15 August 2013

Rudi Rubiandini korupsi dan pengkhianatan intelektual

Nama Rudi Rubiandini tak asing di Jawa Timur, khususnya Surabaya dan Sidoarjo. Sejak lumpur panas Lapindo menyembur di Porong, Rudi paling sering jadi narasumber wartawan. Waktu itu Rudi dianggap pakar yang hebat karena bisa menganalisis sebab musabab semburan sejak 29 Mei 2006.

Ketika tim ahli versi Lapindo menyebut lumpur itu akibat gempa bumi di Jogja, Rudi Rubindini punya analisis sebaliknya. Maka dia menjadi salah satu akademisi yang berani dan langka. Akademisi yang kebal suap, tak mempan dibayar, tak tergoda uang.

Hari ini koran-koran memuat di halaman satu berita tentang Rudi Rubiandini. Bukan sebagai pengamat perminyakan atau semburan lupur atau kecelakaan pertambangan melainkan kasus korupsi. Rudi mengenakakan baju tahanan KPK karena tertangkap basah menerima suap senilai USD 7000.

Menurut KPK, masih banyak uang semir yang diterima Rudi untuk melicinkan izin di bidang perminyakan. Maklum, sebagai kepala SKK Migas, Rudi punya kewenangan luar biasa untuk memberikan lisensi kepada perusahaan trading minyak.

Waduh, hancur sudah bangunan kredibilitas yang dibangun dosen ITB selama ini. Pengkhianatan intelektual telah terjadi. Rudi benar-benar brengsek karena gagal mengemban amanat penderitaan rakyat.

Rakyat disuruh menderita karena harga minyak dinaikkan, sementara bos-bos lembaga perminyakan pesta pora. Suap yang ketahuan sekarang IDR 7 miliar plus motor gede. Belum uang receh ratusan juta yang ditemukan KPK di rumahnya.

Kasus Rudi Rubiandono bukan kali pertama. Sebelumnya profesor-profesor yang mengurus KPU jilid satu juga dicokok dan dipenjara karena korupsi. Bahkan Mulyana Kusumah yang dulu rajin keliling Indonesia mengajak mahasiswa untuk memerangi orde baru yang korup pun dicokok KPK karena korupsi.

Rupanya idealisme intelektual tak sulit dipertahankan ketika berada di lingkungan yang punya budaya korupsi, suap, semir, gratifikasi. Partai konservatif penjual surga pun malah punya budaya korupsi luar biasa. Ketua umum PKS Lutfhi saat ini dikerangkeng gara-gara korupsi pula.

Tapi jangan khawatir. Setelah menyelesaikan hukuman di penjara, Rudi Rubiandini dkk masih kaya raya karenamasih punya timbunan ribuan dolar. Maka mereka layak berbahagia.


Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

1 comment:

  1. Rudi, oh Rudi, kamu telah menderita gangguan jiwa yang disebut Narzissmus.
    Seorang Narziss tidak pernah merasa dirinya bersalah, karena terlalu sering dikagumi dan dipuja-puji. Dengan modal bonus pengkultusan, kamu kira boleh berbuat sesuka hatimu, toh bangsa Indonesia sangat mencintai dan mengagumi mu, Percuma kau sekolah di Jerman, kalau tidak paham etika seorang pegawai negeri di Jerman. Dalam buku undang2 kepegawaian negeri kan tercantum : Seorang pejabat dan PNS dilarang menerima hadiah atau gratifikasi yang nilainya lebih dari 5 Euro. Kamu tertangkap basah oleh KPK, masih berani bersumpah, Demi Allah, Saya tidak korupsi. Schaemst du dich gar nicht ? Aku baca berita, kamu sekarang belajar ilmu hukum dipenjara, apakah setelah dilepas, agar lebih piawai berkorupsi . Lebih baik kamu baca buku philosofi Tao Te King. Ada terjemahan dalam bahasa Jerman.

    ReplyDelete