08 August 2013

Tukang sate yang tidak mudik

Tidak semua orang kampung mudik untuk berlebaran di desanya. Contohnya polisi, petugas perhubungan, pramugari, penyiar televisi, reporter arus mudik arus balik, dan tukang warung.

Setiap tahun saya menjumpai para penjual sate, gule, asal Madura yang standby setiap libur Lebaran. Setiap tahun demikian. Justru prei seminggu itu menjadi berkah luar biasa bagi mereka. Pembeli membeludak karena pengunjung tempat wisata selalu meningkat selama hari raya.

"Enakan jualan Cak, mumpung preian. Eman-eman kalau rezeki tahunan melayang sia-sia," kata Cak Mat asli Bangkalan.

Musim libur hari raya membuat kenaikan omzet yang luar biasa. Meskipun sate dan gulenya biasa saja, kurang enak, menurut saya, pengunjung antre panjang. Banyak sekali orang Tionghoa yang datang bersama keluarganya di hari raya itu.

Sudah berapa tahun sampean tidak mudik? "Sepuluh tahun Cak. Namanya juga cari rezeki. Kalau mudik, wah, gak dapat uang saya. Mudik itu malah habisin uang banyak," kata Cak Mat.

Karena sudah terbiasa tidak mudik, lama-lama Cak Mat justru sangat menikmati enaknya tidak mudik ketika puluhan juta orang rame-rame mudik hari raya. Bagi dia, libur lebaran yang cukup panjang justru menjadi kesempatan untuk meraup rupiah di kota besar.

"Awalnya waktu pertama kali gak mudik memang gak enak. Sumpek. Tapi lama-lama jadi biasa," katanya.

Menurut Cak Mat, mudik saat musim mudik itu lebih cocok untuk PNS dan pekerja-pekerja kantoran. Sebab semua instansi memang tutup, tidak ada yang dikerjakan. "Lah, kalau penjual sate kayak saya ini mudik, nanti makan apa?" katanya dengan logat Madura yang khas.

"Ya, makan sate kambing sama lontong," saya menukas sekenanya saja.

Cak Mat pun sibuk membakar daging kambing plus jeroan pesanan lima orang. Percakapan pun selesai. Tak elok bicara terlalu lama dengan tukang sate yang sedang sibuk bekerja.

Selamat Idulfitri, maaf lahir dan batin.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment