14 August 2013

Susah menipu orang desa

Dulu sebelum 2000 kota dan desa berbeda jauh dalam banyak hal. Kini, setelah televisi dan ponsel masuk desa, akses informasi orang kota dan desa hampir sama. Bedanya sinyal di desa lemah dan terbatas.

Orang-orang di pelosok Flores biasa naik bukit hanya untuk menemukan sinyal Telkomsel. Kebetulan di NTT hanya satu operator itu yang punya jaringan. Karena itu, kalau anda ke NTT jangan lupa membeli kartu perdana Simpati atau As.

Akses televisi di kampung saya, pelosok Lembata, saat ini sangat luar biasa. Bahkan lebih banyak saluran, lebih terang, lebih asyik ketimbang di Surabaya. Bukan apa-apa. Sejak sepuluh tahun lalu Matrix masuk desa-desa menyediakan parabola di rumah penduduk.

Nah, akses informasi inilah yang membuat orang NTT yang bekerja di kota-kota besar macam Surabaya, Jakarta, atau Kuala Lumpur dan Kota Kinabalu di Malaysia tidak bisa lagi seenaknya kasih oleh-oleh untuk keluarga atau kenalan di kampung. Memberi HP sederhana yang hanya bisa SMS atau menelepon sudah tidak bisa. Malah jadi bahan tertawaan mereka.

"HP apaan ini? Itu kan model lama. Teman-teman di sini tidak ada yang pakai HP kayak gitu," kata remaja di Lembata menirukan gaya bahasa pemain sinetron.

Maka HP pemberian orang NTT itu pun diberikan kepada orang tua. Anak-anak muda di pelosok NTT saya lihat makin kecanduan smartphone untuk games, foto-foto, SMS dan sebagainya. Ponsel model lama meski baru dibeli biasanya ditolak secara halus maupun kasar.

Ponsel made in China yang kelihatan canggih, menarik, kayak smartphone kelas menengah atas macam BB pun sering jadi bahan tertawaan orang desa. "Kasih oleh-oleh uang saja daripada HP China," kata orang desa.

Karena itu, kita yang bekerja di Surabaya atau Jakarta sering diledek orang desa di NTT kalau masih menggunakan ponsel lawas atau yang buatan China. Masa orang Jakarta kok pakai HP murahan? Hehehe....

Virus konsumerisme memang makin merasuk ke pelosok-pelosok negeri kita. Akses informasi yang luas, iklan masif di televisi, membuat cara berpikir dan gaya hidup makin modern. Itulah bedanya dengan zaman Orde Baru ketika pemerintah melarang iklan di televisi.

Saya masih ingat waktu itu setiap minggu warga desa ramai-ramai membaca koran masuk desa, yakni Suara Karya dan Dian terbitan Ende, Flores. Budaya membaca yang disemaikan Orde Baru kini berganti menjadi budaya televisi dan smartphone.

Acara TVRI ala Dari ke Desa malah sudah tidak diminati warga desa, khususnya generasi muda. Dan makin sedikit anak muda desa yang mau bertahan di kampung menjadi petani atau nelayan.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment