lagi. Suasana industri tak tampak lagi di Ngagel karena pabrik-pabrik di Ngagel sudah lama dipindahkan ke Sidoarjo, Gresik, Rungkut, atau Surabaya Barat yang masih luas lahannya. Ngagel jadi kawasan permukiman biasa. Bahkan, sudah masuk tengah kota, bukan lagi pinggiran Surabaya seperti era 1970-an dan 1980-an.

Yang menarik perhatian saya adalah cerita eyang tentang pabrik kimia lama yang sangat terkenal pada masa lalu. Pabrik-pabrik ini sebelumnya dikelola pemerintah Hindia Belanda. Setelah Indonesia merdeka, otomatis pabrik-pabrik itu dinasionalisasi. Diambil alih pemerintah Republik Indonesia. Nah, banyak perwira TNI AD dikaryakan untuk mengurusi pabrik-pabrik milik daerah alias BUMD tersebut.

"Almarhum suami eyang dulu ngurisin pabrik kimia di sekitar sini," ujar si eyang suatu ketika. 

Pabrik apa saja? Si eyang hanya menyebut pabrik karet, yang sekarang jadi Carrefour itu, salah satunya. Eyang enggan bercerita lebih banyak mungkin karena punya hubungan yang kurang harmonis dengan almarhum suaminya setelah bercerai. "Pokoknya, di Ngagel sini dulu banyak pabrik besar," katanya.

Saya pun mencoba bertanya-tanya kepada warga saat cangkrukan di beberapa warkop di Ngagel dan sekitarnya. Sayang, ingatan orang Indonesia tentang masa lalu memang pendek. Mereka hanya tahu sedikit-sedikit. Yang diketahui sebagian besar orang asli Surabaya, khususnya Ngagel, Dinoyo, Darmokali, cuma BAT, Bir Bintang, Iglas, pabrik karet, dan Barata. 

Syukurlah, saya akhirnya menemukan buku kecil lama saat bongkar perpustakaan lawas di Ngagel. Buku tipis 44 halaman ini menceritakan secara singkat Perusahaan Industri Daerah PINDA KIMIA Daerah Tingkat I Djawa Timur. Pinda Kimia ini beralamat di Jalan Dinoyo 49 Surabaya, telepon S-3136. Buku ini diterbitkan direksi Pinda Kimia Djawa Timur, 3 Mei 1966.

Ada enam unit pabrik yang tergabung dalam Pinda Kimia Djawa Timur.

1. Pabrik Cat PATNA. 

2. Pabrik Cat dan Pernis INDAH. 

Kedua pabrik cat ini memproduksi cat rumah, cat tembok, cat kapal, cat sepeda, dan sebagainya. 

"Pengalaman dan penjelidikan jang luas dari pabrik2 kami tentang pembuatan tjat menjebabkan produksi tjat PATNA dan INDAH bukan sadja beredar luas di pasaran, tetapi djuga mendjadi djaminan," tulis direksi.

3. Pabrik Aki (Accu) GUNTUR.

Merek aki yang sangat terkenal buatan GUNTUR masa itu adalah SKANDIA dan COMET. Mengapa? 

"Salah satu sebab ialah karena accu SKANDIA dan COMET lebih tahan lama, lebih ekonomis, dan lebih ringan. Produksi kami jang anda pakai selalu menimbulkan rasa aman, puas, karena terhindar dari gangguan mogok," begitu klaim direksi Pinda Kimia.

4. Pabrik Karet Ngagel.

Pabrik lama ini sudah ada sejak 'sebelum perang' dengan produk antara lain pipa karet dengan canvaslaag, spiraal bewapening, perslang dengan storz koppeling. Kemudian onderdil sepeda motor, conis untuk pabrik gula, alat farmasi, ban kipas mobil, klep karet. 

"Barang2 kami dibikin menurut proses pembikinan dan pendapat jang mutachir. Dimana-mana pemakai barang2 produksi pabrik karet Ngagel merasa puas dengan kemampuan dan kekuatan barang karet kami."

5. Pabrik Tapal Gigi CARDENTOL.

Odol yang satu ini konon cukup populer di Jawa Timur, bahkan kota-kota lain di Indonesia. Tagline-nya: Prevents enzyme action and tooth decay. 

"... kami berusaha memproduksi tapal gigi jang bermutu tinggi, tetapi murah. Dengan memakai Cardentol wadjah anda lebih bertjahaja, pembicaraan dengan relasi lebih intim, dan kesehatan gigi selalu terpelihara baik. Sekali mentjoba Cardentol, tetap memakainja."

6. Pabrik Asam Belerang GALIH.

Berlokasi di Sepanjang, Sidoarjo, berbatasan dengan Kota Surabaya, pabrik kimia ini menghasilkan asam belerang alias H2SO4. Bahan kimia ini dipakai di pabrik baja, minyak, tekstil, gula, dan sebagainya.

Selain H2SO4, pabrik GALIH juga memproduksi Tunjung (FeSO4.7H2O) dan Turkey Red Oil alias TRO. 

Pada 1981, Gubernur Jawa Timur Soenandar Prijosoedarmo mengeluarkan peraturan daerah nomor 8/1981 yang intinya mengubah Perusahaan Industri Daerah PINDA KIMIA Djawa Timur menjadi Perusahaan Daerah ANEKA KIMIA. Tujuannya tentu saja agar pabrik-pabrik plat merah itu lebih efisien dan menguntungkan. 

Kita tahu PD ANEKA KIMIA berjalan terseok-seok karena statusnya sebagai industri senja alias pabrik lawas peninggalan Belanda. Nasib sama dialami Aneka Pangan, Aneka Jasa Permesinan, Aneka Usaha, dan Sarana Bangunan. Mesin-mesinnya sudah terlalu tua karena tak ada peremajaan. Sumbangan untuk penghasilan asli daerah Jawa Timur pun sangat minim, bahkan tekor.

Karena itu, pada 1999 dibentuklah PT Panca Wira Usaha yang merupakan  holding hasil penggabungan dari beberapa perusahaan-perusahaan daerah yang berusia senja. Manajemen baru PT Panca Wira Usaha bergerak cepat dengan langkah-langkah inovasi dan berbagai gebrakan. 

Salah satunya adalah menyewakan lahan bekas pabrik karet Ngagel kepada pihak swasta. Maka, berdirilah Carrefour Ngagel itu.

Realisasi Ekspektasi Akselerasi Modernisasi


Gaya bahasa Vicky Prasetyo kian heboh di internet dan televisi. Frase-frase seperti KONSPIRASI KEMAKMURAN, KONTROVERSI HATI, STATUTISASI, LABIL EKONOMI, KUDETA HATI menjadi bahan tertawaan. 

Memang menggelikan karena si Vicky rupanya sengaja menjejalkan kata-kata serapan dari bahasa Inggris dengan kata Indonesia, gado-gado, plus petikan bahasa Inggris seenak perutnya.

Kalimat-kalimat Vicky terkesan gagah, layaknya bahasa aktivis atau pakar-pakar di seminar, tapi hampa makna. Tapi bagaimanapun istilah KONSPIRASI KEMAKMURAN atau KUDETA HATI temuan Vicky Prasetyo layak dipuji sekaligus ditertawai. Hehehehe.... 

Konspirasi kemakmuran!

Andai saja Vicky Prasetyo tidak berurusan dengan polisi atau mempermainkan beberapa penyanyi dangdut, kata-kata si Vicky ini sebetulnya satire untuk gaya bahasa manusia Indonesia masa kini. Sebuah bangsa besar yang makin lama makin bangga menjadi bangsa pengimpor. Mengimpor beras, kedelai, daging, jagung, garam... dan kata-kata. 

Gaya bahasa impor ala si Vicky sejatinya bukan hal baru. Jauh sebelum Indonesia merdeka, gaya bahasa impor-imporan sudah mewabah di kalangan masyarakat, khususnya yang merasa intelek, kelas menengah atas. Datang saja ke pertemuan klub-klub Indo-Belanda dan kita bisa menikmati kata-kata campuran Indonesia, Belanda, Jawa, Hokkian, dan entah apa lagi.

Setelah Presiden Sukarno tumbang, mulailah era bahasa impor English karena bahasa Belanda dihapus. Kiblat Orde Baru ke negara Abang Sam itu. Buku pintar Orde Baru ditulis oleh Ali Moertopo dengan judul AKSELERASI MODERNISASI PEMBANGUNAN 25 TAHUN. Opo maneh kuwi?

Akselerasi modernisasi! Begitulah visi rezim Orde Baru yang dipimpin Pak Harto dengan pemikir utama Ali Moertopo yang menggagas CSIS. Pusat penelitian ini dikenal sebagai dapur pemikiran Orde Baru demi AKSELERASI MODERNISASI.

Nah, di era Orde Baru itulah impor kata-kata semakin menjadi-jadi di Indonesia. Meskipun sudah ada kata-kata asli, punya padanan Indonesia, orang intelektual seperti Vicky Prasetyo gandrung menggunakan kata berakhiran -SASI dan -ISASI. 

Di zaman Orde Baru, meski ada polisi bahasa bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa alias Pusat Bahasa, mulai merebak kata bentukan Indonesia + Inggris. Beda dengan AKSELERASI atau MODERNISASI sebagai serapan yang benar, pada 1980-an dan 1990-an kita mengenal LAMTORONISASI, TURINISASI, PIPANISASI, KUNINGISASI, PAVINGISASI, POMPANISASI, SENGONISASI.. dan SASI-SASI lainnya.

Bahkan, surat kabar sehebat KOMPAS pun rajin menggunakan HILIRISASI. Mungkin tak lama lagi ada istilah HULUNISASI di koran Jakarta itu. Koran-koran di Jawa Timur pun akhir-akhir ini lebih suka menggunakan EKSPEKTASI sebagai pengganti HARAPAN atau ASA. 

Contoh: 

Hilirisasi komoditas domestik merupakan ekspektasi massal untuk merealisasi konpirasi kemakmuran futuristik yang menciptakan harmonisasi statutisasi simbolik. 

Ah, gaya bahasanya si Vicky lagi! 

Juancuk tenan!

11 September 2013

Berita Jatim disiarkan subuh

Televisi-televisi nasional punya trik alias akal-akalan untuk menyiasati aturan. Mereka rata-rata membuat program lokal hanya pada jam tayang awal alias subuh.

Maka, jangan heran berita-berita daerah Jawa Timur selalu disiarkan pukul empat pagi. Metro TV, TVOne, RCTI, Indosiar, dan sebagainya sudah cukup lama membuka siarannya dengan program berita Jatim sekadarnya.

Siapa yang menonton siaran berita pagi buta itu? Ketika umat muslim menunaikan salat subuh? Peduli amat. Sebab televisi-televisi Jakarta itu hanya sekadar memenuhi tuntutan aturan alias undang-undang bahwa televisi nasional harus memenuhi konten lokal.

Program berita lokal pagi memang dibuat untuk tidak ditonton. Hanya pantas-pantasan saja. Sebab pengelola televisi kita lebih suka menayangkan gosip artis atau isu-isu nasional. Semuanya didesain serba-Jakarta. Dan ujung-ujungnya uang atau iklan belaka.

Saya sering curhat kepada komisioner KPID Jatim tentang permainan televisi-televisi Jakarta untuk menyiasati undang-undang. Tapi KPID tidak punya kekuatan sama sekali ketika berhubungan dengan pemodal besar cukong-cukong televisi. KPID pun hanya bisa curhat layaknya pengamat.

Di daerah-daerah sebetulnya sudah banyak televisi lokal. Mereka punya program berita dan acara-acara lain yang sangat lokal. Sayang, televisi-televisi lokal kalah bersaing dengan televisi-televisi Jakarta yang padat modal dengan jaringan yang luar biasa.

Yah, apa boleh buat, kita di Surabaya yang katanya kota terbesar kedua hanya bisa ngelus dada melihat ketidakberdayaan orang daerah. Bahkan kita pun makin lama makin menikmati program televisi nasional yang tak punya kepentingan untuk mengangkat potensi daerah.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

09 September 2013

Bangsa tempe yang impor tempe

Saya lagi menyimak diskusi pendek soal tempe di Metro TV. Para pembuat tempe mogok kerja di berbagai kota memprotes harga kedelai yang makin gila-gilaan. Seiring melemahnya rupiah, impor kedelai jelas ikut mahal pula.

Begitulah. Sudah lama sekali Indonesia mengimpor bahan-bahan makanan seperti kedelai, beras, jagung, buah, bahkan garam. Sudah lama sekali klaim kita sebagai negara pertanian, agraris, terpatahkan. Negara agraris kok impor beras, jagung, kedelai... dan hampir semua bahan makanan yang dibutuhkan industri makanan.

Teman sekaligus guru jurnalistik saya, Khudori, sedang jadi narasumber di Metro TV. Wow, rupanya mantan pentolan HMI ini sudah jadi pengamat dan analisis pertanian tingkat nasional. Cara bicaranya tetap runut dengan logat khas Lamongan. Yang pasti, Khudori makin pakar dalam membedah persoalan pertanian di Indonesia.

Khudori mengatakan, sebenarnya Indonesia punya kedelai lokal yang lebih bergizi dan enak ketimbang kedelai impor. Hanya saja, ukurannya kurang besar dan tidak seragam. Ini membuat perajin tempe dan tahu kesulitan menjadikannya bahan baku tempe. Hasil tempenya pun lebih menarik kalau pakai kedelai impor.

Lantas, mengapa kita tidak membudidayakan kedelai varietas bagus untuk bahan tempe industri? Bukankah tanah dan iklim kita cocok untuk tanaman polong seperti ini?

Hehehe.... Saya kira Mas Khudori paling tahulah soal ilmu tanah, pemuliaan tanaman, budidaya, hama penyakit, hingga sosial ekonomi pertanian. Maklum, Mas Khudori itu salah satu lulusan terbaik Fakultas Pertanian Universitas Jember.

Dulu, universitas di kawasan timur Jawa Timur itu berhasil mengembangkan kedelai edamame untuk konsumsi orang Jepang. Persyaratan tumbuh kembang edamame jelas jauh lebih sulit ketimbang kedelai impor untuk bahan baku tempe.

Kalau kedelai edamame saja bisa sukses, masak kedelai biasa tidak bisa? Kampus-kampus yang punya fakultas pertanian di Indonesia seperti IPB, Brawijaya, UGM, atau Universitas Jember bisa melakukannya dengan mudah. Sejak dulu kita punya begitu banyak insinyur, doktor, profesor di bidang pertanian.

Jangan lupa Presiden Susilo BY itu seorang doktor pertanian lulusan Institut Pertanian Bogor dengan spesialisasi sosial ekonomi pertanian. Doktor SBY pasti tahu persis persoalan pertanian di Indonesia, khususnya masalah pertempean dan perberasan.

Kita tunggu aksi nyata sang doktor pertanian yang sedang menjadi orang pertama di Republik Impor ini. Merdeka!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

06 September 2013

Tino Sidin guru lukis anak


Anak-anak pada era 1980an dan 1990an tak asing dengan Tino Sidin. Bapak berkacamata tebal, pakai pet khas seniman, ini selalu muncul di TVRI sebagai guru menggambar. Pak Tino mengasuh program Gemar Menggambar di TVRI.

Karena saat itu Indonesia hanya punya satu televisi, otomatis semua anak Indonesia tahu betul Tino Sidin. Orang tua yang sabar dan selalu mengapresiasi lukisan anak. "Bagus, bagus," ujar Pak Tino setiap kali menilai gambar yang dikirim anak-anak.

Bagi Tino Sidin, tidak ada lukisan anak yang jelek. Seburuk apa pun lukisan seorang bocah, pria kelahiran Tebingtinggi, Sumatera Utara, 25 November 1925 ini selalu memberikan apresiasi. Bukan malah mematahkan semangat anak. Lalu sang guru ini memberi contoh sederhana teknik menggambar yang mudah ditiru anak-anak usia TK dan SD.

Menggambar atau seni lukis memang sejak dulu menjadi pelajaran di sekolah. Anak-anak biasanya membeli buku gambar, membawa pensil, karet penghapus. Ada juga yang bawa cat minyak atau krayon.
Tapi hanya sedikit sekolah yang punya guru menggembar yang kompeten. Maka Tino Sidin pun jadi jujukan. Kok gambarnya Pak Guru beda dengan Pak Tino? Kok begitu, bukan begini? Yah, Tino Sidin memang fenomena di era kejayaan TVRI sebagai media pendidikan yang luar biasa.

Mengapa saya tiba-tiba menyinggung Tino Sidin?

Kebetulan saya menemukan katalog pameran lukisan 45 pelukis Jogjakarta Mei 1993. Pak Tino menampilkan gambar bunga, oil on canvas 80x75 cm. Sama sekali bukan lukisan anak sebagaimana bayangan saya selama ini.

Saya pun baru tahu kalau Tino Sidin ini tinggal di Jogjakarta, Jalan Wates, Kadipiro 297. Selama ini saya menyangka Tino Sidin tinggal dan berkarya di Jakarta.

Dari CV singkat di katalog lawas itu, saya jadi tahu bahwa Tino Sidin merintis pendidikan lukis untuk anak-anak di Seni Sono Jogjakarta. Sebelum menasional di TVRI pusat, Tino lebih dulu mengajar gambar di TVRI Jogja.

Dia juga pernah ikut pameran seni rupa di dalam dan luar negara. Pernah pameran tunggal di Malaysia, kemudian pameran di Jakarta, Medan, Jogjakarta, dan beberapa kota lain.

Melihat foto dan lukisan Tino Sidin hari ini, saya membayangkan betapa amannya televisi di masa lalu. Ada Tino Sidin guru gambar, Ibu Sud mengajar nyanyi, Pranajaya mempertajam teknik vokal seriosa, hingga si Unyil yang selalu ditunggu anak-anak.

Kini puluhan bahkan ratusan televisi yang menyerbu rumah rakyat Indonesia cuma fokus pada hiburan, gosip, iklan, dan pencitraan politisi. Saat mengetik kalimat ini di televisi muncul wajah Aburizal Bakrie.
"Suwe ora ketemu, ketemu pisan...."

Sebelumnya SCTV membahas panjang lebar kasus penyanyi dangdut koplo Saskia Gotik yang diperdaya laki-laki buaya darat. Wah, rupanya Tino Sidin hanya jadi kenangan anak-anak tempo doeloe yang belum kenal HP, laptop, atau tablet.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

05 September 2013

Pelukis Siti Rijati tutup usia



Usia yang larut  senja, 83 tahun, membuat tubuh Siti Rijati kian ringkih. Pelukis senior Surabaya ini pun tak bisa lagi jalan kaki setiap pagi dan sore 30 menit di depan rumahnya. Tubuhnya yang memang sudah kurus pun tinggal kulit pembalut tulang belaka.

Ketika umat Islam sibuk silturahmi Lebaran, 8-9 Agustus 2013, Eyang Yati, sapaan akrab pelukis aliran realis ini ambruk di rumahnya, Ngagel Jaya Selatan I/16 Surabaya. Asupan makanan yang kurang, kesepian di usia senja, ditambah pikiran yang ruwet, membuat kondisi Siti Rijati semakin menurun.

Jangankan jalan sehat, untuk makan sehari-hari saja pun susah. Syukurlah, Ninik, adik kandung Siti Rijati, lekas bertindak. Dia segera meminta bantuan dokter untuk memeriksa kesehatan eyang kelahiran Mojokerto 24 Januari 1930 ini.

"Kakak saya itu tidak punya penyakit, tapi badannya drop karena lanjut usia," kata Bu Widodo, sapaan akrab Ninik.

Bu Widodo bersama keluarga besarnya kemudian mendatangkan Puji, perawat asal Gresik yang pernah merawat Rijati ketika menjadi korban tabrak lari pada 2008. Sempat membaik, kondisi sang eyang menurun lagi.

"Ibu sulit makan. Makanan yang kita suap tidak ditelan tapi dibiarkan di dalam mulutnya," tutur Puji.

Maka, pihak keluarga meminta bantuan bidan dari klinik milik PTPN di Ngagel untuk memasang selang khusus lewat hidung pasien. Makanan cair dimasukkan lewat selang tersebut.

"Kondisi Bu Yati sudah lumayan tapi tidak stabil. Namanya juga orang sepuh ya badannya terus melemah," katanya.

Karena itu, pihak keluarga, kerabat, keponakan, hingga mantan anak kos beberapa hari ini berdatangan untuk membesuk Eyang Rijati. Sayang, sang pelukis yang sudah hajah ini tak bisa diajak berkomunikasi secara normal.

"Kita doakan semoga Tuhan memberi kesembuhan kepada Bu Yati. Beliau ini pelukis senior yang punya pendirian sangat tegas," kata Yanto, pelukis yang pernah tinggal bersama Eyang Rijati.

Jumat 30 Agustus 2013 subuh. Mbak Anis, keponakan eyang yang tinggal di Jakarta, masuk ke kamar Eyang Yati. Betapa terkejutnya Anis melihat kondisi budenya kaku, tak bergerak. Eyang Siti Rijati pun meninggalkan dunia fana ini dengan tenang.

Meninggal pada hari Jumat, apalagi Jumat Legi, bagi orang muslim Jawa dianggap sebagai kematian yang baik. Khusnul khotimah. Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak untuk eyang!

Sesuai wasiatnya semasa hidup, jenazah Siti Rijati sang pelukis senior gemblengan Taman Budaya Jatim dimakamkan di TPU Ngagel. Jadi satu dengan makam Riza Muchtar, putra semata wayangnya yang meninggal tahun 1957.

Makam tua sekitar 100 meter dari makam Bung Tomo itu dibongkar, digali lagi lebih dalam, sebagai tempat peristirahatan terakhir Eyang Yati.

Usai dimandikan, jenazah yang sudah dikafani diangkut ambulans ke Masjid Baitul Falah, sekitar 200 meter dari rumah duka. Selepas salat Jumat, jamaah masjid melakukan salat jenazah sebelum diantar ke TPU Ngagel.

Sugeng tindak Eyang Yati!

04 September 2013

Penerima BLSM lebih kaya dari wartawan

Selalu muncul pemandangan menggelikan setiap kali pembagian subsidi bahan bakar minyak sejak era BLT hingga BLSM sekarang. Sejumlah keluarga miskin penerima balsem Rp 150.000 sebulan itu ternyata pakai Blakcberry.

Sebaliknya, beberapa wartawan di Surabaya masih memakai HP made China yang murah itu. Padahal kalangan wartawan ini tidak tergolong gakin alias keluarga miskin.

"Lha, katanya miskin kok bergaya dengan BB? HP-ku malah cuma dua ratusan," kata seorang teman wartawan.

Tidak hanya telepon pintar, sebagian penerima balsem pun diketahui membawa sepeda motor bagus ke kantor pos. Sementara sebagian wartawan dan petugas pos, yang membagikan balsem itu, masih setia dengan motor butut.

Ketidaktepatan sasaran ini memang selalu terlihat dalam acara-acara bakti sosial di mana pun. Menjelang Lebaran lalu saya melihat ada penerima bantuan beras di sebuah kelenteng di Surabaya yang membawa mobil.

Lha, punya mobil kok gak malu terima bantuan beras untuk keluarga miskin? Aneh tapi nyata. Budaya malu rupanya sudah semakin hilang di Indonesia. Orang tak segan-segan berbohong untuk mendapat beras atau balsem yang sejatinya menjadi hak orang miskin.

Dan kita tak bisa menyalahkan orang miskin atau setengah miskin. Mengapa? Masyarakat setiap hari melihat betapa serakahnya pemimpin-pemimpin kita yang semakin asyik korupsi, menikmati uang suap, tak malu-malu memamerkan kerakusannya di depan umum.

Lha, orang sekaliber Rudi Rubiandini yang sudah digaji puluhan bahkan ratusan juta saja masih meminta uang pelicin 7 miliar. Bagaimana kita bisa meminta wong cilik untuk jujur?


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

03 September 2013

80 tahun Panjebar Semangat

Luar biasa! Majalah Panjebar Semangat genap berusia 80 tahun alias 10 windu.

Senin malam, 2 September 2013, majalah berbahasa Jawa ini mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai majalah berbahasa daerah tertua yang masih terbit di Indonesia.

Majalah PS dengan gayanya yang sederhana dan khas memang fenomenal. Ketika globalisasi mengguncang Indonesia, ketika bahasa-bahasa daerah makin tergerus, ketika masyarakat Indonesia semakin kurang peduli bahasa ibunya, PS justru tetap istikamah nguri-uri bahasa Jawa.

Terbit perdana pada 2 September 1933, mingguan ini pernah berhenti terbit pada zaman Jepang, 1943-1949. Setelah itu terbit lagi dan pernah berjaya sebagai majalah paling populer di Jawa. Hebatnya, majalah PS mampu bertahan dalam usia yang panjang meski tidak disokong iklan layaknya media massa lain.

PS punya pelanggan yang sangat setia. Orang-orang lama sulit lepas dari PS karena sudah seperti ketagihan. Memang surat kabar dan majalah berbahasa Indonesia sudah banyak. Televisi tanpa henti menyiarkan informasi dan hiburan. Tapi PS punya kekhasan sendiri yang sulit tergantikan oleh media modern nan canggih.

Eyang Riyati adalah salah satu contoh pelanggan dan pembaca setia majalah PS. Eyang yang juga pelukis senior ini mulai berlangganan PS sejak usia 20an tahun. Setiap akhir pekan dia menunggu kedatangan majalah kesayangannya itu. Terlambat satu hari saja mbah itu sudah kelabakan. Pusing.

"Membaca PS itu untuk mengikuti perkembangan informasi dan kebudayaan," kata wanita yang jug berlangganan Intisari dan koran harian itu.

Kan sudah ada koran? "Oh, lain sama PS. Saya membaca koran tiap hari tapi harus tetap baca majalah PS," katanya.

Wow, Eyang Yati baru berhenti berlangganan PS setelah meninggal dunia pada usia 83 tahun. Artinya, almarhumah ini mulai berlangganan PS pada usia yang sangat muda hingga sangat lanjut. Hingga tutup usia.

Begitulah. Pelanggan-pelanggan PS memang sebagian besar punya loyalitas luar biasa seperti Eyang Yati. Persoalannya, apakah PS mampu menemukan pelanggan-pelanggan baru yang muda dan setia macam orang-orang lama ini?

Semoga warisan intelektual Dokter Soetomo ini bisa menjawab tuntutan pasar di era globalisasi ini. Selamat ulang tahun PS!


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

TVRI tahun 1970an tutup jam 23.00



Bongkar gudangnya eyang di kawasan Ngagel, Surabaya, saya menemukan tabloid Monitor TVRI edisi Agustus 1973. Sampulnya penyanyi Andi Meriem Mattalatta yang masih berusia 16 tahun. Cakep memang penyanyi yang sudah almarhumah ini.

Sesuai namanya, Monitor TVRI mengulas acara-acara yang ditayangkan satu-satunya stasiun televisi di Indonesia yang hitam putih itu. Ulasan musiknya bagus karena ditulis musisi macam Mus K Wirya. Kemudian sinopsis film seri seperti Batman, Monte Cristo, The Minstrel's Shakedown, atau Fury.

Ada bahasan tentang Carl Pini, kuartet (waktu itu masih ditulis KWARTET) gesek Australia yang tayang di TVRI pada 9 Agustus 1973. Musik klasik memang punya tempat istimewa di TVRI pada era 1970an dan 1980an. Beda dengan zaman sekarang, musik klasik, keroncong, seriosa hilang di televisi.

Saya pun memperhatikan daftar acara TVRI selama dua minggu. Siaran dibuka pukul 17.55 WIB dan berakhir pukul 23.00. Seluruh rakyat Indonesia diminta segera tidur karena tidak baik bergadang sampai pagi hanya untuk nonton TV thok.

Ambil contoh siaran TVRI Kamis 2 Agustus 1973. Dibuka berita daerah, dilanjutkan Cepat Tepat SLA, kemudian film seri Family Affair. Pukul 20.00 Siaran Berita diteruskan dengan Pengajian Alquran selama 10 menit. Kemudian Mimbar Agama Islam 30 menit.

Luar biasa! Zaman dulu mimbar agama justru ditayangkan pada prime time alias jam utama. Bandingkan dengan televisi-televisi zaman sekarang. Film seri The Saint tayang satu jam disusul Sari Berita & Berita Olahraga. Pukul 22.17 Irama melayu. Pukul 23.00 tutup.

Luar biasa! Televisi zaman dulu jelas sekali fokus pada pendidikan, apresiasi, dan pembinaan karakter. Bina Vokalia asuhan Pranajaya disiarkan pukul 19.00 alias super prime time. Belum ada goyang bahenol, goyang ngebor atau goyang gergaji di dunia musik hiburan kita.

Malam Minggu 11 Agustus 1973 pemirsa TVRI dikasih bonus hiburan berupa Film Cerita Akhir Pekan. Pukul 00.30 baru tutup.

Yang juga sangat menarik adalah Pembinaan Bahasa Indonesia oleh Amin Singgih pada Senin malam pukul 19.00. Sekali lagi prime time dipakai untuk mencerdaskan bangsa Indonesia, bukan menyuguhkan hiburan yang kurang edukatif.

Pelajaran bahasa Inggris juga disiarkan jam tujuh malam setiap Rabu.

Bagaimana dengan musik jazz?

Ojo kuwatir. Minggu malam pukul 22.17 ada sajian Irama Jazz hingga tutup layar pukul 23.00.

Ini semua hanya cerita televisi masa lalu yang masih dikontrol sepenuhnya oleh negara. Ketika rezim Orde Baru tumbang, negara makin lemah, kapitalisme dan liberalisasi yang berkuasa, maka ratusan stasiun televisi kita hanya menyiarkan acara-acara konyol yang ratingnya tinggi.

Dus, bisa dipahami mengapa masih banyak orang lama yang merindukan acara-acara televisi seperti pada masa lalu.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Terima kasih makin hilang

Terima kasih alias matur nuwun, suwun, kamsia, xiexie... sebetulnya gampang diucapkan. Atau diketik lewat sms atau email. Tapi anehnya akhir-akhir ini makin banyak orang yang lupa mengucapkan terima kasih atas sedikit jasa yang kita berikan.

Pekan lalu saya lima orang meminta nomor ponsel dan telepon rumah beberapa tokoh dan pakar di Surabaya. "Cak, minta nomor HP-nya Pak Anu," begitu pesan pendek seorang reporter.

Saya sebetulnya malas memberikan nomor telepon tokoh-tokoh karena khawatir disalahgunakan. Saya berprinsip bahwa meminta telepon seharusnya lebih dulu bertatap muka, salaman, perkenalan, tukar kartu nama. Dari situlah kita tahu contact person seseorang. Aneh rasanya kalau kita menelepon seseorang yang belum kita kenal sebelumnya.

Tapi akhirnya saya memberikan nomor telepon kepada lima orang itu. Lalu, diam-diam saya berharap mendapat ucapan terima kasih karena sudah memberikan nomor telepon VIP yang memang tidak gampang mendapatkannya. Apa sih sulitnya mengetik terima kasih atau suwun dan dikirim ke saya?

Eh, tunggu punya tunggu ternyata ucapan terima kasih itu tak juga datang. Saya pun ingat cerita kitab suci Perjanjian Baru tentang sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus Kristus. Dari sepuluh orang yang ditahirkan, hanya satu orang yang mengucapkan terima kasih.

Yah, betapa sulitnya mengucapkan terima kasih atas kebaikan seseorang. Kita sering kali terlalu mudah meminta-minta sesuatu tapi lupa berterima kasih. Lupa bersyukur. Lupa berterima kasih. Lupa bahwa Tuhan begitu baik kepada manusia lewat tangan-tangan sesama.

Lalu, apakah ke depan saya tidak lagi memberikan nomor telepon seseorang karena khawatir tidak dapat ucapan matur nuwun? Kadang saya berpikir begitu. Saya memang masih punya pamrih, ya, mengharapkan ucapan terima kasih itulah.

Sepi ing pamrih, rame ing gawe, kata orang Jawa.

Ah, ternyata tidak gampang menjadi orang yang benar-benar tanpa pamrih.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

Bila ustad dan pendeta cinta uang

Ustad Solmed jadi buah bibir di internet gara-gara pasang tarif mahal untuk ceramah di Tiongkok, tepatnya Tiongkok. Padahal para TKI yang mengundangnya sudah menyiapkan ongkos pesawat pergi-pulang, akomodasi, konsumsi, dan sebagainya.

Sang ustad pun dinilai mata duitan karena mematok tarif kelewat tinggi. Apalagi jamaahnya warga Indonesia pekerja rumah tangga yang bukan orang kaya. Ustad kok pasang tarif mahal?

Lantas, berapa tarif wajar untuk seorang pencermah? 

"Harusnya tidak perlu pasang tariflah. Yang wajar saja tergantung kemampuan pengundang," kata HM Handoko, penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sidoarjo kepada saya.

Orang Islam, menurut Handoko, sangat paham berapa tarif yang pantas untuk seorang penceramah. Sang ustad pun sudah tahu bahwa dia bekerja untuk dakwah, bukan bisnis atau jualan barang. Karena itu, Handoko sangat tidak setuju dengan ustad-ustad yang pasang tarif.

"Kalau mau benar-benar dakwah ya jangan pasang tarif. Yang penting transportasi dan penginapan dijamin panitia," kata Handoko yang kerap mengundang ustad-ustad terkenal untuk ceramah di Sidoarjo.

Sebagai pengusaha sukses, setahu saya Handoko selalu membayar ongkos ceramah sang ustad dengan nilai jauh lebih tinggi dari rata-rata. Penceramah pemula pun dia bayar mahal. "Itu cara kita untuk mendukung kegiatan dakwah."

Karena itu, Handoko geram ketika mendengar pendakwah langganannya mulai jual mahal atau pasang tarif. Kalau tidak dibayar sekian dia tak mau datang. "Saya sedih sekali kok ustad itu meminta tarif yang mahal ketika diundang komunitas kurang mampu," katanya.

Dari diskusi ringan dengan tokoh Islam Tionghoa di sebuah restoran di dekat Hotel Sommerset Surabaya ini sadarlah saya bahwa sejumlah ustad alias mubaligh alias dai di Indonesia sudah terjangkit penyakit penginjil-penginjil sukses. Misionaris golongan ini memang sejak dulu sudah pasang tarif minimal untuk bicara satu jam lebih sedikit.

Makin ngetop si pendeta atau evangelis, makin mahalnya tarifnya. Fee atau tarif ini dibungkus dengan istilah persembahan kasih atau berkat Tuhan. Di lingkungan Kristen evagelis alias gereja-gereja Haleluya sudah lama terjadi inflasi kata berkat berkat berkat berkaaaattt....

Kalau Anda mendengar kata-kata 'pendeta itu sungguh diberkati', itu maksudnya si pendeta itu mendapat banyak sekali uang persembahan kasih. Alias tarifnya mahal. Orang yang tidak punya uang alias miskin disebut sebagai orang yang tidak diberkati.

Fenomena penginjil-penginjil sukses ala Amerika ini sangat terbalik dengan misionaris-misionaris zaman dulu yang merintis pekabaran Injil di Indonesia. Mereka benar-benar bekerja untuk mengembangkan kebun anggur Tuhan. Sama sekali bukan mencari uang untuk diri sendiri dan keluarganya.

Alih-alih membayar pendeta, para pendeta zaman dulu yang malah mengusahakan berbagai fasilitas di pelosok-pelosok NTT seperti air bersih, obat-obatan, alat tulis, hingga pakaian anak-anak. Misionaris-misionaris lama pula yang berjuang keras untuk memperbaiki gereja atau membangun gereja baru.

Rupanya zaman sekarang rohaniwan kita sudah terbalik-balik. Sudah pasang tarif layaknya penyanyi atau pemain band profesional. Tidak heran saat ini kita semakin sulit menemukan misionaris idealis yang berkarya di pelosok-pelosok Indonesia.

Jangan lupa pesan kitab suci: "Cinta uang adalah akar segala kejahatan!"

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network