18 August 2013

Sukarno presiden paling miskin

Menjelang hari kemerdekaan Indonesia, KPK menangkap Rudi Rubiandini yang menerima suap Rp 7 miliar. Petugas juga menemukan ratusan juta dan uang miliaran di rumah pakar ITB lulusan Jerman ini.

Rudi Rubiandini dengan santai mengatakan dirinya tidak korupsi, cuma dapat gratifikasi dari teman. Profesor doktor kalau sudah terpojok memang sering jadi goblog tiba-tiba.

Saya pun membaca tulisan Djoko Pitono di Radar Surabaya edisi Minggu 18 Agustus 2013. Penulis kawakan ini membut daftar orang-orang cerdas, doktor, profesor, hingga ketua partai konservatif yang dicokok gara-gara korupsi. Kelihatan dari luar alim, sederhana, mudik pakai sepur ekonomi kayak Rudi Rubiandini tapi nilai korupsi alias rasuahnya miliaran rupiah.

Luar biasa!

Kontras sekali dengan para intelektual pejuang kemerdekaan kita yang kondisinya mengenaskan. Presiden Sukarno mengatakan dalam biografinya, "Akulah satu-satunya presiden di dunia yang tidak punya rumah sendiri."

Bung Karno sang proklamator, kepala negara, itu pun tak punya tanah, tak punya tabungan. Karena tak punya uang di saku, seorang duta besar kemudian membelikan Bung Karno piyama.

Gaji Presiden Sukarno saat itu hanya USD 200 atau setara Rp 2 juta. Lebih rendah daripada upah minimum buruh di Jakarta saat ini. Gaji sebesar itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Intelektual pejuang lain yang mengenaskan adalah Agus Salim. Diplomat kawakan yang gigih menentang Belanda ini hidup melarat meski berjasa memerdekakan Indonesia.

Saya membayangkan seandainya Bung Karno dan Agus Salim hidup di zaman sekarang sudah jelas mereka tercatat dalam barisan penerima BLSM. Ikut antre raskin alias beras miskin seperti puluhan juta orang miskin lain di tanah air.

Sayang, profesor dan intelektual masa reformasi ini tidak pernah membaca kisah perjuangan para intelektual masa lalu macam Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjarir, atau Agus Salim. Yang dibaca Rudi Rubiandini mungkin buku-buku tentang petunjuk bermain golf dan menikmati motor besar.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

3 comments:

  1. Kilau dunia memang menggelapkan semua mata bung Hurek, tak terkecuali sang profesor yang pinter-pinter dan idealis itu.
    Mohon ijin sebelumnya untuk share tulisannya bung.

    ReplyDelete
  2. jaman skrang orng-orng dah pda gelap mata, selalu memikirkan materi..
    dan jg menghalalkan segala cara demi mendapatkannya walaupun dgn cara tidak benar..

    ReplyDelete
  3. Maaf, ada keteledoran.. Nilai $200 di thn 40an, +/- sama dgn usd 2,000-usd 2,500 skrg. (ah tetep kecil juga :) )

    ReplyDelete