11 August 2013

Rinto Harahap legenda pop melankolis

Rinto Harahap bersama keluarga (foto Kapan Lagi).

 Hampir semua orang Indonesia tahu komposer, produser, pemusik yang namanya RINTO HARAHAP. Tapi tak banyak yang tahu perjalanan hidupnya dari Sibolga, Medan, Jogja, Jakarta, kemudian kecantol sama pramugari Bouraq Airlines asal Solo bernama Lily Kuslolita yang akhirnya menjadi istrinya.

Cerita-cerita human interest ini diracik oleh Harry Moenzir, wartawan senior dan teman Rinto, dalam buku Gelas-Gelas Kaca. Boleh dikata inilah biografi Rinto Harahap, penemu genre pop melankolis di Indonesia yang berjaya sejak akhir 1970an dan baru meredup menjelang 2000. Jejak Rinto kemudian diikuti Pance Pondaag, Obbie Messakh, Wahyu OS, Maxie Mamirie, Deddy Dores, dan seabrek musisi lain.

Berbeda dengan kebanyakan anak Medan, Rinto Harahap yang lahir di Sibolga 10 Maret 1949 ini pendiam, perasa, halus, lembut, tk banyak ulah. Dia juga paling takut cewek meski bandnya The Mercys sangat digandrungi gadis-gadis cantik. Ketika si Reynold pemain drum kerjanya cuma pacaran melulu, Rinto malah suka menyendiri. Tak berani mendekati cewek-cewek.

Hingga suatu ketika Rinto dikenalkan Albert anggota Mercys dengan Lily, pramugari Bouraq yang sedang bertugas di Balikpapan. Kekakuan pun muncul karena Lily sangat cuek. Cenderung kurang respek pada band populer itu.

Tapi Rinto pantang menyerah. Dia terus memburu wanita cantik itu ke Tanjungpriok, Jakarta, agar bersedia dipacari. Hanya tujuh bulan pacaran, mereka kemudian menikah. Semua keperluan pernikahan diurus dan dibiayai sendiri oleh Bang Rinto. Lily pun meninggalkan Bouraq dan mundur total sebagai ibu rumah tangga.

Pernikahan Rinto praktis membuat The Mercys vakum. Apalagi sudah ada konflik hebat dengan Charles Hutagalung, vokalis sekaligus motor grup ini. Reynold yang jenius itu pun lebih suka pacaran, kata buku ini, ketimbang berlatih bersama grupnya. Toh Reynold merasa bisa bermain bagus tanpa perlu banyak latihan.

Rinto Harahap tak ingin jauh-jauh pergi meninggalkan istri jelitanya yang baru dinikahi itu. Maka Rinto akhirnya fokus menjadi komposer, song writer, yang mengangkat artis-artis baru di belantika musik pop Indonesia. Dia harus melepaskan diri dari warna Mercys sekaligus membuat warna sendiri: warna Rinto Harahap.

Dia bertekad, "Saya harus menulis lagu sebanyak-banyaknya yang bisa diterima masyarakat." Dan Rinto sudah punya segepok puisi, curahan hati, yang tinggal dikasih melodi menjadi lagu. Dia juga peka menangkap karakter vokal calon-calon artis yang akan diorbitkannya.

Nah, agar berbeda dari Mercys, Rinto membentuk band spesialis rekaman yang diberi nama Lolypop Group beranggotakan Philips (bas), Ataw (gitar), Oyam (drum), Adi Mantra (keyboard). Rinto Harahap sebagai bos, penulis lagu, arranger, music director.

"Band Lolypop dirancang untuk mengiringi artis-artis rekaman karena tidak mungkin diiringi The Mercys," katanya. Maka Mercys pun mati suri untuk tidak dikatakan mati total.

Pada 7 Februari 1976 Rinto meresmikan sebuah major label atau perusahaan rekaman baru bernama PT Lolypop Records. Saat itu dia baru punya satu penyanyi, yakni Eddy Silitonga. Eddy yang bersuara tinggi lantang ini berhasil mengibarkan bendera Lolypop + Rinto dengan lagu Biarlah Sendiri.

Yah, Rinto mulai mencoba bertualang sendiri di industri musik setelah Mercys tak lagi seiring jalan. Tapi rupanya Rinto punya hoki hebat di bidang ini. Artis kedua Diana Nasution dengan suara serak basah, tinggi, pun sukses.

Kemudian Rita Butarbutar yang suaranya tinggi melengking. "Suaranya bagaikan cetusan hati. Bulat dan mencekam. Satu dalam seribu," Rinto memuji penyanyi yang sama-sama berdarah Batak itu.

Rinto makin semangat menemukan artis baru. Tahun 1977 dia berasil mengorbitkan Christine Panjaitan. "Matanya yang seperti kucing sakit mengundang simpati. Pembawaannya yang tenang membuat lagu-laguku lebih berkarakter. Suaranya yang bergetar bisa membuat lirik-lirikku menikam ulu hati," ujar Rinto tentang Christine Panjaitan.

Pada era 1980an itu Rinto Harahap ibarat raja midas di industri musik pop. Lagu-lagunya diputar hingga ke pelosok Tapanuli, Flores, Papua, di kota besar, kota kecil, hingga desa tanpa listrik di NTT. Toh Rinto mengaku tak mau mengubar lagu.

"Satu-satunya alasan untuk menulis lagu adalah perasaan. Jika aku tersentuh maka dengan mudah lirik-lirik tertulis rapi dan musik mengalir bagai air tercurah. Jika hatiku peka mencair maka dua tiga lagu bisa kuperoleh dalam sehari," kata ayah tiga anak itu.

Mencipta lagu, Rinto menjelaskan, bukan kerja pikiran tapi lebih cenderung kerja batin. Lagu Benci tapi Rindu misalnya, menurut ayah penyanyi Cindy Claudia ini, sarat analisis dan pertimbangan nurani.

Kau datang dan pergi sesuka hatimu
Oh kejamnya dikau
Teganya dikau padaku


Tahun 1979 Rinto mengangkat nama Hetty Koes Endang ke tangga sukses dengan hit Dingin.

Kau janjikan berbulan madu ke ujung dunia. 
Kau janjikan sepatuku dari kulit rusa. 
Tapi janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi.

Di tahun yang sama Rinto bertemu Iis Sugianto, remaja Jakarta yang suka bosanova dan kurang sreg dengan lagu melankolis ala Rinto. Rinto mengajak bicara, memberi wawasan tentang dunia rekaman di Indonesia. Kita harus membedakan selera pribadi dan menyanyi untuk masyarakat. "Dua hal itu sangat berseberangan," kata Rinto.

Iis Sugianto pun akhirnya melahap lagu-lagu ciptaan Rinto yang terbukti booming di Indonesia. Nasibmu dan Nasibku, Jangan Sakiti Hatinya, Mimpi, Seindah Rembulan.

Suatu malam, Juli 1986, Rinto menggores syair cinta dan menemukan melodi lewat gitarnya. Dia terbayang Broery Marantika alias Broery Pesolima. "Janganlah kau berkata benci. Walau hatimu tak sudi. Biarkanlah anganku ikut bayang-bayangmu ke mana saja...."

Ajaib. Esok hari Broery muncul di rumah Rinto bersama Dimas Wahab. "Broer, aku punya lagu baru. Mau dengar?" kata Rinto. Beberapa saat kemudian masyarakat pun gandrung lagu Aku Jatuh Cinta.

Energi kreatif Rinto tak jua pupus meski karya-karyanya lahir setiap saat. Makin banyak artis yang dia orbitkan, lagu-lagunya pun sering diminta para pengusaha rekaman untuk mengerek artis baru maupu lama. Rinto Harahap membuai bangsa Indonesia dengan musik pop nan lembut, mendayu, berperasaan.

Total 518 lagu sudah ditulis Rinto dan dipublikasikan di tanah air.

Musik pop manis ala Rinto akhirnya dihadang oleh Menteri Penerangan Harmoko pada 1985. Lagu-lagu macam ini dianggap cengeng, tidak memberi semangat untuk pembangunan. Ucapan Harmoko ini ibarat vonis mati karena lagu-lagu ala Rinto, Pance, Obbie Messakh tak akan ditayangkan lagi di TVRI. Satu-satunya stasiun televisi di Indonesia saat itu.

Rinto Harahap naik pitam. Merasa terhina lagu-lagunya dibilang cengeng. "Apanya yang cengeng? Lagu-laguku tidak cengeng. Jika Harmoko mengatakan laguku terlalu sendu aku bisa menerima. Tapi cengeng! Alangkah rendah pilihan kata-katanya," Rinto marah benar.

Dia pun protes ke petinggi Kementerian Penerangan saat itu, yakni Alex Leo Zulkarnaen, Subrata, dan Eddy Sud. Yang terakhir ini pelawak dan koordinator artis untuk Aneka Ria Safari TVRI. Tidak tampil di TVRI berarti tidak bisa promosi, dan si artis dan produser akan habis.

"Tidak masuk Safari juga tidak mati. Saya ingin tahu dasar pemikiran Harmoko," kata Rinto nada tinggi. Istilah cengeng ini membuatnya menderita.

Rinto Harahap memang tak habis sama sekali gara-gara kebijakan Menpen Harmoko. Sebagai seniman dia tetap berkarya. Namun, seiring pembredelan lagu-lagu cengeng, musik pop Indonesia mulai berubah warna. Karakter khas Rinto makin tergusur oleh lagu-lagu yang disebut pop kreatif.

Selesailah era pop manis yang dikomandani Rinto Harahap.

Rinto kemudian asyik mengurus Asosiasi Rekaman Indonesia alias Asiri, Yayasan Karya Cipta, memerangi pembajakan, aktif mengurus hak-hak pencipta lagu dan penata musik. Dia juga terseret arus politik reformasi dengan aktif di Partai Patriot yang diketuai teman karibnya Japto Soerjosoemarno.

Dia sempat menulis lagu mars untuk Partai Patriot itu. Pada 19 April 2004 di musim kampanye pemilihan umum Rinto terserang stroke. Tak bisa bicara, organ tubuh tak bisa digerakkan, tak bisa lagi menciptakan lagu-lagu manis.

Kesehatannya naik turun meski sempat mendapat mukjizat kesembuhan (sementara) ketika didoakan Pendeta Benny Hinn dari Amerika Serikat.

"Beginilah yang namanya manusia ketika usia mulai menggerogoti raga. Segenap ketangguhan akan berakhir pada suatu titik. Kita berjalan dari ada untuk pulang menuju ketiadaan," kata Rinto Harahap dalam buku biografinya itu.

Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

No comments:

Post a Comment