06 August 2013

Tak boleh justifikasi teror

Menjelang Lebaran kita dikejutkan lagi oleh teror bom. Kali ini giliran sebuah wihara di Jakarta yang jadi target. Ledakan terjadi ketika jemaat sedang mengikuti pembabaran darma alias kebaktian.

Mau komentar apa lagi? Sudah terlalu banyak bom diledakkan di negeri ini untuk terorisme. Gereja sering jadi sasaran. Masjid juga pernah. Kemudian wihara atau tempat ibadah umat Buddha. Beberapa kantor polisi juga pernah diteror aksi yang sangat melawan kemanusiaan dan human rights ini.

Anehnya di negeri ini selalu ada, bahkan cukup banyak orang, yang kerjanya membuat analisis justifikasi bom. Membuat argumentai yang seakan-akan membenarkan perbuatan keji itu.

Beberapa menit lalu seorang pengamat mengatakan bom di wihara di Jakarta itu tak lepas dari balas dendam untuk Burma alias Myanmar. Negara buddhis itu dianggap menindas umat muslim sehingga memicu aksi solidaritas.

Pengamat di Indonesia memang hebat bukan main. Bisa bikin analisis apa saja tanpa perlu investigasi atau turun ke lapangan. Polisi pun kalah. Sama dengan pengamat sepakbola kita yang hebat-hebat meskipun timnas kita jauh di bawah standar.

Masih di Metro TV, pagi tadi acara Bedah Editorial pun membahas bom di wihara. Mengapa aparat kita selalu kecolongan justru di bulan puasa ketika pasukan siaga penuh. Intelijen ke mana. Kok tak ada deteksi dini.

Tiba-tiba ada seorang penelepon dari Medan yang membuat analisis membenarkan pengeboman wihara itu. Katanya ada kaitan dengan Burma dan Rohingnya. Kalimat-kalimatnya bernada sangat menukung pelaku bom alias teroris.

Aneh. Rupanya kita di Indonesia belum punya persepsi yang sama dalam melihat sebuah peristiwa teror. Banyak warga dan pengamat yang tidak tegas mengutuk terorisme dalam bentuk apa pun.

Negara yang beradab berasas Pancasila seharusnya tidak memberi ruang kepada justifikasi kekerasan atau teros atas dalih apa pun. Konflik di negara lain tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan atau pembunuhan di Indonesia. Pikiran-pikiran yang membenarkan aksi terorisme jelas sangat berbahaya dan seharusnya tak dapat tempat di negeri ini.

Sang Buddha sendiri kalau tidak salah sangat menekankan pikiran yang baik. Pikiran, cara berpikir, harus dibereskan dulu. Sebab pada hakikatnya semua kejahatan itu bersumber dari pikiran yang tidak baik.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment