18 August 2013

Swandajani Populerkan Kain Sumba



Buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Sebagai putri pelukis senior Tedja Suminar, darah seni mengalir deras dalam diri Theresia Swandajani. Namun, wanita kelahiran Surabaya 50 tahun silam itu tidak menekuni sei rupa, melainkan seni tari serta aktif menelusuri seni kerajinan tradisional, khususnya tenun ikat khas Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selama satu bulan, 26 Juli sampai 29 Agustus 2013, Theresia Swandajani, yang akrab disapa Swan, memamerkan sekitar 50 helai kain tenun Sumba Timur di House of Sampoerna, Surabaya. Swan juga mendatangkan Tamu Rambu Margaretha (40), penenun asli Pulau Sumba, untuk memeragakan teknik membuat tenun ikat sejak dari kapas, pemintalan, pewarnaan, hingga ditenun menjadi kain yang bernilai tinggi.

Tak dinyana, pameran ini mendapat perhatian luas dari para wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dengan Theresia Swandajani di sela kesibukannya menjawab pertanyaan pengunjung pameran bertajuk Exotica of East Sumba itu.

Anda kan asli Surabaya, kok sangat fasih menjelaskan seluk-beluk kain Sumba?

Hehehe.... Jangan salah. Saya ini sudah sering blusukan ke Sumba Timur, masuk kampung keluar kampung, untuk melihat secara langsung teknik pembuatan tenun ikat di sana. Saya juga mendatangi rumah adat bangsawan setempat, semacam raja lokal, yang memiliki koleksi kain yang sangat indah. Kebetulan suami saya kan berasal dari Sumba, sehingga otomatis saya punya apresiasi yang mendalam terhadap seni budaya Sumba.

Kesan Anda ketika pertama kali blusukan ke Sumba?

Waduh, luar biasa! Saya dulu tidak pernah membayangkan kalau untuk menghasilkan sebuah kain itu perlu waktu yang panjang. Si penenun harus sabar, telaten, punya passion, kecintaan yang mendalam terhadap pekerjaannya. Tidak bisa tergesa-gesa karena pengerjaannya memang 100 persen hand made. Ibu-ibu di Sumba harus menyiapkan kapas sendiri, kemudian dibuat benang, diwarnai dengan bahan pewarna alami, bikin motif, dan ditenun. Hebatnya, tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun, dari generasi ke generasi.

Berapa lama membuat sehelai kain?


Sangat relatif. Tergantung besar kecilnya kain, persediaan bahan, kemudian kondisi si penenun. Para penenun ini kan umumnya bekerja serabutan, memasak, mengurus rumah tangga, dan sebagainya. Dia tidak fokus hanya menenun saja.

Makanya, paling cepat dua minggu atau satu bulan baru selesai satu kain. Bahkan, belum tentu dua bulan bisa selesai. Itu yang membuat kain-kain tenunan Sumba ini punya nilai yang sangat tinggi. Kalau ada yang bilang harganya kok mahal? Ini berarti dia belum tahu proses pembuatannya yang memang memerlukan waktu dan kesabaran luar biasa.

Motif apa yang paling Anda sukai?


Semuanya menarik dan saya suka. Sebab, kain tenunan Sumba itu selalu punya cerita di balik figur-figur yang kelihatannya sederhana. Dan itu mencerminkan sejarah dan kehidupan masyarakat setempat yang masih mempertahankan tradisi leluhurnya.

Bisa disebut salah satu contoh?


Nah, saya membawa kain dari kampung Rende yang ditenun tahun 1947. Itu menceritakan hubungan asmara Raja Nggonggi dan Tamu Rambu Juliana yang kandas di tengah jalan. Motifnya berupa burung elang rajawalis sebagai simbol status, kebesaran, kewibawaan, martabat sebagai bangsawan. Rambu Juliana akhirnya memilih tidak menikah dan menjadi penenun andal di Rende, salah satu pusat kerajaan di Sumba. Karena itu, kain ini tergolong antik dan punya nilai yang luar biasa bagi masyarakat Sumba Timur. Motif-motif lain juga bagus seperti motif tengkorak, manusia, pohon, ikan, rusa, kuda, udang, naga, singa, buaya.

Oh, ya, sudah berapa kali Anda mengadakan pameran seperti ini?


Di Surabaya baru satu kali ini. Sebelumnya saya pernah adakah tiga kali di Bali. Antusiasme masyarakat waktu itu sangat tinggi. Bahkan, banyak orang Surabaya dan Jawa Timur umumnya ikut menikmati kain-kain Sumba yang saya tampilkan di Bali. Makanya, saya berpikir mengapa tidak diadakan saja di Surabaya? Syukurlah, pihak House of Sampoerna sangat mendukung pelestarian seni budaya tradisional seperti seni kerajinan tenun ikat Sumba ini.

Apa tujuan Anda menggelar pameran di Surabaya?


Sederhana saja. Saya ingin agar masyarakat Surabaya bisa lebih mengenal budaya Sumba Timur, khususnya tenun ikat tradisionalnya. Bukan apa-apa. Selama ini justru orang Barat yang lebih mengenal seni budaya tradisional Nusantara. Mereka bahkan sudah banyak membuat buku-buku, foto, video, atau film tentang Sumba. Sementara kita sendiri, yang notabene orang Indonesia, malah kurang mengenal kebudayaan kita.

Mungkin itu pula yang mendorong Anda mendatangkan penenun asli Sumba, ke Surabaya?


Betul. Sebab, tidak semua orang punya kesempatan untuk jalan-jalan atau blusukan ke Sumba seperti saya. Makanya, saya meminta Tamu Rambu Margaretha untuk melakukan demo cara menenun kain tradisional Sumba Timur. Ini penting agar pengunjung bisa mempunyai gambaran tentang proses membuat tenun ikat secara manual. Mereka bisa melihat prosesnya, bahan-bahan pewarna alaminya, hingga kain yang sudah jadi.

Kabarnya orang-orang Sumba di Jawa Timur kaget melihat kain-kain tenun milik bangsawan dipamerkan di Surabaya?


Ya, orang-orang Sumba itu seperti tidak percaya karena surprise. Selama berada di perantauan orang Sumba itu rata-rata membawa kain tradisional sebagai pengingat kampung halamannya. Mereka ikut bangga karena harta karun kebudayaan mereka bisa diangkat ke tingkat nasional, bahkan dunia. (*)



CV Singkat

Nama : Theresia T Swandajani
Gelar : Tamu Rambu Humba Manandang
Lahir : Surabaya, 26 November 1963
Suami : Umbu Hapu 
Anak : Sabathania Rambu, Hanamunti Rambu, dan Bentara Rambu
Profesi : Seniman, guru tari
Pendidikan : Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta
Alamat : Jl Dharmawangsa II Surabaya

1 comment:

  1. wah sumba rupanya, ini baru fresh, maju terus Mama :)

    ReplyDelete